
Dengan tergesa-gesa Rengganis masuk ke rumah keluarga Cokro, dan langsung menuju kamarnya. Melihat menantunya datang, Cokro menunggu di ruang keluarga. Bambang sudah diserahkan ke pihak kepolisian Bandung, karena Kobra sudah mengaku bahwa dia mendapatkan perintah dari Bambang.
"Puji..., panggil Atmaja sama Rengganis untuk ke ruang keluarga sekarang." Cokro memerintah Puji untuk memanggil anak dan menantunya.
"Baik Tuan Besar." Puji kemudian menuju pintu kamar Atmaja dan Rengganis.
"Tok..., tok..., tok..," Puji mengetuk tiga kali pintu kamar Atmaja.
Atmaja tampak membuka pintu kamar.
"Tuan dan Nyonya, saat ini ditunggu Tuan besar di ruang keluarga." kata Puji memberi tahu maksud kedatangannya.
"Iya." sahut Atmaja sambil menutup kembali pintu kamarnya.
Tidak lama kemudian, Atmaja dan Rengganis sudah sampai di ruang keluarga. Mereka berdua langsung duduk di depan Cokro.
"Atma, Anis..., semoga kalian berdua sudah tahu maksudku mengumpulkan kalian saat ini." Cokro memulai percakapan.
Atmaja dan Rengganis hanya menatap mata bapaknya.
"Sekarang Anis, silakan kamu yang menjawab. Darimana kamu, di rumah baru banyak masalah. Tapi kamu malah keluar." Cokro menanyai Rengganis.
"Anis sudah memberi tahu mas Atma, jauh hari sebelum ada kejadian kemarin pa." Rengganis menjawab pertanyaan Cokro.
"Jangan salahkan papa, kakakmu Bambang tadi malam sudah berhasil ditangkap, dan pagi tadi sudah dibawa oleh pihak kepolisian. Papa sudah melupakan kejadian yang dulu-dulu, tapi ada apa sebenarnya sampai sekarang papa tidak tahu. Kenapa keluargamu masih mencoba membuatku marah." kata Cokro.
Rengganis agak merasa kaget, mendengar kakaknya Bambang sudah berhasil ditangkap dan saat ini berada di kepolisian. Dia mencoba melihat ke arah Atmaja, tapi suaminya seperti sudah tahu sebelumnya.
"Mohon maaf pa, Anis sudah lama tidak komunikasi dengan mas Bambang. Terakhir ketemu saat kita mengenalkan Aleta ke semua anggota keluarga yang ada di Bandung." Rengganis menjawab pertanyaan dari Cokro.
Rengganis mencoba mengajak Atmaja untuk membelanya, tetapi Atmaja hanya diam tidak ikut bersuara.
"Jadi Anis. Jika terjadi sesuatu dengan kakakmu Bambang, aku harap kamu jangan pernah menyalahkan papa. Bambang hanya menerima dampak dari apa yang pernah dia lakukan di masa lalu."
"Iya pa." jawab Rengganis singkat.
"Dan papa harap, saat ini kamu bisa menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anakmu. Tinggallah di rumah, jangan kemana-mana."
__ADS_1
"Dan kamu, Atmaja..., jadilah orang tua yang baik juga untuk anakmu. Papa akan istirahat, dan papa harap kalian berdua mendengar semua perkataan yang baru saja papa sampaikan." lanjut Cokro, yang kemudian bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan masuk ke dalam kamar.
Rengganis terdiam dan tampak melamun. Atmaja kemudian mencoba merangkul istrinya, kemudian mengajaknya kembali ke dalam kamar.
***********************
Devan pada pukul 15.00 sudah bersiap untuk pulang ke rumah. Rolland mencoba menghalangi niat kakaknya karena pukul 16.00, Rolland sudah membuat janji temu dengan calon rekanan.
"Rolland minggir, kakak mau pulang. Kasihan Aleta tidak ada temannya di rumah."
"Halah, tadi Rolland sudah hubungi Tata. Dia sudah bilang padaku kalau jam 1 siang sudah berada di rumah. Kakak pulang ke rumah, juga Aleta baru keluar jalan sama Tata. Sebentar lagi pulangnya." Rolland tetap tidak mengijinkan Devan pulang dulu.
Devan kembali duduk di sofa. Kemudian dia melakukan panggilan telepon pada Istrinya.
"Assalamualaikum mas, ada apa."
"Wa Alaikum salam, Aleta ada dimana sekarang?"
"Diajak Tata keluar. Sekarang kita baru perjalanan arah ke kampus ITB. Tata mau ambil buku di tempat temannya, kemudian mau cari bakso. Mas Devan lagi dimana." Aleta balik bertanya.
"Mas pikir Aleta ada di rumah. Mas mau buru-buru pulang. Tapi yah, karena lagi keluar, berarti mas pulangnya juga agak nanti saja."
"Okay, bilang sama Tata. Jangan ajak main ke teman-teman cowok. Ingat Aleta sudah menikah."
"Oh my God..., iya, iya mas. Aleta janji tidak akan macam-macam. Bye mas Devan.., Assalamualaikum," Aleta pamit lebih dulu.
"Bye...wa Alaikum salam." sahut Devan.
"Ha...ha...ha..., dasar Bucin Bucin..., berapa jam mas Devan itu ninggal pergi kakak ipar." Rolland tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kakaknya.
"Diam, anak kecil. Makanya segera nikahi Jenny." jawab Devan kesal.
"Halah..., ha..ha..ha.., hubungan nikah sama Bucin itu apa," Rolland semakin terbahak-bahak.
Devan diam, malahan pura-pura memejamkan mata di sofa.
****************
__ADS_1
Aleta dan Tata pergi berdua dengan diantar pak Asep. Mereka sebenarnya berniat mau naik mobil online, tetapi Asep sudah dipesan Cokro untuk mengantar kepergian Aleta kemanapun. Setelah sampai di tempat tujuan pertama, Asep menunggu di dalam mobil.
"Ta .., kost temanmu itu khusus kost cewek atau gabungan cowok dan cewek." tanya Aleta.
"Jangan khawatir Aleta, ini khusus kost an khusus cewek. Tapi ya ga tahu juga lho, kalau nanti disana pas ada cowok yang main juga." jawab Tata sambil menggandeng tangan Aleta.
"Aku ga mau ribut sama mas Devan saja Ta, tahu sendiri kan bagaimana dia itu. Cemburu minta ampun."
"He...he..he.., makanya segera diberikan anak Aleta. Aku yakin deh, dengan Hadirnya anak kalian, sifat Posesif sama cemburunya akan berkurang banyak."
"He..he.., padahal aku juga ga KB tuh. Tapi belum tahu, kenapa ya, aku belum hamil juga sampai sekarang." tiba-tiba Aleta khawatir dengan kondisinya sendiri.
Melihat kekhawatiran Aleta, Tata menjadi tidak enak hati.
"Ah.., itu mungkin karena kalian masih sering berpisah. Nha..., ini kan kalian lagi sering bersama. Coba nanti aku antar ke dokter, kalau dicek ternyata belum hamil juga. Nanti ikut Program Hamil saja." sahut Tata memberikan saran.
"Iya juga ya. Tapi aku tidak bilang mas Devan dulu saja ya Ta, khawatirnya nanti masalahnya ternyata ada di aku." ucap Aleta yang seketika seperti tampak sedih.
Untungnya mereka sudah sampai di teras kost temannya Tata. Tata langsung menggandeng Aleta dan mengajaknya langsung masuk ke rumah kost.
"Kamu duduk disini dulu ya, aku cari temanku dulu." Tata meminta Aleta duduk di kursi tamu kost, dia mau mencari temannya dulu.
"Okay, ga pa pa aku." Aleta langsung duduk di kursi. Kemudian dia mengambil majalah di bawah meja kemudian membacanya.
"Permisi, mau ketemu Desi ada." tiba-tiba ada seorang tamu laki-laki mencari Desi. Karena merasa bukan orang yang kost disitu, Aleta tetap cuek fokus membaca majalah.
"Mbak, mohon maaf mau nanya. Apakah Desi ada di rumah ya," laki-laki itu langsung menepuk pundak Aleta.
Aleta dengan tatapan sengit langsung memandang laki-laki itu.
"Aku tidak tahu. Tanya sama yang kost disini. Kita sama-sama tamu " katanya sambil melotot.
Laki-laki itu malah tertawa melihat ekspresi Aleta.
"Maaf ya mbak, saya pikir mbaknya kost disini juga. Kalau begitu aku mau numpang duduk disini juga, sambil nungguin yang kost disini keluar." laki-laki itu malah Duduk di hadapan Aleta.
Aleta tetap dengan fokus awal yaitu membaca majalah. Dia tetap diam, sama sekali tidak mengajak laki-laki yang duduk di depannya itu bicara. Sedangkan laki-laki itu hanya melihat Aleta sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
***********************