Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Kasih Sayang


__ADS_3

Mengikuti omongan suaminya, Aleta berusaha cuek akan kehidupan di lingkungan Axel. Meskipun sebagai seorang wanita dan seorang ibu, terkadang dia tidak tega saat tahu beban psikologis yang ditanggung anak sekecil itu. Tetapi mengingat orang tuanya yang tidak mengijinkannya untuk dekat dengan Axel, membuatnya lebih baik mundur. Dia berusaha menjaga jarak aman untuk tidak begitu dekat dengan Axel.


Aleta duduk di kursi tunggu yang ada di teras Kindergaten, sambil memainkan Ipadnya. Dia menengok kanan kiri, dan bernafas lega karena tidak melihat Maurin lagi. Akhirnya dia membuka chat di aplikasi whattsapps. Beberapa grup yang dia ikuti tampak ramai dengan candaan dan saling mengerjai. Aleta tidak pernah memberikan komentar, dia hanya menjadi silent reader, ada hal lucu dia akan ikut tersenyum.


"Selamat siang, apakah saya bisa ikut duduk disini?" seorang bapak-bapak berusia paruh baya bertanya pada Aleta.


"Oh silakan Bapak. Mohon maaf saya tidak melihat kedatangan bapak." Aleta menjawab pertanyaan bapak tersebut yang ternyata pak Broto, papanya Maurin. Aleta kemudian bergeser ke kanan, memberi kesempatan papanya Maurin untuk duduk.


"Lagi jemput adik mbak?"


"Bukan pak, jemput putra saya. Kebetulan kedua putra saya sekolah disini," Aleta tersenyum.


"Waduh maafkan Bapak ya mbak! Maklum baru hari ini saya antar jemput cucu saya. Biasanya anak saya yang jemput."


"Tidak apa-apa pak. Maaf saya sambi ya pak, sekalian sambil nunggu putra saya keluar, saya ada kerjaan yang harus diselesaikan."


"Oh bagus itu, silakan mbak!"


Naura kembali melihat ke Ipad nya, menggulir surat-surat yang masuk ke emailnya, yang sempat dia jawab langsung dia jawab saat ini juga. Yang tidak sempat dijawab, dia abaikan.


"Mommy....," teriak Arend dan Arick yang berlari dari kelasnya, saat melihat Aleta sudah datang menjemputnya. Aleta langsung mematikan Ipad-nya, dan menyimpannya dalam tas, kemudian berdiri menyambut kedua putranya dengan pelukan hangat.


"Opa.." Aleta terkejut karena ternyata cucu yang dijemput Bapak yang duduk disampingnya adalah Axel. Anak itu menghampiri opanya, tetapi matanya tampak iri dengan pelukan yang diberikan Aleta pada kedua putranya.


"Axel, your grandpa?" tanya Aleta pada Axel.


Axel menganggukkan kepala dan tersenyum, kemudian menggandeng opanya.


"Axel, do you know this aunt?" pak Broto bertanya pada cucunya sambil tersenyum.


"Yes, grandpa, this aunt is very good with Axel. Tante selalu memeluk Axel like Mom pada anaknya." jawab Axel yang sangat terkesan dengan kebaikan dan keramahan Aleta.


"Mbak, kenalkan saya Broto. Terima kasih ya sudah memberikan kehangatan dan kasih sayang pada cucu saya Axel." tiba-tiba papanya Maurin mengenalkan dirinya pada Aleta.

__ADS_1


"Sama-sama pak Broto. Nama saya Aleta, kebetulan Axel jika keluar kelas selalu bersama dengan kedua putra saya, jadi kami sering bersama."


"Arend, Arick.., ayo beri salam pada Opanya Axel!" Aleta langsung meminta kedua putranya memberi salam pada pak Broto.


"Saya Arend opa."


"Saya Arick opa."


"Putra-putramu lucu sekali mbak, dan sangat pintar. Mereka kembar identik ya, kok sama persis. Saya saja tidak akan dapat membedakannya." kata Pak Broto setelah menyalami kedua putra Aleta.


Aleta melihat Axel terus mencuri pandang padanya, dan Aleta memahami keinginan Axel.


"Axel, do you want to hug aunty?" tanya Aleta pada Axel sambil membentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri.


Mendapat tawaran dari Aleta, Axel langsung bergegas menghampirinya dan memeluk erat Aleta. Arend dan Arick tersenyum melihat Mommy dan teman akrabnya berpelukan, tidak ada rasa iri di mata mereka. Sedangkan pak Broto langsung berkaca-kaca matanya melihat ekspresi cucunya yang sangat merindukan kasih sayang seorang mama. Aleta mengelus kepala dan punggung Axel kemudian menghadiahi ciuman di kening anak itu. Mata Axel tampak berbinar, dan seberkas kebahagiaan seperti muncul di matanya.


"Terima kasih mbak Aleta, atas kasih sayang mbak Aleta untuk cucu saya Axel."


"Sama-sama pak Broto." kemudian Aleta melepaskan pelukannya apda Axel,dan anak itu kembali ke samping opanya.


"Iya benar pak. Saya istrinya kak Devan, cucu dari kakek Broto. Dan mereka berdua ini cucu buyutnya kakek Cokro."


"Ternyata dunia ini sempit ya mbak, mohon dimaafkan ya mbak Aleta!"


"Maaf untuk apa pak, sepertinya tidak ada yang salah?"


Pak Broto mengambil nafas sebentar, kemudian melanjutkan bicaranya.


"Maaf atas keonaran yang ditimbulkan oleh mamanya Axel dan neneknya lima tahun yang lalu. Semua berjalan tanpa kendali dari saya."


"Sudah pak, saya sudah memaafkan dan melupakan kejadian itu. Mohon maaf ya pak, saya dan anak-anak mau pulang duluan, karena masih banyak pekerjaan yang lain!"


"Oh ya, silakan mbak Aleta. Jika boleh saya nitip disampaikan salam dan permintaan maaf ya untuk seluruh anggota keluarga. Pak Cokro, pak Atmaja, maupun nak Devan sendiri."

__ADS_1


"Baik pak Broto. Nanti pasti akan saya sampaikan salam dan permintaan maaf dari Bapak. Mari pak, kami duluan. Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Arend dan Arick melambaikan tangan pada Axel, dan segera Aleta menggandeng mereka berdua dan langsung membawanya ke mobil.


 


 


**************************


 


Dalam perjalanan pulang, pak Broto terdiam membayangkan pertemuan tidak sengajanya dengan Aleta. Gadis yang dari kemarin menjadi bahan pertengkaran di rumah mereka. Sampai pak Broto lebih rela ditinggalkan putri dan istrinya yang tidak memberikan kasih sayang sewajarnya pada Axel. Kemarin sore akhirnya pak Broto dengan Axel meninggalkan rumah dengan membawa ART, dan sejak semalam mereka sudah tidur di apartemen. Berkali-kali istrinya melakukan panggilan telpon, tetapi pak Broto mengabaikannya. Pola asuh pasangan suami istri itu memang tidak pernah sepaham.


"Opa, what happend? Kok Opa melamun sambil mengemudi?" pertanyaan polos dari cucunya menyadarkan Pak Broto dari lamunannya.


"Iya maaf Axel, opa lupa." sahut Broto sambil tangan kirinya mengelus kepala Axel.


"Family Arend dan Arick enak kan opa? Lengkap ada Mommy, Daddy, Oma and Opa. Kapan Axel juga punya Opa?" tanya Axel tampak sedih.


"Axel, nanti someday..., Opa antar Axel main ke tempat Arend dan Arick ya? Biar Axel bisa ketemu lagi dengan Auntie and Daddy si kembar?"


"Really opa?"


Broto menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat cucunya.


"Wow.., hore... I like it. Thank you Opa!" dengan gembira, Axel berteriak di mobil.


Pak Broto menjadi terharu melihat ekspresi yang ditunjukkan Axel. Betapa dia baru menyadari, jika cucunya itu sangat merindukan keluarga yang lengkap. Dia berjanji dalam hatinya, akan mencurahkan semua kasih sayangnya pada anak itu.


 

__ADS_1


********************************


__ADS_2