Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Jealous


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Devan bergegas masuk kamar mencari istrinya. Jika biasanya akan cuci tangan dulu di wastafel atau menengok anak-anaknya baru masuk kamar, kali ini dia berbeda. Setelah berbicara sebentar dengan Brandon di depan rumah, Devan sedikit jealous dengan papanya Axel, karena datang berkunjung ke Indonesia tidak membawa istrinya. Dia merasa menyesal karena sudah menawarkan pada Axel, agar papanya ikut menginap di rumah keluarga Cokrodirjan.


"Momm.., sudah ngobrol apaan dengan papanya Axel?? Dia bawa adiknya Axel, memangnya mamanya anak itu tidak diajak?" baru saja masuk kamar, sudah memberondong istrinya dengan pertanyaan.


Aleta memandang ke arah Devan, dia sedikit heran dengan perubahan tiba-tiba pada suaminya sore ini.


"Daddy tuh bicara apaan sih?? Dateng-dateng tidak tanya sekedar, Mommy capek tidak atau apaan gitu. Ini malah nanya mommy sudah ngobrol apaan." kata Aleta sedikit sewot dengan sikap suaminya.


"Soalnya kan aneh Momm." sahut Devan penasaran.


"Yang aneh siapa Dadd?? Mommy atau papanya Axel?? Daddy itu kenapa, tidak biasanya terlalu peduli dengan hal-hal kecil seperti ini. Mommy sebagai tuan rumah yang baik, mempersilakannya, kemudian menyiapkan makan siang. Hanya menyiapkan tidak menemani makan siang. Sudah jelas sayang Mommy..." dengan jengkel Aleta menjawab rasa penasaran suaminya.


"Beneran Momm??"


"Iihhh sebel deh. Orang nanya, dijawab, eh.. ini malah ga percaya. Daddy tuh kenapa, jealous sama papanya Axel?? Tepuk jidat deh..., usia sudah 50 tahun, tapi masih kayak anak SMP masih suka cemburuan." seru Aleta dengan nada jengkel dengan perubahan suaminya.


"Bukannya jealous sih Momm, tapi tiba-tiba agak kurang suka saja. Melihat itu papanya Axel sedang bicara sama Axel dan Stella di depan. Daddy tanya mana Mommy nya Stella, jawabnya tidak ikut." Devan menjelaskan awal ketemu langsung dengan Brandon.


"Terserah mau kasih penjelasan apapun, tapi kesimpulan Daddy saat ini sedang jealous. He..he..he.., asyik Mommy dicemburuin sama suami Aleta yang gagah dan super-duper ganteng ga ada duanya." Aleta menggoda Devan.


"Ganteng mana Daddy sama papanya Axel?"


"Ya Allah.., ada apa dengan suamiku sore ini Ya Allah. Nyebelin.., pokoknya nyebelin. Dari tadi yang dibicarakan, ditanyakan papanya Axel melulu. Kalau mau nanya ganteng mana, ya jelas kalah dong sama keturunan. Keturunan bule, ya pastilah lebih ganteng. Tapi bagi Mommy.., sampai kapanpun suami Mommy yang tergantung sejagad raya. Puasss?" selesai menjawab, Aleta melangkah ke arah pintu akan meninggalkan Devan.


"Hey.. Mommy mau kemana?? Kok mau ninggalin Daddy?"

__ADS_1


"Mau kencan sama papanya Axel." jawab Aleta langsung melangkah. Mendengar jawaban Aleta, Devan langsung berlari mengejar istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Ini Daddy kenapa sih?? Ayo lepasin Mommy!" teriak Aleta sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya. Tetapi Devan malah semakin mendekapnya lebih erat, dan meletakkan dagunya diatas bahu Aleta.


"Mommy di kamar saja nemanin Daddy. Sekarang mau ambil apa diluar, Daddy saja yang ambil." ucap Devan seperti anak kecil.


"Mommy mau masak sayang. Mau nyiapkan makan malam, Daddy mau masak?" goda Aleta sedikit dongkol dengan sikap suaminya yang kolokan.


Devan membalikkan tubuh Aleta, sambil dengan memeluknya dia mengarahkan istrinya ke atas ranjang. Kemudian pelan-pelan mendudukkan istrinya.'


"Mommy tidak perlu memikirkan makan malam. Daddy yang akan atur semuanya, sekarang Daddy mau mandi dulu, dan ingat tidak boleh kemana-mana."


**************


Selepas makan malam dengan menu restoran, karena tidak mengijinkan istrinya di dapur kecapaian sendiri, Devan memesan delivery order. Mereka berdua kemudian mengajak bicara Brandon dengan anak-anak di ruang tengah. Sambil terus mengawal istrinya, Devan duduk di samping istrinya dengan selalu menggenggam tangan Aleta. Seakan dia memamerkan bagaimana harmonisnya hubungan yang dia bangun dengan istrinya.


"Sebenarnya sebagai papa biologisnya sedikit kecewa dengan decision Axel yang akan studi di USA. Saya sudah menyiapkan kampus di Jerman, dan sudah nego dengan Profesor disana untuk dapat menerima Axel lanjut studi di college tersebut." Brandon menjawab pertanyaan Devan.


"Itu kan maunya papa. Tapi Axel tidak mau, Axel mau studi di USA bareng sama Arend dan Arick, dan nanti ada Mommy Aleta yang menemani kami disana." mendengar perkataan papanya, Axel langsung memotongnya.


"Axel..silence please!!" Aleta mengingatkan putranya tersebut, untuk tidak memotong pembiccaraan orang tua.


"Sorry Momm!" jawab Axel sambil menundukkan kepala.


Brandon tersenyum melihat putranya, kemudian mengambil nafas panjang dan menghembuskannya kembali.

__ADS_1


"However, it all depends on what Axel wants. Saya hanya jumpa belakangan dengan dia, you berdua lebih bisa kenal dengan bagaimana sifat dan character dari Axel." akhirnya Brandon menyerahkan dengan keinginan Axel.


"Memang benar Brandon, kita sebagai orang tua hanya bisa mengawal dan mengawasi tumbuh kembang putra-putra kita. Arend dan Arick bahkan Chyntia.., kita juga memberikan kebebasan untuk mereka. Agar mereka lebih bijak dalam berpikir dan memutuskan, dengan membandingkan mana cost dan mana benefitnya." Devan menyampaikan pendapatnya. Brandon mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Stella, what grade are you in junior high school?" Devan lanjut bertanya pada Stella adiknya Axel.


"Second grade Uncle.." Stella menjawab pertanyaan Devan.


"Iya Uncle.., Stella sama dengan Cynthia. Andaikan Stella juga tinggal di Bandung, kami bisa ambil satu sekolah yang sama." sahut Cynthia.


"Aku tahu nih maksudmu Cynt... he..he..he.. sekalian PDKT." celetuk Arick.


"Iih kak Arick jahat, nakal Aunty...," seru Cynthia sambil memukul lengan Arick. Tapi dengan cepat Arick melarikan diri. Aleta hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan keponakannya itu.


"Yah.., begitulah mereka jika sedang berkumpul Brandon. Kami harap, kamu bisa memaklumi perilaku mereka." ucap Aleta.


"Iya.., saya mengerti mereka. Karena saya juga terbiasa mengasuh anak-anak, bahkan Stella aku mengasuhnya dengan tanganku sendiri, saat dia masih berusia 5 tahun. Saat istriku, mamanya Stella menginginkan kami bercerai." kata Brandon dengan tersenyum pahit.


Mengetahui jika Brandon sudah bercerai, dan pengalamannya dengan Maurin membuat Devan menjadi lebih berhati-hati. Tanpa sadar, Devan menggenggam tangan Aleta semakin erat. Aleta melihat ke suaminya, tetapi yang dilihat tidak menyadarinya. Akhirnya karena merasa kesakitan dengan genggaman tangan Devan, Aleta mencubit lengan Devan dengan tangan kirinya.


"'Aduh.., Momm.. kenapa cubit lengan Daddy?" tanya Devan. Aleta tidak menjawab, tapi jari tangannya menunjuk ke genggaman tangan suaminya.


"Ups.. sorry Momm!" kata Devan sambil tersenyum.


"Sudah Brandon.., silakan jika mau istirahat. Kami juga akan beristirahat dulu, karena tomorrow harus berangkat kerja. Selamat malam dan selamat beristirahat." Devan langsung berpamitan dengan Brandon, kemudian merangkul Aleta dan membawanya ke kamar.

__ADS_1


*********************


__ADS_2