Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Aksi dulu Bicara kemudian


__ADS_3

Aleta dan Ferdinand beranjak meninggalkan rumah makan, dan segera menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari rumah makan. Baru saja Ferdinand membuka pintu mobil untuk Aleta, tiba-tiba terdengar suara Ijonk memanggilnya.


"Non Aleta.., tunggu." teriak Ijonk memanggil Aleta.


Aleta berdiam di tempat sambil menunggu Ijonk.


"Kamu kok bisa sampai sini Jonk, mau ke pasar apa." tanya Aleta yang tidak menyangka akan ketemu Ijonk di tempat ini.


"Ijonk lagi cariin Non. Kenapa sih non, datang dari Bandung, tidak kasih tahu kami dan juga tidak menginap di rumah." kata Ijonk.


Ferdinand mendatangi Aleta dan Ijonk, kemudian berdiri di samping Aleta.


"Aleta.., ini siapa. Apakah dia mengganggumu." tanya Ferdinand dengan tatapan penuh selidik.


"Jangan khawatirkan aku Ferd, aku kenal dia kok. Masuklah ke mobil terlebih dahulu, nanti aku segera menyusul" jawab Aleta yang memahami kekhawatiran Ferdinand.


Ferdinand meninggalkan Aleta, kemudian masuk mobil untuk menyalakan AC.


"Ijonk..., saat ini aku lagi ikut program magang, jadi untuk sementara aku tidak bisa pulang ke rumah. Perusahaan tempat aku magang, menyediakan Dormitory untuk kami." kata Aleta membohongiku Ijonk.


"Tapi Ijonk diminta Tuan untuk membawa Non Aleta kembali." ucap Ijonk penuh harap.


"Kan Ijonk bisa menyampaikan ke Tuan, jika tidak ketemu aku, atau tinggal bilang kalau aku saat ini tinggal di asrama selama program magang." kata Aleta.


"Non..., Ijonk bisa dipecat sama Tuan kalau tidak berhasil membawa non Aleta. Ayolah non..., tolong Ijonk saat ini. Ijonk butuh pekerjaan ini untuk membiayai sekolah adik." Ijonk berusaha memaksa Aleta.


Ferdinand kembali keluar dari mobil, dan mendatangi mereka karena mendengar paksaan dari Ijonk.


"Mas, jangan main paksa donk. Kan sudah dengar kalau Aleta menolak pergi, kenapa anda terkesan memaksa." ucap Ferdinand dengan nada tinggi.


Beberapa orang di sekitar situ mulai memandang ke arah mereka.

__ADS_1


"Sudahlah Ferd, dia Ijonk sopir keluargaku. Maaf ya aku akan ikut Ijonk, kamu pulang sendiri tidak apa-apa kan," akhirnya Aleta mengikuti Ijonk karena tidak mau menimbulkan keributan di tempat umum.


"Tapi Aleta, bukannya tadi kamu bilang kalau harus segera sampai di kost. Masih banyak yang belum kamu persiapkan untuk program magang." kata Ferdinand yang mencoba untuk menahan Aleta.


"Maaf mas, non Aleta harus ikut saya. Itu perintah dari suaminya, apakah anda mau jika dituduh melarikan istri orang." Ijonk memberanikan diri bicara dengan Ferdinand.


"Sudah Ferdi, besok kita ketemu di kampus saja ya. Sekarang aku akan ikut Ijonk dulu, aku khawatir kalau ibu tahu, maka akan membebani pikiran ibu." kata Aleta menenangkan Ferdinand.


"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa, segera hubungi aku ya." kata Ferdinand dengan berat hati.


Aleta segera melangkah menuju mobil dengan diikuti Ijonk di belakangnya. Ferdinand tetap bertahan di tempat, memandang punggung Aleta yang berjalan meninggalkannya.


Aleta membuka pintu belakang, tapi begitu terbuka, dia terkejut dengan sosok tinggi yang sedang duduk meluruskan kakinya, dan menatapnya dengan tajam. Sontak Aleta hendak membalikkan badannya, tapi dengan cepat Devan menarik tangan dan tubuhnya ke dalam mobil.


"Aduh, sakit." teriak Aleta saat dahinya membentur dada Devan dengan keras, dan tubuhnya kehilangan keseimbangan.


Satu tangannya berusaha mencari pegangan di atas pintu mobil, dan satu tangannya tanpa sadar berpegangan pada sesuatu yang terasa empuk dan hangat. Tiba-tiba, sesuatu itu terasa menjadi keras. Aleta baru menyadari apa yang dia gunakan sebagai pegangan, akhirnya mukanya memerah dan segera melepaskan pegangannya.


Aleta menengadahkan wajahnya ke atas, dan bertatapan dengan mata hitam Devan yang saat ini menyiratkan suatu kemarahan dan keinginan. Aleta mencoba bangun dari posisinya, tapi tangan Devan dengan erat memegangi pinggangnya. Mereka berpelukan dengan erat di dalam mobil, dan dengan posisi seperti itu Aleta merasa tubuhnya kesakitan.


Merasa khawatir kalau Aleta dalam penculikan, Ferdinand memukul jendela mobil.


"Jalan," instruksi Devan tegas pada Ijonk, dan langsung diikuti Ijonk dengan menjalankan mobilnya.


Melihat mobil berjalan, Ferdinand segera kembali menuju mobilnya dan berusaha mengejar mobil yang membawa Aleta.


"Tuan, mobil itu mengejar kita. Apa yang harus kita lakukan." tanya Ijonk panik.


"Jalan lebih lambat, biar dia tahu apa yang akan dilakukan seorang suami kepada istrinya jika beberapa hari mereka tidak ketemu." mendengar perkataan Devan, tiba-tiba Ijonk menjadi panas dingin dan gelisah.


Dengan penuh keinginan Devan meraih dagu Aleta kemudian menempelkan bibirnya ke bibir perempuan yang telah membuatnya gila. Aleta mencoba menolak dengan menggerak-gerakkan kepalanya. Mengetahui penolakan Aleta, menjadikan darah Devan naik ke ubun-ubun. Dengan satu hentakan tangannya, Devan membalikkan tubuh Aleta. Tubuh Aleta membentur jok mobil dengan tubuh Devan di atasnya.

__ADS_1


"Sakit, kenapa mas menyiksaku." akhirnya Aleta memberanikan diri bicara pada suaminya. Air matanya mulai menggenang di kedua matanya.


"Kenapa kamu mengkhianatiku." Devan balik bertanya.


"Ferdinand kakak kelas di kampus, kami hanya makan bersama." kata Aleta membela dirinya.


Devan menundukkan kepalanya dan menanamkan ciuman dalam ke bibir istrinya, dan tangannya tidak terkendali menjelajahi seluruh tubuh Aleta.


Ijonk merasakan panas dingin tidak berani menengok ke arah spion, kemudian dia menarik partisi pemisah kursi depan dan tengah kemudian mengeraskan suara musik. Meskipun dia tidak melihat, tapi mendengarkan rintihan Aleta menjadikan pikirannya lari kemana-mana.


Sedangkan di belakang Ferdinand terus mengikuti mobil, dan pada saat laju mobil mulai melambat, Ferdinand mendahului mobil dan akhirnya menghadang mobil Ijonk. Karena kaget tidak menyangka Ferdinand begitu berani, Ijonk menghentikan mobilnya berhenti mendadak. Devan yang posisinya berada di atas tubuh Aleta, terbentur kursi di depannya.


"Bisa tidak kamu hati-hati membawa mobil Ijonk." teriak Devan dari kursi belakang.


"Teman non Aleta terlalu nekad Tuan, dia menghadang mobil kita." seru Ijonk.


"Baiklah turunkan jendela mobil, aku akan menanyakan apa maunya." instruksi Devan pada Ijonk.


Melihat mobil Fortuner itu berhenti, Ferdinand segera turun dari mobil dan menghampiri pintu belakang mobil. Tiba-tiba Ijonk menurunkan jendela mobil, dan Ferdinand dapat melihat laki-laki dewasa dengan wajah tampan berada di balik jendela. Wajah tampan yang dingin, dengan pakaian atas yang acak-acakan.


"Mana Aleta," seru Ferdinand.


"Huh..., laki-laki bau kencur. Berani kamu menanyakan istri seseorang pada suaminya." sahut Devan ketus.


"Anda suami Aleta," tanya Ferdinand kaget.


"Ferdi, baliklah. Dia suamiku Fer." tiba-tiba terdengar suara serak Aleta dari dalam mobil.


Ferdinand ingin menengok ke dalam, tapi badan besar Devan sudah memblokade pandangannya.


"Apakah kamu mau melihat bagaimana seorang suami mengajak istrinya berhubungan." tanya Devan sarkasme.

__ADS_1


Mendengar ucapan suami Aleta, dan mendengar suara serak Aleta menjadikan tubuh Ferdinand menjadi merinding sendiri. Akhirnya dengan langkah gontai, Ferdinand meninggalkan lokasi dengan mobilnya.


*********


__ADS_2