Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Suasana Pagi


__ADS_3

Pagi hari Aleta sudah mengajak Yudha jalan-jalan di sekitar lingkungan villa. Setelah tidur semalaman tanpa gangguan Devan, Aleta merasa energinya sudah penuh terisi kembali. Pagi ini mereka bisa membakar kalori selama satu jam.


"Ayo kembali ke villa, matahari sudah mulai lumayan membakar kulit." kata Devan sambil menarik tangan istrinya berbalik arah menuju villa.


"Ah curang..., kan belum puas jalan-jalannya." sahut Aleta bersungut-sungut.


"Ayolah, aku sudah mulai lapar. Nanti sore kita jalan lagi"


Akhirnya Aleta menuruti ajakan Devan untuk kembali ke villa. Mereka langsung berjalan menuju Restoran untuk mencari sarapan pagi. Dalam perjalanan menuju restoran, mereka bertemu dengan Rengganis di taman depan lobby.


"Hai ma..., mau jalan-jalan ya." sapa Aleta ramah pada mertuanya.


Sedangkan Devan hanya tersenyum tanpa menyapa Rengganis.


"Iya, tadi mama barusan sarapan pagi. Sekarang pingin menggerakkan badan sebentar." kata Rengganis mencari cara untuk membebaskan diri dari mereka.


"Kemana Maurin, kenapa Devan jam segini sudah jalan-jalan sama Aleta." Rengganis berpikir sendiri.


"Aleta sama mas Devan ke dalam dulu ya ma, mau gantian sarapan pagi" pamit Aleta.


"Ya, hati-hati." jawab Rengganis sambil berjalan cepat meninggalkan Aleta dan Devan.


"Mas, kenapa mama kalau ketemu Aleta, sepertinya selalu menghindar ya. Perasaan, Aleta tidak pernah berbuat salah" tanya Aleta pada Devan.


"Tidak perlu kamu pikirkan, yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana kamu akan memberi suamimu makan." jawab Devan sambil tersenyum smirk.


"Ya ayo segera ke restoran, keburu makanannya habis." kata Aleta, dan berjalan cepat meninggalkan Devan di belakang.


Devan hanya bisa mengacak-acak rambut di kepalanya.


"Istriku yang menggemaskan itu pura-pura polos atau memang tidak paham keinginan suaminya ya." batin Devan sambil tersenyum kecut.


Kemudian dia berjalan cepat menyusul Aleta ke restoran.


"Hai kakak ipar..., baru bangun tidur ya. Jam segini baru nongol," sapa Rolland menggoda Aleta.


"Aleta dengan mas Devan baru saja pulang dari jalan-jalan adikku sayang," Aleta menyapa balik Rolland.


"Sayang, sayang... siapa memangnya yang kamu panggil sayang. Suaminya ditinggal di belakang, malah disini obral kata-kata sayang." protes Devan yang tiba-tiba sudah muncul di belakang mereka.


"Kabur ah.., aku ga ikut ikut..," kata Rolland sambil tertawa dan melarikan diri dari kakaknya.


"Bruk..," tiba-tiba Rolland menabrak seseorang dan merasakan sesuatu yang empuk seperti squishy.


"Hai ... mesummm... punya mata jangan ditaruh di dengkul, taruh di tempat yang benar." teriak suara perempuan.

__ADS_1


"Maaf," seru Rolland sambil menutup matanya.


"Buka matanya atau aku congkel pakai obeng." perempuan itu masih bersuara dengan nada tinggi.


Perlahan Rolland membuka matanya, di depannya sudah berdiri Jenny sambil berkacak pinggang.


"Ampun Jenn..., aku betul-betul tidak sengaja." kata Rolland dengan tampang memelas.


Melihat Rolland terintimidasi, Aleta bergegas menuju tempat Rolland untuk menyelamatkannya. Tetapi Devan bergerak lebih cepat, kedua tangannya langsung mengangkat tubuh Aleta dan membawanya menyingkir dari tempat Rolland dan Jenny.


"Mas, mas.. lepaskan aku. Kasihan Rolland mas,. Aleta mau membelanya. Kan tidak sengaja nabraknya, lagian juga ga keras tabrakannya." teriak Aleta meronta-ronta ingin dilepaskan.


"Biarkan mereka berdua, kamu mau mengganggu orang pacaran."


"Memang siapa yang pacaran mas," tanya Aleta bingung.


"Sudah menurut sama mas, Rolland baru PDKT sama Jenny." kata Devan asal ceplos.


"Oh..., kenapa Rolland tidak pernah cerita ya." Aleta menggumam sendiri.


******


"Tok..tok..tok...," Rengganis mengetuk pintu kamar Maurin.


"Tok..tok..tok." Rengganis mengulanginya lagi. Tetapi tetap tidak ada yang membuka pintu.


"Selamat pagi," sapa Rengganis.


"Selamat pagi Nyonya, ada yang bisa saya bantu." tanya room boy ramah.


"Saya bisa dibantu untuk membuka kamar 107, sepertinya anak saya terkunci di dalam." Rengganis menyampaikan maksudnya.


"Baik Nyonya,"


Room boy tersebut kemudian memeriksa beberapa kartu akses, dan mengambil salah satu dari kartu akses tersebut. Setelah itu, room boy mendatangi kamar 107, dengan Rengganis mengikut di belakangnya. Beberapa saat kemudian pintu kamar yang ditempati Maurin dapat dibuka.


"Terima kasih mas," Rengganis mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama Nyonya, Mari, saya permisi."


Bergegas Rengganis memasuki kamar 107, kemudian menutup pintu dari dalam. Ruangan kamar terasa sangat dingin dengan suhu AC yang rendah. Kamar dalam keadaan berantakan, dengan pakaian, bantal yang berserakan di lantai.


Tiba-tiba Rengganis menginjak kaos di lantai, kemudian memungut dan mengamatinya lebih dekat.


"Ini kaos siapa sangat besar sekali." batin Rengganis.

__ADS_1


Rengganis kemudian mendekatkan kaos tersebut ke hidungnya, dan tercium aroma parfum maskulin masih menempel.


"Ini bukan parfum Devan, apa Maurin semalam juga memasukkan laki-laki ke kamar ini selain Devan," banyak pertanyaan terlintas di pikirannya.


"Maurin.., Maurin...,bangun nak. Hari sudah mulai siang." kata Rengganis sambil mendekati Maurin.


"Kalau yang minum obat itu Devan, tapi kenapa aku melihat efeknya ada di Maurin ya." tanyanya dalam hati.


Rengganis menarik selimut yang menutupi tubuh Maurin. Seketika matanya terbelalak melihat Maurin tidak mengenakan baju di bawahnya, dan sekujur tubuhnya banyak dipenuhi dengan kissmark.


"Maurin.... Maurin..., bangunlah nak. Mandilah dulu, kemudian sarapan pagi." bisiknya di telinga Maurin.


Maurin dengan perlahan membuka matanya, dan di sampingnya dia melihat ada Rengganis.


"Tante..., kok Tante bisa masuk kesini. Mas Devan mana." tanya Maurin. Dia menyangka laki-laki yang bersamanya tadi malam adalah Devan.


"Mandilah dulu sayang, agar badanmu kembali segar." sahut Rengganis lembut.


Maurin mencoba bangkit dari tempat tidur, kemudian duduk di pinggir ranjang.


"Maurin sangat capai Tante..., badan terasa lemas. Mas Devan sangat hebat tadi malam, entah berapa kali kami bisa menyatu." kata Maurin pelan sambil merona pipinya.


"Iya.., tidak perlu kamu ceritakan. Mandilah, Tante akan menelpon room service untuk membawa sarapanmu ke kamar." sahut Rengganis sambil memegang tangan Maurin kemudian memegangnya dan membawa ke kamar mandi.


Rengganis menyiapkan air hangat di bath up, meneteskan aroma theraphy kemudian menuntun Maurin untuk masuk ke dalam bath up.


"Berendam lah sebentar, nanti badanmu akan segar kembali."


Kemudian Rengganis kembali ke dalam kamar, dan mengamati ranjang bekas pergulatan panjang Maurin tadi malam.


"Kenapa aku tidak melihat ada noda darah tertinggal di sprei ya. Jangan..., jangan.. Maurin...," pertanyaan kembali terlintas di benak Rengganis.


"Ah..., bisa saja semalam mereka sudah membersihkannya." pikirnya untuk berpikiran positif.


Rengganis kemudian menghubungi room service untuk melakukan order sarapan pagi dan membantu ke kamar. Setelah lewat 20 menit, Maurin sudah menyelesaikan mandinya. Meskipun dia masih merasa lemas, tapi penampilannya sudah lebih segar.


"Maurin..., mau tetap istirahat atau mau keluar kamar. Kalau keluar, Tante temani." kata Rengganis dengan senyum manis.


"Maurin mau tidur lagi boleh Tante, rasanya badan Maurin pegal-pegal semua." kata Maurin dengan tatapan memohon.


"Ya, istirahatlah. Tante akan meninggalkanmu sendiri. Tunggulah sebentar, Tante sudah memesankan sarapan untuk diantar ke kamar."


"Makanlah dulu, sebelum kamu tidur lagi."


"Baik Tante terima kasih untuk semuanya Tante. Maurin sangat bahagia sekali bisa memiliki mas Devan seutuhnya." ucap Maurin dengan mata berbinar.

__ADS_1


Rengganis hanya diam, kemudian tersenyum dan berjalan keluar dari kamar Maurin.


******


__ADS_2