
Rolland mengambil foto kemesraan yang ditunjukkan Devan dan Aleta di depan Haris dengan menggunakan kamera ponselnya. Mengamati hasil karya jepretannya, Rolland merasa puas.
"Sungguh pasangan yang serasi, meskipun dipaksakan untuk serasi." batin Rolland tersenyum simpul.
Untuk menuntaskan keisengannya, Rolland mengirim dua foto Devan dan Aleta ke ponsel kakaknya. Satu foto yang diambil dari belakang saat mereka sedang mencuci piring bersama, dan foto satunya adalah foto tampak samping yang baru saja diambilnya.
Sepeninggalan Haris dari hadapan mereka, Aleta merasa kikuk karena Devan tidak segera melepaskan tangan dan pindah dari tempat duduknya. Dia hanya duduk gelisah tidak berani melepaskan tangan Devan dari pundaknya.
"Kenapa, tidak mau disentuh oleh suamimu sendiri," tiba-tiba Devan berbicara.
"Aku heran kamu bisa santai, akrab dengan banyak laki-laki, tetapi kenapa kamu bahkan melirikku saja tidak." Devan melanjutkan pertanyaannya.
"Atau kamu memang pura-pura bertingkah laku alim jika di depanku untuk menarik perhatianku, tapi di depan laki-laki lain kamu sama saja dengan perempuan yang lainnya."
"Belum ada dua puluh empat jam, sudah ada dua laki-laki yang mendatangimu kesini. Bagaimana kalau berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun." Devan tersenyum sinis.
"Plak," Devan kaget tiba-tiba Aleta berani untuk menamparnya.
Tanpa banyak bicara, sesudah menampar Devan, Aleta berlari masuk ke kamarnya kemudian mengunci pintunya dari dalam.
Rolland yang melihat kerasnya tamparan Aleta di wajah kakaknya, ikut meraba wajahnya sendiri seakan merasa pedih dan panas akibat tamparan itu. Dengan wajah merah menahan emosi, Devan masuk rumah kemudian membereskan semua barang-barangnya.
"Sudah tidak sabar ya mau berangkat ke hotel." tanya kakek Cokro yang tiba-tiba sudah muncul di belakangnya.
"Devan mau balik Bandung sore ini juga kek. Kalau kakek dan Rolland masih mau tinggal disini, Devan akan berangkat lebih dulu." jawab Devan menahan emosi.
"Kamu kenapa, apa kamu mau menampar muka kakekmu yang mungkin tidak lama lagi akan pergi ke liang kubur." tanya kakek Cokro terpancing emosi.
"Kek..., Devan sudah menuruti perintah kakek untuk menikah dengan gadis desa itu. Apa lagi yang kakek mau dari Devan?"
"Devan, menikah itu bukan hanya tanda tangan bersama di depan penghulu. Membimbing, mengarahkan, membina dan mengajak kebaikan adalah tugasmu sebagai seorang suami. Apakah kamu pernah melihat kakekmu ini memperlakukan nenekmu dengan kasar."
"Kakek menghormati dan menghargai wanita, bukan untuk menyakitinya. Dekati Aleta, ambil hatinya nak. Aleta anak yang baik, anak Soleha, kakek sangat mengenalnya."
Devan terdiam mendengar nasehat dari kakeknya.
__ADS_1
"Dia masih kecil, tahun ini baru genap berusia dua puluh tahun. Usiamu sendiri sudah 31 tahun, jadi kalau sifat kekanak-kanakan Aleta muncul, itu sesuatu yang wajar. Sebagai yang lebih tua, pahamilah, maklumlah. Kakek yakin cucu kakek Cokro bukan hanya kuat badan tapi juga kuat hatinya." kata kakek Cokro dengan suara perlahan sambil mengelus kepala Devan.
Kakek kemudian keluar dari kamar membiarkan cucunya sendiri untuk memikirkan perkataannya. Sedangkan Devan membaringkan tubuhnya di ranjang, sambil memperhatikan langit-langit kamar.
Sesampainya di kamar, Aleta kembali terisak-isak menahan tangisnya. Perkataan sarkasme dari Devan benar-benar sangat melukai hatinya. Jika waktu bisa diputar kembali, rasanya dia ingin membatalkan pernikahan ini.
"Tring" tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk.
Tangan kiri Aleta meraih ponselnya di atas meja, kemudian dia membuka WhatsApp.
"Ferdinand," gumam Aleta dengan hati berdebar.
Aleta segera menggulir pesan masuk di WhatsApp.
"Assalamualaikum Aleta... selamat atas pernikahanmu hari ini dengan Unknown man."
"Sempatkan membaca pesan yang terlampir di bawah ini."
"Aleta... terima kasih telah memberikan sebagian hatimu untukku. Meskipun hanya sebentar aku merasakannya, kita menyadarinya, tapi semua itu telah mengajarkanku. Bagaimana aku harus mengendalikan diriku, emosiku, rasa egoisku untuk selalu bersamamu, bahkan memilikimu.
Aleta...hatimu sangat luas, seluas samudera yang kemaren kita datangi berdua. Baru aku menyadari apa itu arti dari Cinta. Rasa sepi, hilang, ikhlas, berkorban, itu semua adalah manifestasi dari sebuah kata cinta.
Selamat menempuh hidup baru Aletaku, semoga kebahagiaan selalu bersamamu.
Aku yang kehilangan rasaku
Ferdinand"
"Wassalamu alaikum."
Tergugu Aleta membaca pesan terlampir dari Ferdinand, dan tak lama akhirnya Aleta tertidur.
******
Tersentak Aleta bangun dari tidurnya, karena tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya. Sambil mengucek mata, Aleta membuka pintu kamar dan melihat Devan sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
"Ada apa pak Devan," tanya Aleta menyapa Devan.
"Sudah sore habis Ashar, kamu tidak mandi dulu. Mandilah, kemudian temani aku makan. Dari siang kita belum makan." kata Devan pelan.
"Iya tunggu sebentar." jawab Aleta dan kembali masuk ke dalam kamar.
"Apakah aku boleh masuk ke kamarmu."
"Kamarku berantakan, aku baru saja bangun tidur belum sempat merapikannya kembali." kata Aleta pelan.
"Pergilah mandi, biar aku bantu merapikan kamarmu."
Aleta terdiam melihat sikap Devan yang berubah 180 derajat jika dibandingkan tadi siang.
"Pak Devan salah makan atau sedang kerasukan ya." batin Aleta.
Tapi akhirnya Aleta mengalah, dan masuk kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket dari pagi. Devan merapikan tempat tidur, dan memegang bantal yang basah.
"Rupanya dia menangis terus, sampai bantalnya basah seperti ini."
Setelah tempat tidur Aleta rapi, Devan mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan kamar Aleta. Kamar yang sempit ukuran 3 x 3 meter, tidak ada 1/5 nya jika dibandingkan kamarnya di Bandung. Melihat ponsel Aleta tergeletak di atas meja, muncul keinginan Devan untuk membukanya.
Timbul kemarahan kembali di dada Devan membaca pesan WhatsApp yang dikirimkan Ferdinand untuk istrinya. Devan kemudian mengambil nafas panjang.
"Sialan ... cecunguk itu telah mendahuluiku mengambil keuntungan dari Aleta."
"Ternyata Aleta gadis desa sama saja dengan perempuan-perempuan lain di luaran sana."
"Jadi bantalnya sampai basah hanya karena menangisi laki-laki itu."
"Kalau bukan karena kakek, sudah aku tinggalkan hari ini juga gadis ini." Devan terus bermain dengan pikiran dan asumsinya sendiri.
Tak berapa lama Aleta keluar dari kamar mandi. Bau shampoo dan wangi sabun mandi bercampur aroma khas yang dibawa Aleta seketika memancing reaksi hormon testosteron Devan. Nafas Devan menjadi sesak, dan untuk menghilangkan kecanggungan Devan berpamitan keluar kamar.
"Gantilah baju dulu, aku tunggu di meja makan, lalu kita menemui ibu. Dari tadi dia mengkhawatirkanmu." kata Devan sambil berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Aleta kemudian menutup pintu kamar untuk berganti baju.
*****