Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Ngemall


__ADS_3

Devan memasuki halaman parkir di Par*** Java Mall, dan menghentikan mobilnya secara valet . Setelah menyerahkan kunci mobil pada petugas valet, langsung menggandeng Aleta memasuki mall.


"Kita kemana dulu mas, ada yang mau mas Devan cari disini," tanya Aleta.


"Tidak ada, mas Devan kesini kan mengantar istriku yang cantik. Aleta mau beli apa saja, silakan." kata Devan sambil mencium pucuk kepala Aleta.


"Aleta mau nambah baju boleh tidak." Aleta menatap mata Devan.


"Jangankan baju sayang, kamu minta mall ini saja, akan mas Devan penuhi. Ayok masuk ke butik di sudut sana." Devan langsung menggandeng tangan Aleta menuju ke sebuah butik yang terletak di sudut mall.


"Drtttt...., drtttt...," tiba-tiba ponsel Devan berbunyi.


Karena hari ini dia memang memiliki niat untuk mengajak istrinya jalan-jalan, Devan mengabaikan panggilan telepon. Dia tetap menggandeng tangan istrinya, dam masuk ke dalam butik.


"Drtt... drtttt," ponselnya kembali berdering.


"Diangkat saja mas, tidak apa-apa, Aleta mau masuk duluan. Tidak perlu khawatir berlebihan, di dalam butik sepi kok." Aleta menyarankan agar suaminya mengangkat panggilan.


"Okay, mas tunggu di kursi tunggu ya. Silakan Aleta pilih-pilih, kalau ada yang cocok, langsung panggil mas." Devan langsung melihat panggilan telepon, dan ternyata kakek Cokro yang melakukan panggilan.


Aleta dengan santai kemudian melihat-lihat koleksi baju yang terpampang di situ. Tetapi yang banyak digantung adalah koleksi baju-baju pesta.


"Mau cari baju untuk acara apa mbak." sapa pramuniaga pada Aleta.


Aleta melihat ke arah sumber suara.


"Aku mau cari baju santai, untuk pergi jalan saja, bukan untuk menghadiri acara." Aleta menjawab pertanyaan pramuniaga tersebut.


"Untuk baju santai, ada di sebelah sana mbak. Mari saya antar,"


Aleta akhirnya mengikuti jalan pramuniaga tadi, dan agak di area belakang, ternyata banyak koleksi baju santai untuk style jalan-jalan. Aleta memegang baju kuning cerah agak kehijauan, kemudian mencari celana santai untuk pasangannya.


"Mbak, coba diambilkan celana yang dipajang diatas ya. Sepertinya cocok dengan atasan ini." Aleta minta tolong pada pramuniaga untuk mengambilkan celana panjang yang digantung agak ke atas.


"Baik, tunggu sebentar saya ambilkan mbak."


Sambil menunggu pramuniaga mengambilkan barang yang dia incar, Aleta memilih barang-barang yang lainnya. Ada kira-kira satu jam Aleta berada di dalam butik itu, dan setelah mencoba bajunya dia mengambil empat setel baju, dan satu tas santai.


"Mbak mau lihat-lihat lagi, atau baju ini saya bereskan." tanya pramuniaga ramah.

__ADS_1


"Sudah langsung dibereskan saja, saya sudah capai berdiri dari tadi."


"Kalau begitu, mari ikut saya ke kasir mbak."


Aleta mengikuti langkah pramuniaga ke arah kasir, dia menengok-nengok mencari suaminya. Tetapi dia tidak menemukannya dimana keberadaannya.


"Sebentar mbak, saya cari suami saya dulu ya. Biar dia bereskan bill nya." Aleta minta ijin sebentar.


"Iya mbak, sambil kita buatkan bill nya."


Aleta menuju deretan kursi yang tadi diduduki Devan, tetapi tidak ada yang sedang berada di situ. Dia hanya melihat seorang laki-laki yang mungkin sedang mengantar pacar atau istrinya.


"Hadeh..., kemana sih mas Devan. Katanya ngajak jalan-jalan, tapi kenapa malah menghilang sendiri." Aleta menggumam sendiri, kemudian dia duduk menanti Devan disitu.


Pramuniaga yang tadi melayaninya masih setia menunggu di kasir. Karena hampir 10 menit waktu berlalu, Aleta teringat bahwa dia pernah diberikan kartu ATM oleh Devan. Akhirnya dia memberanikan diri membayar menggunakan kartu tersebut.


"Coba pakai ini mbak, semoga masih ada saldonya. Suami saya tadi katanya menunggu disini, lha kok malah pergi ga bilang." kata Aleta sambil mengulurkan Kartu ATM Black Premium.


Pramuniaga tersenyum dan melihat kasir sambil bergumam.


"Kartu Black Premium, kapan kita punya ya."


"Mbak, tanda tangan atau pakai PIN ya." kata kasir ramah.


"Uangnya ada mbak, sejumlah belanjaan saya." tanya Aleta.


"Ya Allah mbak, mau ambil 50 potong juga tidak bakalan habis ini saldonya." sahut petugas kasir sambil tersenyum.


"Kalau begitu pakai PIN saja." sahut Aleta.


Dia agak kesal dengan Devan suaminya, bilang jangan meninggalkan, malahan dia yang meninggalkannya. Setelah dia menekan tombol PIN, dan mendapatkan bukti belanja, dia kaget sendiri. Ternyata dia belanja hampir habis 10 juta. Uang sebanyak itu bisa dia gunakan untuk membelikan baju semua penghuni panti.


"Kenapa bengong sayang, sudah dibayar belom." tiba-tiba Devan sudah berada di sampingnya.


Aleta menoleh ke arah suaminya, kemudian dia memukul lengan suaminya.


"Kemana sih, katanya mau nunggu, kenapa malah meninggalkan Aleta." katanya.


"Maaf sayang, mas itu tidak kemana-mana. Tadi kakek Cokro menelpon, tanya kenapa tidak pulang ke rumah. Selesai menerima panggilan, mas pergi ke toilet sebentar. Dimana barang belanjaannya." Devan tidak melihat istrinya membawa barang belanjaan.

__ADS_1


"Ini mbak, barangnya sudah selesai." tiba-tiba pramuniaga yang sejak tadi melayani Aleta, menyodorkan paper bag yang berisi barang belanjaan Aleta.


"Berapa mbak habisnya," tanya Devan pada pramuniaga dan hendak mengambil dompetnya.


"Maaf sudah dibayar sama mbaknya pak." sahut kasir sambil tersenyum.


Devan langsung merangkul Aleta, dan mengambil paper bag dari tangannya.


"Sekarang kita kemana lagi sayang." tanya Devan sambil berjalan keluar dari butik.


Pramuniaga dan kasir tersenyum melihat kebersamaan mereka.


********************


"Kakek menyuruh kita pulang ya." tanya Aleta pada Devan.


Saat ini mereka sedang menikmati makan malam di food court mall tersebut.


"Tidak, cuman menanyakan kenapa mendadak. Tadi pagi kita tidak bicara, tahu-tahu malam ini langsung pulang ke apartemen. Ada yang mau kakek bicarakan dengan kita katanya." Devan menjelaskan panggilan telepon dari Cokro.


"Iya juga sih, kenapa tadi pagi kita tidak pamit ya. Tapi kan ide untuk pulang ke apartemen, juga baru muncul tadi siang kan."


Devan mengusap sudut mulut Aleta dengan sepotong tissue. Ada saos yang menetes sampai sudut mulutnya.


"Sudah tidak perlu banyak berpikir. Kita masih di Bandung, dan tidak sedang pergi ke luar negeri. Ayo habiskan makannya, kita segera pulang." sahut Devan.


"Pulang kemana, apartemen atau tempat kakek." tanya Aleta polos.


"Ya apartemen lah, masak sudah pergi kok akhirnya kembali lagi. Kita sudah lama tidak melakukan di apartemen sayang." bisik Devan yang langsung menjadikan pipi Aleta merah.


"Mas, ini tempat umum. Jangan bicara mesum to." protes Aleta.


"Ini bukan bicara mesum sayang, tapi kita membangkitkan semangat kita disini." bisik Devan kembali sambil tersenyum smirk.


"Sudah ah, Aleta sudah kenyang. Ayo kita pulang." akhirnya Aleta menyerah dukian.


Devan tersenyum kemudian mereka berdiri, dan berjalan meninggalkan food court. Tanpa mampir kemanapun, mereka langsung menuju ke mobil.


***********************

__ADS_1


__ADS_2