Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Insiden


__ADS_3

Pak Broto menolak ajakan Bi Puji untuk bergabung dengan keluarga Cokro untuk menikmati sarapan bersama. Tetapi dengan alasan takut dimarahi Tuannya jika ajakannya tidak berhasil, akhirnya pak Broto bersedia mengikuti ajakan Bi Puji. Begitu sampai di ruang makan, pak Broto agak terkejut karena sudah 9 orang yang duduk di ruang makan yang tampak sangat besar. Atmaja yang sudah pernah dikenalkan dengan pak Broto saat mengantar Rengganis arisan di tempat Lastri, agak terkejut melihat siapa teman kedua cucunya. Tetapi, dengan cepat dia menyesuaikan dirinya kembali.


"Pak Broto ya, ayuk duduk disini! Pas disamping saya, cucunya biar duduk dekat Arend dan Arick!" Atmaja langsung berdiri dan mempersilakan cucu dan kakek untuk duduk di sampingnya.


"Iya, pak Atma, terima kasih. Kedatangan kami jadi merepotkan keluarga disini ya? Maklum pak, menuruti keinginan cucu." dengan perasaan tidak enak, Pak Broto kemudian duduk disamping Atmaja, dan Axel langsung terlihat gembira menghampiri si twins.


"Tidak ada yang direpotkan, kebetulan pak Broto, ini pas hari Minggu semuanya bisa kumpul bareng."


"Mari nak Broto, langsung gabung sarapan saja ya! Baru, setelah selesai nanti kta mengobrolnya."


Akhirnya dengan gembira semua anggota keluarga Cokro dan tamunya menikmati sarapan pagi bersama. Arend dan Arick sangat bahagia dapta bermain bersama dengan Axel. Cokro dan Atmaja mengajak Broto berbincang di gazebo halaman belakang.


"Iya pak Cokro, maafkan istri dan putri saya dulu. Karena ketertarikan dan obsesinya dengan nak Devan sampai bisa melakukan tindakan gila itu. Saat ini kami sudah berpisah." ucap Broto pelan.


"Maksudmu apa nak?" tanya Cokro.


"Yah, karena Maurin tidak pernah memperlakukan Axel sebagai putra kandungnya, malah di hadapan teman-teman pergaulannya, dia menganggapnya sebagai adik. Dan istri saya, Lastri dia mengaku sebagai mamanya Axel. Saya tidak bisa membiarkan hal tersebut Pak, ya sudah karena mereka akhirnya bersikeras, yah dengan terpaksa dua minggu lalu akta cerai saya dan istri sudah keluar."


"Sampai sebegitunya sikap Lastri dan Maurin?" tanya Atmaja, yang seperti merasa bersyukur gadis itu tidak menjadi menantunya.


"Iya, karena memang mamanya selalu memanjakan dan menuruti semua keinginan Maurin dari kecil. Daripada aku terkungkung dengan dosa, dan jika Axel sudah besar akan menanyakan asal usulnya, maka lebih baik anak ini tinggal bersama saya." kata Broto.


"Dan semua asset yang saya punya, sudah saya wariskan untuk Axel cucu saya. Tidak ada sepeserpun untuk istri dan putri saya Maurin." lanjutnya lagi sambil menerawang.


"Sudahlah nak Broto, keputusan tegas yang kamu ambil, aku rasa sudah tepat. Yang perlu diselamatkan adalah masa depan Axel, bagaimana agar anak itu jika sudah besar bisa melewati masa lalunya dan menghadapi masa depan dengan senyum kebahagiaan." sahut Cokro.


"Opa...? Bolehkan Axel ikut Om dan Auntie ke Lembang Farmhouse?" tiba-tiba Axel berlari menghampiri Broto.


"Kok malah jadi ikut pergi, nanti merepotkan?"

__ADS_1


"Tidak Om, nanti kalau sudah selesai, Axel langsung kita antarkan pulang ke rumah." Devan  sambil menggandeng Arend dan Arick sudah berdiri di belakang cucunya Axel.


"Biarkan saja nak Broto, ada masanya anak kecil juga butuh rekreasi." tambah Cokro.


Melihat semua keluarga mengijinkan, akhirnya Broto merelakan cucunya untuk main bersama dengan keluarga Devan. Axel tampak berbinar bahagia, dan Broto menjadi terharu karena baru kali ini dapat melihat cucunya memiliki rona kebahagiaan seperti itu.


"Nak Devan, bapak nitip Axel cucu bapak ya! Tolong jaga dia, dan tegur Axel jika dia membuat kesalahan!"


"Baik pak, Inshaa Allah tidak akan terjadi. Axel anak yang baik, dan istri saya sudah lama akrab dengannya."


Aleta ikut menguatkan suaminya, dengan senyum tulus Aleta menganggukkan kepalanya. Aleta dan Devan ditemani Rolland serta Jenny akhirnya membawa 3 anak masuk mobil, dan segera menuju ke farmhouse yang tidak begitu jauh dari rumah keluarga.


**************************


Devan menggandeng tangan Aleta berjalan di pinggir danau buatan yang ada di objek wisata edukasi tersebut. Ketiga anak itu sangat bahagia dikawal Rolland dan Jenny, membeli jajan yang dikelola rapi oleh pengurus objek wisata.


"Mommy.., Daddy.., ayok ikut! Kita naik perahu kayu keliling danau!" Arick mengajak kedua orang tuanya.


"Axel suka sayang? Are you happy today?" Aleta bertanya pada Axel, dalam hatinya dia seakan ingin sekali menghibur anak itu yang dari kecil sangat jauh dari kasih sayang kedua orang tuanya.


"Very happy aunty." jawab Axel cepat dengan mata berbinar.


"Tante Jenny..., kapan nih dedek bayinya segera muncul? Kan asyik, nanti setiap hari Minggu kita isi dengan touring bareng." tanya Aleta.


"Nanti dulu kata Rolland. Katanya dipuasin dulu, baru disibukkan dengan momong anak. He..he..."


'Lho ini buktinya juga kalian berdua momong langsung 3 anak sekaligus?"


"Iya juga ya. Ha..ha..ha.., okay Jenny. Nanti malam kita kebut." sahut Rolland.

__ADS_1


"Om.., om.., Om Olland sama auntie Jenny nanti malam mau naik mobil kemana Om? Jangan ngebut Om, nanti kalau accident bagaimana?" dengan polos Arend bertanya pada Rolland dan Jenny. Keempat manusia dewasa itu langsung speechless menutup mulutnya, dan saling berpandangan.


"Om Olland mau naik sepeda sayang nanti malam, kalau Arend, Arick, dan Axel ingin ikut, ya harus rajin belajar sepeda dulu sayang." sahut Aleta dengan cepat. Rolland menatap Jenny sambil tertawa kecil.


"Really Mom..., kami boleh bersepeda bareng?"


"Of course kids..., tetapi harus berlatih dulu yang rajin. Setiap pulang sekolah, jika tidak ada task, langsung belajar naik sepeda di halaman dulu."


"Axel juga boleh ikut Auntie?" tanya Axel.


"Semua boleh ikut sayang, tetapi ada syaratnya. Kalian harus pintar dulu naik sepedanya, biar tidak jadi kecelakaan."


Setelah naik perahu, mereka mengitari lagi lokasi farmhouse dan sampai di mini zoo. Ketiga anak itu sangat menyukai sekali main binatang, dan tanpa henti Rolland mengabadikan pemandangan tersebut lewat kamera ponselnya.


"Tut..tut..,tut.." tiba-tiba ponsel Devan berdering.


"Iya ini Devan, .. apa? Okay, tolong bawa korban ke rumah sakit Sentosa saja. Ambil kamar terbaik yang ada disana!"


Mendengar pembicaraan suaminya, Aleta segera menghampiri Devan. Dan setelah suaminya menutup panggilan ponsel,


"Siapa Dadd yang sakit?" tanya Aleta khawatir.


Devan menarik tangan Aleta agak menjauh dari anak-anak.


"Pak Broto opa Axel kecelakaan Momm. Apa yang harus kita lakukan?" bisik Devan.


Aleta tampak terkejut, sambil menutup mulutnya.


"Sekarang kita langsung ke rumah sakit, telpon pa Asep untuk menjemput anak-anak nanti. Biar Rolland dan Jenny yang menjaga anak-anak, nanti kita kirim pesan via whattsappas setelah kita jauh dari sini." Devan mengatur strategi.

__ADS_1


****************************


__ADS_2