
Malam itu karena menunggu tidak ada panggilan telepon dari keluarga Maurin, Devan mengajak Aleta kembali ke Sukoharjo. Tetapi mereka turun di bandara Adisutjipto karena ingin mengunjungi mama Kinara, dan mengajaknya untuk datang ke Solo. Devan sudah menghubungi Ijonk untuk menjemput mereka di Yogyakarta. Sebelum berangkat, Devan berpesan pada kakeknya untuk menggunakan sampel darah yang dibawa Dokter Wijaya.
"Ijonk..., kamu sudah siapkan kamar untuk kami dimana?" tanya Devan pada Ijonk. Saat ini mereka dalam perjalanan dari bandara Adisutjipto menuju kota Yogyakarta.
"Saya Carikan di **votel Tuan, biar sekalian lurus dari arah sini. Mohon maaf, Tuan dan Non Aleta sudah makan malam belum tadi? Kalau belum, Ijonk mampirkan dulu, tapi kalau sudah berarti Ijonk langsung menuju hotel."
"Aku lagi malas makan, kepalaku tiba-tiba agak pusing dari kemarin. Aku langsung hotel saja, lha kamu sendiri sudah makan belum Ijonk. Kalau belum, nanti pesan room service saja." kata Aleta sambil memejamkan mata.
"Atau mampir depan hotel saja dulu Ijonk. Depannya itu rumah sakit kan?"
"Jangan, Aleta tidak mau ke rumah sakit. Aleta hanya pingin tidur berbaring di ranjang saja." seru Aleta menolak.
"Ya sudah, langsung hotel saja. Terus nanti kamu cari dokter untuk visit ke hotel Ijonk."
"Iya Tuan."
Ijonk langsung melakukan mobil menuju hotel. Dan untungnya karena sudah malam, jalanan sangat lengang dan 10 meit kemudian mereka sudah sampai di lobby hotel.
Tanpa meminta persetujuan Aleta, Devan langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam hotel. Aleta yang sudah paham akan sifat suaminya, hanya diam tidak menolak. Dia malah menggantungkan dua tangannya di leher Devan.
"Kamar ada di lantai lima Tuan. Mari ikuti saya." Ijonk melempar kunci mobil pada petugas valet hotel, kemudian langsung menuju lift.
Setelah mereka sudah sampai di kamar hotel, Ijonk langsung minta ijin untuk menghubungi Dokter agar home visit ke hotel. Devan langsung membaringkan tubuh Aleta di atas ranjang, kemudian menyelimutinya.
"Aku mau pesen room service, kamu mau dipesankan apa sayang. Biar sedikit, perutmu harus tetap terisi biar tidak kena maag."bisik Devan.
"Aleta pingin minum manis tapi agak asam. Lemon tea panas saja, sama sandwich saja."
"Iya, tunggulah sebentar. Aku pesankan dulu. Sekarang tidurlah dulu, nanti kalau dokter yang dibawa Ijonk sudah datang, nanti aku bangunkan."
Tanpa menjawab, Aleta langsung memejamkan matanya dan memeluk bantal. Devan langsung melakukan panggilan untuk room service.
__ADS_1
************************
"Maurin....." teriak Lastri dari dalam kamarnya.
Dia menangis histeris melihat isi dari video yang diberikan Cokro padanya. Dia sendiri tidak mengira, jika dia sendiri tidak bisa mengenali perilaku putrinya dalam video tersebut. Selain itu, dia merasa sangat malu dengan keluarga Cokro, bagaimana mereka dari awal menuntut agar Devan menikahi putrinya.
Mendengar teriakan mamanya,. Maurin yang sedang menyusui anaknya langsung menyerahkan Axel pada baby sitter dan mendatangi mamanya.
"Ada apa ma, kenapa mama memanggil Maurin sampai teriak-teriak." dengan muka polos, Maurin bertanya pada mamanya.
"Plak." tiba-tiba Lastri menampar Maurin untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia menangis tersedu-sedu.
"Aduh, kenapa mama menampar Maurin. Kenapa ma?" teriak Maurin sambil menangis.
"Apa yang kamu lakukan dengan laki-laki bule itu. Siapa dia, dan beraninya kamu bilang jika kamu tidur dengan Devan."
Maurin kemudian mendekatkan diri ke laptop di atas meja, dan dia sendiri terbelalak melihat rekaman CCTV itu. Dengan sangat binal, dia dan laki-laki bule sedang melakukan penyatuan.
"Tidak..., itu bisa dipalsukan. Itu bukan Maurin ma, pasti Keluarga kakek Cokro yang membuatnya." seru Maurin yang tidak percaya jika dalam rekaman video itu adalah dia. Dia menangis dan akan membanting laptop di depannya, tetapi Lastri tidak mengijinkannya.
"Maurin tidak tahu ma. Dan Maurin juga tidak tahu siapa laki-laki dalam video itu. Mama...., ini karena Tante Rengganis. Aku akan mencari keberadaanya sekarang."
"Diam kamu Maurin. Sudah hentikan semua kegilaanmu, mama hanya punya satu orang putri. Sekarang persiapkan segalanya, kita akan pindah ke luar negeri."
Mendengar perkataan mamanya, Maurin terdiam dan hanya menangisi semua yang sudah terjadi. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi di malam itu waktu di Ubud. Kaos yang tertinggal di dalam kamar, yang waktu itu ditemukan oleh Rengganis.
"Berarti kaos yang ditanyakan Tante Rengganis waktu itu, berarti kaos laki-laki itu. Dimana aku harus mencari papanya Axel." sambil menangis, Maurin memikirkan kejadian waktu di Ubud.
Lastri keluar meninggalkan Maurin di dalam kamar sendiri, kemudian dia melakukan panggilan terhadap suaminya. Saat itu juga dia menginginkan suaminya pulang, untuk membahas kejadian yang baru saja mereka alami.
************************
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Ijonk datang dengan membawa seorang dokter yang ditemani satu perawat ke kamar hotel. Melihat Aleta yang tertidur pulas, Devan tidak tega membangunkan istrinya. Dia mengajak bicara dokter dan menyampaikan keluhan yang dialami istrinya.
Mendengar suara orang berbicara, Aleta membuka matanya. Kemudian dia bangun dan duduk, serta melihat beberapa orang yang sedang mengobrol di dalam kamarnya.
"Maaf, saya malah tertidur." ucap Aleta.
"Tidak apa-apa, tadi mas sudah menyampaikan apa yang kamu rasakan pada Dokter." Devan menghampirinya.
"Ijin, kami periksa dulu ya." dokter memberi kode pada perawat untuk menyiapkan pemeriksaan.
Aleta mengangguk, kemudian Devan bergeser dari tempat duduknya. Dia memberi akses untuk dokter dan perawat memeriksa istrinya. Setelah beberapa saat.
"Mbak Aleta, kapan terakhir kali mengalami menstruasi?" tanya dokter sambil tersenyum.
Aleta bingung ditanya dokter, pikirannya jadi kemana-mana.
"Sayang, dokter bertanya. Tapi sepertinya kamu sudah lebih dari satu bulan ya tidak mengalami menstruasi." kata Devan dengan mata yang tiba-tiba berbinar.
"Iya mas, sepertinya ada kalau dua bulan Dokter. Terus gimana ya Dok, kok Aleta malah jadi bingung sendiri. Apa saya hamil ya Dok." tanya Aleta.
"Ambilkan test pack." Dokter memerintah perawat.
"Coba sekarang mbak Aleta ke kamar mandi dulu, kemudian kencing dan dimasukkan test pack ini ke air kencing ya." Dokter menyerahkan test pack dan tempat untuk menaruh air kencing pada Aleta.
Aleta memandang ke suaminya, kemudian Devan mengangguk. Kemudian dia memegangi tangan Aleta dan menuntunnya ke kamar mandi.
"Mas temani di dalam, atau Aleta bisa sendiri." tanya Devan.
"Aleta sendiri saja mas. Temani Dokternya saja." kata Aleta kemudian menutup pintu kamar mandi.
"Terus nanti kalau istri saya ternyata hamil Dok, kira-kira apa yang harus saya upayakan?" Devan menanyakan perihal kehamilan pada Dokter.
__ADS_1
Dengan sabar Dokter memberikan jawaban atas pertanyaan Devan. Jadi hasil test pack hanya untuk memastikan, dan untuk melihat perkembangan janinnya maka harus dilakukan cek di klinik atau rumah sakit.
***************************