
Aleta semakin gundah, karena sampai hari ini, Devan belum mengijinkannya untuk kembali ke Klaten melanjutkan kuliahnya yang tertunda. Hari-harinya hanya diisi perjalanan pulang pergi dari Butik Joni dan apartemen. Padahal sudah dua Minggu dia ketinggalan pertemuan di kelas.
Meskipun dia kuliah jurusan Informatika, dan model pembelajaran hybrid learning selalu ditekankan oleh dosennya, tetapi Aleta merasa lebih mantap jika mengikuti kuliah secara tatap muka dengan dosen pengampu. Apalagi sebagai mahasiswa vokasi, dimana praktik lebih diperbanyak daripada teori, dia butuh pendampingan langsung.
"Apakah aku mengadu sama kakek ya, kan beliau dulu yang menyampaikan sendiri, kalau aku bisa tetap melanjutkan studi meskipun sudah menikah." kata Dev dalam pikirannya sendiri.
"Tapi nanti mas Devan marah, dibilangnya aku tukang mengadu. Ahhh..., aku bosan ya Allah." Aleta bingung sampai mengacak-acak sendiri rambutnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Tanpa melihat siapa yang melakukan panggilan, Aleta langsung menerimanya.
"Selamat pagi," sapanya.
"Selamat pagi juga, Aleta ya." jawab suara laki-laki di seberang telepon.
"Iya benar, ini dengan siapa," Aleta dengan hati-hati menanyakan identitas si penelepon, karena dia jarang memiliki teman laki-laki.
"Ini Irvan... Aleta. Ingat kejadian waktu aku menabrakmu di pintu masuk butik Joni, kira-kira satu minggu yang lalu."
"Wow.. Irvan ya. Ingat aku ingat sekarang. Kok bisa punya nomor ponselku" sahut Aleta yang tiba-tiba moodnya muncul, dan langsung membayangkan wajah Om Ariel.
"Senengnya aku, masih diingat-ingat sama putri cantik nan mungil. Punya donk, kan ikhtiar, he..He... biasa merayu bang Joni" jawab Irvan
"Ah gombal kamu Irvan. By the way... ada apa tumben-tumbenan melakukan panggilan."
"He...he... aku kangen kamu Aleta. Dua kali aku ke Joni, tapi tidak pernah ketemu kamu."
"Iyakah, aku kalau ke Joni seringnya datang pas kursus, dan pulang tepat waktu. Soalnya driver menunggui di parkiran. Jadi ga enak kalau lama-lama kutinggal."
"Posisi lagi dimana Aleta, kita ketemu yok. Minum-minum aja, ga lama kok." ajak Irvan.
"Ketemu dimana, aku belum hafal jalan-jalan di sini."
"Ya udah, aku jemput di apartemen sekarang ya."
"Jangan Ir... ga boleh." larang Aleta.
"Kasih tahu saja tempatnya, nanti aku minta sopir untuk mengantarkan atau aku naik ojek online saja."
"Oke kita ke Mei**on Cafe aja ya, di Dago. Tempatnya cozy." kata Irvan dan mengirimkan share location.
Aleta masih mengikuti norma-norma masyarakat. Mengingat statusnya saat ini sebagai seorang istri, dia tidak boleh menerima laki-laki lain yang bukan muhrim untuk datang ke apartemennya tanpa ada teman lainnya.
Aleta kemudian menghubungi pak Asep untuk diantarkan ke lokasi.
"Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu."
__ADS_1
"Pak Asep saat ini sedang repot tidak, Aleta mau minta antar. Kebetulan Aleta ada janji dengan teman di Dago,"
"Ya non, tunggu lima belas menit pak Asep sampai di apartemen."
Aleta akhirnya menemui Irvan di Mei**n Cafe kawasan Dago dengan diantarkan pak Asep.
******
"Hei.. Aleta...," Irvan tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Hei.. Irvan .., sudah lama nunggunya." sahut Aleta menyalami Irvan.
"Duduk sebelah sana yukk, view nya bagus. Tempatnya sudah aku book."
Aleta mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe, udara segar memenuhi paru-parunya. Matanya langsung cerah melihat hamparan bunga dan aneka tumbuhan yang banyak ditanam di sekitar cafe. Irvan tersenyum senang melihat respon Aleta yang sepertinya puas dengan tempat yang dipilihnya.
"Ayuk.., disana lebih segar lagi." kata Irvan sambil menggandeng tangan Aleta. Tetapi Aleta melepaskan tangan Irvan.
"Maaf, reflek." ucap Irvan saat menyadari penolakan Aleta.
Irvan membawa Aleta ke rumah pohon, dan Aleta baru pertama kali merasakan sensasi duduk di atas pohon.
"Mau pesan apa Aleta."
"Menu khasnya apa, aku ngikut kamu aja. Untuk minumnya teh manis panas"
"Beef burger steak 2, teh manis panas 1, Iime squash 1,"
"Iya kakak, mohon ditunggu."
Irvan membiarkan Aleta terbawa suasana menikmati alam di sekitar kafe. Diam-diam dia mengambil tiga gambar Aleta secara candid menggunakan kamera ponselnya. Terlihat Irvan senyum-senyum sendiri mengamati hasil jepretannya.
"Cantik, segar, dan menyatu dengan harmoni alam." gumam Irvan lirih.
Tiba-tiba Aleta menoleh.
"Kok Irvan senyum-senyum sendiri, apa yang lucu Van." tanya Aleta.
"Ini baca chat di WhatsApp group teman-teman SMA. Gokil-gokil mereka." sahut Irvan gelagapan, kemudian meletakkan ponselnya di meja.
"Gimana Aleta, kamu suka."
"Swear... Van, aku suka banget. Seperti mendapatkan Vitamin Green, setelah berhari-hari hanya melihat jalanan."
"Kalau kamu suka, aku mau kok menemanimu setiap hari kesini."
__ADS_1
"Ya ga setiap hari juga kali. Memangnya ga ada aktivitas lain."
"Yahhh, itu mah perumpamaan Aleta. Kalau ada waktu luang, kamu mau, aku bisa membawamu kesini atau kita mencari tempat-tempat baru lagi."
"Asyik..., rejeki anak Soleh. Akhirnya aku bisa lepas dari kungkungan tembok apartemen."
"Lho, memangnya ada yang mengungkung kamu."
"Ga sih, kalau aku dikungkung, sekarang aku ga bisa donk nyampe kesini."
"Iya juga ya, he...he...," kata Irvan.
Pramusaji datang untuk mengantarkan pesanan mereka.
"Sudah lengkap ya kakak semua pesanannya. Selamat menikmati."
"Ayuk mumpung masih panas, makan dulu Aleta. Disini udaranya dingin, bentar lagi keras steaknya kalau tidak segera dimakan."
Mereka menikmati steak sambil mengobrol. Sesekali Irvan membantu membersihkan saus yang meleleh di bibir Aleta dengan menggunakan tissue makan.
Mereka banyak berbicara tentang banyak hal. Irvan ternyata mahasiswa semester akhir di ITB yang mengambil jurusan DKV. Selain itu dia juga memiliki perusahaan start up yang bergerak di bidang desain, dan sekaligus sebagai supplier bahan-bahan untuk keperluan desain. Hal itu yang mengantar mereka bisa ketemu tidak sengaja di butik Joni.
Sebagai mahasiswa Informatika, Aleta memiliki banyak kesamaan topik dan hobby terkait penggunaan IT dengan Irvan. Irvan banyak memberikan saran selaku praktisi tentang IOTs.
Pukul 14.00 Aleta minta pamit pada Irvan.
"Van.., dah menjelang sore nih. Aku pulang duluan ya."
"Ok, jangan kapok ya jalan sama aku."
"Ya tidaklah, aku seneng banget hari ini. Jangan bosen juga, mungkin aku akan lebih sering recokin kamu ke depannya. He..he...,"
"Ashiap... I.m ready for you anytime." jawab Irvan sambil tertawa.
Irvan mengantarkan Aleta sampai di mobil. Pak Asep agak kaget melihat istri Tuannya ternyata minta diantar menemui laki-laki muda.
"Bisa dibunuh Tuan Devan aku, apes." sesal Asep karena mau mengantar Aleta kesini.
Pak Asep bergegas membukakan pintu untuk Aleta, tapi Irvan lebih cepat membukakan pintu dan menutupnya kembali.
"Bye.. Aleta. Kabar-kabar ya kalau dah sampai di rumah."
"Bye Irvan." sahut Aleta sambil melambaikan tangannya.
"Pak, pelan-pelan ya mengemudinya. Hati-hati,"
__ADS_1
"Ya mas, mari " sahut pak Asep dan segera menjalankan mobilnya.
*****