Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Oma dan Mama


__ADS_3

Axel mendatangi Aleta yang sedang berada di ruang kerjanya. Hari ini dia sudah mengatur janji untuk ketemu dengan Lastri dan Maurin. Mereka akan membicarakan hasil setelah mereka memikirkan pilihan yang ditawarkan Axel.


"Momm..., Axel pergi dulu ya. Ada janji ketemu dengan Oma dan Mama?" Axel minta ijin Aleta untuk menemui keluarganya.


"Ketemuan dimana sayang? Kalau Axel ajak saudaramu gimana, yah paling tidak bisa diajak ngobrol. Nanti jika sudah ketemu Oma dan Mama, Arend atau Arick diminta menunggu di tempat lain." Aleta tidak bisa menutupi rasa kekhawatirannya dengan membiarkan Axel pergi sendiri.


"Ga pa pa ya Momm.., jika Arend dan Arick keduanya menemani Axel?? Mommy tidak usah mengkhawatirkan Axel, tidak akan terjadi apa-apa dengan kami." sambil tersenyum Axel memberikan ciuman di pipi kanan kiri Aleta.


"Iya..., ga pa pa. Hati-hati ya sayang. Kemana si twins kok Mommy tidak melihatnya?" Aleta menengok ke kamar kerja mereka, tetapi tidak melihat bayangan mereka berdua.


"Ada di belakang Momm.., tadi biasa lagi MABAR.., Axel langsung ajakin mereka saja." Axel langsung menuju kolam renang memanggil kedua saudaranya. Tidak lama mereka bertiga sudah berada di samping Aleta.


"Mommy di rumah sendiri dulu ya, paling sebentar lagi Cynthia datang. Barusan Arend sudah kirim pesan via WhatsApp padanya." Arend dan Arick juga mulai berpamitan pada Mommy nya.


"Okay..., jaga diri kalian baik-baik. Untuk keamanan kalian, ada dua orang penjaga yang dikirim Daddy untuk mengawasi kalian. Jadi tidak perlu khawatir, kok ada orang yang mengikuti kalian."


"Baik Momm..., kami berangkat. Katanya Arend yang akan mengemudi Momm, dia sudah lancar pegang setirnya." sahut Axel.


"Ya.., ingat patuhi rambu-rambu, kalian belum ada yang punya SIM. Jika ada apa-apa langsung telpon Daddy."


Aleta mengantarkan ketiga putranya sampai mereka masuk ke dalam mobil.


***********


Maurin terlihat gelisah sedang mengaduk-aduk lemon tea dengan menggunakan sedotan. Lastri melihat gerak-gerik putrinya sambil mengambil nafas


"Maurin.., mama harap tidak ada lagi keributan antara kamu dengan Axel. Apalagi Axel juga sudah tahu siapa kamu sebenarnya bagi dia. Tidak perlu lagi kita membohongi dia tentang statusnya, malah akan berakhir tidak baik." Lastri menasehati putrinya.


"Tapi apa manfaatnya untuk kita ma?? Toh.., Axel juga lebih berpihak pada keluarga Devan kan, daripada dengan kita yang jelas-jelas ada hubungan darah dengannya." Maurin masih menjawab dengan ketus omongan dari Lastri.


"Mama semakin bingung dengan jalan pikiranmu Maurin. Cobalah sekarang kamu berpikir sebagai orang tua, jangan berpikir seperti anak ABG yang selalu mencari perhatian. Apakah kamu merasa sudah memberikan yang sepantasnya untuk Axel?? Siapa yang memenuhinya, keluarga Devan kan??" Lastri berbicara tinggi dengan Maurin.


Maurin terdiam, pandangannya dia arahkan keluar resto tempat mereka saat ini duduk sambil menunggu Axel. Dia melihat orang-orang lalu lalang berjalan di balik kaca yang tembus pandang tersebut.


"Mama tidak mau lagi menyakiti cucu mama. Penyesalan mama adalah, mama memilih untuk mengikuti kamu ke luar negeri dan meninggalkan papa dan Axel. Jika waktu itu masih bisa kita putar kembali, dari dulu mama sudah meninggalkan kamu." Lastri kembali melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Mama menyesal menemani Maurin??" tanya Maurin dengan berlinang air mata, mendengar perkataan mamanya.


"Sadarlah Maurin..., turunkan egomu! Axel adalah korban dari keegoisan kita yang ingin memiliki sesuatu yang itu bukan menjadi milik dan hak kita. Mama sudah berpikir, akan jadi bagaimana anak itu, jika dia masih terus bersama dengan kita. Rasa syukur mama selalu panjatkan, dengan keibuannya Aleta bisa mendampingi Axel menjadi orang yang lebih baik." Lastri memuji Aleta di depan putrinya.


Keduanya terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Selamat sore... Oma.., Mama." tiba-tiba terdengar suara Axel di samping mereka berdua.


"Axel cucu Oma..," Lastri langsung memeluk Axel yang masih berdiri, kemudian mencium pipi kanan kiri laki-laki muda itu.


"Oma.." Arend dan Arick yang ikut menemani Axel mengulurkan tangannya mengajak Lastri berjabat tangan.


"Kalian putra kembar Devan dan Aleta ya, yang selalu menemani Axel?" tanya Lastri sambil tersenyum.


"Iya Oma, mereka Arend dan Arick.. saudara Axel." Axel menjawab pertanyaan Omanya.


Lastri menerima uluran tangan mereka, dan dengan tersenyum bahagia menjabat tangan keduanya. Arend dan Arick kemudian juga mengajak mamanya Axel berjabat tangan.


"Kami pindah duduk disana ya Oma, mau Mabar dulu." dengan sopan Arend minta ijin untuk mencari tempat duduk.


"Tidak apa-apa Oma, nanti suara kami bisa menggangu pembicaraan. Kami kesana dulu ya Oma?"


Arend langsung menarik Arick meninggalkan mereka.


"Anak-anak yang sangat sopan. Aleta pintar mendidik mereka dan cucuku Axel." gumam Lastri sambil melihati si twins.


**********


"Bagaimana kabarmu Axel?" tanya Lastri lembut dengan cucunya.


"Alhamdulillah baik dan sehat Oma. Axel yang selalu harapkan dalam setiap doa, Oma dan Mama juga semuanya dalam keadaan sehat." jawab Axel, sambil memasukkan French fries ke mulutnya.


"Kamu mendoakan Aunty juga Axel?" tanya Maurin, yang sudah bisa mencerna perkataan dari Lastri.


"Maaf mama, Axel mendoakan mama dan Oma bukan aunty. Karena Axel hanya memiliki aunty Jenny, aunty nya si twins. Jika mama Maurin adalah mama Axel, maka sudah Axel doakan. Tetapi jika mama Maurin merasa hanya sebagai aunty bagi Axel, mohon maaf tidak pernah tersebut dalam doa Axel." perkataan yang diucapkan Axel telak memukul hati Maurin. Sambil berlinang air mata, Maurin memeluk erat Axel

__ADS_1


"Maafkan mama Axel..., aku adalah mamamu bukan aunty mu." sambil terisak, Maurin meminta maaf pada Axel. Axel ganti memeluk mamanya dengan erat.


Lastri dengan penuh kebahagiaan melihat keduanya sambil bercucuran air mata. Setelah beberapa saat.


"Oh iya Oma.., mama. Kedatangan Axel kesini, untuk menanyakan tentang dua pilihan yang pernah Axel sampaikan beberapa waktu yang lalu. Bagaimana keputusannya??" Axel mengingatkan kembali akan dua pilihan yang pernah dia tawarkan pada Lastri dan Maurin.


Lastri kaget, kemudian dia memandang pada putrinya Maurin. Melihat tidak ada respon apapun dari Maurin, akhirnya...


"Pilihan Oma adalah kita akan bersatu menjadi satu keluarga Axel. Tidak akan ada yang Oma pilih. Kamu adalah satu-satunya kebahagiaan Oma untuk saat ini, dan Oma juga tidak peduli dengan semua asset atau perusahaan milik Opamu. Semua adalah milikmu." Lastri memeluk kembali Axel, dia terlalu enggan untuk berpisah kembali dengan cucunya itu.


"Oma..., maafkan Axel!! Apapun pilihan yang Oma dan Mama pilih, itu tidak akan menjadika Axel meninggalkan keluarga Daddy Devan dan Mommy Aleta. Itu juga amanah dari Opa. Tetapi Axel akan berusaha menempatkan Axel sebagai seorang cucu dari Oma dan juga sebagai putra dari mama."


**************


PENGUMUMAN


Jangan lupa mampir di karya Author yang baru ya;




Sang Petarung




Revenge: Terlahir Kembali




Semua karya Mamah AllRey

__ADS_1


*******


__ADS_2