
Tanpa memberi tahu informasi lanjutan pada Keluarga Cokro, Lastri dan Maurin langsung balik ke Singapura. Cokro yang sudah mengira hal itu akan terjadi jika mereka melihat rekaman video, membiarkan mereka tanpa melakukan tindakan apapun.
Tadi malam dia membiarkan Devan dan Aleta kembali ke Solo, karena perusahaan cabang baru di kota itu masih perlu untuk ditata. Atmaja juga kembali ke rumah di Setiabudi, dan hanya tinggal Cokro dan Rolland ditemani ART dan penjaga malam yang tinggal di kota itu.
"Bagaimana kek, kabar keluarga Maurin, apakah mereka masih mengejar kak Devan untuk bertanggungjawab atas putra mereka?" tanya Rolland.
Mereka saat ini sedang menikmati sarapan pagi berdua. Tepatnya Rolland dipaksa menemani kakeknya sarapan, karena tadi dia sempat menolak, tetapi kakek menjemputnya dari dalam kamar.
"Yah, orang mana yang sudah melihat rekaman CCTV itu tetap menuduh orang lain untuk mengakui anak itu. Di video juga ada kan informasi hari dan tanggal rekamannya."
"Iya juga, cuma Rolland agak khawatir dengan mama kek. Keluarga Lastri bisa menuntut mama, karena mamalah yang mengajak Maurin ikut family gathering keluarga kita dulu."
"Biarkan saja Rolland, karena memang mamamu yang punya ide mencampurkan zat aprosidiak ke dalam minuman. Coba kalau dulu Puji tidak melakukan pengawasan, hal apa yang akan terjadi pada keluarga kakakmu."
Rolland diam saja, tetapi Rengganis adalah mama kandungnya. Sangatlah wajar kalau tiba-tiba dia mengkhawatirkan mamanya. Apalagi sejak mamanya keluar dari rumah keluarga ini, mereka belum pernah ketemu lagi. Mamanya juga ganti nomor ponsel dan tidak memberi tahu mereka.
"Kita bisa membantu untuk mendatangkan pengacara untuk mamamu, jika keluarga Lastri menuntut mamamu." ucap Cokro yang bisa melihat rasa khawatir di muka cucunya.
"Iya kek, itu lebih baik. Juga agar mama ke depan juga lebih hati-hati dalam mengambil keputusan."
"Rolland..., rumah ini terasa sepi. Satu persatu penghuni pada meninggalkan kakek sendiri."
Rolland berhenti sejenak dan meletakkan sendok di piring, kemudian melihat ke wajah kakeknya. Wajah yang semakin tambah tua dengan keriput hampir memenuhi mukanya.
"Kira-kira apa yang sebenarnya kakek inginkan. Kok tiba-tiba kakek bicarakan ini."
Cokro menghela nafas, kemudian melihat ke arah Rolland.
"Bagaimana hubunganmu dengan Jenny? Kapan kamu akan meminta papa dan kakek datang ke keluarga gadis itu. Setelah kalian menikah, kalian tidak boleh meninggalkan kakek sendiri."
Rolland tersenyum, kemudian melanjutkan lagi sarapan paginya.
"Rolland belum sempat membicarakan hal tersebut pada Jenny kek. Nanti kalau kerjaan di perusahaan sudah agak turun, nanti coba Rolland tanyakan pada Jenny. Kira-kira dia serius tidak menjalin hubungan dengan Rolland."
__ADS_1
"Ingat usiamu Rolland. Sudah 25 tahun usiamu. Kakek belum pernah melihat kamu mengajak seorang gadis datang ke rumah ini, kecuali Jenny."
"Iya, iya kek. Kak Devan kemarin juga usianya lebih dari 30 tahun waktu menikah dengan kakak ipar. Rolland masih jauh kek, kayaknya belum layak untuk menikah dengan usia ini."
"Hush..., tidak boleh sama dengan kakakmu. Kamu harus secepatnya menyampaikan pada Jenny, kapan dia siap untuk kamu lamar."
Rolland hanya tersenyum, dan setelah mereka selesai sarapan berdua, langsung berangkat menuju perusahaan.
***********************
Aleta dalam keadaan bingung dan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Test pack yang dia masukkan pada air seninya ternyata menunjukkan dua garis biru. Dia malah terduduk di dalam kamar mandi, matanya berkaca-kaca.
"Tok.., tok.., tok.., Aleta sayang. Sudah selesai belum, kok tidak keluar-keluar." tiba-tiba pintu kamar mandi diketuk dari luar, dan terdengar suara Devan Suaminya.
Aleta langsung menghapus air mata, kemudian perlahan membuka pintu. Dia memberikan hasil test pack pada Devan.
"Hah, Dokter..., istriku hamil dokter." teriak Devan sambil mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang.
Tanpa henti Devan menciumi wajah Aleta kemudian dia menjatuhkan kakinya di lantai kamar, dan mencium perut istrinya.
"Sudah mas, jangan begitu. Ayo bangun, banyak orang di kamar ini. Mas Devan tidak malu apa?" kata Aleta yang mukanya merah karena sikap suaminya.
"Tidak apa-apa mbak. Wajarlah, kalian sudah hampir satu tahun menikah, kami bisa memahami respon dari suaminya." kata Dokter.
Devan kemudian bangun dan duduk di samping Aleta.
"Terus apa yang harus kami lakukan dan kami jaga Dok." tanya Devan.
"Atau besok pagi saja kalian datang ke RS di depan hotel ini. Kita bisa lakukan USG untuk melihat usia kandungan mbak Aleta. Sekarang sudah malam, kami yakin mbak Aleta ingin segera istirahat."
Mendengar perkataan dokter, Devan tersadar bahwa istrinya juga belum makan. apapun.
"Iya Dokter, terima kasih. Ijonk...,kamu antar kembali Dokter dan perawat. Besok pagi kami akan ke rumah sakit saja."
__ADS_1
"Iya Tuan. Mari Dokter, saya antar kembali ke RS." kata Ijonk.
"Makan yang bergizi ya mbak Aleta. Semangat. Kami pamit dulu ya. Permisi." dokter dan perawat kemudian pamit untuk kembali berjaga di RS.
Sepeninggalan mereka, Devan langsung mengambil menu yang mereka pesan dari room service tadi. Dia membawa ke atas ranjang.
"Mas, Aleta yang jalan kesitu saja. Masak makannya di atas ranjang."
"Khusus malam ini tidak apa-apa. Kamu diam saja disitu, mas yang akan membawanya kesitu."
Devan kemudian menggeser meja kecil dan menempatkan di depan ranjang king size. Piring dan gelas dia pindahkan kesitu, dan mengambil gelas untuk diberikan pada Aleta.
"Kira-kira anak kita nanti cewek atau cowok ya sayang?" tanya Devan.
"Halah mas Devan kok jadi begini sih. Bagi Aleta yang penting mereka sehat mas, mau cowok atau cewek sama saja."
"Lha memang mas Devan sendiri inginnya apa? Cowok ya?"
"Bagi mas juga sama saja. Kami di rumah keluarga tidak ada yang cewek, jadi anak cewek kayak nya asyik juga." kata Devan sambil senyum-senyum sendiri.
"Lha kalau ternyata anaknya cowok, terus gimana mas?"
"Cowok juga ga masalah, kan malah sudah ada generasi penerus perusahaan kita." kata Devan yang tampak bahagia.
"Besok pagi kita ke RS ya, kita ke tempat mama dulu atau sesudah dari RS baru ke tempat mama."
"Terserah mas Devan saja, Aleta ngikut. Sudah kenyang mas, lha mas Devan kenapa tidak ikut makan. Nasi gorengnya keburu dingin, ayo dimakan mas."
"Kenapa mas rasanya jadi kenyang ya."
"Ihh.. tidak boleh begitu. Tadi nasehatin Aleta untuk makan, ayo sekarang mas Devan makan." Aleta mengangkat piring kemudian memberikannya pada suaminya.
"Iya, iya." sahut Devan sambil mengambil piring dari tangan istrinya.
__ADS_1
Selesai makan malam, mereka masih mengobrol tentang kehamilan. Jam 12 malam, mereka baru tidur kembali.
*******************