
Sesampainya di One ****ty Coffee & Music yang berada di tengah kota Bandung, Axel turun dari taksi dan langsung masuk ke resto tersebut. Dari dalam resto, Lastri berjalan keluar dan melambaikan tangan untuk menyambut cucunya. Axel diam tidak membalas lambaian tangan, dia menuju ke arah omanya berdiri. Karena tekanan untuk menghormati orang yang lebih tua oleh Aleta, Axel menyalami dan mencium tangan omanya.
"Kamu sehat Axel.., ayo masuk your aunty sudah menunggu di dalam?" dengan perasaan bahagia Lastri merangkul cucunya dan membawanya ke dalam.
"Sehat." jawab Axel singkat, karena dia bingung mau memanggil dengan panggilan apa. Saat masih bersama dulu, dia selalu memanggil perempuan paruh baya itu dengan Mama, tetapi saat ini dia sudah mengetahui jika wanita itu adalah omanya.
Melihat kedatangan putranya, Maurin berdiri kemudian menyalami Axel. Seperti saat bertemu dengan Lastri, Axel juga melakukan hal yang sama terhadap Maurin. Dengan penuh takzim, dia mencium tangan Maurin. Lastri mengkode waiters untuk datang ke mejanya, dan seorang waiters perempuan berseragam putih hitam segera datang menghampiri.
"Axel mau minum dan makan apa sayang?" Lastri menawari Axel dengan ramah.
"Orange juice saja oma.., Axel sudah makan di rumah." jawab Axel tegas, yang membuat Lastri dan Maurin terkejut dengan panggilan baru tersebut. Muka mereka menjadi pias kepucatan, dan memandang Axel dengan tatapan rumit.
"Buatkan sesuai pesanannya mbak, tambahkan Bruscheta satu ya!" ucap Lastri pada waiters, karena tidak mau waiters mengetahui ada permasalahan apa dalam keluarganya.
"Axel jaga bicaramu..., jangan mentang-mentang sudah lama kamu tidak bersama kami, seenak jidat kamu memanggil Mama!" tegur Maurin dengan nada marah.
Axel melihat ke arah Maurin dengan tatapan datar, sedikitpun tidak ada riak ketakutan terlihat di wajahnya. Sedangkan Lastri hanya diam tidak mampu bicara, dia malah berpikir apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk menjelaskan posisi hubungan mereka pada anak itu. Tetapi respon yang ditunjukkan Maurin juga sangat mengejutkan mereka.
"Apakah wanita itu yang mengajari kamu untuk berani pada kami?" lanjut Maurin lagi.
"Maurin..., pelankan suaramu!!! Apakah kamu tidak malu dilihat orang satu resto karena keributan yang kamu perbuat?" tegur Lastri melihat suara Maurin yang sangat keras terdengar. Beberapa pengunjung lain sampai menoleh ke arah tempat duduk mereka.
"Maurin mau kasih pelajaran pada anak ini Ma.., tinggal lama di keluarga Cokro, telah memberi racun sehingga dia melupakan hubungan darah. Darah lebih kental daripada air Axel, itu yang perlu kamu ingat!"
__ADS_1
"Maaf Oma..., dan jika mau Axel memanggil Mama..., jangan libatkan keluarga Opa Cokro dan Daddy Devan!!! Tidak perlu dan tidak ada manfaatnya memancing masalah dengan keluarga kami. Saat ini Axel datang kemari karena menghargai hubungan darah yang ada di antara kita." Axel dengan berani menjawab perkataan dari Maurin.
"Axel ada dua pilihan yang akan tawarkan pada Oma dan Mama. Tetapi yang perlu diketahui, silakan buka dan pelajari file dalam filling file disini!!! Setelah itu dipikirkan lagi, mau lanjut atau berdamai!" lanjut Axel dengan tegas, sambil meletakkan Bantex di depan Maurin.
"Permisi.., mohon maaf ini pesanannya. Silakan menikmati!" mereka diam dan melihat ke waiters yang mengantarkan orange juice dan bruschetta. Dengan santai, Axel langsung mengambil gelas, kemudian menyesap minuman dengan straw. Lastri bergeser tempat duduk menjejeri Maurin, kemudian membuka file yang diberikan Axel.
Seketika Lastri pucat sambil menutup mulut dengan tangannya, dia sama sekali tidak menyangka jika Axel bisa membawakan bukti-bukti itu. Maurin dengan raut wajah yang merah padam, berusaha menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun. Semua data saat Maurin melahirkan bayi laki-laki di Gleneagles Hospital, dengan jenis kelamin laki-laki beserta foto saat masih bayi tersimpan dengan rapi disitu.
"Siapa foto bayi itu mama??? Kenapa wajah bayi itu sama persis dengan foto bayi yang ada di dompet Axel??" pertanyaan Axel menyela keheningan mereka, dan Lastri tergagap mendadak sulit untuk bicara. Perlahan air mata menggenang di pipinya.
"Maafkan Oma Axel..," bisik Lastri lirih, dan terdengar sangat jelas di telinga Axel.
"Maaf untuk apa Oma??? Karena ikut terlibat dalam kebohongan ini, dan akhirnya Opa yang menjadi korban dari semuanya?" ucap Axel sambil menatap Lastri dengan dingin.
"Pilihan kedua, kita tetap bisa hidup berdampingan, tetapi Axel tetap akan tinggal bersama dengan keluarga Cokro sampai tahun depan, karena Axel akan lanjut studi di Jerman. Biarkan perusahaan berjalan seperti biasa, jika mama menghendaki profit sharing, akan Axel berikan sesuai permintaan mama. Tetapi segera tinggalkan negara ini, kembalilah pada kehidupan Oma dan Mama di luar negeri. Axel akan datang berkunjung jika musim liburan. Terima kasih, maaf karena Axel berjanji dengan Mommy Aleta akan sampai di rumah sebelum adzan maghrib, maka sekarang Axel harus pulang." selesai bicara panjang lebar, Axel segera pergi meninggalkan mereka berdua. Lastri menangis terisak, sedangkan Maurin hanya terdiam tidak mampu bicara apapun.
*******************
__ADS_1
"Tumben Cyn..., kamu ingat untuk berkunjung ke rumah ini?" Arick dengan muka datar bertanya pada sepupunya.
"Kalian saja yang tidak pernah ada di rumah kalau Cynthia kesini. Memang tidak boleh kalau Cynthia kangen sama Aunty Aleta dan Opa buyut?" tidak mau kalah, putri cantik Rolland yang saat ini memasuki masa ABG balik bertanya pada Arick.
"Iya..iya..., perasaan Mommy cerita kalau kamu main kesini terakhir sudah satu bulan yang lalu deh. Memang apa kesibukanmu sekarang anak ABG.., dan besok lagi kalau keluar rumah jangan kenakan baju seperti ini!!! Ini namanya kurang kain sayang..., mode sih mode... tapi lindungi badan juga kali." dengan usil Arick menarik kaos yang dikenakan sepupunya itu, saat ini Cynthia mengenakan kaos dengan bagian kedua pundaknya terbuka.
"Ah.., kalian sama saja dengan papa. Ribut terus ngusilin baju yang dikenakan Cynthia. Fashion tahuuu..." protes gadis itu.
"Yang dikatakan kak Arick itu benar Cynthia sayang. Kamu itu masih Junior School klas 7, tubuh itu dijaga dengan baik, dilindungi.., jangan malah diumbar seperti ini." Arend yang sejak tadi diam ikut bicara, sambil melempar kain sarung dari bahan santung yang dibeli saat mereka liburan ke pulau Bali, pada gadis itu.
"Baik kakak-kakakku yang cerewetnya melebihi mama. By the way... dimana Aunty??? Kok Cynthia dari tadi tidak lihat, baru pergi sama si ganteng Axel kah??" Cynthia tengak-tengok mencari kedua orang tersebut.
"Iiihhh.. naksir sama Axel ya?? Hayo ngaku.., ngaku!" Arick menggoda Cynthia, dan langsung pipi gadis ABG itu memerah sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.
"Kak Arick nakal..."
"Ha..ha..ha.., ga pa pa Cynthia jika kamu naksir Axel. Kan kalau pacaran, mainnya kesini-sini juga. Sekalian tengok Opa buyut. Ha...ha..ha..." Arick dan Arend tertawa menggoda Cynthia.
__ADS_1
*******************