Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Kembali


__ADS_3

Aleta dibantu Bi Puji telah selesai memandikan Arend dan Arick, saat ini mereka sedang memberi MPASI untuk si twins. Melihat rumah kembali ramai, kakek Cokro merasa tenang dan bahagia.


"Kakek hari ini tidak ke perusahaan?" tanya Aleta melihat kakek datang menghampiri mereka.


"Masak buyut-buyut kakek ditinggal sendirian, perusahaan urusan yang muda-muda. Kakek di rumah saja bersama mereka."


"Iya juga ya kek, kan ada Rolland sama Jenny ya?"


"Iya, biar mereka mempersiapkan diri untuk meneruskan estafet. Jika ada keputusan penting yang harus diambil, mereka bisa menghubungi kakek via panggilan telepon."


"Gimana makannya mereka Al? Mereka tidak rewel kan?" lanjut kakek Cokro.


"Alhamdulillah iya kek. Ini Arick agak lambat makannya, lebih cepat Arend."


Cokro menengok lebih dekat ke stroller tempat mereka.


"Paling sebentar lagi, baby sitter nya datang. Kakek minta dikirim dua sama yayasan."


"Tuan, kan ada Bi Puji yang nemani Non Aleta. Kenapa harus dua Tuan Besar?" tanya Bi Puji.


"Kamu urusannya banyak Ji, tidak apa-apa sekalian dua. Biar masing-masing bisa fokus pada kerjaannya. Arend dah selesai nih makannya, ayo jalan-jalan sama kakek buyut yuk." Cokro mendorong stroller ke halaman depan.


Melihat kakek Cokro yang tampak senang membawa Arend, Bi Puji sama Aleta tersenyum.


"Muka Tuan Besar sangat cerah ya Non, ternyata kedatangan Non dan si kembar betul-betul menjadi obat untuk semua."


"Iya juga sih Bi, kasihan sebenarnya kakek kalau ditinggal sendiri. Tapi mau gimana lagi, masak Aleta dan anak-anak disini, terus Daddy nya di Solo."


"Jangan Non, ya tetap suami yang harus diutamakan Non. Apalagi Tuan Devan itu sangat sayang banget sama Non Aleta. Hidupnya jadi lebih tertata."


"Memang sebelumnya tidak tertata Bi?" sahut Aleta meledek Bi Puji.


"Kan lebih Non, tadi Bibi bilangnya. He.., He., tapi bener Non. Kehadiran Non Aleta di keluarga ini, benar-benar merubah semuanya. Dulu sewaktu belum ada Non, semua aktivitas penghuni rumah dilakukan sendiri-sendiri. Sekarang sejak ada Non, kakek terus mengharuskan semua pada sering ngumpul."


Aleta tersenyum mendengar perkataan Bi Puji. Tiba-tiba bel pintu berbunyi.

__ADS_1


"Sebentar ya Non, Bibi tinggal sebentar. Mau lihatin siapa tamunya?"


Aleta menganggukkan kepala. Setelah membersihkan bekas makan Arick, Aleta mendorong stroller ke arah kamar.


"Non Aleta.., ternyata baby sitter yang tadi dibilang Tuan Besar sudah datang Non." Bi Puji masuk, dan di belakangnya ada dua orang, satu wanita seusia Bi Puji, dan satunya terlihat masih muda.


"Oh iyakah? Istirahat dulu saja ya, ini kebetulan Arick juga tidur setelah makan."


"Perkenalkan Non, saya Dewi, dan ini keponakan saya namanya Rini. Kami berdua dikirim yayasan untuk membantu Non mengasuh si twins." baby sitter yang lebih tua mengenalkan dirinya.


"Baik, nanti minta tolong ya, saya dibantu menjaga putra-putra saya. Ini Arick, dan yang sedang dibawa kakek buyutnya jalan namanya Arend "


"Bi Puji, ajak mereka menata barang-barangnya dulu di kamar ya!"


"Baik Non. Ayo barang-barangnya ditata di kamar yang sudah dipersiapkan untuk kalian berdua." Bi Puji mengajak dua baby sitter ke belakang untuk diantarkan ke kamar.


Sepeninggalan mereka, Aleta mendorong stroller ke kamar untuk si kembar. Kemudian memindahkan Arick ke atas bednya. Dia mencium pipi putranya, kemudian meninggalkannya di dalam kamar.


*****************


"Aawww.., kamu siapa? Kenapa bisa berada di kamarku?" teriak Aleta sambil mendorong orang yang sedang memeluk pinggangnya. Kemudian dia mengambil bantal dan memukuli orang tersebut.


"Momm.., mommy, hentikan! Ini malam hari jangan teriak-teriak, ini Daddy." seru Devan menangkis pukulan bantal dari istrinya.


Aleta kaget, ternyata orang yang dia takuti adalah suaminya Devan. Sambil tersenyum malu, dia menutup mukanya dengan bantal. Devan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.


Dari luar pintu terdengar ketukan, dan orang berlari menuju kamar Aleta.


"Kakak ipar, ada apa? Kenapa teriak?" terdengar panggilan Rolland dari luar kamar.


"Ayuk, Mommy keluar. Harus tanggung jawab, sudah membangunkan orang di luar." goda Devan.


Aleta tersenyum malu kemudian beranjak dari tempat tidur, dan membuka pintu kamar.


"Ada apa kak, kenapa teriak?" tanya Rolland polos.

__ADS_1


"Tanya itu, yang sedang bersembunyi di balik selimut." Aleta menunjuk Devan yang berselimut tebal


"Owalah, ternyata ada serangan tengah malam ya. Kirain ada apa?" sahut Rolland sambil mukul jidatnya sendiri.


"Aleta, ehm.., bisa-bisa malam ini kita kalah ronde ini. Iya ga Lland?" ledek Jenny sambil melihat ke Rolland suaminya.


"Hai.., pada balik kamar masing-masing. Berisik. Jangan gangguin orang lagi mau senam malam." seru Devan.


"Iya, iya, makanya kalau senam itu yang tenang, slow motion, jangan pakai teriak-teriak. Bikin geger rumah saja." Rolland merangkul Jenny meninggalkan kamar Aleta dan Devan.


Aleta menutup kembali pintu kamar kemudian menghampiri suaminya.


"Daddy mau minum panas tidak? Aleta buatin yah?"


"Tidak usah, tadi sudah minum di pesawat. Sekarang minum yang ambil sendiri saja," jawabnya sambil senyum-senyum smirk.


"Maksudnya?"


"Ini istriku kapan sih dewasanya, harusnya bisa menebak kan. Suaminya jauh-jauh datang dari Solo itu, apa sih yang dirindukannya." kata Devan sambil menarik tangan Aleta, kemudian memeluk istrinya.


"Iihhh, jangan gini to. Mas Devan tidak capai apa?"


"Capai kan ada obatnya, melihat istriku siap sedia melayani suami itu obat yang paling mujarab." jawab Devan sambil mencium kening Aleta.


"Ah nanti dulu, Aleta masih blank, baru bangun tidur. Cerita dulu, kenapa baru kemarin ke Solo, sekarang sudah sampai lagi kesini."


"Mas Devan semalam tidak bisa tidur sayang. Teringat terus sama istriku yang cantik ini. Makanya tadi, setelah membereskan urusan, mas Devan langsung minta Rolland untuk kirim pesawat jemput mas "


"Terus besok gimana kerjanya? Berangkat lagi ke Solo, memangnya tidak capai apa?"


"Kan mas bisa kerja dari Perusahaan pusat. Tadi para manajer divisi sudah aku beri arahan, jadi besok mas koordinir perusahaan di Solo via virtual."


"Berarti kita bisa lama disini ya? Alhamdulillah doa anak baik cepat terkabul."


Devan langsung merangkul kembali Aleta dan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Bibir dan tangan Devan mengeksplorasi penampakan di hadapannya. Tanpa kata dan tanpa penolakan, Aleta melayani apa yang diinginkan oleh suaminya. Akhirnya di kamar itu tinggal suara deru nafas dan desaha* di antara mereka. Malam itu berlalu sangat panjang di kamar mereka.

__ADS_1


***************


__ADS_2