
Pagi hari berikutnya jam empat Shubuh Aleta terbangun dari tidurnya. Dia menengok ke samping, dan yang mengejutkannya, tempat disampingnya sudah kosong. Aleta berpikir Devan sudah pergi, tapi begitu dia mau beranjak, Aleta melihat Devan duduk di kursi sambil memejamkan mata. Dengan bersandar pada tembok, kaki Devan diselonjorkan di atas ranjang.
Merasa kasihan dengan posisi tidurnya yang bisa membuat tubuh kaku dan sakit, Aleta bermaksud untuk membangunkan Devan.
"Mas, mas..., bangun," Aleta memanggilnya pelan tapi Devan tidak menjawab.
Perlahan Aleta menepuk pelan pipi Devan dengan tangan kanannya.
"Mas, bangun, nanti tubuhnya sakit semua."
Devan membuka matanya perlahan, dan tanpa diduga Aleta, tangan Devan menahan tangannya untuk tetap berada di pipinya. Devan merasa terpesona dan terhipnotis melihat muka bare face Aleta di pagi hari, kulit mukanya tampak halus dengan bibir pink yang menghiasi. Tetapi tiba-tiba Devan kembali pada dirinya sendiri, dan melepaskan tangan Aleta.
"Tidurlah dulu di ranjang sebentar, Aleta mau mandi kemudian membantu ibu menyiapkan sarapan pagi." kata Aleta dengan gugup.
"Bisakah aku menemanimu mandi." bisik Devan di telinga Aleta untuk menggodanya.
"Aleta harus cepat ke dapur membantu ibu. Tidurlah dulu nanti Aleta bangunkan lagi pukul enam."
Namun ketika Aleta hendak berlari ke kamar mandi, dengan cepat Devan bangun dan menangkap tubuh Aleta. Tubuh Aleta terkunci dan didorong pelan ke dinding oleh Devan, mata indah dan bening milik Aleta terbuka lebar. Aleta memberanikan menatap mata Devan, berbagai kejutan terlihat di matanya. Mata yang biasa arogan, kini mata itu redup, sayu, dan seperti ada tatapan memohon.
"Apakah kamu akan meninggalkanku sekarang," bisik Devan dengan suara serak, tapi suara itu menjadikan telinga' Aleta seperti berdengung dikelilingi lebah.
"Tinggallah sebentar, temani aku sebentar saja." pinta Devan sambil memeluk tubuh Aleta.
Aleta tetap berdiri dengan tubuh lemas tak mampu bersuara.
"Dia telah menikahiku, aku adalah istrinya. Apakah dia mau menagih sesuatu padaku. Aku harus bagaimana?" berbagai pertanyaan berseliweran di otak Aleta. Dia tidak dapat meresponnya satu satu.
Tiba-tiba Aleta merasa, Devan dari tadi mengamati bibirnya, seketika dia panik. Tanpa sadar Aleta menutup bibirnya dengan tangan kanannya kemudian menutup matanya. Melihat tingkah Aleta yang menggemaskan, Devan tersenyum lucu. Kemudian tanpa bisa ditahan, Devan menurunkan wajah, dan memberikan ciuman lembut di dahi wanita yang baru kemarin pagi dia nikahi.
Merasa ada sesuatu yang kenyal dan basah di keningnya, Aleta melepaskan tangan dan memegang dahinya. Seperti mendapatkan kesempatan, bibir Devan langsung menginvasi warna pink mungil di wajah Aleta. Tanpa sadar, dengan kaku Aleta membuka sedikit bibirnya, dan belitan lidah Devan sesaat menerbangkan pikiran Aleta.
__ADS_1
Devan dapat merasakan adanya kegugupan di diri Aleta, akhirnya dengan suara serak dia melepaskan Aleta.
"Mandilah dulu, kita dapat menundanya sampai kamu merasa siap." kata Devan pelan dengan perasaan sedikit kecewa.
Aleta terdiam kaku.
"Kami sudah menikah, apakah aku punya hak untuk mengabaikan Devan, meskipun pernikahan ini merupakan perjodohan." memikirkan hal ini membuat Aleta menjadi berubah pikiran.
"Mas Devan..., Inshaa Allah Aleta sudah siap." ucapnya kaku sambil tersipu.
"Apakah kamu yakin untuk menyerahkan diri padaku. Kamu tidak akan bisa lari dariku, jika kamu menjadikanmu milikku hari ini." dengan suara serak khas pagi laki-laki yang didominasi testoteron, Devan berusaha menahan diri.
"Aleta yakin, karena Aleta tidak mau menjadi istri yang durhaka." ucapnya lirih.
Mendengar suara lirih yang keluar dari bibir mungil warna pink milik Aleta, Devan tidak tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Dengan satu tangan, Devan meraih tangan Aleta dan dengan lembut menciumnya. Satu tangan yang lain sudah siap-siap untuk melakukan perjalanan melintasi lembah dan ngarai di tubuh Aleta. Namun, faktual tidak akan sejalan dengan kondisi aktual...
"Tok...tok..tok...," nak Aleta, nak Devan sudah hampir pagi. Shubuh dulu nak.."
"Ya Bu, sebentar. Aleta sudah bangun dari tadi." dengan gugup Aleta mendorong tubuh Devan sambil menjawab panggilan ibunya.
Akhirnya Devan mengalah untuk menjaga kharisma Aleta di keluarganya.
"Mandilah, kita lakukan lagi lain kali," bisik Devan.
Dengan muka merah, Aleta mengangguk dan segera berlari ke kamar mandi.
******
Siang sehabis sholat Dhuhur Aleta dan rombongan Devan akan segera berangkat ke Bandung. Sebelum berangkat, Aleta menemui adik-adiknya di Pendhopo untuk berpamitan.
"Kak Aleta perginya berapa lama." tanya Joko dengan polosnya.
__ADS_1
"Belum tahu Jok, nanti kalau kak Devan libur, kami akan pulang kembali kesini untuk menemani kalian."
"Benar kak?" iya kata Aleta tersenyum menenangkan hati adik-adiknya.
Meskipun mereka tidak terlahir dari rahim yang sama, ikatan batin antara mereka sudah melebihi ikatan saudara kandung. Selama ini, suka maupun duka mereka lewati di panti ini dengan saling mendukung dan menguatkan.
"Kakak masih punya janji untuk ngajari Dewi memasak, Dewi ga punya kakak lagi, kalau kakak pergi." Dewi menangis merasa keberatan di tinggal Aleta.
"Kakak tidak pergi selamanya sayang, kan tadi kakak sudah janji. Kalau kak Devan libur, kakak akan kunjungi kalian disini. Kakak kan juga masih harus nyelesaikan kuliah dulu." kata Aleta.
Selama tiga puluh menit Aleta menghabiskan waktu untuk menenangkan adik-adiknya. Kemudian gilirannya untuk berpamitan dengan ibu.
Di depan Bu Rosna wanita yang dikenalnya sebagai ibu sejak dia bayi, Aleta tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Begitu sampai di depan Bu Rosna, Aleta langsung menubruk wanita itu dan menangis di pundaknya.
"Sudahlah Aleta, tidak usah menangis. Ibu sudah selesai bertanggung jawab padamu, sekarang suamimu yang akan menggantikan peran ibu. Turuti perintahnya, berbaktilah padanya. Carilah surga dengan ridhonya nak."
"Ibu akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, kerukunan keluargamu, jadikanlah rumahmu menjadi tempat beristirahat yang menyenangkan bagi suamimu."
Bu Rosna mengelus-elus punggung Aleta, dan menghapus air matanya. Devan yang melihat Aleta memeluk Bu Rosna, berjalan mendekat menghampiri mereka. Tanpa ada yang mengira, Devan duduk bersimpuh di depan Bu Rosna. Kemudian menarik tubuh Aleta dari pundak Bu Rosna kemudian merengkuh dan membawa ke pelukannya.
"Terima kasih Bu Rosna, ibu telah membesarkan Aleta untuk diserahkan kepada saya. dengan sekuat tenaga, saya akan memastikan kebahagiaan Aleta." ucap Devan kepada Bu Rosna sambil mencium tangannya.
Aleta terkejut merasa tidak percaya jika Devan mampu merendahkan dirinya di depan Bu Rosna.
"Bangunlah nak. Ibu titipkan Aleta padamu nak. Jagalah, jangan sakiti hatinya, tuntunlah dia untuk mendapatkan surga- Nya."
Bu Rosna menasehati Aleta dan Devan untuk saling menjaga dan mengingatkan.
Pukul dua sore, rombongan berangkat ke Bandung menggunakan jalur darat. Aleta tidak mau naik pesawat, meskipun pesawat pribadi. Selama hidupnya, Aleta belum pernah merasakan naik transportasi udara.
*****
__ADS_1