
Menjelang Maghrib Devan mengakhiri pekerjaannya di perusahaan, kemudian dia mempersiapkan diri untuk langsung pulang ke apartemen menjemput istrinya. Sebenarnya dia memilih berdua dengan Aleta di dalam kamar, daripada harus menghabiskan waktu di rumah keluarga. Tiba-tiba pintu ruangan didorong dari luar, dan Rolland muncul dengan diikuti Jenny di belakangnya.
"Kak... langsung ke rumah atau balik apartemen dulu." tanya Rolland dari pintu.
"Kamu nanya atau ngetes. Ya terang ke apartemen dulu, Aleta mau dikemanakan?" kata Devan dengan nada agak tinggi.
"Oh iya lupa, he..he.. Kak, kakak tidak curiga dengan acara mendadak hari ini. Tidak biasanya mama terlihat bahagia dari nada bicaranya, tiba-tiba mengumpulkan orang banyak." tanya Rolland.
"Darimana kamu tahu kalau banyak orang." tanya Devan yang sudah selesai bersiap untuk pulang.
"Makanya ini aku bawa Jenny, tadi mama ternyata minta Jenny untuk bantu pesankan snack di Har**st. Jenny yang malam ini koordinir masalah konsumsi." kara Rolland yang mulai curiga kalau mamanya memiliki rencana baru.
"Sudah tidak perlu dipikirkan. Nanti kita juga akan tahu, apa yang akan mama utarakan." sahut Devan sambil beranjak meninggalkan ruangan.
Akhirnya Rolland dan Jenny mengikut Devan di belakangnya. Ketiganya langsung turun menggunakan lift khusus Direksi, dan berpisah di basement tempat parkir mobil.
******
Maurin dari sore sudah bersiap dengan dandanan tercantik versi dirinya. Dia ingin menimbulkan kesan mewah di hadapan keluarga Cokro. Lastri ibunya Maurin juga sudah bersiap dari tadi. Meskipun Lastri malu karena anaknya hamil duluan, tetapi harapan untuk menjadi besan keluarga Cokro menjadikannya menepis rasa malu.
"Gimana ma, kita berangkat jam berapa." tanya Maurin pada Lastri.
"Setelah adzan selesai saja kita berangkat. Kita bawa sopir saja, mama ga tega kamu baru hamil masak nyopir sendiri." jawab Lastri.
"Iya ma, tadi aku juga sudah menyuruh pak Ujang untuk ready di bawah."
"Rin..., tapi kamu tidak bohong sama mama kan. Bayi yang ada di perutmu, itu betul anaknya Devan." tanya Lastri tiba-tiba.
"Jangan sampai kamu sudah seperti ini, ternyata kamu hamil dengan laki-laki lain. Jangan berani-berani mempermainkan keluarga Cokro." kata Lastri melanjutkan pertanyaannya.
"Tidak ma.., tolong percaya sama Maurin. Slejak pulang family gathering dari Ubud dengan keluarga Cokro, Maurin tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain." jawab Maurin meyakinkan mamanya.
__ADS_1
"Ide untuk menjebak Devan juga munculnya dari Tante Rengganis. Kalau ingat perlakuan Devan pada Maurin, saat acara Keluarga di rumah Cokrodirjan, sebenarnya Maurin sudah putus harapan untuk mendekati Devan." lanjut Maurin yang tiba-tiba teringat bagaimana Devan memperlakukannya.
"Sudahlah tidak perlu diingat-ingat. Mama yakin, begitu mereka tahu kamu hamil anak Devan, mereka akan berubah dalam memperlakukan kamu." kata Lastri menghibur Maurin.
"Papa gimana ma, dari kemarin waktu Maurin cerita kalau hamil anak Devan, papa marah dan sampai saat ini tidak peduli." tanya Maurin mendadak sedih.
Dia teringat waktu datang ke ruang kerja papanya, dengan membawa hasil laboratorium yang menunjukkan tentang kehamilannya. Maurin yang berpikir jika papanya akan bahagia, ternyata malah habis-habisan dimarahi bahkan ditampar oleh papanya.
"Nanti mama yang akan bicara dengan papa. Ayo kita segera turun, jangan sampai kita datang terlambat." kata Lastri mengajak Maurin untuk segera berangkat ke rumah Cokro di kawasan Lembang.
Tidak lupa Lastri menyiapkan dua bungkusan besar untuk buah tangan mereka.
********
Sementara itu di sebuah kamar yang ada di rumah keluarga Cokro, terlihat Atmaja sedang mengajak Rengganis bicara. Rengganis dari tadi sibuk mematut diri di depan cermin.
"Nis..., apa yang kamu rencanakan malam ini." tanya Atmaja pelan-pelan pada Rengganis.
"Nanti juga kamu akan tahu apa yang akan aku lakukan. Tidakkah kalian senang kalau melihatku bahagia. Aku adakan acara ini, bukan semata-mata untuk kesenanganku, tapi aku adakan untuk kesenangan dan kebahagiaan keluarga ini." kata Rengganis menjawab pertanyaan suaminya.
Rengganis terdiam, dia terlihat sibuk membetulkan rambutnya. Setelah selesai,
"Aku mau cek dapur dulu, mau bilang Puji untuk menyiapkan minuman tambahan." Rengganis meninggalkan Atmaja sendirian.
********
Rengganis terlihat puas melihat ruangan yang telah disiapkan. Makanan utama dan makanan pembuka sudah ditata rapi.
"Assalamualaikum,.," sapa beberapa saudara yang sudah mulai berdatangan.
"Wa Alaikum salam,... ayo masuk, masuk..," Rengganis menjawab salam dan mempersilakan saudaranya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Duduk, duduk dulu ya .., aku panggilkan mas Atmaja dan lainnya." lanjut Rengganis.
"Broto.., dengan siapa kesininya," Atmaja tiba-tiba sudah berada di belakang Rengganis. Kemudian dia menyalami saudaranya yang dipanggil Broto.
"Dengan sopir saja, nanti ibunya sama anak-anak mau nyusul karena sudah terlanjur ada janji dengan orang lain." kata Broto.
"Tidak apa-apa. Bagaimana kabarmu Broto, tapi sepertinya kamu tampak lebih segar." tanya Atmaja.
"Yah.., beginilah Atma. Aku sekarang jalan pagi sama main tenis lapangan olah raganya. Sama direbuskan empon-empon sama ibunya anak-anak. Alhamdulillah, kolesterol dan asam urat akhir-akhir ini mulai stabil." kata Broto tersenyum.
"Ayo silakan ambil minuman sendiri ya, aku mau di luar mempersilakan saudara-saudara yang lain. Tuh mereka sudah mulai berdatangan." Atmaja kemudian keluar meninggalkan Broto dan menyalami saudara lain yang memasuki rumah.
Pada pukul tujuh, semua Keluarga yang dihubungi Rengganis sudah datang semuanya. Mereka terlihat sedang menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Cokro terlihat hanya duduk di ruang keluarga dengan alasan tidak enak badan. Beberapa orang yang ingin menemui, mendatanginya dan mengajaknya berbincang sebentar. Setelah itu mereka kembali ke ruangan depan.
"Assalamualaikum," Maurin dan Lastri mengucapkan salam dan terlihat memasuki rumah. Di belakangnya, Ujang terlihat menenteng dua box dan membawanya ke dalam.
"Wa Alaikum salam..," beberapa orang menjawab salam mereka.
"Hai Jeng Lastri.., Alhamdulillah sudah sampai. Maurin, gimana kamu sehat kan?" Rengganis khusus menyambut kedatangan mereka, kemudian langsung mengajaknya duduk di ruang tengah.
"Duduk disini dulu ya, nanti sebentar lagi aku akan sampaikan berita bahagia ini ke keluarga. Tapi kita menunggu kedatangan Devan terlebih dahulu." kata Rengganis.
"Iya santai saja Jeng," sahut Lastri.
"Puji...," Rengganis memanggil Puji untuk datang ke ruang tengah.
"Ada apa Nyonya Besar," kata Puji yang datang dari arah dapur.
"Kemana Devan, sama ambilkan minuman untuk Maurin dan Jeng Lastri."
"Tuan Devan sedang menemani ngobrol mbak Jenny di taman dekat kolam Nyonya." jawab Puji sambil mengambilkan minuman untuk Lastri dan Maurin.
__ADS_1
Sambil menunggu kedatangan aktor utama, Rengganis mengajak ngobrol Maurin dan Lastri. Sedangkan Atmaja yang tidak tahu apa yang direncanakan istrinya, dari tadi juga sibuk membuat jawaban pada keluarganya.
*****