
Hari-hari Aleta berlalu seperti biasanya, meskipun proses penyelidikan kasus penculikannya dan Bu Rosna masih berlanjut, tetapi Devan tidak sedikitpun membiarkan pihak kepolisian mendapatkan keterangan darinya. Setiap keterangan yang seharusnya didapatkan dari dirinya, Devan dengan cepat mengkondisikan penggantian si pemberi keterangan.
Setelah kasus berjalan satu Minggu, tiba-tiba Cokro meminta Devan untuk kembali pulang ke kota Bandung. Karena Devan tidak tega membiarkan Aleta sendiri, maka dia bermaksud mengajak istrinya untuk ikut bersamanya.
"Aleta..., kalau kamu ada kepentingan mendadak, apakah kira-kira tempatmu magang akan mengijinkan jika kamu tidak masuk." Devan menanyakan kemungkinan Aleta ijin dari tempat magang.
"Mungkin bisa mas. Tapi belum tahu juga, karena Aleta tidak pernah membicarakan hal ini pada pimpinan tempat Aleta magang. Kenapa kok mas Devan tiba-tiba menanyakan hal ini, apakah mas ingin Aleta ijin." Aleta mengkonfirmasi pernyataan Devan.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Sukoharjo, karena Devan baru melakukan penjemputan Aleta pulang magang. Dengan tersenyum, Devan memberi jawaban atas pertanyaan istrinya.
"Kakek meminta mas untuk pulang ke Bandung. Ada masalah yang harus segera dibereskan. Sedangkan mas tidak mau meninggalkan Aleta sendirian di kota ini."
"Mas Devan bisa pulang segera mas. Aleta tidak apa-apa, lagian banyak pengawal yang kakek kirimkan untuk mengikuti semua aktivitas Aleta kan." Aleta malah berusaha menyarankan agar Devan segera kembali ke Bandung.
Mendengar perkataan dari istrinya, Devan tiba-tiba menginjak pedal rem dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan raya. Dia kemudian memegang tangan Aleta dan menatap matanya.
"Aleta..., dengarkan mas Devan. Kemanapun kali ini, kamu akan aku bawa. Dengan atau tanpa ijin dari tempatmu magang, kamu harus ikut mas ke Bandung." ucap Devan dengan nada tinggi.
Melihat respon dari suaminya, Aleta tiba-tiba mencium pipi Devan untuk mencairkan perasaan. Sebenarnya dia agak terkejut dengan respon yang ditunjukkan Devan barusan.
"Iya mas, Aleta akan ikut mas Devan. Nanti malam, Aleta akan coba hubungi kak Radit semoga Aleta diberi ijin. Jika tidak ada ijin, Aleta tetap akan mengikuti mas Devan." ucapnya perlahan.
Merasakan sikap penurut istrinya, akhirnya Devan luluh. Setelah memberikan ciuman lembut di bibir Aleta, Devan kemudian kembali menginjak pedal gas mobilnya.
"Kita langsung pulang atau masih ada yang mau dicari," Devan bertanya pada Aleta.
"Pulang saja mas, badanku terasa agak lengket. Pingin lekas mandi." sahut Aleta.
"Ehmm...., jangan khawatir mas Devan siap menemani mandinya." ucap Devan sambil tersenyum lucu.
"Enggak, pokoknya Aleta mau mandi sendiri, mau berendam. Tidak mau ada yang menemani." kata Aleta.
"Ya silakan, tapi aku juga lengket. Mau mandi juga sampai di rumah." sahut Devan sambil menggoda Aleta.
__ADS_1
Kali ini Aleta tidak menanggapi sikap Devan, dia malahan pura-pura memejamkan matanya. Devan hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya.
********************
Setelah makan malam, Aleta hendak melakukan panggilan telepon pada Raditya. Dia bermaksud untuk meminta ijin tidak masuk magang, dengan konsekuensi akan mengganti di hari lain.
"Tut ..Tut..Tut..," bunyi panggilan masuk di ponsel Raditya.
Tidak menunggu lama, akhirnya panggilan masuk diterima.
"Selamat malam, ada apa Aleta," sapa Raditya ramah.
"Malam kak, mohon maaf ya Aleta mengganggu malam-malam begini." kata Aleta tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, kakak yakin kalau tidak penting tidak bakalan kamu melakukan panggilan pada kakak."
"Iya kak, begini. Kami baru saja mendapatkan pemberitahuan dari keluarga di Bandung. Yang intinya Aleta harus segera kesana, jika dibolehkan Aleta bermaksud untuk ijin magang." Aleta menyampaikan isi hatinya.
"Untuk konsekuensinya, berapa hari Aleta ijin, nanti Aleta bersedia mengganti di waktu lain sesudah waktu magang." lanjutnya lagi.
"Sudah Aleta, hanya mau menyampaikan hal itu." tanya Raditya.
"Kalau misalkan kakak tidak mengijinkan, kira-kira apa yang akan kamu lakukan." lanjut Raditya lagi.
"Kalau kakak tidak mengijinkan, mohon maaf ya kak Radit, mungkin Aleta akan mengakhiri kegiatan magang di Solo Techno. Mungkin Aleta akan mencari tempat lain untuk kembali melakukan kegiatan magang." Aleta tegas dalam memberikan jawaban.
"Lha kalau begitu, kenapa kamu harus minta ijin segala." tanya Raditya.
"Sebagai seorang karyawan, kalau ada kendala kan memang seharusnya bertanya pada atasannya. Apa Aleta salah kak." Aleta balik bertanya.
"Iya .iya.., kamu benar Aleta. Baiklah, aku hanya bermaksud mengujimu. Kalau memang kegiatan di Bandung tidak bisa ditunda, tidak apa-apa kamu urus dulu urusan di Bandung. jika sudah selesai, segera kembali kesini ya." akhirnya Raditya memberi ijin Aleta.
"Alhamdulillah, terima kasih kak Radit. Semoga perusahaan kakak cepat tumbuh dan berkembang. Aamiin." sahut Aleta cepat.
__ADS_1
"Iya, aamiin. Sudah kan," tanya Raditya.
"Iya kak, terima kasih ijinnya ya kak. Selamat malam." Aleta kemudian mengakhiri panggilan.
Devan yang sejak tadi melihat istrinya berkomunikasi dengan pimpinan perusahaan tempatnya magang, agak bertanya di dalam hati. Aleta seperti bicara dengan teman kuliahnya, tidak seperti bicara terhadap pimpinan tempat dia bekerja. Setelah dirasa Aleta selesai bicara, Devan kemudian menghampiri istrinya.
"Aleta..., lagi habis menelpon siapa sayang." tanyanya hati-hati.
"Habis menelpon kak Radit," jawab Aleta cepat.
"Kak, siapa itu."
"Itu atasan Aleta di Solo Techno."
"Kok panggilnya Kak, bukan Bapak." Devan mulai memancing.
"Dia sendiri yang meminta Aleta untuk memanggilnya kak Radit. Karena usianya memang masih muda mas, masih lebih tua mas Devan daripada kak Radit." jawab Aleta tanpa bermaksud menyinggung Devan.
"Hmmm..., begitu ya. Kalau dari wajah, lebih tampan siapa kira-kira."
"Kok mas Devan nanya kayak gitu sih. Ya tampan semuanya dong, kan ciptaan Allah. Atau bisa...bisa.., mas Devan jealous ya, ayo ngaku." tiba-tiba malah Aleta yang gantian memberondong Devan.
"Ah nggak, siapa yang jealous. Kan Aleta sudah pasti jadi milik mas Devan satu-satunya. Raditya kan hanya atasan di tempat magang." Devan berusaha untuk membela diri.
Aleta tersenyum kemudian mendekatkan badannya pada Devan.
"Tidak perlu cemburu mas, kak Radit tahu kok kalau Aleta sudah menikah. Aleta sudah mengakui Minggu yang lalu sama kak Radit dan Bu Susan." kata Aleta sambil menyandarkan badannya di dada Devan.
"Benarkah yang kamu sampaikan sayang." tanya Devan.
"Iya, ayok kita mau ke Bandung kapan. Malam ini atau besok Aleta siap mas. Kak Radit sudah memberikan ijin pada Aleta, tapi ya Aleta harus mengganti di hari yang lain." kata Aleta.
Tanpa menjawab Devan langsung menggendong tubuh Aleta dengan bridal style, dan membawanya masuk ke dalam kamar. Bahkan Aleta tidak memiliki waktu untuk melepaskan dirinya dari kungkungan Devan, malam ini hanya menerima apa yang diinginkan oleh suaminya.
__ADS_1
*********************