Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Test DNA


__ADS_3

Bi Puji bergegas menuju pintu depan, karena ada tamu yang datang. Setelah mempersilakan tamunya duduk yaitu dokter keluarga ditemani dengan dua perawat, dia segera memanggil Tuannya.


"Ada apa Bi?" tanya Yudha.


"Dokter dan dua perawat sudah berada di ruang tamu Tuan."


"Dibuatkan minuman dulu, diminta duduk. Keluarga Maurin juga belum ada yang datang kan?"


"Ya Tuan. Saya permisi dulu."


Devan kembali masuk ke dalam kamar. Aleta meletakkan mouse di atas meja, kemudian memandang wajah suaminya.


"Ada apa mas, Bi Puji ya?" tanyanya, dari pagi dia menyibukkan diri dengan pekerjaan magangnya.


Tidak bisa dipungkiri, dia berusaha untuk mengalihkan rasa gelisahnya, tetapi tetap belum bisa tenang. Devan tahu apa yang dirasa oleh istrinya, dan dia hanya bisa membiarkan Aleta mencari kesibukan sendiri. Dia sudah berusaha meyakinkannya, tetapi ya begitulah.


"Iya, memberi tahu kalau dokter dan dua perawat sudah berada di ruang tamu." kata Devan.


"Bagaimana kerjaan yang dikirimkan Raditya, susah tidak?" lanjutnya lagi.


Devan menghampiri istrinya, dan berdiri di belakangnya. Kemudian dia memeluk Aleta dari belakang.


"Sudah selesai Aleta kerjakan, kenapa mas tidak menemani pak Dokter ngobrol di depan. Tidak enak, ayo mas temani mereka. Aleta di kamar dulu saja, nanti kalau sudah selesai ngecek tugas lain, Aleta akan temani mas."


Devan mencium puncak kepala Aleta.


"Katanya tadi sudah selesai dikerjakan tugas dari tempat magang. Mau mengerjakan apa lagi, mas bisa lho bantu."


"Kan jam kerja magang sampai jam 15 mas, ya meskipun online, Aleta harus mengikuti dong." Devan tersenyum mendengar perkataan Aleta.


"Tok.., tok.., tok..," terdengar ketukan di pintu.


"Iya, masuk."


"Tuan ..., Bu Lastri sama Non Maurin sudah datang. Tuan Besar juga sudah menemui di ruang tamu. Bibi diminta Tuan Besar untuk memanggil Tuan dan Non Aleta."


"Iya Bi, saya segera keluar."


"Jadi mau menemani mas tidak sayang. Atau kalau kamu masih belum yakin, di dalam kamar saja. Mas menemani kakek dulu." kata Devan.

__ADS_1


"Aleta di kamar dulu saja ya mas. Kalau mas butuh Aleta, nanti minta tolong Bu Puji saja untuk memanggil."


"Iya." jawab Devan singkat, kemudian melangkah keluar kamar.


*************************


Di ruang tamu kakek Cokro sedang berbincang dengan Bu Lastri dan Atmaja. Tubuh Maurin tetap langsing seperti belum memiliki anak, dan Axel putra Maurin sedang digendong oleh baby sitter. Dokter dan dua perawat dipindahkan ke ruang keluarga, karena apa yang akan dibicarakan di ruang tamu bersifat rahasia.


"Jadi begini pak Cokro, pak Atmaja, dan mas Devan. Maksud kedatangan kami kesini, kami pikir sudah pada tahu. Jadi anak kami Maurin sudah melahirkan, dan cucu kami beri nama Axel." Lastri menyampaikan maksud kedatangan mereka.


Cokro dan Atmaja tersenyum, sedangkan Devan tetap dengan muka dinginnya.


"Dan sesuai kesepakatan kita dulu, kami akan kembali datang ke rumah ini jika Maurin sudah melahirkan. Apa yang akan kita lakukan ke depan, kami akan mengikuti. Yang penting Axel bisa segera memiliki papa." lanjut Lastri.


"Baik Bu Lastri, kami keluarga Cokro tidak akan mengingkari apa yang sudah pernah kita sepakati. Tetapi sesuai dengan kesepakatan kita juga, bahwa pertama kali akan kita lakukan dulu test DNA bayi Maurin dengan Devan. Kebetulan dua-duanya saat ini sudah ada di depan kita, apakah Bu Lastri setuju jika kita lakukan saat ini." kata Kakek Cokro.


Lastri menoleh dan menyentuh putrinya Maurin, dan Maurin menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.


"Okay pak Cokro, mungkin dengan tambahan selembar kertas dari pihak kedokteran akan lebih memantapkan semuanya. Dan putri saya juga tidak merasa keberatan. Mari kita ke rumah sakit mana untuk melakukan test." akhirnya Lastri dan Maurin menyetujuinya.


"Kita tidak perlu pergi kemana-mana Bu Lastri, kebetulan tadi pagi kita sudah datangkan dokter serta perawat untuk melakukan test." sahut Atmaja.


Devan menelpon Dokter Wijaya untuk datang ke ruang tamu. Tidak lama Dokter dan dua perawat sudah sampai di ruang tamu.


"Dokter, kira-kira untuk hasil test DNA berapa lama kita akan mendapatkan hasilnya?" tanya Devan.


"Tergantung media yang akan kita uji Tuan Devan. Yang paling cepat adalah kita menggunakan darah dari pasien yang akan ditest DNA nya. Dalam waktu 24 jam, sudah akan bisa diketahui hasilnya." Dokter Wijaya menjelaskan.


"Yap, kalau begitu kita akan tawarkan pada keluarga Bu Lastri, mengijinkan tidak bayinya kita ambil darah untuk kita ambil." sahut Devan sambil melihat ke arah Lastri dan Maurin.


Lastri dan Maurin saling menatap, kemudian Maurin menyetujui untuk pengambilan sel darah putih di tubuh Axel.


"Baiklah dokter, mungkin bisa langsung dimulai. Biar hasilnya segera kita ketahui bersama-sama." kata Cokro.


"Puji." seru Atmaja memanggil Bi Puji.


"Iya Tuan."


"Kamar untuk pengambilan darah sudah disiapkan?"

__ADS_1


"Sudah Tuan, Bibi siapkan kamar tamu depan kolam renang." Puji datang ke ruang tamu.


"Ayo kamu temani Non Maurin dan bayinya kesana."


"Baik Tuan. Mari Bu, saya antarkan."


Akhirnya Lastri dan Maurin dengan membawa bayinya, mengikuti langkah Puji ke kamar tamu. Dokter dan perawat mengikuti mereka.


"Kakek sudah siapkan flashdisk yang berisi rekaman CCTV kejadian waktu di Ubud dulu. Jadi kalian tidak perlu khawatir." kata Cokro.


"Dimana Aleta Devan?" tanyanya lagi.


"Aleta di kamar kek, sepertinya dia lagi gelisah menunggu hasil kali ini. Tadi Devan biarkan, biar dia tidak ikut memiliki saraf tegang."


"Huh..., kasihan anak itu. Masalah selalu banyak menderanya." ucap Cokro lirih.


Terdengar suara bayi Maurin menangis, dan tidak lama kemudian mereka sudah kembali ke ruang tamu.


Devan kemudian gantian diambil darahnya, dan dia segera menuju ke kamar tamu.


**********************


Di dalam kamar, Aleta tidak bisa fokus di depan laptop. Mendengar tangisan bayi, hatinya terasa sakit. Meskipun kakek Cokro sudah memperlihatkan rekaman CCTV, tetapi hatinya tetap memiliki kekhawatiran. Untuk meredakan rasa gelisahnya, akhirnya dia melangkahkan keluar kamar dan berjalan ke ruang tamu.


"Tante, mbak Maurin, sudah lama ya?" tanya Aleta basa-basi sambil duduk di samping Devan.


"Iya mbak Aleta, lagi sibuk ya?" Lastri ganti bertanya.


"Sedikit Tante, karena saat ini lagi kerja magang. Yah untuk syarat kelulusan Tant. Adik bayinya lucu Tant, boleh Aleta pangku?"


"Boleh, boleh..., mbak, Axel diantar ke tempat mbak Aleta ya." Lastri memerintahkan baby sitter mengantarkan bayi ke tempat duduk Aleta.


"Mas lihat, lucu bayinya. Hidungnya mancung banget mas, seperti bule ya." Aleta bahagia banget memangku Axel.


Devan melihat sekilas ke arah Axel, kemudian tersenyum dan ikut memegang pipinya.


"Iya lucu sayang." sahut Devan.


Maurin tersenyum bahagia melihat Devan ikut memegang Axel. Sejak tadi Devan bersikap dingin terhadap mereka, dan baru sekarang bisa melihat dia tersenyum.

__ADS_1


************************


__ADS_2