Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Berdamai


__ADS_3

Siang hari Rico bersama Ridwan dan disertai juga Anggoro berkunjung ke perusahaan Devan. Baru saja mereka keluar dari dalam mobil, mereka berpapasan dengan Rolland yang juga baru saja akan memasuki perusahaan.


"Tuan Rolland..., baru datang?" Rico menyapa Rolland dan mengajaknya berjabat tangan.


"Hai.. tumben-tumbenan mampir kesini. Ayo masuk!" Rolland menjabat tangan mereka bertiga kemudian mengajaknya.masuk ke dalam.


Mereka berempat segera masuk beriringan, dan sesampainya di lobby.., Rolland berhenti.


"Tutik... meeting room kosong?? Kalau kosong ruang aku akan pakai untuk menerima tamu-tamu Tuan Devan. Jangan lupa antarkan minuman dan Snack ke dalam." Rolland bertanya pada petugas yang berjaga di situ. Petugas jaga yang dipanggil Tutik menengadahkan wajahnya, kemudian tersenyum setelah melihat Bossnya ada di depannya.


"Kosong Tuan.., kebetulan tadi jam 10.00 dipakai koordinasi lintas Divisi. Tapi tepat jam 12 sudah selesai. Silakan jika Tuan Rolland mau gunakan, secepatnya saya hubungi bagian pantry untuk menyiapkan minuman." dengan sikap hormat Tutik menjawab pertanyaan Rolland.


"Baik.. terima kasih." Rolland segera membalikan badan, kemudian..


"Ayo kita segera masuk bapak-bapak!" Rolland berjalan terlebih dahulu, dan ketiga orang tersebut mengikuti di belakangnya. Baru saja mereka berjalan beberapa langkah,


"Tuan Rolland.., tunggu sebentar!" seorang karyawan divisi marketing memanggil Rolland, dan laki-laki itu menghentikan langkahnya. Dia melihat Sita membawa berkas di tangan kirinya, dan tangan kanannya ada satu lembar kertas HVS Folio.


"Ada apa Sit..? Kalau masalah kerjaan, antar saja ke ruanganku!" Rolland mengambil nafas melihat Sita berjalan menuju ke arahnya. Dia memang agak menjaga jarak dari Sita, karena karyawannya yang satu ini, seringkali merecokinya hanya untuk hal-hal yang kecil. Gosip yang beredar di lingkungan perusahaan, gadis itu menaruh hati pada Rolland.


"Pasti Tuan.., secepatnya akan Sita antarkan langsung ke ruangan. Ini Sita hanya mau nanya layout konsep penempatan logo. Kurang presisi tidak, barusan Sita mencoba untuk melakukan print out." Sita tetap ngotot menunjukkan konsep logo, bahkan tidak mempedulikan jika saat ini Rolland baru bersama dengan tiga tamu.


"Sita..., bisakah kamu mulai berlatih untuk menempatkan diri?? Kamu lihat tidak.., saat ini apakah aku sedang sendirian atau lagi bersama dengan tamu perusahaan?" Rolland berbicara dengan nada keras. Ketiga laki-laki yang ada di belakangnya, saling berpandangan dan tersenyum sambil menutup mulut mereka.


"Baik Tuan, maaf sudah mengganggu waktunya. Secepatnya saya akan menemui Tuan di ruangan. Permisi..," Sita langsung minta ijin meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


"Titip Cahyo.., tidak perlu kamu mengantarkan sendiri ke ruanganku!" seru Rolland, tetapi Sita sudah berlalu dari tempat itu.


"Sorry ya..., biasa anggap saja intermezo!! Karyawan sekarang, tidak bisa membedakan mana atasan langsungnya, dan mana yang ada di puncak." Rolland menggelengkan kepala sambil curcol.


"Tapi naga-naganya sih.., sepertinya gadis itu ada niatan deh. Tidak murni hanya untuk menunjukkan hasil kerjanya, biasa Modus." sahut Ridwan yang langsung diketawakan sama teman-temannya.


"Iya beneran.., lihat saja nanti ya Tuan. Gadis itu tertarik dengan Tuan Rolland, makanya akan berusaha mencari segala cara untuk bisa berdekatan dengan Tuan Rolland." lanjut Ridwan lagi.


"Halah kamu Rid..., sok mau jadi penasehat cinta apa?? Istri saja belum dapat sampai sekarang." Rico mengomentari Ridwan adiknya.


Sambil saling meledek, akhirnya mereka sampai di depan pintu meeting room.


"Sudah.., silakan pada masuk dulu! Sorry ya, aku ga bisa join. Ada sesuatu yang harus segera aku selesaikan. Bentar lagi, kak Devan sudah akan nyampe disini." Rolland mempersilakan mereka segera masuk ruangan.


"Bukan urusan menemui gadis tadi kan Tuan?? Siapa tadi namanya.., Sita ya?" Anggoro menggoda Rolland.


*************


Axel merasa lega karena Oma dan mamanya tidak memilih satupun opsi yang dia tawarkan. Mereka akhirnya bisa menerima kenyataan jika Axel tidak mau kembali kepada mereka, karena tetap memilih tinggal bersama Aleta dan Devan. Bahkan karena paksaan dari Lastri, sedikitpun Maurin tidak meminta pembagian perusahaan. Semuanya adalah hak Axel.


"Oma..., mama.., maafkan Axel ya!! Tadi Axel sudah janji sama Mommy Aleta jika sebelum masuk Adzan Maghrib sudah harus berada di rumah!" Axel berpamitan pada Oma dan mamanya.


"Kamu masih tetap lebih mengutamakan mereka Axel, daripada mama yang telah melahirkan kamu?" tiba-tiba Maurin bertanya dengan nada tinggi.


"Maurin..., jaga bicaramu!" Lastri langsung menegur Maurin.

__ADS_1


Melihat raut wajah Axel yang terlihat muram, Lastri menetralisir suasana.


"Axel.., jangan ambil hati pertanyaan mamamu. Mamamu hanya masih kangen sama kamu, sudah segeralah kembali!! Kasihan jika Mommy mu menunggu kalian untuk segera sampai di rumah."


"Baik Oma.., terima kasih!! Besok jika ada waktu longgar, Axel akan pastikan berkunjung ke rumah Oma. Selamat sore." Axel segera bergegas meninggalkan keduanya, dan langsung mencari Arend dan Arick.


Axel berjalan masuk lebih ke dalam resto, dan akhirnya duduk di pinggir kolam. Dia mengamati ikan-ikan koi yang berenang kesana kemari, dengan bebasnya. Sesekali tangannya masuk ke dalam air, mencoba memegang ikan-ikan tersebut. Tetapi dengan lincah, mereka langsung menghindar.


"Kamu kenapa jadi seperti anak kecil Axel?? Kasihan lho ikannya kamu ganggu?" tiba-tiba Axel dikejutkan dengan suara Arend. Dia menoleh, dan melihat Arend tersenyum sambil meletakkan tangannya di pundak Axel. Di belakangnya, Arick berdiri ikut menatapnya.


Axel tersenyum kecut, kemudian dia membalikkan badannya, dan duduk di kursi pinggir kolam. Arend dan Arick mengikuti dan duduk di sampingnya.


"Bagaimana urusanmu, sudah selesai?" Arick bertanya dengan suara perlahan.


Axel menganggukkan kepala, kemudian tersenyum.


"Ayo kita segera pulang! Alhamdulillah, Oma dan Mama akan mencabut somasi yang sudah mereka kirimkan ke perusahaan. Mereka sudah ikhlas perusahaan itu buatku. Tetapi aku juga bukan orang yang tidak tahu diri, bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang menyebabkan aku ada. Aku akan diskusi dengan Mommy, tentang putusan yang sudah aku buat." sahut Axel.


"Bagus Axel... kita harus tetap melibatkan Mommy dan daddy jika akan mengambil keputusan penting. Sekarang beliau berdua dimana, kita pamit dulu." Arend kemudian berdiri dan menepuk punggung Axel.


Mereka bertiga segera keluar, dan ketika sampai di tempat mereka tadi bertemu Lastri dan Maurin, ternyata mereka sudah tidak ada disitu. Mereka mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tetapi tetap tidak menemukan apa yang mereka cari.


"Mungkin mereka sudah pulang duluan. Ayok.., keburu malam. Kasihan Mommy sendiri di rumah."


Ketiga anak Laki-laki yang sebentar lagi akan segera lulus dari High School itu, berangkulan meninggalkan resto.

__ADS_1


**************


__ADS_2