Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Bu Rosna


__ADS_3

Bu Rosna sedang pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan mingguan, dengan ditemani pak Harto. Setelah selesai membeli berbagai barang kebutuhan panti untuk satu Minggu, dia segera bersiap-siap untuk kembali pulang.


"Bu Rosna...., selamat pagi." sapa seseorang terhadap Bu Rosna.


"Selamat pagi juga." Bu Rosna menjawab salam kemudian menoleh ke arah orang yang memanggilnya sambil berhenti.


Orang yang memanggilnya mendatangi Bu Rosna, dan setelah berada di depannya kemudian mereka berjabat tangan.


"Ibu lupa ya dengan saya. Heri Bu...., putranya pak Kasim." kata laki-laki itu sambil tersenyum.


"Pak Kasim dari kampung Birit kah? Yang rumahnya di pinggir jalan besar." tanya Bu Rosna.


"Iya Bu, mari Heri bantu Bu." Heri mengambil barang dari tangan Bu Rosna kemudian mereka kembali berjalan ke luar pasar.


"Terima kasih ya nak Heri, ibu jadi merepotkan. Lha nak Heri ada apa kok tiba-tiba di pasar juga."


"Mengantarkan pesanan orang Bu. Kebetulan ada yang pesan sama Bapak kemarin, trus pagi ini saya gantikan Bapak untuk mengantarnya."


"Sudah selesai sekarang pekerjaanmu?"


"Alhamdulillah sudah Ibu, makanya tadi mau berangkat pulang, lihat ibu." Heri tersenyum.


"Bagaimana kabar kedua orang tuamu,"


"Alhamdulillah semuanya sehat ibu."


Bu Rosna dan Heri mengobrol sambil berjalan menuju mobil yang membawa mereka ke pasar. Setelah memasukkan barang-barang ke dalam mobil, Heri bermaksud untuk pamit pada Bu Rosna.


"Semuanya sudah ya Bu, kalau begitu saya sekalian mau permisi Bu Ros." Heri mencoba untuk pamit.


"Kamu naik apa kesini nak, kalau jalan kaki saja, lebih baik gabung sama kita disini. Nanti biar diantarkan pulang sama pak Harto." Bu Rosna menawarkan untuk mengantar Heri pulang.


"Heri bawa motor Bu Ros, mohon maaf tidak bisa pulang bareng." kata Heri sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, ibu ke mobil dulu ya. Terima kasih nak Heri, assalamualaikum"


"Wa Alaikum salam," Kata Heri langsung membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan tempat itu.


Pak Harto menjalankan mobil menuju arah pulang ke rumah.


"Bu...., kita mampir pom bensin dulu ya," tanya pak Harto pada Bu Rosna.


"Iya," jawab Bu Rosna singkat.

__ADS_1


Setelah beberapa saat pak Harto membelokkan mobilnya ke arah pom bensin.


********************


"Lho itu bukannya nak Heri tadi ya Bu?" tanya pak Harto tiba-tiba.


"Iya pak, coba mobil kita undurkan ke belakang. Mungkin lagi bocor ban motornya." sahut Bu Rosna.


Pak Harto kemudian memundurkan mobilnya, dan berhenti tepat di depan Heri. Bu Rosna baru turun, tiba-tiba ada laki-laki yang memberikan kain dan menutup mulutnya, dan tidak menggunakan waktu lama Bu Rosna menjadi tidak sadarkan diri. Kedua laki-laki itu langsung mengangkat tubuh Bu Rosna dan memasukkan ke mobil yang diletakkan di sisi kanan jalan.


Pak Harto dan Heri belum menyadari jika Bu Rosna sudah dibawa pergi sama orang.


"Ada apa dengan motornya mas," tanya pak Harto.


"Kurang tahu ini pak, tadi dari rumah tidak apa-apa, lha kok barusan malah mogok. Maklum pak, soalnya motor sudah tua juga." jawab Heri sopan.


Pak Harto mencoba memegang motor Heri, kemudian membuka mesinnya. Setelah diutak-utik kurang lebih sepuluh menit, akhirnya motor Heri sudah bisa dijalankan.


"Alhamdulillah, terimakasih pak Harto, untung ada Bapak." kata Heri pada pak Harto.


"Sudah ya nak, Bapak langsungan saja kasihan Bu Rosna sudah lama menunggu."


"Ya pak," kata Heri sambil menjalankan motornya.


"Ada apa pak, siapa yang dicari." tanya Heri.


"Bu Rosna nak, beliau tidak ada di dalam mobil."


"Dari tadi Heri juga tidak melihat beliau pak. Atau mungkin sudah pulang duluan ya, karena kalau di sekitar sini tidak mungkin pak," kata Heri yang ikut mengedarkan pandangannya ke sekitar.


Saat ini mereka berada di tengah areal persawahan, Di sekitar situ tidak ada bangunan apapun.


"Iya mungkin ya nak, coba bapak tak pulang dulu ke panti. Mungkin tadi karena kelamaan, beliau tidak sabar menunggu kita, trus pulang duluan ya."


"Ya pak, tolong kabar-kabar ya pak tentang kondisi Ibu."


"Ya, nanti bapak kabari."


Pak Harto langsung membawa mobilnya pulang menuju arah Panti Asuhan Rejeki.


***************


Di sebuah gudang di tengah areal perbukitan Botak, Bu Rosna tampak lemas duduk di kursi. Tangannya diikat ke belakang, dan kepalanya tampak tak berdaya di atas meja yang ada di depannya.

__ADS_1


Di depan pintu ada dua laki-laki yang menjaga Bu Rosna, dan saat mereka melihat bahwa Bu Rosna sudah terbangun akhirnya mereka menghampiri.


"Selamat siang Bu," sapa seorang laki-laki pada Bu Rosna.


"Siang, siapa kalian, dan kenapa aku tiba-tiba berada di tempat ini."


"Kami minta Ibu mau bekerja sama dengan kami disini. Kami tidak akan menyakiti Ibu, tapi dengan catatan ibu juga tidak membuat onar disini."


"Sekarang kami minta nomor ponsel Mbak Aleta."


"Untuk apa, Aleta saat ini sedang bersama dengan suaminya. Saya yakin dia tidak akan punya waktu untuk bertindak atas pikirannya sendiri."


"Ingat perkataan saya di awal tadi Bu. Jika ibu tidak membuat onar disini, maka kami juga tidak akan mempersulit."


Bu Rosna terdiam, dia teringat anak-anak yang saat ini sedang berada di dalam panti. Tidak lama kemudian dia memberi nomor ponsel Aleta kepada laki-laki yang berada di depannya. Setelah mendapatkan nomor ponsel laki-laki itu mengambilnya kemudian keluar dan menutup pintu gudang kembali.


"Maafkan ibu ya Aleta," Bu Rosna berbicara dengan dirinya sendiri. Dia juga tidak tahu, apa maksud orang-orang disini untuk menangkapnya.


**************


Setelah mendapatkan nomor Aleta, laki-laki tadi langsung mencoba menghubungi di depan gudang tersebut.


Tetapi Aleta tidak mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Bagaimana, nyambung tidak panggilannya."


"Nyambung, tetapi tidak tahu kenapa tidak ada yang mengangkatnya."


"Kalau begitu coba dikirim pesan via WhatsApp saja, untuk lebih meyakinkannya, beri foto bu Rosna sekalian,"


Laki-laki tersebut kemudian mengirim pesan pada Aleta via WhatsApp, dan Lewat pintu dia mengambil foto Bu Rosna yang sedang berada di dalam gudang tersebut.


"Kita tunggu responnya, aku yakin tidak butuh waktu lama nomor itu akan menghubungi kita kembali."


"Iya, tapi sekarang Carikan makan siang untuk ibu itu. Aku tidak tega, beliau orang baik," kata laki-laki satunya.


"Aku saja yang cari, kamu yang menunggu di sini."


"Ya, tapi jangan lama-lama."


Dua Orang itu akhirnya membagi tugas. Yang satu mencari makan siang, sedang yang satunya berada di gudang untuk menjaga Bu Rosna.


************

__ADS_1


__ADS_2