Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Akhirnya....


__ADS_3

Merasa capai berdiri, Aleta memilih duduk di kursi yang terletak di pinggir kolam renang. Beberapa anggota keluarga dari kakek Cokro mendekati dan mengajak bincang-bincang dengan Aleta. Mereka tidak mempersalahkan latar belakang Aleta yang berasal dari panti asuhan. Hal ini menjadikan Aleta merasa diterima dalam keluarga ini, sehingga dia cepat akrab dengan mereka. Tapi sebaliknya, keluarga dari Rengganis silih berganti berusaha menjatuhkan psikologis nya.


"Berarti kak Aleta sekarang tinggal di apartemen kak.Devan," tanya Tata saudara jauh Devan dari kakek Cokro.


"Iya, kakak ngikut mas Devan saja. Kalau kakek Cokro sebenarnya menghendaki kita disini menemani kakek, tapi mas Devan pinginnya di apartemen." kata Aleta tanpa ketinggalan senyum manisnya.


"Ya jelas milih di apartemen donk, he...he.... Soalnya tidak ada yang menganggu." sahut Tata sambil menutup mulutnya.


"Kapan-kapan Tata boleh donk main kesana kak."


"Ya boleh donk, nanti kita bisa janjian dulu."


"Kok harus janjian dulu, Kak Aleta sudah ada kesibukan ya di Bandung." tanya Tata.


"Belum sih Ta, tapi kakak kan masih harus menyelesaikan studi kakak. Jadi, kemungkinan kakak masih harus Wira Wiri Klaten - Bandung,"


"Apa ga lebih baik kakak pindah ke Bandung kuliahnya," kata Tata menyarankan.


"Sayang Ta, tinggal dua semester lagi Kakak hanya ambil Diploma, dan saat ini sudah di semester empat."


"Kakak tinggal magang dan penulisan karya tulis. Sedangkan untuk magang nanti kakak bisa cari di kota ini." jawab Aleta menjelaskan.


"Iya juga ya." kata Tata manggut-manggut.


"Boleh gabung tidak nih, kayaknya asyik banget ngobrolnya." tiba-tiba Maurin datang mendekati mereka dan minta bergabung dalam obrolan mereka.


Sekilas Tata seperti tidak suka akan kehadiran Maurin, tetapi dia hanya mencoba memperhatikan Maurin dari sudut matanya.


"Mari silakan mbak, gabung saja." Aleta mempersilakan Maurin bergabung dengan ramah.

__ADS_1


"Panggilnya tidak perlu pakai mbak, langsung Maurin saja." kata Maurin minta dipanggil langsung dengan namanya.


"Baik mbak, eh Maurin." sahut Aleta agak sedikit gugup.


"Darimana kamu kenal sama Devan?"


Aleta tidak menjawab pertanyaan Maurin, sebaliknya dia hanya menanggapi dengan senyumnya.


"Lihat saja paling tidak lama lagi, kamu akan ditinggalkan. Apakah kamu belum tahu track record Devan terhadap para gadis-gadis." kata Maurin melanjutkan.


"Hei...kamu kesini mau gabung ngobrol sama kita, atau mau nabuh genderang perang sama kak Aleta," tegur Tata sambil meninggikan suaranya.


"Sudahlah Ta, pelankan suaramu. Malu terdengar keluarga yang lain. Aku tidak apa-apa," Aleta menenangkan Tata yang mulai tersulut emosinya.


"Orang seperti ini jangan dikasih kesempatan kak, diberi hati malah minta jantung." Tata masih melanjutkan emosinya.


Sementara Maurin hanya tersenyum, dia menargetkan Aleta yang akan marah sehingga citranya turun di mata keluarga, tetapi malah Tata yang emosi membela Aleta. Dengan santai Maurin malah menggeser mundur tempat duduknya dan menyelonjorkan kakinya.


"Tata, tadi kamu lihat tidak mas Devan kemana," tanya Aleta pada Tata sambil celingukan mencari tahu keberadaan Devan.


"Ha...ha..., baru saja aku bilang kalau tidak butuh waktu lama, Devan akan menendangmu dari kehidupannya. Sekarang kejadian kan," ucap Maurin sambil tertawa.


"Jangan dengarkan dia kak. Tadi aku lihat kak Devan baru di depan sedang menerima panggilan telepon." jawab Tata semakin jengkel dengan tingkah Maurin yang menyebalkan.


Tiba-tiba, tanpa ada yang mengira, kaki Maurin mendorong kursi yang diduduki Aleta ke belakang, dan...


"Byur," Aleta beserta kursi yang didudukinya terjatuh ke dalam kolam renang. Seketika kepanikan terjadi di pinggir kolam, dan Tata berteriak mencari pertolongan. Maurin hanya tersenyum, kemudian beranjak pergi dari tempat itu.


Aleta yang tidak bisa berenang, perlahan tenggelam karena berat kursi ikut menimpanya. Kolam renang itu memiliki kedalaman dua meter, dan Aleta yang tidak memiliki dasar-dasar ilmu pernapasan perlahan mulai pingsan di dasar kolam.

__ADS_1


Dari arah ruang keluarga, seseorang berlari cepat ke arah kolam renang dan tanpa menanggalkan baju dan sepatunya langsung meloncat ke dalam kolam renang. Dengan panik dia langsung mengangkat tubuh Aleta dari dalam kolam renang dan membawanya ke atas.


"Kak Devan, apa yang terjadi dengan kakak ipar." tanya Rolland panik kepada Devan.


"Ambil paper bag di dalam mobil kakak, dan bawa ke kamar kakak," tanpa menjawab pertanyaan, Devan memberi perintah pada adiknya.


Setelah mengeluarkan air dari perut Aleta dan memberikan nafas buatan, Aleta mulai terbatuk-batuk. Melihat istrinya tersadar, Devan membawa tubuh Aleta ke dalam pelukannya untuk memberikan kehangatan. Tata mengulurkan handuk kepada Devan, kemudian dengan hati-hati Devan membungkus tubuh Aleta. Devan mengangkat Aleta dengan gaya bridal style dan membawanya ke kamar. Aleta mengalungkan kedua tangannya ke leher Devan, dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


Semua orang terdiam menyaksikan pemandangan yang mendebarkan itu. Dengan muka merah menahan emosi kakek Cokro mencari security.


"Cek CCTV, kirim rekaman segera ke ruang kerjaku." perintah kakek Cokro dengan tegas


******


Devan dengan hati-hati membawa tubuh istrinya ke kamar mandi. Dengan satu tangannya, Devan memutar kran air hangat kemudian membaringkan Aleta di dalam bathtub. Aleta sangat tersentuh dengan perlakuan Devan kepadanya, dan dengan menahan nafas Aleta menikmati perlakuan lembut suaminya.


Tangan Devan melepaskan baju Aleta dari tubuhnya, kemudian dengan kasar melepaskan bajunya sendiri. Tanpa aba-aba Devan memasuki bathtub dan memeluk Aleta dengan erat. Dalam kehangatan air, mereka merasakan tubuhnya bergetar. Dua kulit tanpa lapisan bersentuhan dalam hangatnya air, menjadikan keduanya kehilangan kesadaran. Setiap inci kulit Aleta dijelajahi oleh bibir yang tidak memiliki rasa capai, tidak mempedulikan ******* sang pemilik yang tiada henti mengiringi.


"Aleta ..., aku tidak bisa menahan lagi, apakah kamu mengijinkanku sayang." dengan suara berat dan serak Devan bertanya pada istrinya, dengan tangan yang berusaha mencari pegangan dalam penjelajahannya.


"Mas,".. rintih Aleta tidak mampu meneruskan kalimatnya. Tetapi perlahan dengan muka tersipu dia menganggukkan kepala.


Mendengar jawaban istrinya, Devan meraih handuk, kemudian kembali mengangkat istrinya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan hati-hati.


Mereka kembali melakukan perjalanan dan penjelajahan tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.


"Apakah kamu siap," bisik lembut Devan di telinga Aleta.


Setelah melihat anggukan istrinya, Devan mulai membenamkan dirinya ke dalam. Dia menyaksikan mulut Aleta membuka dengan air mata mengalir. Dengan cepat Devan menutup mulut Aleta dengan mulutnya, dan setelah beberapa saat akhirnya dengan lembut kecupan manis di kening, Devan mengakhiri penjelajahan hari ini.

__ADS_1


Setelah istirahat beberapa saat, Devan kembali mengangkat istrinya ke kamar mandi. Melihat bercak merah di atas sprei, Devan menyipitkan matanya, dan dengan mata redup dan senyum manis hari ini dia merasakan kepuasan.


******


__ADS_2