Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Kumpul


__ADS_3

Aleta membuka matanya, kemudian saat melihat jam tembok di depannya dia terlonjak kaget. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, dan mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam hanya berdua di apartemen. Aleta melirik Devan yang masih tertidur lelap, dengan tangannya melingkari pinggang Aleta.


"Dadd..., Daddy... ayo bangun!" Aleta membangunkan Devan dengan mengguncang pelan tubuh suaminya.


Perlahan Devan membuka matanya, tapi tidak mau menyingkirkan tangan dari pinggang istrinya.


"Sudah malam sayang.., ayo kita bangun. Anak-anak pasti mencari kita, kita tadi belum pamitan pada mereka." kata Aleta khawatir.


"Mommy.., tenanglah! Anak-anak kita sudah 15 tahun. Mereka bukan anak kecil lagi, nanti kita telpon saja, minta pak Asep mengantarkan mereka kesini."


Melihat kemalasan suaminya, Aleta segera melepaskan tangan suaminya. Kemudian perlahan dia beranjak dari king size bed, dan menuju kamar mandi. Merasa kedinginan ditinggal istrinya tidur sendiri, Devan kemudian ikutan bangun, dan menggunakan kain sarung tanpa pakaian dia berjalan ke ruang tamu.


Dia tersenyum melihat barang bukti percintaan dia dengan Aleta berserakan di lantai dapur, perlahan dia mendatangi dan memungutinya. Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Devan merebus air untuk membuat teh manis panas. Tidak berapa lama air sudah mendidih, dengan cekatan Devan merendam teh dan membuat teh dalam teko kecil.


"Sedang masak apa Dadd?? Memang kita tidak pulang, Mommy cari ponsel kok tidak ada ya?? Mau menelpon anak-anak agar mereka tidak khawatir." Aleta keluar dari kamar mandi mengenakan piyama, dengan rambut yang masih basah.


"Momm.., melihat rambutmu basah.. tiba-tiba Daddy menjadi horny sayang." bisik Devan, yang langsung dijawab dengan pukulan di pundaknya.


"Sudah kebanyakan, pegal badan Mommy semua. Kalau mau minta lagi, libur satu bulan jatahnya." sahut Aleta cepat sambil cemberut. Aleta memang merasakan badannya pegal semua, bahkan dia hampir tidak dapat mengimbangi kekuatan suaminya.


"He..he..he.., jangan dong masak satu bulan lagi baru dikasih. Ponsel Daddy taruh di laci nakas pojok ruangan. Maaf.., sengaja Daddy matikan, biar tidak ada yang mengganggu kita tadi." kata Devan langsung cepat berlari ke kamar mandi daripada dipukul istrinya lagi.

__ADS_1


Melihat ada poci berisi teh panas, Aleta segera mengambil cangkir dan menuangkan air teh ke dalamnya. Kemudian dia mengambil kue bolu kering didalam toples, kemudian mencelupkannya ke dalam teh panas. Ternyata dia merasa lapar, akibat percintaan berkali-kali tanpa henti yang baru saja dia lakukan dengan suaminya. Baru saja Aleta akan mengamnil ponselnya tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Aleta segera menuju ke pintu, dan saat dia mengintip dari balik pintu terlihat wajah putra-putranya berada di depan pintu. Setelah memastikan tidak ada barang bukti aktivitas percintaan mereka yang tertinggal, dia segera membuka pintu.


"Wah Mommy nakal.., masak kita diminta pulang dulu sama pak Asep. Ternyata Mommy ada disini, hanya berdua dengan Daddy." protes Arick sambil mencium tangan Aleta. Di belakang anak-anak, terlihat Rolland cengar-cengir sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan mukanya.


"Mommy habis belanja sayang.., isi camilan sama kulkas. masak kamar dibiarkan terus, nanti malah pada rusak. Padahal habis makan malam, Mommy mau berangkat pulang." Aleta mencoba ngeles, tapi banyaknya snack dan kulkas terisi penuh dengan bahan makanan, menjadi daya dukung kebohongannya.


"Baru ya Momm catnya.., semua perabotan baru semua ternyata. Jadi pingin tinggal di apartemen saja, daripada di rumah Cokrodirjan.., simple ga capai jalan." celetuk Arend.


"Mau nginap disini memangnya kalian? Kalau mau, okay malam ini kita nginap semua disini rame-rame." Aleta menawarkan.


"Ya pasti mau Aunty..., Cynthia juga ikut menginap. Tuh.. sudah prepare baju ganti juga." sahut Aleta.


"Okay .. okay.., kita malam ini menginap disini rame-rame ya. Mommy masak dulu ya, kalian taruh barang-barang kalian dalam kamar, tapi kamarnya cuma ada 4, berarti nanti sharing ya tidurnya." Aleta langsung membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan untuk dimasak.


"Di dalam kamar, baru selesai mandi kelihatannya." ucap Aleta sambil mengisi air untuk direbus.


"Berapa ronde nih kak, kan tadi sepi ga ada gangguan sama sekali. Hmm..." goda Rolland, yang langsung kena timpuk tissue dari Aleta.


****************


Anak-anak bermain dalam kamar setelah makan malam, Aleta dan Devan menemani Rolland mengobrol di ruang tamu.

__ADS_1


"Kamu nginap disini atau pulang Uncle??" tanya Aleta membahasakan putra-putranya.


"Iya kak, boleh kan??" tanya Rolland balik, sambil melihat ke arah kakaknya dengan pandangan kosong.


"Boleh sih boleh Rolland. Tapi jika nanti Jenny mencarimu gimana?? Kakak tidak mau menjadi orang yang disalahkan, karena menerimamu menginap disini. Kalau Cynthia mah tidak apa-apa, dia menginap disini. Kasihan di rumah tidak punya teman kan dia?" Aleta menjawab pertanyaan adik iparnya.


"Iya kak, kadang aku ingin menitipkan Cynthia untuk diasuh sekalian sama kakak. Sepertinya anak itu juga menginginkannya. Kamu tidak perlu khawatir, Jenny tidak akan pulang malam ini. Yah.., seperti itulah kak kehidupan kami. Jika sudah beralasan, ada urusan bisnis dengan keluarganya, kami yang akan menjadi korban." tanpa sadar Rolland mulai curhat pada kakak iparnya. Devan tidak berkomentar sama sekali, dia asyik membaca berita di ponsel.


"Uncle.., sudah ajak Jenny untuk bicara belom?? Komunikasikan dulu, ajak bicara jika kamu tidak suka dengan kebiasaanya meninggalkan kalian sendiri. Aku yakin, sebagai seorang istri yang baik dia akan patuh dengan perkataan suaminya."


Rolland tidak menjawab, tetapi dia menganggukkan kepala. Devan sedikit terkejut kemudian menoleh ke arah adiknya.


"Tadi kamu bilang sama kakak katanya belum bicara dengan Jenny, sekarang bilang sama kakak iparmu, ternyata kamu sudah bicara. Bagaimana tanggapan istrimu??" ucap Devan.


"Ya sama saja kak, selalu bilang ini perintah dari mama, dari papa dan seterusnya. Sampai terkadang rumah itu sering ada keributan, dan kadang aku malu sama putriku Cynthia. Karena dia juga mengetahui jika kami sering ribut."


Aleta menghela nafas, kemudian..


"Rolland.., sebenarnya ini adalah masalah keluargamu, antara kamu dan istrimu. Kami tidak berhak untuk ikut campur. Tapi karena disini ada Cynthia, dimana anak itu saat ini baru butuh perhatian, jangan sampai dia salah langkah, maka segera selesaikan urusanmu. Jika kamu merasa tidak dapat mengajak istrimu bicara, temuilah mamanya Jenny. Sampaikan keberatanmu, kakak yakin sebagai orang tua tidak akan membiarkan rumah tangga putrinya berada di ujung tanduk." Aleta menyampaikan nasehat, meskipun dari segi usia dia kalah dibandingkan dengan Rolland. Tetapi pengalaman usia menikah, dia jauh lebih lama daripada Rolland.


"Apa yang disampaikan kakak iparmu itu betul semua Rolland. Secepatnya segera selesaikan urusanmu!" Devan yang sejak tadi diam, ikut memberikan saran.

__ADS_1


*******************


__ADS_2