Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Tekad


__ADS_3

Devan mengambil nafas panjang dengan merentangkan kedua tangannya. Harum tanah basah dan tanaman padi hijau di belakang rumah mengisi rongga paru-parunya. Rasa sakit psikologis karena takut ditinggalkan, takut kehilangan pelan-pelan dia tepis dengan membuat afirmasi positif untuk dirinya sendiri. Semangat untuk membawa kembali Aleta di sisinya, menjadi motivasi untuk tujuannya.


"Tuan..., ada Bu Rosna yang sedang menunggu Tuan Devan di ruang keluarga." Tini menghentikan aktivitas Devan dengan memanggilnya untuk menemui Bu Rosna.


Tanpa menjawab, Devan membalikkan badannya kemudian masuk ke dalam rumah. Dilihatnya dari pintu, Bu Rosna yang sedang berbincang serius dengan kakeknya. Mereka seketika menghentikan obrolannya karena melihat kehadiran Devan.


"Nak Devan darimana." sapa Bu Rosna ramah seperti biasanya.


Devan menghampiri dan menyalami tangan Bu Rosna sambil mencium tangannya seperti yang selalu dilakukan Aleta. Cokro tersenyum melihat perubahan perilaku cucunya.


"Hadirnya Aleta betul-betul telah meresapi hati cucuku. Tingkah laku adab kesopanan menyambut orang tua sudah dia resapi dengan baik" Cokro membatin sendiri.


"Mencari udara segar di pinggir sawah Ibu, pagi hari ini udara betul-betul segar dan sejuk. Meskipun sedikit dingin sih " jawab Devan.


Bu Rosna tersenyum mendengar jawaban menantu nya.


"Kamu mengingatkan ibu tentang Aleta nak. Sedari kecil, dia suka sekali bermain dan berjalan di sekitar persawahan. Dia bilang, suka mencium bau tanah dan lumpur basah yang bercampur dengan harum tanaman pagi. Apalagi jika pagi hari, baunya akan semakin kuat karena adanya embun di daunnya." Bu Rosna menceritakan tentang kesukaan Aleta dari kecil.


Mendengar perkataan Bu Rosna, Devan menjadi tertegun dan merasakan nyeri serta sesak di area dadanya. Kemudian dia terduduk di kursi, dan dengan meluruskan kakinya ke bawah dia mengambil nafas panjang. Perlahan dia mulai dapat menguasai kembali dirinya. Cokro sudah agak was-was mengamati perubahan raut wajah Devan.


"Maafkan Devan ibu yang tidak bisa menjaga Aleta dengan baik." kata Devan pelan sambil menundukkan kepala.


"Kamu tidak salah nak, maafkan Aleta. Dia masih terlalu muda untuk mendapatkan stimulus seperti itu. Tapi dia anak yang baik, tidak akan lama ibu yakin dia akan menyadari bagaimana posisinya." kata Bu Rosna yang yakin karena mengenali sifat anak asuhnya.


"Aku juga agak menyesal, harusnya malam itu aku buka bukti kelicikan Maurin yang berniat untuk menjebak cucuku. Melihat sikap Aleta yang mampu mengendalikan dirinya dengan baik, aku tidak pernah terlintas pikiran kalau dia akan pergi meninggalkan kami." kata Cokro tersenyum kecut.


"Anak itu sangat luar biasa. Dalam keadaan seperti itu, dia masih bisa mengendalikan perasaannya dan bahkan menyelamatkan muka cucuku di hadapan keluarga yang lain." lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Aleta memang selalu berusaha menjaga dan melindungi orang lain, bahkan terkadang dia mengabaikan perasaannya sendiri. Dia memiliki sifat kedewasaan di usianya" sahut Bu Rosna sambil menerawang membayangkan senyum tulus putrinya.


Mereka bertiga diam sejenak. Penjelasan Bu Rosna tentang istrinya, sangat melegakan dan mengurangi kekhawatiran Devan tentang Aleta. Istrinya saat ini hanya butuh waktu untuk berpikir jernih.


"Terus apa rencanamu hari ini Devan, dan kamu juga harus ingat tanggung jawabmu sebagai pemimpin perusahaan. Kasihan Rolland, dari kemaren dia kalang kabut mengurus semuanya" tanya Cokro memecah keheningan di antara mereka.


"Iya kek, hari ini Devan berencana masih Off mikirkan perusahaan. Besok pagi, aku akan remote pekerjaan dari sini. Sebelum Aleta ketemu, Devan akan tetap tinggal di kota ini. Nanti jam 10, Devan akan mencoba mendapatkan informasi Aleta dengan mendatangi kampus tempatnya kuliah." Devan menyampaikan rencananya pada Cokro.


Hati Bu Rosna merasakan kebahagiaan yang terpancar dari mata dan raut wajahnya, bahagia mendengarkan suami karena perjodohan Aleta, ternyata juga bisa menyayanginya dengan sepenuh hati.


"Bawalah Ijonk untuk mengantar kamu mencari Aleta. Pikiranmu masih kalut, belum sepenuhnya tenang. Selain itu, Ijonk lebih hafal seluk beluk kota ini dari pada kamu." sahut Cokro.


"Iya kek, Devan akan membawa Ijonk untuk menemani berkeliling nanti."


Tiba-tiba Tini datang menginterupsi perbincangan mereka. Dari tadi pagi dia berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Berhari-hari dia hanya masak seadanya untuk dia nikmati denga Ijonk dan pak Karyo. Hari ini dia menyiapkan menu yang lebih lengkap untuk Tuannya.


"Tuan..., Bu Rosna, silakan sarapan pagi dulu. Tini sudah siapkan di meja makan." kata Tini meminta mereka untuk sarapan.


"Ayo kek, ibu.. kita sarapan dulu."


Akhirnya mereka melanjutkan perbincangan di meja makan, dan terny Rolland sudah terlebih dulu menunggu mereka.


*********


Aleta menuruni anak tangga menuju lantai bawah kamar kostnya. Dia sengaja mengambil kamar di lantai dua pojok kanan, agar tidak terganggu lalu lintas penghuni kost lainnya. Dari tangga dia melihat Ferdinand dan Corry sudah menunggunya di ruang tunggu untuk tamu kost.


"Hai... sudah lamakah kalian menunggu." sapanya pagi ini.

__ADS_1


Setelah istirahat dan tidur semalam, suasana hatinya sudah mulai stabil. Dia hanya memiliki target jangka pendek yaitu menyelesaikan studinya segera.


"Tidak baru saja." jawab Ferdinand singkat.


"Ehm... baru saja versimu itu 30 menit Ferd, kalau versiku 3 menit." celetuk Corry.


"He...he...he..., tapi untungnya aku bukan kamu ya Corr," sahut Ferdinand menggoda Corry.


"Langsung berangkat saja yuk, ngobrolnya nanti disambung di mobil." Aleta mengajak mereka segera berangkat.


Hari ini Aleta bermaksud untuk menemui dosen pembimbingnya untuk konsultasi masalah magang. Dosbingnya pak Rahmat pernah menawarkan tempat untuk magang. Setelah Aleta berpikir, daripada mencari sendiri, lebih baik menerima tawaran pak Rachmat.


Ketiganya langsung menuju mobil Ferdinand yang diparkir di jalan depan kost. Ferdinand membukakan pintu depan sebelah kiri dan mempersilakan Aleta naik, kemudian dia memutar ke depan dan masuk mobil di belakang setir mobil.


"Hadeh...., kacang mahal, kacang mahal....bawa cewek dua orang. Ini yang dibukakan mobil cuman satu orang. Nasib.....nasib." seru Corry dari jok tengah.


"Ha..ha..ha..., maaf Corry. Swear..., aku lupa kalau ada kamu juga." kata Ferdinand tertawa lebar.


"Di jewer saja telinganya dari belakang Corry. Itu namanya tidak mengamalkan Pancasila sila yang lima." sahut Aleta ikut membully Ferdinand.


"Ampun... ampun..., aku dikeroyok ibu-ibu." teriak Ferdinand yang langsung disambut dengan tertawa bersama.


Sejenak Aleta melupakan ganjalan di hatinya.


"Sudah yuk, jalan pak sopir. Nanti kami keburu kesiangan sampai kampus." kata Corry memerintah Ferdinand.


"Baik..baik..., tuan putri yang sombong. Hamba siap mengantarkan Tuan Putri ke tempat tujuan." Ferdinand balik mengerjai Corry.

__ADS_1


Akhirnya Ferdinand segera menginjak pedal gasnya, dan mengarahkan mobil ke arah kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komputer dan Desain.


*******


__ADS_2