
Devan mengajak Ijonk langsung menuju Solo Techno yang berada di wilayah stadion Manahan. Selama 20 menit mereka berkendara, akhirnya mereka sampai ke lokasi yang dituju. Baru saja mereka hendak beranjak turun, Devan melihat sekelebat wajah Aleta menaiki mobil To**ta Sienta yang parkir di depannya.
"Ijonk, coba ikuti mobil di depan kita itu. Ikuti terus, aku ingin tahu akan kemana mereka." tiba-tiba Devan memberi perintah pada Ijonk dengan menunjuk mobil warna putih yang baru saja keluar dari gerbang.
"Baik Tuan, tapi apakah kita tidak jadi mampir ke Solo Techno dulu." tanya Ijonk sambil menjalankan mobilnya.
"Kapan-kapan kita kesananya, kita ikuti mobil itu dulu." sahut Devan.
Setelah berputar-putar menghindari jalur satu arah, mobil putih itu berhenti di warung makan Timlo ***tro dekat Pasar Gede Solo.
"Mobil di depan itu berhenti, apa yang harus kita lakukan Tuan." tanya Ijonk kebingungan karena tidak tahu apa yang diinginkan Devan.
"Kita tetap disini, kamu awasi penumpang yang ada di dalam mobil. Aku sepertinya tidak asing dengan mobil itu." kata Devan.
Ijonk mengikuti instruksi Devan, dan ketika mobil yang membawa Aleta parkir di tempat itu, dia ikut memarkirkan mobilnya.
Dari kejauhan mereka mengamati dan menunggu penumpang mobil itu turun. Tidak berapa lama, Ijonk dan Devan melihat seorang laki-laki turun dari pintu kemudi, kemudian berjalan memutar dan membukakan pintu untuk seseorang.
"Ferdinand." Devan menggumamkan nama laki-laki muda teman Aleta itu.
Devan tampak menggemeretakkan giginya, melihat Ferdinand memegang tangan Aleta dan membantunya turun dari mobil. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan panas, dan setelah melihat pintu belakang terbuka dan seorang perempuan muda keluar, sesak di dada Devan perlahan berkurang.
"Itu Non Aleta Tuan, sepertinya mereka mau makan Timlo. Oh iya Tuan, yang perempuan itu kan mbak Corry. Dia teman kuliah non Aleta, hampir tiap hari main ke rumah saat non Aleta ada di sini." Ijonk memberi tahu pada Devan, tapi Devan fokus mengarahkan pandangannya pada mereka.
Seperti yang dikatakan Ijonk, tiga orang itu masuk ke rumah makan yang menyediakan kuliner khas kota Solo yaitu timlo. Dada Devan kembali sesak melihat dari kejauhan, Ferdinand menggandeng Aleta dan menariknya masuk ke dalam rumah makan.
"Sialan, perlu diberi pelajaran laki-laki itu." desis Devan ke dengan mata yang mulai memerah menahan emosi.
"Atau kita samperin non Aleta Tuan." tanya Ijonk yang mendadak merasa kedinginan melihat ekspresi Tuannya.
"Tidak perlu, aku tidak mau membuat istriku malu di depan teman-temannya. Kita tetap disini." sahut Devan dingin.
*******
__ADS_1
Sementara itu, Aleta bersama Corry dan Ferdinand tidak jadi survey ke Solo Techno. Aleta hanya ingin mengetahui titik lokasinya, sehingga akan memudahkan Ojol untuk mencarinya, ketika Aleta berangkat magang nanti.
Dari lokasi Manahan, mereka menuju pasar Gede Solo untuk mencari timlo sebagai pengisi perut, mengingat dari pagi Aleta dan Corry belum makan apapun.
"Kalian mau pesan apa," tanya Corry sambil memegang kertas dan pulpen untuk mencatat pesanan mereka.
"Timlo, teh panas, sate uritan 2," sahut Aleta.
"Timlo 2 porsi, es lemon tea, sama sate telur puyuh 1," ucap Ferdinand.
"Gila..., kecil-kecil makanmu banyak Fer," celetuk Corry.
"Memang sengaja Corr, biar hari ini aku kuat meladeni mulutmu yang asal nyerocos dari tadi." kata Ferdinand asal ceplos, yang disambut dengan pukulan Corry di lengannya.
"Nha .., benar kan. Ternyata ga cukup cuma mulut, sekarang tangannya sudah ikutan bekerja. Kwkkk..kwkk...." lanjut Ferdinand tidak henti meledek Corry.
Tak berapa lama, pesanan mereka diantarkan pelayan. Mereka langsung memakannya karena timlo enak jika dikonsumsi dalam keadaan hangat.
"Aleta, Ferdi...., maaf ya. Aku pulangnya sendiri saja, karena habis makan aku mau ke Taman Budaya dulu." kata Corry di tengah makan.
"Bagaimana mau bilang, Ferdinand tuch. Dateng-dateng main tarik tangan orang saja." protes Corry pada Ferdinand.
"Maaf Aleta. Bukannya aku ga mau ajak kamu, tapi aku ada technical meeting dengan anak-anak komunitas seni Solo. Habis itu kita lanjut Gladi Bersih, pulangnya ga tahu jam berapa." Corry menolak halus keinginan Aleta.
"Okay deh..., semoga lancar dan sukses acaranya ya." ucap Aleta tulus.
"Corr, kamu tuh kayak bahagia banget deh, kalo kumpul sama anak-anak seni," kata Ferdinand.
"Jiwa seni itu sudah mendarah daging di keluargaku Fer. Aku saja yang kurang berminat, tapi aku selalu berada di balik layar, jadi tim kreatif." Kata Corry sambil terus makan.
"Pelan-pelan Corr, nanti tersedak." kata Aleta khawatir melihat temannya makan terburu-buru.
"Dikejar waktu ini, sorry ya, ojol pesananku sudah menunggu di luar. Aku duluan." kata Corry pamitan, sambil minum es teh dan langsung bergegas keluar.
__ADS_1
Ferdinand tertawa melihat kelakuan Corry.
"Itu cewek... tapi kelakuan barbar. ha..ha..ha..," ucap Ferdinand.
"Hush .. jangan membully sahabatku. Biar barbar dia baik hati." sahut Aleta membela sahabatnya.
"Tuh, kamu sendiri juga bilang kan kalau Corry barbar," ledek Ferdinand.
"Kapan aku bilang," seru Aleta
"Tadi, meski barbar tapi baik hati. Berarti itu merupakan pengakuan resmi. Ha..ha..," ucap Ferdinand. Mereka tertawa bersama, dan perlahan menghilangkan masalah yang sedang dihadapi Aleta.
********
"Tuan.., itu mbak Corry sudah keluar." seru Ijonk tiba-tiba yang sedikit mengagetkan Devan, yang tengah mempelajari laporan bawahannya melalui ponsel.
Devan mengarahkan pandangannya pada Corry, yang sedang keluar dari rumah makan. Setelah sampai di luar, terlihat Ojol menghampirinya, kemudian Corry langsung membonceng Abang Ojol.
"Aleta mana Ijonk, apakah dia masih di dalam atau sudah keluar dari tadi." tanya Devan yang tiba-tiba was-was kalau kehilangan jejak istrinya.
"Masih di dalam tuan, dari tadi mata Ijonk tidak berpindah mengawasi pintu keluar." sahut Ijonk.
Devan terdiam, tapi kemudian dia tersentak.
"Berarti mereka tinggal berdua di dalam." Devan membatin sendiri.
"Ijonk..., kamu sekarang masuk ke dalam rumah makan. Ajak Aleta pulang." Devan tiba-tiba berbicara dengan nada emosi kepada Ijonk.
"Baik tuan, tapi kalau non Aleta tidak bersedia bagaimana." tanya Ijonk polos.
"Jawab saja, kalau aku dan kakek yang memintamu membawanya kembali. Jika kamu gagal, maka mulai besok, kamu tidak perlu bekerja denganku." kata Devan dengan nada penuh ancaman.
"Baik Tuan, saya akan masuk ke dalam. Saya pastikan, non Aleta akan segera menemui Tuan." sahut Ijonk ketakutan mendengar ancaman Devan.
__ADS_1
Ijonk segera membuka pintu mobil, dan dengan tergesa-gesa memasuki rumah makan. Sedangkan Devan menenangkan dirinya yang mulai merasakan sesak di bagian dadanya.
*******