
Setelah shalat Ashar, Aleta baru keluar dari perusahaan. Beberapa teman sudah meninggalkan ruangan, tetapi Aleta masih menunggu jemputan dari suaminya. Melihat mobil Devan sudah berada di halaman parkir perusahaan, Aleta bergegas menghampiri. Biasanya jika dia datang, pintu mobil Langsung dibuka, tetapi kali ini pintu tetap tertutup.
"Tok...tok...tok," Aleta mengetuk kaca mobil.
Tidak lama Devan keluar dari pintu pengemudi.
"Sorry sayang, mas tertidur." Devan membuka pintu.
"Ijonk kemana mas, kok mas Devan mengemudi sendiri."
"Lagi pingin jemput sendiri saja tadi."
Setelah memastikan Aleta masuk, Devan kemudian ikut masuk ke dalam, dan langsung menjalankan mobil.
"Aleta..., nanti pukul 21 temani mas ya. Mas harus ke Bandung, tadi barusan di telpon sama kakek dan papa."
"Ada apa mas, kok mendadak. Sampai papa dan kakek nelpon semua."
"Kata papa, mama Maurin mau ketemu mas. Makanya mas minta kamu menemani. Biar bisa bertindak dan menjawab." sahut Devan sambil tersenyum melihat ke arah Aleta.
"Mungkin anaknya Maurin sudah lahir mas, kan kalo dihitung-hitung ini sudah lebih dari 10 bulan mereka tidak muncul."
"Yah, mungkin juga bisa begitu. Mas sudah menghubungi dokter keluarga untuk siap-siap melakukan test DNA. Kamu jangan khawatir sayang, mas tidak ada hubungan apa-apa dengan gadis itu."
Aleta terdiam, meskipun dia juga yakin kalau sewaktu acara di Ubud, Devan tidak kemana-mana. Tetapi pada waktu dia tertidur, dia juga tidak tahu apakah suaminya keluar meninggalkannya atau tidak.
"Kenapa kamu tiba-tiba terdiam sayang. Kamu meragukan mas ya. Kalau mas melakukannya, tidak bakalan kan mas dengan semangat malam ini pulang ke Bandung." ucap Devan seperti tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya.
Aleta tetap diam, hanya menengok sebentar memandang suaminya. Tetapi kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
"Aleta jujur mas, Aleta takut. Meskipun dulu Aleta sudah mempercayai mas, tapi untuk sekarang Aleta tidak bisa membohongi perasaan sendiri."
Devan tersenyum, kemudian tangan sebelah kiri mengelus puncak kepala istrinya.
__ADS_1
"Iya sayang, mas tidak menyalahkan pikiranmu.Tetapi hanya mas berpesan, jangan tinggalkan mas lagi ya. Semua bisa kita bicarakan baik-baik."
Aleta menganggukkan kepala, kemudian merebahkan kepala di atas sandaran kursi mobil.
"Aleta tidur ya mas, tiba-tiba kepala Aleta agak pusing."
"Yah, tidurlah sampai rumah sayang." ucap Devan tersenyum melihat tingkah istrinya.
Aleta kemudian memejamkan mata, dan Devan terus melajukan kendaraannya menuju rumah.
***********************
Pukul 22 malam ini, Aleta dan Devan sudah berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang dari Bandara menuju rumah keluarga. Rolland sendiri yang menjemput mereka, tidak mengajak Asep.
"Bagaimanapun kabar keluarga lland." tanya Devan.
"Baik kak, cuman yah ..., mau bagaimana, lagi. Setiap hari rumah rasanya sepi. Papa sudah pindah ke rumah, tinggal kakek dan Rolland yang tinggal di rumah keluarga. Jika dibolehkan, mendingan Rolland ikut kakak ke Solo."
"Yah, jangan begitu Rolland. Makanya kamu cepat nikah, bagaimana si Jenny. Kalau kamu bilang siap menikah, nanti kakak dan kakak ipar atur waktu kesini"
Aleta hanya mendengarkan kakak beradik beda ibu itu melakukan perbincangan. Dia dari tadi hanya diam dan memejamkan matanya. Pikirannya kemana-mana membayangkan kejadian besok pagi yang akan mereka hadapi. Devan dan Rolland mengira Aleta tertidur, karena dari tadi mereka mengintip dari kaca mobil di depan, dan mereka melihat Aleta sedang memejamkan mata.
"Terus papa di Setiabudi tinggal sama siapa. Jangan bilang kamu sendiri juga belum menengok papa ke rumah."
Rolland tersenyum kecut sambil mengemudi.
"Belum mas, sepertinya tinggal sendiri.Tapi ada satu ART dan satu laki-laki penjaga dan tukang bersih-bersih. Aku pikir papa juga akan bersatu lagi dengan mama Kinara, tetapi ternyata tinggal sendiri."
"Sudah Rolland, kita tidak perlu mengatur kehidupan orang tua kita. Mereka punya jalan pikiran masing-masing, yang mungkin kita tidak akan bisa sampai ke pikiran mereka."
"Iya juga mas. Aku sendiri sampai saat ini juga belum bisa menghubungi mama Rengganis. Mama ganti nomor ponsel, dan celakanya aku anaknya sendiri juga tidak di berikan. Hah.., betapa malang kan kak nasib adikmu ini."
"Sudah besok setelah urusan kakak dengan Maurin beres, nanti kakak antar ke tempat mama. Kita kesana bersama-sama, mama Rengganis juga mamaku."
__ADS_1
Kakak dan adik itu ngobrol serius sepanjang perjalanan. Baru kali ini mereka bisa seperti itu, biasanya mereka hanya bertengkar terus. Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di halaman rumah keluarga Cokrodirjan.
"Aleta sayang..., kita sudah sampai sayang." panggil Devan pada istrinya.
Tetapi ternyata Aleta benar-benar tertidur mendengar pembicaraan mereka. Devan tersenyum, kemudian memberi kode pada penjaga rumah untuk membuka pintu depan. Dia mengangkat tubuh istrinya, dan membawanya langsung masuk ke dalam kamar.
*********************
"Aleta cucu kakek...., ternyata kamu bisa gemuk juga. Berat badanmu naik berapa kilo nak." tanya kakek Cokro pada Aleta.
Pagi ini mereka sedang menikmati sarapan bersama di ruang makan.
"Aaaw..., benarkah kek, sekarang Aleta gemuk. Mas Devan, kenapa mas tidak bilang kalau Aleta sekarang gemuk." Aleta langsung memegang lengan Devan, dan protes.
"Lah mas harus bilang apa sayang. Ini buka gemuk kelebihan berat badan. Tapi lebih berisi dari terakhir kita berada disini dulu. Iya kan kek." sahut Devan.
"Iya, apa kakek salah bicara ya. Benar yang dimaksud Devan, sekarang kulitmu ada dagingnya, bukan tulang semua."
"Hadeh kakak ipar, jangan panik gitu donk. Kakak iparku tetap langsing pokoknya, he..he..," goda Rolland.
"Ayo makannya yang beneran. Jangan kemudian tadi kakek bilang gemuk, terus hari ini kamu diet."
Tiba-tiba dari arah dapur, Bibi Puji membawa sepiring mendoan panas yang ditaburi cabai rawit hijau. Mata Aleta langsung cerah melihat mendoan tersebut.
"Bibi..., piringnya ditaruh dekat Aleta ya. Pokoknya Bi Puji paling mengerti deh, apa yang jadi kesukaan Aleta." seru Aleta.
Bibi Puji menurut pada kemauan Aleta, dan meletakkan piring yang berisi tempe mendoan di depannya. Aleta langsung mengambil tissue, dan mengambil kemudian menggigit sampai kepanasan.
"Haduh .., sabar sayang. Ini tempe masih panas, ditunggu dingin sebentar kan bisa." kata Devan mengkhawatirkan istrinya.
"Lah.., mas Devan coba nih. Nikmatnya mendoan itu ya pas masih panas-panas begini. Kalau dingin, jadinya lembek tidak nikmat."
Atmaja hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah menantunya. Melihat nikmatnya Aleta makan mendoan, akhirnya yang lain ikut tergoda menikmati dala keadaan panas-panas. Tidak sampai satu jam, piringnya sudah bersih.
__ADS_1
********************