
Hari-hari selanjutnya Axel sudah dapat membaur dengan keluarga Cokro, Aleta menyayangi Axel sama seperti menyayangi kedua putranya Arend dan Arick. Di hari libur, mereka sering jalan-jalan bertujuh, karena Rolland dan Jenny akan selalu mengikuti mereka kemanapun. Setiap bulan, Rico dan Ridwan akan menstransfer sejumlah uang ke rekening Aleta untuk biaya pengasuhan Axel, tetapi sepeserpun tidak pernah digunakan oleh Aleta. Pada saatnya nanti, jika Axel sudah mampu berdiri sendiri, uang tabungan akan kembali Aleta serahkan kepada anak itu.
"Auntie..., Axel boleh dibelikan Ipad?" tanya Axel pada Aleta saat mereka sedang duduk di pinggir kolam.
"Kegunaannya untuk apa sayang? Jika Axel bisa menjawab pertanyaan auntie, nanti malam atau besok kita cari barang yang diinginkan Axel." Aleta memang selalu menanyakan manfaat barang yang diinginkan oleh anak-anaknya, selain melatih mereka untuk menghargai uang, juga untuk mengasah kemampuan berpikir mereka.
"Untuk berlatih Coding auntie..., kemarin kita bertiga ikut Coding course. Waktu placement, kita bertiga ambil beda kursus auntie. Bahkan Arend sudah pintar membuat web development."
"Really..., kenapa Arend dan Arick tidak pernah bercerita sama auntie sayang."
"Nanti auntie bisa bertanya pada mereka saja. Bagaimana auntie, bolehkan Axel dibelikan Ipad, tetapi jika auntie belum ada uang, kapan-kapan bisa kok, tidak harus sekarang." Aleta tidak sedikitpun melihat kekecewaan di mata anak itu, meskipun Aleta belum memberikan jawaban.
"Pasti boleh sayang, nanti auntie tinggal bilang sama Om Devan. Biar jika Om Devan tidak repot, Ipad nya langsung dibelikan."
"Thank you so much aunty..., Axel sayang sama aunty." Axel langsung memeluk Aleta dan menghadiahi ciuman di pipinya.
Axel langsung berlari mencari Arend dan Arick yang sedang bermain Play station. Aleta langsung mengirimkan pesan via aplikasi whattsapps ke Devan, dan memberi tahu apa yang diinginkan Axel.
*********************
Malam hari Aleta sedang di ruang belajar mendampingi anak-anak mengerjakan tugas sekolah. Ketiga anak itu sebenarnya sudah bisa mengerjakan tugas sendiri, tetapi mereka memerlukan pendampingan agar tidak bermain gadget. Jika ada Mommy nya, mereka fokus mengerjakan, baru setelah tugas selesai mereka diperbolehkan untuk menyentuh gadget.
"Selamat malam sayang...," terdengar suara Devan di depan pintu ruang belajar. Aleta dan anak-anak menoleh ke pintu, dan melihat Daddy nya membawa tas besar.
"Daddy..." Arend dan Arick langsung berlari memeluk Daddy nya. Axel hanya berdiri sambil memandang mereka dengan tatapan iri.
"Axel.., come here dear..!" Devan merentangkan kedua tangannya memeluk Arend dan Arick, kemudian saat Axel berjalan mendekatinya, dia memeluk ketiga anak itu dengan penuh kasih sayang.
Ketiga anak itu memberikan ciuman di pipi Devan.
__ADS_1
"Bagaimana belajar kalian, apakah sudah selesai?"
"Sudah Daddy.., tapi sama Mommy diberikan latihan soal lagi. Setelah selesai, baru diperbolehkan main gadget." Arick mengadu pada Devan.
"Ha..ha..ha.., iyakah? Masa Mommy sekejam itu? Ya.., sudah sekarang latihan dari Mommy kalian kerjakan dulu. Setelah selesai, nanti Daddy beri kalian semua hadiah."
"Benar dadd..?" melihat Devan menganggukkan kepala, ketiga anak itu kembali ke tempat belajar mereka.
"Momm..., ayo temani Daddy ke kamar dulu! Daddy mau mandi." Devan menggandeng Aleta dan mengajaknya ke kamar.
Setelah menutup pintu, Devan memeluk erat tubuh istrinya dan ******* bibir Aleta tanpa henti. Setelah mereka hampir kehabisan nafas, baru Devan melepaskan.
"Mandi dulu sana.., Mommy siapkan pakaian dulu!" Aleta ke walk in closed menyiapkan pakaian untuk suaminya, sedangkan Devan segera masuk ke kamar mandi.
Setelah menyiapkan baju dan meletakkannya di atas ranjang, Aleta ke dapur untuk membuatkan minuman panas untuk suaminya.
******************************
Aleta menyiapkan snack dan coklat panas di ruang keluarga, dan membawa tas besar yang dibawa Devan kesana. Kemudian dia kembali ke ruang belajar untuk menengok anak-anak.
"You're done studying kids?" tanya Aleta saat melihat Arend rebahan, sedangkan Axel menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Sudah Momm.." jawab ketiganya serentak.
"Anak-anak Mommy memang excellent, ayuk ikuti Mommy ke ruang keluarga! Karena hadiah yang tadi dijanjikan Daddy akan kita berikan kali ini."
"Hore..., asyik.." ketiga anak itu langsung bangun, kemudian membereskan buku dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian mereka langsung berlari menghampiri Aleta. Dengan penuh kebahagiaan Aleta menggiring 3 anak itu menuju ke ruang keluarga.
"Ada apa ini, kok rame-rame?" tiba-tiba Opa Cokro keluar dari kamarnya melihat mereka berempat berjalan bersama-sama.
__ADS_1
"Mau ke ruang keluarga Opa. Mereka mau menerima hadiah dari Daddy nya, karena sudah selesai mengerjakan tugasnya."
"Iyakah? hadiah apa itu, boleh Opa juga ingin melihatnya."
"Ayo Opa.., ikuti kami!" teriak Arick.
Akhirnya Cokro mengikuti mereka ke ruang tengah, dan disana sudah menunggu Devan yang mengeluarkan 4 box dari tas besar.
'Ayo..., Daddy akan menepati janji. Ini satu untuk Axel, ini Arend, ini Arick, dan yang satu ini untuk pawangnya anak-anak... Mommy." Devan memberikan masing-masing 1 buah Ipad dengan logo Apel digigit ulat.
"Wow... thank you Daddy.." teriak Arend dan Arick.
Mata Axel langsung berkaca-kaca, dia merasa kurang yakin dengan apa yangs edang dipegangnya. Baru tadi siang dia menyampaikan keinginannya pada Aunty Aleta, ternyata tidak menunggu hari berganti, barang impiannya sudah dia pegang. Melihat Axel diam dengan mata berkaca-kaca, Aleta mendekati Axel, kemudian dengan jarinya menghapus air mata yang menggenang di kelopak mata anak itu.
"Kenapa sayang? Bukan ini barang yang diinginkan Axel? Nanti bisa Om Devan tukarkan sayang, Axel tidak perlu bersedih seperti ini." Aleta dengan lembut berbicara pada Axel. Tiba-tiba anak itu langsung memeluk erat Aleta, kemudian..
"Terima kasih aunty.., baru kali ini Axel bisa mendapatkan apa yang Axel inginkan secepat ini. Terima kasih..., Axel sangat menyayangi Aunty dan keluarga ini." dengan terisak Axel berbicara.
"Axel sayang..., Axel, Arend, dan Arick.. kalian bertiga putra dari Devan dan Aleta. Jika Axel mau, ke depan Axel bisa memanggil Aunty dengan Mommy, dan Om dengan Daddy. Sama dengan mereka berdua memanggil Mommy and Daddy. Jadi Axel tidak perlu iri dengan orang lain, karena Axel juga memiliki Mommy and Daddy."
Axel melepaskan pelukannya kemudian memandang Aleta, dan setelah melihat Aunty nya menganggukkan kepala, kemudian menengok ke semua yang ada di ruangan itu.
"Sekarang Axel ucapkan terima kasih sama Daddy sayang!" ucap Aleta, dan langsung Axel memeluk Devan. Devan yang selama ini belum pernah memeluk anak itu, dengan kaku dia juga memeluk Axel.
"Terima kasih Om Devan, Axel tetap akan memanggil Om saja, juga Aunty."
Semua melihat kebahagiaan Axel, bahkan Arend dan Arick ikut memeluk Daddynya juga.
*******************************
__ADS_1