Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Bimbang


__ADS_3

Sepulang kuliah Aleta bermalas-malasan di dalam kamarnya. Dia merasa bingung dengan dirinya sendiri, dari semalem hatinya merasa deg-degan jika teringat Ferdinand. Di kampus, Aleta berusaha menghindar dari Ferdinand, tetapi di sisi lain dia merindukan kehadiran Ferdinand di dekatnya. Aleta menutup mukanya dengan bantal, berusaha mengusir bayangan Ferdinand di dalam otaknya.


"Tok .tok...," terdengar suara ketokan di pintu kamar Aleta.


"Iya, siapa," tanya Aleta.


"Ini ibu nak, apakah ibu boleh masuk," tanya Bu Rosna dari luar pintu.


"Iya Bu, boleh. Aleta hanya tiduran kok," jawab Aleta sembari bangun dari posisi rebahan


Bu Rosna membuka pintu kamar, kemudian masuk dan duduk di tempat tidur. Bu Rosna tiba-tiba memeluk dan mengelus-elus rambut Aleta.


"Anak ibu yang dulu kecil mungil, saat ini sudah mulai tumbuh jadi dewasa." bisik lirih Bu Rosna.


Aleta merasakan keanehan sikap Bu Rosna beberapa hari terakhir. Tetapi Aleta tetap menjaga perasaan ibu yang sudah merawatnya dari bayi. Dia hanya diam menikmati pelukan kasih sayang Bu Rosna. Setelah beberapa saat, Bu Rosna melepaskan pelukannya, kemudian memegang kedua bahu Aleta.


"Aleta..., maafkan ibu sebelumnya ya nak. Maafkan kalau ibu menjadi seorang ibu yang egois." ucap Bu Rosna pelan


"Sebenarnya ada apa Bu," tanya Aleta penasaran.


"Ibu mau menyampaikan pesan dari kakek Cokro. Apakah kamu siap untuk mendengarkan."


"Inshaa Allah siap Bu,"


"Dengarkan ibu nak. Kakek Cokro melamar kamu nak."


"Apa," teriak Aleta tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Maksud ibu, Kakek Cokro melamarmu untuk.cucunya."


"Berbagai pertimbangan sudah ibu diskusikan dengan kakek Cokro, tapi kakek Cokro tetap memilihmu untuk melunakkan hati cucunya." Bu Rosna terdiam tidak tega melihat wajah Aleta.


"Dengan pertimbangan untuk masa depanmu dan juga kebaikan adik-adikmu di panti ini, ibu menerima lamaran itu nak. Tapi dengan persyaratan kamu ikhlas menerima dan menjalaninya."


"Ibu akan menolaknya kalau kamu menyatakan tidak ikhlas."


Aleta terdiam tidak bisa memproses semua perkataan yang disampaikan Bu Rosna. Semuanya terjadi begitu mendadak, di saat hatinya sedang berbunga-bunga membayangkan Ferdinand, tiba-tiba rontok semua karena perkataan Bu Rosna.


"Bagaimana nak," tanya Bu Rosna pelan.


"Ibu..., bisakah ibu memberiku waktu berpikir satu hari saja," tanya Aleta tidak mau menyakiti hati Bu Rosna.


"Iya nak, pikirkanlah. Ibu mau ke dapur dulu ya menyiapkan makan malam dengan Bu Surti."


"Iya Bu, maaf ya Bu. Aleta tidak bisa membantu sore ini." ucap Aleta.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak, ibu paham," jawab Bu Rosna tersenyum kemudian meninggalkan Aleta sendirian.


Sepeninggalan Bu Rosna, Aleta menangis tersedu-sedu di kamar. Tatkala mimpinya melambung, saat itu juga mimpinya retak seketika.


"Kak Ferdi," bisiknya pilu.


Aleta membayangkan saat-saat berdua dengan Ferdinand, saat kenalan waktu masa Orientasi Mahasiswa baru. Saat kakak-kakak senior lainnya berlomba-lomba ngerjain Aleta, Ferdinand selalu muncul menjadi dewa penolong bagi Aleta. Begitu juga untuk saat-saat ini.


Tiba-tiba muncul keinginan Aleta untuk bertemu dengan Ferdinand. Aleta meraih ponselnya, kemudian mengirim WhatsApp messenger kepada Ferdinand.


"Assalamualaikum kak Ferdi,"


"Wa Alaikum salam, Aleta, tumben chatt duluan. he..he.."


"Ga boleh ya,"


"Boleh donk, kok jadi sensi ya tuan putri. Kakak bahagia banget tiba-tiba dapat chat masuk dari Aleta,"


"Kak Ferdi, besok ada acara tidak."


"Acara kuliah biasa, memang ada apa,"


"Tiba-tiba Aleta pingin banget main ke pantai, kakak mau tidak anterin Aleta,"


"Beneran, mau banget Aleta. Kakak jemput jam berapa?"


"Ok ok tuan putri. Tunggu sang Pangeran datang menjemput besok pagi." kata Ferdinand bahagia banget.


"Udah ya kak, terima kasih sebelumnya. Assalamualaikum"


Wa Alaikum salam,"


*****


Selepas shalat Subuh, Dev sudah mandi dan bersiap-siap pergi ke pantai dengan Ferdinand. Matanya sembab, dan muncul kantong mata di bawah matanya. Bu Rosna yang melihat Aleta sudah rapi, berjalan menghampiri Aleta.


"Kok sudah rapi, mau kemana nak," tanya Bu Rosna lembut .


"Aleta ada janji mau pergi dengan kak Ferdi Bu. Boleh kan Bu," kata Aleta ganti bertanya.


"Boleh, nak Ferdi anak yang baik. Pergilah nak, tapi ingat jangan lama-lama. Hindari fitnah nak, karena kalian dua orang yang dewasa dan bukan muhrim."


"Iya Bu, Inshaa Allah."


Tidak mau kesedihan ada di mata Aleta, Bu Rosna mengijinkan Aleta untuk pergi bersama Ferdinand. Dalam hati sebenarnya Bu Rosna juga menyukai sifat dan karakter Ferdinand, tetapi untuk masa depan Aleta dan panti asuhan Rejeki, tawaran pak Cokro lebih menarik baginya.

__ADS_1


Tidak Lama terdengar suara mesin mobil dimatikan di halaman. Aleta mengambil tas selempang yang sudah disiapkan, kemudian berpamitan dengan Bu Rosna.


"Ibu, kak Ferdi sudah datang, Aleta berangkat ya Bu."


"Tidak diminta masuk dulu nak Ferdinand, minum teh panas dulu baru berangkat." saran Bu Rosna.


"Tidak usah Bu, keburu matahari bersinar. Aleta pingin lihat sunrise di samping kak Ferdi." sahut Aleta


Memahami kesedihan Aleta, akhirnya Bu Rosna mengiyakan. Aleta sendiri langsung keluar menemui Ferdinand.


"Ayuk kak langsung berangkat, keburu siang." ajak Aleta.


"Siap laksanakan tuan putri." jawab Ferdinand sambil bercanda.


Ferdinand baru akan berjalan menuju rumah utama, tiba-tiba sudah dihentikan Aleta.


"Kakak mau kemana,"


"Pamitan sama Bu Rosna, ntar kakak dikira menculik anak gadisnya."


"Tenang kak, udah Aleta pamitkan sama ibu, Ayuk cuzz, keburu sunrise berubah jadi sunnoon" kata Aleta yang langsung mendahului masuk mobil Ferdinand.


Ferdinand tertawa melihat ekspresi Aleta yang berbeda dari biasanya. Sedari datang Ferdinand sudah mencurigai ada yang tidak beres dengan Aleta, melihat bengkak dan kantung matanya bisa ditebak, apa yang dilakukan Aleta tadi malam. Ferdinand mencoba menuruti apa yang diinginkan gadis pujaannya itu untuk mengobati kesedihannya.


Begitu masuk mobil, Ferdinand langsung menjalankan mobilnya.


"Kakak..., Aleta bisa nyetel musik gak."


"Boleh donk," jawab Ferdinand sambil memutar tombol radio FM.


Untuk menyingkat waktu mengejar sunrise, Ferdinand mengambil jalur Gedangsari Gunung Api Purba. Meskipun jalannya sedikit curam dan naik, tapi bisa menghemat waktu satu jam jika dibandingkan ambil jalur Piyungan. Perjalanan mereka ditemani lagu-lagu dari *Ambors FM.


*****


Bu Rosna yang mendengar pembicaraan Aleta dan Ferdinand sebelum berangkat hanya bisa mengelus dadanya. Sekilas kesedihan berkelebat di matanya.


"Apa sebegitu kecewanya Aleta ya padaku, apakah aku salah ya Allah berusaha memilih yang terbaik untuk Aleta.' gumam Bu Rosna lirih.


"Ibu, ibu..., kak Aleta kemana, tadi Dewi sama Koko mencari di kamarnya sudah tidak ada," seru Dewi menanyakan Aleta.


"Kak Aleta nya baru pergi sayang, apa ada yang mau dicari." tanya Bu Rosna lembut.


"Wah kita ketinggalan, kita kan mau tadabbur alam lagi Bu."


"Ya udah, jalan-jalannya ibu temani ya. Ayuk ajak saudara-saudaramu."

__ADS_1


"Asyik...," seru Dewi sambil berlari memanggil saudara-saudaranya.


"""""""


__ADS_2