
# Flashback On
Devan sedang memeriksa work sheet dari tim audit internal keuangan perusahaan.
Beberapa kali dia tampak kebingungan, dalam memahami bahasa-bahasa audit yang terlihat keras dengan kesan seperti tuduhan. Tapi akhirnya dia tersenyum setelah menemukan clue dari simpul permasalahan.
Tiba-tiba terdengar notifikasi masuk dari chat aplikasi WhatsApp. Beberapa wa group sudah dia bisukan untuk beberapa waktu, dan notifikasi yang barusan masuk berarti menandakan pesan dari wa pribadi.
"Devan..., aku ada di lobby apartemen saat ini, Helena," Devan tiba-tiba tertegun membaca pesan barusan. Setelah terdiam, dia abaikan pesan yang baru masuk dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Drtt..," ada panggilan masuk di ponsel Devan. Tanpa melihat panggilan, Devan langsung menerima panggilan tersebut.
"Selamat sore," sapa Devan.
"Sayang, aku kembali," terdengar suara manja dari seberang ponsel.
Devan terdiam tidak menjawab, sebaliknya dia seperti tidak percaya, saat ini mendengar suara wanita itu lagi.
"Van..., ayolah. Ini aku sayang. Aku ada di lobby apartemen saat ini. Aku tidak akan pergi, sebelum hari ini aku bisa bertemu denganmu sayang." Helena terus bicara mengharapkan kedatangan laki-laki yang pernah dicintainya beberapa tahun yang lalu.
"Pulanglah Helen..., aku sudah tidak mengharapkanmu lagi." akhirnya Devan berbicara dan meminta Helen untuk kembali.
"Sayang.., ayolah kita ketemu sebentar saja. Please ..., aku akan menjelaskan semua alasan kepergianku selama ini."
Devan diam tidak berkomentar apapun.
"Aku tidak akan pergi dari sini, sebelum aku bisa bertemu denganmu saat ini."
"Helen.., kembalilah. Aku tidak akan pulang ke apartemen malam nanti."
"Aku tidak peduli, kalau kamu tidak datang menemui aku. Aku akan mencarimu di tempat kakek Cokro." ancam Helena.
__ADS_1
Devan langsung mengakhiri panggilan telepon dari Helena. Mendengar nama kakeknya, Devan langsung tersentak. Kemudian dia bergegas meninggalkan ruangan kemudian menuju basement untuk mengambil mobil.
Setelah 15 menit perjalanan, Devan sudah memasuki lobby dengan tergesa-gesa.
"Deg..,"
Devan berusaha menguasai emosi dan perasaannya. Duduk di ruang tunggu dekat security seorang wanita dengan penampilan yang lebih matang dan dewasa.
"Helena," bisik Devan lirih pada dirinya sendiri.
Melihat kehadiran laki-laki yang ditunggunya dari tadi, Helena langsung berlari dan menghambur ke pelukan Devan. Laki-laki yang pernah sangat dicintai dan dirindukannya. Menyadari posisinya sebagai seorang laki-laki yang sudah memiliki istri, Devan berusaha melepaskan pelukan Helena. Beberapa security melihat interaksi mereka dengan penuh tanda tanya.
"Helena, kendalikan dirimu. Ingat dimana posisi kita saat ini." kata Devan mengingatkan Helena.
"Aku tidak peduli sayang, aku menginginkanmu saat ini." kata Helena semakin berani. Kemudian dia menggelendot manja di lengan Devan.
Tidak mau menimbulkan kesalahpahaman di tempat ini, Devan kemudian berusaha melepaskan Helena. Devan bergegas menuju pintu lift, dan Helena mengikuti Devan dari belakang.
Setelah sampai di dalam apartemen, Helena semakin berani mendekati Devan. Dia berusaha merayu dan memeluk Devan. Tapi Devan tidak menanggapi dan berusaha untuk menolak Helena.
"Aku merindukanmu sayang, tidak bisakah kita seperti dulu. Kini aku kembali padamu," ucap Helena sambil berusaha untuk berbuat lebih pada Devan.
"Helen, hentikan. Aku sudah memiliki istri saat ini. Tempatmu bukan lagi disini Helen." kata Devan tetap berusaha menolak Helena.
Tangan Helena semakin berani, dan tiba-tiba Helena meraih tangan Devan kemudian membimbingnya dengan meletakkan di dada Helena. Tetapi tiba-tiba ada tangan lain yang menyentakkan, dan di depan Devan muncul Aleta istri mungilnya dengan tatapan emosi dan penuh kemarahan.
#Flashback Off
******
Sepeninggalan Helena, Aleta membanting keresek belanjaannya di meja makan. Kemudian tanpa memandang suaminya, apalagi menyapanya, Aleta bergegas masuk kamar. Devan mengikuti Aleta di belakang.
__ADS_1
"Aleta sayang..., dengarkan mas Devan sayang. Ayo kita bicara." Devan berusaha mengajak bicara untuk menjelaskannya.
Aleta terdiam, sama sekali tidak ada niat untuk mengajak bicara suaminya. Setelah menyiapkan baju ganti dari walk in Closed, Aleta meninggalkan Devan dan bergegas masuk kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Sepuluh menit Devan berdiri di kamar mandi, dan tidak ada secuilpun kata yang keluar dari mulut Aleta. Akhirnya Devan duduk di pinggir ranjang menunggu Aleta keluar dari kamar mandi.
Sampai tiga puluh menit Devan belum melihat tanda-tanda istrinya keluar dari kamar mandi.
"Jangan-jangan Aleta." batin Devan khawatir.
Kemudian dia beranjak dari ranjang dan mencari kunci cadangan kamar mandi di laci meja. Setelah menemukannya, Devan langsung membuka pintu kamar mand, dan setelah pintu terbuka, Devan tersenyum. Dia melihat istri mungilnya sedang tertidur pulas di dalam bath up. Dia kemudian masuk dan memasukkan jarinya ke dalam air bathtub.
"Sudah dingin airnya," bisiknya lirih.
Khawatir istrinya masuk angin, Devan mengambil handuk kemudian membungkus tubuh istrinya dan mengangkatnya keluar kamar mandi. Perlahan dia menidurkan Aleta di ranjang. Melihat tubuh naked istrinya, Devan menahan nafasnya yang semakin berat dengan tenggorokan seperti tercekat. Tapi melihat polos dan nyamannya Aleta tertidur, dia tidak tega untuk membangunkannya.
Perlahan dengan hati-hati, Devan mengusap semua air di tubuh Aleta dengan handuk, kemudian memasangkan piyama di badannya. Setelah terpasang, Devan hendak beranjak ke kamar mandi. Tapi, tiba-tiba Aleta menariknya ke bawah. Dengan tetap memejamkan matanya, Aleta mencari kehangatan di tubuh Devan. Akhirnya seperti seekor kucing yang bersembunyi di dada Devan.
Devan tidak bisa menguasai dirinya saat ini, aroma wangi sabun mandi di tubuh Aleta memunculkan aroma unik dan khas yang membangunkan hormon testosteron. Perlahan Devan mulai memasukkan tangannya di dalam piyama Aleta, dan tangannya mengusap punggung istrinya naik turun.
Tanpa sadar dalam tidurnya, Aleta mendesah merasakan usapan lembut tangan suaminya. ******* Aleta semakin memacu dan memompa magma di perut Devan yang ingin dimuntahkan. Devan sudah tidak bisa menguasai dirinya, satu minggu terpisah dengan Aleta menjadikan dirinya kehausan.
"Aaah .." Aleta tiba-tiba membuka matanya, dan melihat Devan sudah menguasai tubuhnya.
"Mas, bangun, apa yang mas lakukan." kata Aleta sambil menjambak rambut suaminya.
"Tenanglah sayang. Mas merindukanmu, mas rindu aroma unikmu sayang." bisik Devan sambil terus menjelajah setiap jengkal wilayah kekuasaan Aleta.
Aleta terdiam, dalam hati dia ingin menolaknya, tapi di hatinya yang lain mengatakan bahwa Devan adalah suaminya. Dia harus menerima semua keinginan suaminya. Aleta hanya terdiam menerima semua perlakuan suaminya tanpa membalas, hanya mulutnya yang terkadang tidak bisa dikendalikan mengeluarkan suara rintihan yang seperti zat aprosidiak bagi Devan.
Akhirnya setelah beberapa waktu, Devan tersenyum manis dan memberikan kecupan lembut di kening Aleta.
"Terima kasih sayang, kamu menyelamatkan suamimu." bisik Devan di telinga Aleta.
__ADS_1
Aleta terdiam dan segera bangkit dari tidurnya, tapi Devan dengan sigap langsung menangkapnya dan membawanya ke kamar mandi.
*******