
Setelah acara do.a bersama penempatan rumah baru dilakukan, pagi harinya Yudha kembali ke Bandung bersama Rolland dan Bi Puji. Untuk menemani Aleta di rumah barunya, Bi Puji meminta keponakannya yang bernama Tini untuk bekerja dengan Aleta.
Selain Tini yang membantu untuk memasak dan mencuci baju, ada dua orang laki-laki yang dipekerjakan Yudha sebagai tukang kebun dan keamanan.
Tidak terasa sudah dua Minggu Aleta tinggal terpisah dengan Devan, dan waktunya difokuskan untuk mengejar ketertinggalan dalam perkuliahan.
"Tini..., aku mau berangkat kuliah dulu ya." pamit Aleta pada Tini
"Ya non, saya panggilkan Ijonk dulu ya non untuk mengantarkan ke kampus." kata Tini.
'Tidak perlu Tin, aku sudah memanggil ojek online. Rasanya pingin nostalgia seperti masa-masa dulu. Lagian Ijonk sedang membantu pak Karyo membersihkan kebun belakang."
"Tin.. tin.." suara klakson terdengar di halaman.
"Aku berangkat ya Tin, ojolnya sudah datang. Assalamualaikum." Aleta
"Wa Alaikum salam, hati-hati Non."
Dengan hati-hati Aleta membonceng sepeda motor, dan dalam waktu lima menit Ojol sudah sampai di halaman kampus. Setelah menyerahkan helm, Aleta segera memasuki ruang dosen untuk menemui pak Theo.
"Tok..tok..tok.., Aleta mengetuk pintu ruangan pak Theo.
"Masuk," terdengar suara pak Theo mempersilakan masuk. Dengan hati-hati, Aleta mendorong pintu ruangan pak Theo.
"Selamat pagi pak," Aleta mulai menyapa.
"Pagi, Saudara siapa ya?"
"Saya Aleta pak, yang tadi sudah janjian mau ketemu bapak via WhatsApp." kata Aleta mengingatkan.
"Oh iya mba Aleta, saya ingat. Silakan duduk." sahut pak Theo dengan tetap fokus pada tumpukan koreksi di depannya.
Aleta segera duduk di kursi di hadapan pak Theo. Kemudian Aleta menyampaikan maksud kedatangannya, dimana ingin mengejar ketertinggalan presensi kehadiran dengan mengganti dengan tugas tambahan.
"Baiklah, Saudara ternyata bisa memaknai kontrak perkuliahan dengan baik. Hari ini sampai Penilaian Akhir Semester tetap masuk di kelas. Untuk tugas pengganti ketidak hadiran saat ini Bapak belum bisa menyiapkan, cek berkala GC," akhirnya pak Theo memberikan solusi.
__ADS_1
"Baik, terima kasih Bapak atas kebijaksanaannya. Mohon maaf sudah mengganggu waktunya,"
"Ya sama-sama, Saudara sekarang bisa kembali bersama teman-temanmu yang lain"
"Baik pak, saya permisi. Selamat pagi." kata Aleta segera meninggalkan ruangan pak Theo.
Karena jadwal perkuliahan Aleta masih di jam ketiga yaitu pukul 10.40, dia bermaksud menunggu kelas di kantin. Dia berjalan santai sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman kampus.
"Ternyata aku sangat merindukan suasana ini, Alhamdulillah hari ini aku masih memiliki kesempatan untuk merasakan kembali menjadi mahasiswa lagi." Aleta tersenyum bahagia dapat kembali ke suasana yang sudah hampir dua bulan dia tinggalkan.
"Aleta.., " tiba-tiba terdengar suara pelan memanggil namanya.
Aleta menoleh ke belakang, dan "deg,"
Dia melihat Ferdinand dengan backpack yamg menempel di punggungnya sedang memandangnya dari belakang. Hatinya sedikit berdesir dan gugup mengingat kegilaan yang pernah dia lakukan bersamanya.
"Kak Ferdi," seru Aleta setelah berhasil menguasai emosinya.
Ferdinand berjalan mengikuti tempat Aleta berdiri.
"Bagaimana kabarmu Aleta? Tapi sepertinya kamu baik-baik saja, dan menikmati kehidupan barumu. Terlihat sekarang wajahmu lebih segar, dan jauh lebih terawat." tanya Ferdinand dengan senyum kecut.
"Yah, beginilah aku. Seperti yang kamu lihat Aleta," jawab Ferdinand dengan raut muka yang terlihat sedih. Badannya sedikit kurus dari saat terakhir mereka bertemu.
"Oh ya, ngomong-ngomong Aleta mau ke kantin? Kakak temani ya." kata Ferdinand setelah kembali bisa menguasai dirinya.
"Iya kak, sambil menunggu kelas jam 10.40, rencananya mau cari minuman yang panas-panas."
Sebenarnya Aleta sedikit tidak nyaman berduaan dengan Ferdinand, tetapi untuk menjaga perasaan laki-laki yang pertama kali merasakan ciuman pertamanya, akhirnya dia terpaksa mengiyakan.
Aleta menyetujui mereka ke kantin bersama-sama. Mereka memilih tempat di bawah pohon kelengkeng, yang sengaja ditanam pihak kampus sebagai perindang.
"Kakak pesankan sekalian, Aleta mau makan," Ferdinand menawarkan.
"Teh manis panas saja kak, sama French fries satu." sahut Aleta.
__ADS_1
Untuk mengisi kebosanan menunggu, Aleta menggulir ponsel di tangannya. Dia iseng melihat-lihat pembaruan status di WhatsApp, dan dia seperti mendapatkan surprise di pagi ini.
Devan yang biasanya tidak pernah membuat statement di media sosial, pada pukul 03 pagi, Devan membuat status "Rindu istri mungilku". Status itu dilengkapi dengan background gambar mereka berdua tampak belakang, sedang mencuci piring di dapur panti asuhan Rejeki.
"Kapan dan siapa yang mengambil gambar ini secara candid," batin Aleta,. dan dia tersenyum sendiri merasakan kehangatan.
Kemudian dia kembali menggulir status lainnya, dan terlihat Rolland pukul 06 pagi juga memperbarui statusnya. "Ada yang cepat Move On nih, dan baru terasa Cinta setelah dia Jauh. Cie..Cie.." Meskipun Aleta tidak tahu, untuk siapa status Rolland ditulis, tapi dia tiba-tiba merasa bahagia.
"Bahagia bener, sampai dari tadi senyum-senyum sendiri." tiba-tiba suara Ferdinand di belakangnya, sukses membuat Aleta terkejut.
"Iya kak, lucu-lucu pada bikin pembaruan status di WhatsApp." sahut Aleta sedikit gugup.
Ferdinand meletakkan nampan di meja, kemudian duduk di hadapan Aleta. Untuk mengisi kecanggungan, Aleta mengambil gelas teh panas, kemudian mencicipinya.
"Hati-hati masih panas," kata Ferdinand mengingatkan. Aleta mengangguk.
"Aku pikir sudah tidak akan pernah bertemu lagi denganmu. Ternyata hari ini aku bernasib mujur." Ferdinand berkata lirih.
"Iya kak, kebetulan hari ini ada beberapa hal yang harus Aleta urus dengan dosen pengampu mata kuliah."
"Yah, setelah hampir sebulan tidak mengikuti perkuliahan tatap muka, Aleta harus menutup dengan tugas-tugas tambahan." Aleta menjelaskan alasannya ke kampus lagi.
"Suamimu mana, apakah kamu sudah bisa menerimanya?" tanya Ferdinand sambil mengaduk-aduk gula yang tertinggal di cangkirnya.
Aleta agak kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Ferdinand, dan dia kembali mengingat kejadian terakhir saat mereka memutuskan untuk berpisah. Sebisa mungkin Aleta menenangkan hatinya kembali.
"Mas Devan sudah kembali ke Bandung kak, karena banyak pekerjaan yang tidak bisa ditangani kalau dia disini menemaniku." Aleta menjawab lirih.
"Oh, namanya Devan ya. Bagaimana perasaanmu sekarang terhadapnya."
"Aleta mengikuti flow saja kak. Bagaimanapun kami sudah menikah, mas Devan suamiku sekarang. Kepadanya sekarang aku harus mengabdi, dan kebahagiaan akan selalu muncul setiap ada keikhlasan kita dalam menjalani sesuatu." sahut Aleta berbicara panjang.
"Kakak sendiri, bagaimana penulisan skripsinya?" tanya Aleta berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah proposal ku sudah di ACC sama dosen pembimbing. Research gap dan novelty sudah ketemu dan sudah disetujui. Sekarang baru mencari tambahan literatur review." Ferdinand sepertinya memahami maksud Aleta mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
Akhirnya mereka membicarakan tentang progress studi sambil menunggu kelas Aleta di mulai.
*****