
Setelah memilih mobil di show room, akhirnya Devan dan ketiga anak laki-lakinya memilih mobil SUV BMW X3M & X4M Competition. Sebelumnya Devan mengusulkan agar anak-anak memilih mobil sport masing-masing satu, tetapi dengan bijak ke tiga anak muda itu bisa berpikir dewasa. Mereka lebih memilih mobil SUV dengan alasan bisa saling menjaga satu sama lain, di tengah pergaulan negara Amerika yang bisa dengan mudah membuat mereka tergelincir.
"Kalian sudah cukup hanya satu mobil saja.., tidakkah kalian iri siapa yang akan membawa mobil jika kalian akan pergi ke kampus, atau jalan-jalan.." dengan suara lembut Aleta bertanya pada ketiga putranya. Perempuan ini sedang menyajikan hidangan di meja makan. Kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan keluarga ini, meskipun mereka sudah berada di Amerika Serikat adalah tetap menyajikan masakan Indonesia di atas meja makan.
"Tidak Momm... kita sudah sangat berterima kasin. Kita nanti akan membuat jadwal per dua hari secara bergantian, siapa yang bertanggung jawab untuk membawa mobil, service dan lain-lain. Jika ada kebutuhan mendadak, kan kita masih bisa mengganggu mobil Daddy and Mommy.. bukankah begitu Mom.." Axel dan Arend memeluk Aleta.
"Tadi Daddy sudah tanya mereka sekali lagi Momm.., tetapi mereka tetap bersikeras katanya cukup satu mobil saja. Mungkin mereka berpikir jika Daddy tidak punya uang, karena usaha kita di negara ini belum ada tanda-tanda keberhasilan." Devan menanggapi sambil mengambil tahu goreng.
"He.. he.. he.. kalian memang putra-putra Daddy dan mommy yang sangat baik dan berempati. Tetapi yang perlu kalian ingat, usaha Daddy di negara ini, hanya untuk mengisi kesibukan Daddy sambil menemani kalian di negara ini. Tanpa bekerjapun kita juga tidak akan kehabisan banyak uang.. Daddy masih memiliki beberapa perusahaan di Indonesia.. apakah kalian lupa.." Aleta menanggapi perkataan suaminya,
"Bukan begitu juga dong Momm..., Dadd.. kita hanya berlatih untuk berhemat saja. Bahkan kami bertiga sedang mengajukan beasiswa untuk studi, doakan ya Momm.., Dadd... biar kami bisa berhasil mendapatkannya. Kan nanti nilai jual kami bertiga di hadapan cewek-cewek asing akan meningkat, dan posisi tawar kami juga naik. Bukankah demikian Xel.., Rick.." Arend bertanya pada kedua saudaranya.
"Iya momm... Dadd.. biar bisa perbaikan keturunan keluarga Devan dan Aleta.." sahut Arick.
Devan dan Aleta hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Keberadaan ketiga putranya bersama dengan mereka, selalu menghidupkan suasana di rumah ini. Kelima orang itu akhirnya diam, dan mulai menikmati makanan yang sudah tersaji di meja makan. Beberapa kali, ALeta menambahkan nasi dan sayur ke atas piring tiga putranya. Kebetulan kali ini, ALeta menyiapkan sayur asem, dengan ikan asin jambal disamping makanan yang lain di atas meja makan.
*********
__ADS_1
Malam Harinya
Aleta yang sedang menata pakaian ke dalam lemari, tiba-tiba dikejutkan dengan panggilan dari suaminya Devan. Tadi sebelum Adzan maghrib, suaminya berpamitan untuk menemui temannya di sebuah restaurant. Sebenarnya Devan juga mengajaknya, tetapi karena merasa capai, Aleta tidak bisa menemani suaminya bertemu dengan teman-temannya.
"Momm... Momm..." suara Devan masih terus memanggilnya. ALeta segera meletakkan tumpukan pakaian yang ada di tangannya, kemudian menjawab panggilan dari suaminya itu.
"Daddy sudah pulang.. duduk dulu. Akan Mommy buatkan minumah hangat dulu.." Aleta segera mengambil coat di tangan suaminya kemudian meletakkan di gantungan khusus Coat.
Devan mengikuti langkah istrinya, kemudian memeluk Aleta dari belakang. Tampak kebahagiaan terlihat di wajah laki-laki itu.
"Mommy buat teh panas dulu Dadd.. kebetulan tadi Mommy membuat cake Marbel. Anak-anak belum pada pulang, jadi untuk isi kesibukan, mommy buat kue jadinya.." Aleta melepaskan pelukan tangan dari suaminya, untuk membuatkannya minuman dan mengambil beberapa potong kue.
"Daddy capai.. duduklah dulu. Secangkir teh panas tidak butuh waktu lebih dari lima menit, tunggulah sebentar." setelah Aleta meninggalkannya, Devan kemudian duduk di meja makan. Laki-laki itu mengambil beberapa potong kue yang sudah ada di atas meja, karena setelah kue itu matang, ALeta belum sempat untuk menyimpannya, karena masih panas.
Tidak lama kemudian, Aleta sudah membawa dua cangkir berisi teh panas, dan menyajikannya di depan Devan duduk. ALeta tersenyum, melihat suaminya sudah memegang kue marbel buatannya, dan sudah memakannya tanpa menunggu disiapkan olehnya.
"Pasti ada kabar bagus ya Dadd.. terlihat Daddy makan kue dengan begitu lahapnya, pada Mommy yakin tadi di restaurant Daddy juga sudah makan bukan..?" melihat betapa lahapnya Devan menikmati kue marbel di tangannya, ALeta bertanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Benar Momm... beberapa perusahaan di negara ini, tertarik dengan produk yang dihasilkan perusahaan kita di kota Bandung. Untungnya Rolland tepat waktu mengirimkan sample produk ke negara ini. Dan minggu depan, Rolland sudah menyiapkan pengiriman barang ke negara ini.." dengan mata berbinar dan senyum mengembang, Devan menceritakan kebahagiaan pada istrinya.
"Really Dadd.." dnegan tidak percaya, ALeta bertanya pada suaminya. Devan tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke bawah.
"Alhamdulillah... ternyata usaha tidak mengkhianati hasil Dadd.. Kita harus senantiasa bersyukur.." Aleta mengangkat kedua telapak tangannya, kemudian mengusapkan di wajahnya sambil mengucap kata syukur.
Devan tersenyum melihat apa yang dilakukan istrinya, keikhlasan, kerelaan, dan kesetiaan dari istrinya Aleta yang selalu menjadi penyemangat hidupnya selama ini. Laki-laki itu tanpa berkedip terus menatap Aleta.., kebahagiaan yang selalu ada setiap mereka berkumpul berdua.
*******
Para pembaca... Bantu Author Yukkks
Author punya karya novel baru untuk lomba
Judulnya
CEO TAKLUK
__ADS_1
Bantu baca ya, like, comment, dan jadikan favorit. Terima kasih