
"Kak Devan, tadi Aleta jumpa dengan Maurin di Kindergaten anak-anak. Kata Arick, dia auntie nya Axel, tapi kenapa Aleta malah curiga ya kak? Nama keponakanannya Axel. persis dengan bayi yang pernah dibawa kesini kurang lebih 5 tahunan yang lalu ya?" Aleta menceritakan pengalamannya bertemu dengan Maurin di sekolah Arend dan Arick pada Devan. Malam ini mereka berdua, duduk di pinggir kolam sambil menikmati teh panas dan pisang bakar.
"Terus kenapa malah Mommy yang kepikiran sampai di rumah? Yah biarkan saja mereka, mau diaku anak silakan, keponakan juga silakan. Not our business Momm." Devan menggunakan rasionya untuk menjawab pertanyaan istrinya.
"Kok kak Devan bicara seperti itu sih? Tatapan Axel itu lho kak, Mommy tidak tega melihatnya. Terus tadi saat Mommy memeluk Arend dan Arick, Axel hanya melihati dan seperti ada perasaan iri. Akhirnya Mommy tawari untuk dipeluk, dan dia mengiyakan. Mommy memeluk mereka bertiga bersama-sama."
Devan tersenyum kemudian memegang tangan Aleta.
"Itu urusan keluarga mereka sayang. Kita juga memiliki urusan sendiri, mungkin mereka punya alasan tersendiri kenapa memperlakukan Axel seperti keponakannya. Ya, kalau mereka baik dengan kita, atau minta tolong ke kita, ya kita perlu bantu. Terus tadi bagaimana respon Maurin saat ketemu Mommy?"
"Ya, cuek sih. Pas Mommy ikut meeting sebenarnya sudah tahu, karena Maurin duduk satu barisan dengan Mommy. Tapi tidak sempat bicara sih. Terus pas pulang, karena kebetulan Axel bareng anak-anak, Maurin menghampiri dan langsung menarik tangan Axel dan mengajaknya pulang."
"Terkadang Momm, dalam hidup ini sering tidak sejalan. Apa yang menurut kita baik, belum tentu orang juga menganggapnya baik. Mommy jatuh kasihan pada Axel, melihatnya sangat kurang kasih sayang dari Mommy nya, tepi Mommy tahu sendiri kan bagaimana respon Maurin Padahal itu saja, Mommy tidak sengaja hanya bertemu dengan Axel."
Aleta meresapi perkataan Devan, akhirnya dia menepis rasa kasihan pada Axel. Dia menenangkan hatinya sendiri, siapa tahu Axel yang mereka temui di Kindergaten betul-betul keponakan Maurin, bukan putranya.
"Iya juga sih." bisiknya perlahan.
Devan kemudian berdiri, dan mengajak Aleta ikut berdiri.
"Sudah malam yuk, kita pindah ngobrolnya! Disini tambah malam tambah dingin. Pindah di atas bed kamar kita saja, hangat." bisik Devan, yang langsung dihadiahi pukulan di punggungnya.
Mereka segera masuk, dan saat di ruang keluarga berpapasan dengan Kakek Cokro.
"Darimana kalian? Tadi kakek muter kom rumah sepi, aku tengok kamar si kembar, semuanya sudah pada tidur." tanya kakek Cokro.
"Kakek butuh apa, biar Aleta carikan? Kami tidak kemana-mana kok kek, kami lama tidak ngobrol bareng. Tadi dibuatkan Bi Puji pisang goreng, terus kita ngobrol di pinggir kolam."
"Tahu begitu tadi kakek join. Kakek merasa sepi, pingin cari teman bicara. Malah hampir menelpon Atmaja tak suruh datang kesini sama Kinara."
"O gitu. kita bisa ngobrol sekarang yuk kek. Kita duduk di ruang keluarga, biar Aleta buatkan teh atau kopi untuk teman kita ngobrol."
__ADS_1
Tiba-tiba Aleta merasa mendapatkan cubitan di pinggangnya dari Devan.
"Memang ini sudah malam kek, sudah saatnya semua istirahat." sahut Devan yang langsung dipelototin Aleta.
Aleta tersenyum kemudian minta ijin ke dapur untuk membuat minuman panas.
"Kakek, Aleta buatkan skoteng saja ya! Biar di tubuh kakek jadi hangat, untuk pengantar tidur kakek."
"Iya, kakek tunggu di meja makan saja biar cepat. Kasihan suamimu, sudah mau menggigitmu."
**********************************
"Mama.., papa..." Axel langsung berlari menyambut kedatangan mereka berdua. Papa dan mama Maurin langsung memeluk Axel, dan mengangkatnya ke dalam.
"Lagi main apa Axel hari ini?" tanya papa Maurin.
"Main play station Pap.., tapi tidak asyik kalau main sendiri. Enak ya jadi Arend dan Arick, mereka twins, jadi kalau main ada temannya."
"Siapa mereka? Teman Axel di Kindergaten kah?" tanya papa Maurin kemudian kembali mendudukan Axel di depan Maurin.
"Yess, when can Axel be brought to Arend and Arick's place to play?" Axel dengan polos bertanya pada Opanya, minta diantar main ke tempat Arend dan Arick.
__ADS_1
"No..no..no, should not!" seru Maurin dengan nada tinggi.
"Kamu kerasukan apa Maurin? Ini di rumah, bisa tidak bicara pelan sedikit. Kenapa kamu melarang Axel main ke tempat temannya. Apakah kamu hanya akan mengurung Axel di rumah saja?" tegur papanya.
"Mereka itu putra Aleta dan Devan pa. Pokoknya Axel tidak boleh main kesana. No!"
"Memang ada apa kalau mereka putra Aleta dan Devan, apakah ada yang salah dengan mereka? Mereka orang-orang baik Maurin, kamu yang salah terlalu mengharapkan Devan. Akhirnya sampai lepas kontrol tidak bisa mengendalikan nafsumu sendiri."
"Ini kok malah jadi Maurin sama papa yang bertengkar. Axel, let's take a break! Okay!" Lastri meminta Axel untuk istirahat karena takut suaminya keceplosan, dan Axel yang polos mendengar perbincangan mereka.
"Okay Momm," Axel langsung mematikan PS nya, kemudian langsung berlari masuk ke kamarnya.
Setelah Axel menutup pintu kamar, Lastri menengahi perdebatan Maurin dan suaminya.
"Maurin, Papa.., Axel sudah semakin besar. Bisa tidak kalian berdua kalau bertengkar jangan di depan anak itu. Kasihan Axel, dia tidak tahu apa-apa."
"Apa sih ma, apa sampai aku mati, mama mau memendam dosa ini. Aku tidak mau mati, dengan membawa dosa ketololan putrimu ma. Apakah dengan mengatakan jika Maurin ini kakaknya, dapat menyelesaikan masalah ini. Terus kamu Maurin, apakah kamu masih berharap jika Devan akan melirikmu?"
"Papa memang tidak pernah tulus menyayangi Maurin. Dari dulu sampai sekarang, papa selalu begitu, tidka pernah mendukung Maurin." seru Maurin dengan nada tinggi sambil menangis. Lastri langsung menenangkan putr satu-satunya.
"Jadi papa melarangmu membuat drama kebohongan ini, bagi kalian berdua, mengartikan jika papa tidak menyayangimu Maurin? Papa hanya gunakan rasio Maurin, hidup kita di masa nanti akan jauh lebih panjang dari masa sekarang, Tobatlah nak, rangkul Axel, dia anak yang baik, santun."
"Tolong mama pa, berhentilah menasehati Maurin dulu!"
"Huh, dari dulu mama selalu begitu. Sedikitpun kalian berdua tidak pernah menganggapku ada, bahkan dari setiap keputusan yang kalian lakukan, apa pernah kalian minta pendapatku. Sudahlah, kalau memang kalian merasa Axel menjadi kendala bagi kalian, pergilah dari rumah ini! Tinggalkan Axel sendiri padaku." Papa Maurin langsung berdiri dan segera masuk ke kamar cucunya Axel.
"Pa, tunggu dulu pa! Bukan maksud mama begitu." seru Lastri, tetapi suaminya sudah masuk ke kamar cucunya. Tinggallah dia dan Maurin menangis duduk di ruang tamu.
__ADS_1
********************************