Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Arend dan Arick


__ADS_3

Setelah melalui perjuangan yang panjang, Devan menunggui istrinya melahirkan, pada pukul 03.00 dini hari telah lahir sepasang bayi kembar. Tanpa berkedip, Devan merasa tidak percaya jika pagi ini dia sudah resmi menjadi seorang papa. Baru beberapa menit yang lalu, badannya dicakar dan dicubit oleh Aleta saat dia berjuang mengalami pembukaan, sekarang istrinya dengan senyum manisnya sudah mengeluarkan dua anak laki-laki.


"Terima kasih sayang, pagi ini kita resmi menjadi seorang Mommy dan Daddy." bisik Devan dengan penuh kasih di telinga Aleta.


Aleta yang masih merasa lemah, meskipun rasa sakit yang tadi dia rasakan sudah menghilang, hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Terlihat perawat membersihkan darah yang banyak di kain panjang yang dikenakan istrinya.


"Selamat Non Aleta, Tuan Devan..., hari ini kalian sudah resmi menjadi seorang papa dan mama," Dokter Annisa yang mendampingi Aleta dalam proses melahirkan mengucapkan selamat pada mereka.


"Terima kasih Dokter."


"Mas, anak kita sudah diadzani belum?" tanya Aleta tiba-tiba mengejutkan Devan. Karena fokus mendampingi istrinya, Devan melupakan kedua putranya.


Dokter Annisa tersenyum memperhatikan keduanya. Kemudian setelah selesai membereskan perlengkapannya, Dokter Annisa pamitan pada keduanya.


"Si kembar sedang dibersihkan oleh Suster, paling sebentar lagi akan diantarkan kesini. Saya balik dulu ya."


Sambil menunggu bayinya diantarkan ke kamar, Devan berkali-kali menciumi istrinya.


"Mas, menjauh sedikit dari Aleta dong. Aleta bau, ini banyak keringat, juga banyak darah di bagian bawah." ALeta berusaha mendorong suaminya untuk sedikit menjauh.


"Kamu bersusah payah melahirkan dua jagoan itu untuk keluarga kita, masak hanya keringat dan bau harus membuatku menjauh darimu. Lihat ini, badanku juga penuh keringat sayang."


"Daddy, Mommy..," dua orang perawat masuk ke kamar bersalin dengan masing-masing menggendong satu bayi di tangannya.


Aleta memberi isyarat pada suaminya, untuk segera membacakan adzan di kedua telinga putranya. Devan langsung mengambil air wudhu kemudian membacakan adzan. Aleta tanpa sadar mengeluarkan air mata, saat mendengar suara merdu Devan mengadzani kedua putranya.


Kedua bayi itu kemudian ditidurkan oleh perawat pada box bayi yang sudah diletakkan di samping tempat tidur Aleta. Tanpa bosan Devan memandangi wajah mungil bayi yang masih merah itu yang sedang tertidur di dalam box nya.


"Apakah mas Devan sudah memiliki nama untuk kedua putra kita?" tanya Aleta tiba-tiba.


Devan sedikit terkejut, kemudian dia menghampiri Aleta, dan duduk di kursi yang diletakkan di samping ranjangnya. Kemudian Devan tampak berpikir sebentar.

__ADS_1


"Bagaimana kalau dikasih nama Arend dan Arick. Kekuatan dan pemimpin yang mulia, itu artinya." kata Devan.


"Jadi Arend Devano Atmaja dan Arick Devano Atmaja."lanjutnya lagi.


"Nama yang sangat bagus mas. Aleta suka."


Aleta setuju dengan nama yang baru saja disebutkan oleh suaminya, kemudian Aleta tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuannya.


"Terima kasih sayang. Sekarang masih jam empat pagi, ayo kita tidur dulu. Mumpung Arend adan Arick keduanya sedang tidur. Kalau mereka sudah bangun, aku jamin kita tidak akan dapat beristirahat lagi." kata Devan sambil mengelus kening Aleta.


Tidak menunggu lama, akhirnya Aleta yang mungkin karena kelelahan dan kecapaian dia tertidur. Melihat istrinya tidur, Devan berdiri, dan menghampiri Arend dan Arick. Setelah memberikan ciuman kepada dua buah hatinya, kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas sofa di depan istrinya.


 


**************************************************


 


"Mana cucuku Arend dan Arick. Opa akan menggendongnya." Atmaja segera menjemput mereka di pintu masuk, dan langsung menggendong cucunya bersama dengan Kinara.


"Ayo Aleta, biarkan putramu bersama opa dan omanya dulu. Kamu istirahat dulu di kamar." Bu Rosna memegangi tangan Aleta, dan membawanya memasuki kamarnya.


Tetapi begitu sampai di ruang keluarga, Aleta memilih duduk di kursi yang ada di ruang tersebut. Dia merasa tidak nyaman, jika langsung tidur begitu sampai di rumah.


"Kakak ipar.., selamat ya kak. Sudah melahirkan dua jagoan untuk mainanku nanti." Rolland mengucapkan selamat pada Aleta.


"Selamat ya Al..., aku masih ingat bagaimana kamu dulu menyiramku dengan air minum, saat aku menemani Tuan Devan menghadiri acara di Tran* Ma** Bandung. Sekarang hidupmu sudah lengkap, dengan hadirnya dua putra kembarmu yang sangat lucu." Jenny memeluk Aleta sambil mengucapkan selamat. Aleta membalas pelukan Jenny.


"Kalian berdua, segeralah menyusul. Apalagi yang kalian tunggu."


Rollang tidak menjawab, hanya tersenyum dan merangkul Jenny di depan Aleta. Tapi rangkulan itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba Devan datang dan memisahkan keduanya.

__ADS_1


"Main peluk di depan orang yang baru melahirkan. Nikah dulu baru pelukan."


"Iya.., iya.., kakak ipar, kak Devan. Makanya bantu kami dong untuk mengurus persiapannya. Kami pokoknya akan segera menikah, begitu kakak ipar sudah kembali sehat. Iya kan Jenn?"


Jenny hanya tersenyum malu. Tiba-tiba terdengar suara salah satu bayinya menangis.


"Mas..., bawa kesini mereka mas. Mungkin mereka kehausan, karena dalam perjalanan dari rumah sakit tadi, mereka tidur. jadi belum minum."


Baru saja Devan akan melangkah kakinya untuk mengambil si kembar, ternyata Atmaja dan Kinara sudah masuk ke dalam rumah.


"Ayo Rolland, menyingkir dulu. Kakak iparmu akan memberikan ASI untuk si kembar."


Aleta menerima bayi yang dibawa Atmaja, kemudian Devan membantunya untuk membenarkan posisinya. Dengan mulut mungilnya, Arick menyedot ASI, dan tiba-tiba pipi Devan jadi kembang kempis. Melihat tingkah putranya, Kinara mendekat ke arah Devan dan menggodanya.


"Kenapa kamu iri sama Arick. Tunggu dua tahun dulu, kamu baru boleh melakukan hal yang sama pada istrimu."


"Ah mama, jangan bicara seperti itu. Aleta kan jadi malu." celetuk Aleta.


Devan hanya cengar-cengir.


"Masak nunggu dua tahun ma, tidak boleh setelah nifas Aleta berhenti ya?"


"Ya tidak boleh, kalau kamu sudah merasakan ASI punya Aleta. Berarti statusmu berubah dong."


"Wah kelamaan dong, atau habis nifas selesai, mereka kita sapih saja sayang. Masak suamimu harus mengalah pada mereka."


Aleta tertawa mendengar perkataan Devan, sedangkan Kinara langsung menjewer telinga putranya itu. Setelah Arick tertidur kembali, Devan mengambilnya dari tangan istrinya. Kemudian Kinara ganti memberikan Arend agar disusui oleh Aleta. Devan membawa Arick ke kamar dan menidurkannya di box bayi yang sudah disediakan untuk mereka berdua.


 


 

__ADS_1


******************************************


__ADS_2