Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Jalan-jalan


__ADS_3

Devan dan Aleta akhirnya sore dari perusahaan, pulang ke apartemen. Mereka tidak menyempatkan pamit dengan Cokro, tetapi titip pesan dengan Rolland.


"Kak..., kenapa tidak pulang sebentar ke rumah keluarga, sekalian pamit sama kakek dan papa." saran Rolland.


"Sudahlah, sekalian kamu yang menyampaikan. Kakak iparmu tidak ada baju disana, bajunya sebagian dibawa pulang ke Sukoharjo. Kakak minta untuk membelinya, belum mau." sahut Devan.


"Maaf ya Rolland, kami jadi merepotkan kamu. Bener kata mas Devan, bajuku di rumah kakek sudah pada tidak ada. Besok deh, Aleta bawa baju ke tempat kakek." Aleta ikut mendukung Devan.


"Okaylah, tapi nanti kalau di rumah ada yang marah, Rolland minta untuk menelpon kalian. Ya sudah, aku pulang duluan kak." Rolland akhirnya berangkat pulang lebih dulu.


Melihat Rolland sudah pergi duluan, Aleta segera berkemas untuk menyusul kepulangannya.


"Aleta..., langsung pulang atau mau coba disini dulu." tanya Devan sambil tersenyum smirk.


Aleta bingung dengan pertanyaan suaminya.


"Coba apaan mas, perasaan dari tadi kita tidak ada apa-apa disini." sahut Aleta.


"Ehm..., ayolah kalau tadi kan sungkan, masih banyak orang di kantor. Sekarang para trouble maker sudah pulang duluan. Yok." kata Devan sambil mengajak masuk ke kamar tidur.


"Ah..., ogah. Mulai deh mas Devan pikiran mesumnya. Ayo.., kita segera pulang. Aleta mau mandi." Aleta langsung berdiri mendekat ke arah pintu keluar.


Melihat istrinya sudah siap pulang, akhirnya dengan tertawa kecil Devan ikut menyusul.


"Ha..ha .ha.., mas paling suka lihat kamu ngambek begini sayang. Tambah imut." kata Devan sambil menjentik hidung Aleta.


Mereka berdua keluar, dan langsung menuju lift khusus Direksi untuk mengambil mobil di basement.


****************************


Selepas Maghrib, Rengganis pulang ke rumah dengan menyetir mobil sendiri. Setelah berdiskusi dengan Jatmiko, dia menyetujui untuk mengajukan perceraian dengan Atmaja. Dia berpikir, tidak ada manfaatnya bertahan untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin akan sulit untuk didapatkannya.


Dia langsung masuk ke dalam kamar, dan tidak menyangka jika suaminya sudah ada di dalam kamar. Atmaja sedang duduk di atas sofa. Kemudian Rengganis menaruh tasnya di atas meja, kemudian duduk di kursi meja rias.

__ADS_1


"Kita bisa bicara mas, sebelum aku pergi." tanya Rengganis pelan.


Atmaja tidak menanggapi omongan Rengganis, tetapi memperhatikan semua gerak gerik istrinya.


"Besok pagi aku akan mengajukan perceraian. Tadi aku sudah menghubungi pengacara, mungkin besok pengacara sudah akan menemui mas Atma. Meskipun banyak ketidak puasan yang aku rasakan, tapi semoga putusan ini menjadi yang terbaik buatku." ucap Rengganis.


"Sekarang kamu mau pergi kemana Anis, tinggallah disini sampai surat dari pengadilan agama sama-sama kita terima." sahut Atmaja berusaha menahan Rengganis.


Dia saat ini merasa kasihan dengan istrinya, karena semua sikap istrinya terjadi banyak bersumber dari perlakuannya.


"Kamu sudah tahu apa yang terjadi denganku saat ini kan mas. Aku yakin, papa sudah banyak bercerita tentangku." kata Rengganis sambil tersenyum sinis.


"Maka itu mas, aku putuskan saat ini juga aku akan keluar dari rumah ini. Titip Rolland mas, dan sampaikan rasa sayangku pada Devan. Meskipun dia tidak terlahir dari rahimku sendiri, dari Kinara tidak ada. Aku yang telah merawatnya." lanjutnya lagi.


Atmaja mendekati Rengganis di kursinya. Tanpa sadar muncul perasaan kasihan pada wanita itu, yang sudah lama tidak dia perlakukan sebagai seorang istri. Dia memeluk erat Rengganis.


"Maafkan aku Anis. Sampai sekarang aku tidak bisa melupakan Kinara, dan tidak pernah menganggapmu sebagai istriku yang sebenarnya." ucap Atmaja pelan.


"Meskipun papa tidak memberikan hakmu, aku akan membagi asset kepemilikan yang aku sendiri dapatkan denganmu. Maafkan aku." lanjut Atmaja.


"Tempati saja rumah itu, nanti aku akan hubungi pengacara untuk menjadikan rumah atas namamu." sahut Atmaja yang membiarkan Rengganis membereskan barang-barangnya yang penting.


Setelah menyiapkan beberapa barang yang memiliki nilai, Rengganis pamitan resmi dengan Atmaja.


"Mas Atma .., aku pamit. Mungkin besok atau lusa, akan ada orangku yang kesini untuk membereskan semua barang-barangku. Aku minta tolong, mas Atma menyampaikan pada Puji. Aku pergi dulu."


Atmaja langsung berdiri dan kembali memeluk erat Rengganis, kemudian memberikan ciuman lembut di bibir wanita yang masih berstatus menjadi istrinya. Saat Rengganis merasa jika Atmaja sudah mau melakukan sesuatu yang lebih padanya, dengan halus dia menolaknya.


"Maaf mas, aku minta tolong. Hentikan semua mas, ini keliru. Aku harus pergi," ucap Rengganis sambil melepaskan pelukan Atmaja. Kemudian tanpa menengok lagi, dia melangkah keluar sambil menarik satu trolly bag.


Atmaja hanya terduduk di sofa memandang punggung, dan kepergian wanita yang secara resmi pernah dia nikahi. Tetapi karena rasanya yang dalam terhadap Kinara mamanya Devan, dia tidak bisa memperlakukan siapapun untuk menjadi istrinya.


************************

__ADS_1


Devan mengirim pesan via aplikasi WhatsApp pada kakek Cokro, untuk memberi tahu jika malam ini dia dan istrinya akan menginap di apartemen. Dia tidak mau melakukannya panggilan telepon, karena akan sulit menolak permintaan kakeknya jika harus berbicara langsung.


"Aleta...., malam ini kita keluar yok. Masak selama kita sudah menikah, aku belum pernah mengajakmu jalan." Devan tiba-tiba menawarkan pada istrinya untuk jalan-jalan.


"Hah..., benarkah ini ajakan dari suami Aleta? Tunggu bentar mas, Aleta harus dandan dulu." sahut Aleta sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Heih..., tidak perlu dandan. Istriku sudah cantik."


"Tunggu sebentar mas, Aleta tidak confidence kalau jalan sama mas Devan tidak dandan." dia langsung menuju meja rias kemudian ada 15 menit dihabiskan untuk merias wajah.


Devan dengan sabar menunggu Aleta di sofa ruang tamu, dan ketika istrinya keluar, Devan tidak mengalihkan pandangan darinya.


"Aleta...., kenapa kamu begitu cantik sayang." gumamnya sambil memandangi wajah istrinya.


"Ah udah, ayo berangkat." Aleta langsung menggandeng tangan Devan dan mengajaknya keluar.


"Sebentar, memang kita mau jalan kaki." Devan tersenyum menghentikan Aleta, kemudian mengambil kunci mobil dan tas kecilnya. Dia merangkul Aleta sampai ke mobil.


"Aleta..., nanti tidak boleh berjalan jauh meninggalkan mas. Harus ada di samping mas." Devan berpesan pada istrinya sambil mengemudi.


"Iya...iya.., kalau Aleta meninggalkan mas Devan, ya sama saja tersesat kan mas. Memang Aleta pernah jalan sendiri saat di Bandung." sahut Aleta.


"Memangnya mas Devan mau mengajak Aleta jalan kemana sih."


Devan kaget ditanya Aleta, dia tadi hanya kepikiran mau mengajak istrinya jalan-jalan, tetapi belum memiliki tujuan.


"Kemana ya baiknya," kata Devan sambil tangan kirinya memegang keningnya.


"Halah...., gimana nih. Aleta sudah dandan cantik biar bisa mengimbangi mas Devan, malah ternyata belum punya tempat tujuan." protes Aleta.


"He .he..he.., maaf ya sayang. Atau kita jalan ke mall, siapa tahu kamu ingin mencari sesuatu disana."


"Alhamdulillah, yupz...., Aleta setuju mas. Terima kasih mas Devan sayang." Aleta langsung memberikan ciuman di pipi kiri suaminya.

__ADS_1


Devan tersenyum bahagia, akhirnya dia mengarahkan mobil menuju salah satu mall di kota Bandung.


*******************


__ADS_2