Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Jalan-jalan


__ADS_3

Pukul sebelas Aleta sudah siap dan menunggu di depan lobby apartemen. Sneaker Conver**, tas selempang dan rok pendek dibawah lutut tampak serasi melekat di tubuhnya. Penampilannya yang selalu tampak fresh, tidak sedikitpun menunjukkan bahwa dia adalah seorang istri dari pria yang telah matang usianya. Tetapi penampilannya sama seperti anak-anak ABG lulusan SMA.


"Tin..tin...," Aleta langsung menengok ke arah suara klakson.


Terlihat Tata dengan senyuman manis di belakang kemudinya. Aleta segera berlari menuju mobil City Car, dan segera masuk di kursi depan samping kemudi.


"Langsung tancap kita." tanya Tata.


"Cuzzz, gaskeun..," sahut Aleta.


Segera Tata menjalankan mobilnya melintas di jalan raya. Suara musik Grup band Ada Band dari MP4 yang diputar mengiringi perjalanan dua gadis muda.


Setelah menerobos kemacetan Kota Kembang, hampir 30 menit perjalanan, akhirnya mereka menghentikan mobil di car park depan factory outlet di Jalan Riau.


"Kita masuk yang mana dulu nih," tanya Aleta sedikit bingung, karena banyaknya jejeran factory outlet di sepanjang jalan maupun seberang jalan.


"Sama aja dimanapun. Aku haus, cari minum dulu yuk." jawab Tata sambil menarik Aleta ke food court kaki lima yang banyak berada disitu.


Setelah mereka menemukan tempat yang cocok sambil melihat lalu lalang lalu lintas di depannya, Tata mengajak Aleta duduk.


"Duduk sini saja, aku mau pesan dulu. Kamu minum apa," tanya Tata.


"Orange Juice no ice, toast with tuna sauce," jawab Aleta, yang sibuk main ponsel. Beberapa kali Aleta mengambil swa foto, kemudian mengirimkan ke grup WhatsApp teman-temannya di Sukoharjo.


"Noted," sahut Tata yang sudah tidak terdengar oleh Aleta.


Tata tersenyum sendiri melihat Aleta yang jeprat jepret swa foto. Kemudian dia meninggalkan Aleta, dan segera memesan food and beverage untuk menemani ngobrol santai siang bolong.


Mendapatkan kiriman foto yang tidak biasanya dilakukan Aleta, grup wa langsung heboh dan meledak.


"Wow...dimana itu Aleta. Mauuuu...," chat dari Corry.


"Sepertinya di Jalan Riau tuh, aku pernah kesana. Ih.. jahat banget Aleta. Kagak ajak-ajak temen." chat dari Ocha.


"Halah kamu Cha, lihat tempat terang dikit langsung mupeng. Pinginnya langsung foto-foto sampai baterai low bat." ledek Imam.


"Ingat lagu Ada Band Mam, karena wanita ingin dimengerti." sahut Galih.


"Iya ding, ga tahu benar atau salah pokoknya minta dimengerti. Wkkk...wkk..," jawab Imam.


"Sirik loh. Bilang aja bokek ga ada duit, jadi ga bisa mengerti sifat dasar wanita." kata Icha.


"Hua...Hua...ha...ha..., mati kutu Imam." sahut Corry.


Aleta ikut meramaikan semua chat masuk dengan emoticon smile, dan thumb. Hanya dengan membaca chat teman-temannya di grup wa, hatinya merasa terhibur dan bahagia. Berkali-kali Aleta tersenyum bahkan cekikikan sendiri, melihat kelucuan dan ledekan teman-temannya.

__ADS_1


"Aleta..., kamu ga nyadar apa dari tadi dilihat orang di sekitar kita." kata Tata yang tiba-tiba sudah membawa nampan pesanan mereka.


Dengan muka polos Aleta menengok ke arah Tata.


"Memangnya kenapa, ada yang salah." tanyanya polos.


"Kamu kayak orang gelok, dari tadi ketawa cekikikan sendiri. Lihat tuh, beberapa orang bisik-bisik ngerasanin kamu." sahut Tata sambil duduk.


Aleta kemudian mengambil Snack dan minuman dari atas nampan, kemudian meletakkan di meja. Nampan dia pinggirkan di meja kosong sebelahnya.


"Maaf Ta.., aku ga nyadar. Reflek aja, habis lucu sih komentar teman-temanku di grup wa." kata Aleta sambil menutup mulutnya dengan menggunakan satu tangan.


"Hai Ta .., lama ga nongol. Kemana aja sih kamu." tiba-tiba ada seorang laki-laki muda yang menepuk bahu Tata dari belakang. Sontak Tata menoleh ke belakang.


"Hai Rio..., kangen aku." seru Tata merasa bahagia ketemu dengan laki-laki itu.


"Lagi pada ngapain, boleh join tidak." tanya Rio basa-basi.


"Yup, kita cuman berdua kok. Duduk sini saja barengan." jawab Tata.


"Oh iya, kenalin nih. Saudaraku Aleta. Ta... kenalin ini Rio teman kampusku." kata Tata saling mengenalkan mereka.


Aleta menjabat tangan Rio sambil tersenyum.


"Terserah, enak manggil apa." jawab Aleta singkat dengan tetap tersenyum.


"Oke aku panggil Leta ya. Leta senyummu siang ini manis sekali. Tiba-tiba ada panah yang nyasar ke jantungku." kata Rio menggoda Aleta


"Ah.., gombal kamu Rio. Julukan Boy Pung si playboy kampung memang tepat buatmu." sahut Tata cepat.


"He..he...he..m, ah kamu matikan daganganku saja Ta." protes Rio pada Tata.


Mereka bertiga akhirnya ngobrol bersama, kemudian keluar masuk factory outlet di sepanjang Jalan Riau tanpa mengenal rasa capai. Pukul tiga sore, Aleta dan Tata pamitan dengan Rio dengan masing-masing membawa dua tentengan paper bag berisi belanjaan fashion.


********


"Kak Devan, tumben-tumbenan hari ini sifat posesif mu hilang." kata Rolland di ruang kerja kakaknya.


"Bicara apa kamu, jangan ngelantur." sahur Devan.


"Buktinya kamu membiarkan Aleta jalan dengan Tata. Melihat penampilan Aleta, jujur kak, kalau dia bukan istri kakakku, aku ikut mengejarnya. Tampilannya segar, manis seperti ranumnya buah Cherry minta dipetik." kata Rolland menggoda kakaknya.


"Hmmm.., kasihan kalau dia sendirian di apartemen. Tadi sebelum berangkat, aku WhatsApp Tata untuk mengajaknya jalan-jalan. daripada dia jalan sama laki-laki itu, mending sama Tata kan." Devan menjelaskan pada Rolland, jika dia mengijinkan istrinya jalan bareng Tata.


"Tapi aku curiga deh, sepertinya aku mencium sesuatu." kata Rolland.

__ADS_1


"Maksudmu apa." tanya Devan.


"Aku kenal siapa kakakku. Laki-laki posesif sedunia. Ada yang aneh kok tiba-tiba mengijinkan istrinya jalan bareng sama laki-laki juga."


"Maksudmu."


"Ting." nada pesan masuk berbunyi di ponsel Devan.


"Lihat pesan yang barusan kukirim."


Devan mengambil ponselnya, dam masuk ke aplikasi WhatsApp. Tampak gambar istrinya bersama Tata dan seorang laki-laki sedang swa foto di keramaian pinggir jalan. Tampak senyum sumringah tergambar di wajah istrinya. Wajah Devan tiba-tiba tampak tegang menahan sesuatu.


"Siapa laki-laki itu," tanya Devan pada Rolland.


"Lah, ya aku tidak tahu. Tanyanya sama Aleta dan Tata dong, mereka yang foto bareng." kata Rolland.


"Ha .ha..ha.., makanya kak aku tadi nanya. Kok tumben-tumbenan kak Devan baik hati mengijinkan Aleta jalan."


"Jujur kak, Aleta tuh masih muda, cantik. Apalagi sekarang penampilan dan wajahnya tambah bersih. Keluar dikit, banyak kumbang yang akan berebut mengisap madunya " Rolland mendeskripsikan Aleta saat ini.


"Telepon Tata sekarang. Suruh mereka pulang segera." kata Devan memberi perintah adiknya.


"Jangan seperti itulah kak, jaga perasaan mereka juga. Coba pahami mereka kak, pahami di usianya. Tapi sebenarnya ada apa ini." tanya Rolland.


"Helena." jawab Devan singkat.


"Apa hubungannya dengan Helena." tanya Rolland bingung.


"Helena kemarin datang ke apartemen, dan kebetulan Aleta juga pas datang."


"Hah...., gawat ini kak. Kakak dan Helena tidak lagi gini-gini kan." kata Rolland sambil mengilustrasikan dengan dua telapak tangan ditumpuk.


"Jaga otakmu, aku menyayangi Aleta. Sejak menikahinya, aku stop berhubungan dengan wanita lain."


"Tapi meskipun tidak melakukan sesuatu yang melewati batas dengan Helena. Aleta tetap marah dan mencurigaimu." kata Devan.


"Oh... yes I see. Berarti untuk menebus dosa-dosa kakak mengijinkan Aleta pergi bareng dengan Tata ya." kata Rolland mengambil kesimpulan sendiri.


Devan menganggukkan kepala.


"Yah, silakan dengan cara kak Devan berinteraksi dengan Kakak ipar. Tapi kakak' juga harus ekstra hati-hati menjaga kakak ipar. Banyak laki-laki seusianya memiliki minat dengan Aleta."


Devan terdiam, dia menyusun strategi untuk berbicara istrinya nanti malam.


******

__ADS_1


__ADS_2