
Lima tahun telah berlalu, Aleta dan Devan sudah memutuskan untuk tinggal dan menetap di kota Bandung. Si kembar Arend dan Arick sudah masuk di Kindergaten International School, dan Aleta lebih banyak di rumah untuk menemani kakek Cokro. Menggunakan keahliannya dalam teknologi informasi, secara freelance, Aleta menawarkan jasa web designer secara virtual. Devan membiarkan istrinya menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, asalkan tidak bekerja ikut orang lain. Sedangkan Rolland dan Jenny, sampai sekarang belum memiliki keturunan, dan mereka sudah menetap di rumah sendiri untuk fokus memiliki momongan.
Hari ini, Aleta tampak tersenyum cerah melihat si twins keluar dari gerbang sekolah. Di sampingnya berjalan seorang anak laki-laki yang terlihat sangat tampan dengan sepasang mata biru. Anak itu itu seperti warga negara asing, sedang asyik ngobrol dengan Arend.
"Mommy...," Arick langsung berlari mendatangi Mommynya, saat melihat di depan mobil, Aleta berdiri menunggu mereka.
Aleta merentangkan kedua tangannya sambil berjongkok untuk memeluk putranya. Tetapi Arick tetap santai berjalan dengan temannya yang seperti keturunan bule.
"Bye Axel..., I've been picked up by mom." terdengar Arend pamit sama teman bulenya.
"Yap."
"Bagaimana sayang, kalian capai tidak hari ini?" tanya Aleta sambil mencium pipi kedua putranya bergantian.
"Capai tapi senang Mommy, kita punya teman baru. Yang tadi lho momm, namanya Axel. Dia baru pindah hari ini, dia pindah dari Singapura." Arend bercerita tentang teman barunya.
"O gitu, ayo kita segera masuk ke dalam mobil dulu. Biar tidak kepanasan."
Aleta segera membuka pintu mobil, dan kedua putranya langsung masuk ke dalam.
"Langsung jalan pak Asep!"
"Baik Non, langsung pulang atau masih mampir dulu?"
"Sebentar, saya tanya anak-anak dulu."
"Arend, Arick..., kita langsung pulang, dan makan masakan Bi Puji atau makan di luar sayang?" Aleta bertanya pada kedua putranya.
"Arick ingin makan fast food hari ini boleh Mommy, terakhir kali makan sudah dua minggu yang lalu?" wajah polos Arick membuat Aleta tidak tega menolak keinginan putranya itu.
"Boleh, tetapi tidak boleh banyak-banyak. Mau makan dimana?"
"Asyik, Arend mau makan chicken, french fries, and burger. Soft drink, boleh ya Mom?"
"Sama, kalau Arick mau nambah ice cream juga."
Aleta tersenyum melihat keceriaan si twins, akhirnya dia menganggukkan kepala.
"Terima kasih Mommy." kedua putranya memberikan ciuman di pipi kanan kiri Aleta.
"Pak Asep, kami diantarkan ke Mc D dulu ya! Arend dan Arick mau makan siang dulu, baru pulang ke rumah."
"Baik Non."
**************************************
__ADS_1
Saat mereka baru menunggu pesanan, tiba-tiba ponsel Aleta berdering. Terlihat di screen, ternyata Devan sedang melakukan video call. Aleta langsung menerima panggilan tersebut.
"Hallo Mommy, sedang dimana ini? Sepertinya sedang di Mc D ya?" sapa Devan.
"Iya Dadd, ini dengan Arend dan Arick. Hai twins, sapa your daddy!" Aleta mengarahkan screen ponsel ke wajah Arend dan Arick.
"Daddy, we're hungry." celoteh imut si twins pada Daddynya. Aleta tersenyum melihat kelucuan mereka.
"Kan sudah berada di resto sama Mommy. Bagaimana sekolahnya, asyik tidak?"
"Iya Dadd, kita sama Mommy di Mc D. KIta dibolehkan sama Mommy hari ini."
"Dadd, Arend punya teman baru. Matanya bagus Dadd, warnanya biru. Tetapi tidak bisa berbahasa Indonesia."
"Iyakah? Siapa namanya sayang?"
"Axel Dadd, dia baru pindah ke Indonesia. Dari lahir dia berada di Singapura sama Mommy-nya. Arend dan Arick belum pernah diajak Mommy and Daddy ke Singapura."
"Iya Dadd, kata Axel, disana ada tempat bermain for kids. Kapan Dadd, kita kesana?"
Aleta tersenyum bahagia melihat komunikasi antara si twins dengan Daddy-nya. Setelah namanya dipanggil karena pesanan siap, Aleta berdiri mengambil pesanan mereka.
"Ayo berhenti dulu video call sama Daddy. Makanan sudah ready, makan dulu yuk!"
"Daddy, kita makan dulu ya. Bye..,"
Aleta langsung mengambil ponsel dari tangan Arend, kemudian dia melanjutkan komunikasi dengan Devan.
"Daddy sudah makan siang?"
"Belum, tapi Rolland sudah pesan, delivery order."
"Sudah, Mommy makan dulu bareng si twins. Nanti Daddy segera pulang, hari ini sepertinya perusahaan normal/ Kemungkinan bisa pulang lebih cepat."
"Asyik, bisa jalan-jalan nih. Lama sepertinya kita tidak jalan bareng berdua."
"Okay, nanti kita agendakan. Tadi dengar tidak, anak-anak minta ke Singapura?"
"Berarti besok kalau Mommy ingin kemana gitu, gunain mereka ah. Kan kalau yang minta anak-anak, sama Dady nya langsung cuzz."
"Boleh. Sudah makan dulu gih. Bye sayang, jagain anak-anak ya. Take Care."
************************************
__ADS_1
"Kakek makan dulu ya? Aleta siapkan sekarang, tetapi kami tadi sudah makan duluan kek. Jadi kami hanya menemani kakek di meja makan, tapi tidak ikut makan."
"Lho makan dimana? Mesthi nih, kalau makannya tidak mengajak opa buyut, makan fast food ya hari ini? Benar kan Arend, Arick?" tanya kakek Cokro pada si twins.
"Iya opa, kan sudah 2 minggu, tidak makan disana. Tidak boleh sama Mommy."
Aleta menyiapkan makan siang di meja, setelah siap memanggil si twins untuk menemani kakek Cokro di meja makan.
"Arend, Arick.., ayo kalian berdua duduk disini! Temani opa buyut makan siang, biar Bi Puji buatkan kalian minuman ya?"
"Baik Momm, come on Opa!" sahut Arend yang langsung duduk di meja makan. Arick mengikuti kembarannya itu.
"Ini minuman buat si ganteng-ganteng. Bi Puji buatkan jus alpukat yang diberi Susu kental manis rasa coklat." dari arah dapur Bi Puji membawa dua gelas besar berisi minuman jus alpukat.
"Tuh, Mommy belum bilang saja, Bibi sudah ready." Aleta mengambil gelas dari atas nampan, kemudian meletakkannya di depan Arend dan Arick.
"Kakek, mau disiapkan nasinya?"
"Tidak perlu, istirahatlah dulu Aleta! Kakek biar bersama mereka saja."
"Baik kek, nitip anak-anak dulu ya kek! Kebetulan Aleta mau buat desain pesanan tempat magang kerja dulu."
"Ya, sana pergilah."
Aleta langsung masuk ke tempat bekerja. Tidak lama kemudian, dia sudah tenggelamkan pikiran ke dalam laptopnya. Dia memahami proposal penawaran dari Solo Techno, kemudian beberapa hal yang dia masih bingung, segera dia lakukan klarifikasi langsung ke Bu Susan dan Raditya.
"Aduh istriku yang paling cantik. Kalau sudah di depan laptop, suami pulang tidak ada yang menyambutnya!" Aleta merasa terkejut, ketika tangan Devan sudah memeluknya yang sedang duduk di depan meja dari belakang.
"Maafkan Mommy Dadd? Ini jam berapa?" dan saat matanya melihat ke tembok bagian atas, ternyata sudah 3 jam dia berada di ruang kerja.
"Ya Tuhan, maafkan Aleta! Anak-anak dimana ya Dadd? Demi Tuhan, Aleta sampai terlupakan mereka." baru saja dia akan berdiri, Devan menahan tubuhnya agar tetap duduk di kursi. Devan menempatkan kepalanya di bahu Aleta.
"Sebentar Momm, aku rindu posisi ini."
Aleta diam, dia hanya menengadahkan wajahnya ke atas, dan tampak rasa khawatir di matanya. Devan memberikan kecupan lembut di keningnya.
"Sudah disini dulu. Anak-anak sedang tidur di kamar Opa Buyut. Barusan Daddy menengok mereka."
"Syukurlah. Untung kerjaan Aleta juga sudah selesai. Ayo mas, ke kamar dulu. Mandi terus ganti baju,"
"Disini dulu saja ya, kan kita belum pernah." ucap Devan sambil tersenyum smirk.
"Ah, mesti Daddy pikirannya mesum." Aleta memukul lengan Devan.
__ADS_1
**********************************************