
Aleta menghadiri rapat pertemuan wali murid di sekolah Arend dan Arick. Dia sudah berniat dari rumah, hanya untuk sekedar hadir, tetapi tidak akan membuat usulan ataupun menentang pengumuman yang akan disampaikan oleh pihak sekolah. Dari awal datang, Aleta sudah mengambil tempat duduk di pojokan, dan fokus dengan Ipad yang ada di depannya. Dia dapat memilih tempat duduk, karena kebetulan hadir lebih awal dari wali murid lainnya.
Acara pertemuan dimulai dengan diawali sambutan dari Ketua Yayasan, kemudian kepala sekolah dan masing-masing penanggung jawab pendampingan siswa. Ternyata mereka dikumpulkan karena, akan ada penarikan uang untuk sumbangan donasi pembangunan unit gedung baru. Beberapa wali murid ada yang protes tidak memberikan persetujuan, tetapi banyak pula yang diam tidak memberi komentar atas rencana tersebut.
Merasa ada yang melihatnya dari tadi, Aleta menengok ke barisan kursinya di sisi kanan. Dia bersitatap mata dengan seorang wali murid perempuan, yang menatapnya dengan pandangan malu.
"Maurin kah itu?" batin Aleta.
Dia kemudian melihat lagi ke arah perempuan itu, tetapi perempuan yang memiliki wajah mirip Maurin itu menengok ke arah lain. Dengan penuh keraguan, akhirnya Aleta kembali melihat ke arah ipad nya.
"Jika itu benar Maurin, berarti anaknya Axel juga sekolah disini? Ah, tapi kenapa juga aku jadi memikirkan dia, membuang energi saja."
Tidak sampai 2 jam, akhirnya pertemuan wali murid sudah selesai. Beberapa wali murid segera keluar dari ruang aula pertemuan. Aleta sengaja keluar setelah wali murid lainnya sudah pada keluar, karena malas berdesak-desakan.
"Mamanya Arend dan Arick ya?" tiba-tiba ada seorang guru yang menyapa Aleta.
Aleta menoleh dan tersenyum, kemudian menyalami guru tersebut.
"Iya Miss, perkenalkan nama saya Aleta."
"Saya panggil Momm Aleta ya? Saya Riana Mom, kebetulan menjadi person in charge untuk kelasnya Arend dan Arick. Kedua putra Mom, sangat luar biasa, Mereka berdua terutama Arend, sangat mudah bergaul dan beradaptasi dengan sekitar. Betul-betul calon pemimpin di masa depan."
"Terima kasih Miss untuk pujian buat si twins, mohon arahan dan bimbingannya untuk mereka ya! Jika banyak trouble karena mereka, mohon juga untuk dimaafkan!" dengan tersenyum, Aleta berbincang dengan Miss Riana, sekalian menunggu kelas si twins selesai. Miss Riana sangat komunikatif dan ternyata dia juga seorang lulusan Psikhologi, yang sambil mengajar, saat ini juga sedang mengambil kuliah S2 di Universitas Padjajaran.
"Oh tentu tidak, mereka berdua tidak pernah membuat ulah. Malah pada disukai teman-temannya, terutama calon gadis-gadis kecil, kareka merasa terlindungi kalau bermain dengan Arend dan Arick."
"Waduh, bakalan cepet punya menantu nanti, he..he.."
"Iya Momm, apalagi si Arick. Stylenya kalau di depan anak perempuan, ampun deh!"
"He..he..he.., maklum Miss. Mereka tidak pernah memiliki teman sebaya di rumah. Jadi kalau sekolah, senangnya minta ampun, karena mereka bisa bersosialisasi dan ketemu dengan anak-anak yang lain."
"Di rumah tidak ada anak lain ya Momm?"
"Iya tidak ada, mereka ketemu anak lain kalau pas kita pulang ke Jawa Tengah. Kebetulan nenek mereka pengelola panti asuhan, yah disanalah si twins bergaul dengan mereka."
"Makanya sifat suka membantu dan berbagi mereka sangat dominan, mungkin dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang membentuknya Momm."
"Iya, mungkin juga Miss."
__ADS_1
"Tet..tet..te..," tiba-tiba jam sekolah sudah berakhir.
"Oh Momm, ternyata jam kelas sudah berakhir. Terima kasih Mommy mau berbagi cerita denganku siang ini."
"Iya Miss, terima kasih juga ya sudah menemani saya. Bye.." Aleta langsung pamitan meninggalkan Riana, dan stand by di pintu penjemputan seperti biasa.
*****************************
Aleta melihat Maurin berdiri di pinggir halaman depan gedung, mungkin sedang menjemput putranya.
"Aku samperin tidak ya? Tapi, yah kalau dia merasa kenal aku, kalau tidak malahan aku sendiri nih yang malu?"
Bertentangan pikiran Aleta, antara mau menyapa atau tidak menyapa Maurin. Tetapi karena melihat Maurin juga cuek, akhirnya Aleta juga pura-pura tidak mengenalinya.
Aleta merentangkan kedua tangannya, memeluk kedua putranya. Azel melihatnya dengan bengong.
"Do you want Axel to hug you all?" Aleta bertanya pada Axel karena melihat anak itu hanya bengong memandangi interaksi mereka. Melihat Axel menganggukkan kepala, Aleta ikut merangkut tubuh Axel, dan anak itu memeluk erat tubuh Aleta dengan tangan mungilnya.
"Kita langsung pulang kids?" tanya Aleta setelah melepaskan pelukan pada anak-anak.
"Yupz, soalnya mau mengerjakan homework tadi diberi sama Miss Aira." sahut Arick.
"Really....? Has Axel been picked up?" Aleta menanyakan apakah Axel sudah dijemput.
"I don.t know, auntie." Axel menjawab tidak tahu.
Tetapi tiba-tiba.
"Axel, let's go home!" terlihat Maurin datang menghampiri, dan langsung memegang Axel.
Axel dengan lesu menganggukkan kepala, tetapi matanya masih menatap pada Aleta. Aleta mengajak Maurin tersenyum.
__ADS_1
"Maurin, lama sekali kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu dan keluarga? Benarkah ini Axel yang dulu?" tanya Aleta penuh tanda tanya.
Maurin meletakkan jari di atas mulutnya, memberi sinyal agar Aleta diam. Melihat itu, Aleta tidak melanjutkan pertanyaan lagi.
"Aku dan mama baik dan sehat. Kami balik duluan." Maurin langsung menarik tangan dan membawa Axel pergi.
Untuk menjaga agar kejadian itu tidak membekas di pikiran Arend dan Arick, Aleta langsung mengajak si twins menuju mobil juga.
"Come on kids..., kita pulang! Biar kita segera sampai ke rumah, dan segera kita selesaikan pekerjaan sekolah!"
"Okay Momm!" Aleta menggandeng kedua putranya di sisi kiri dan kanan.
Terlihat pak Sholeh sudah siap menunggu di depan pintu mobil. Dengan sigap pak Sholeh langsung membukakan pintu mobil, dan mereka segera masuk ke dalamnya.
"Ada yang mau dicari Non Aleta, nanti pak Sholeh berhenti?"
"Tidak ada pak, kita langsung pulang saja! Ini anak-anak tadi sudah bilang, mau segera mengerjakan Pekerjaan rumah."
"Baik Non, pak Sholeh langsung arahkan mobil ke rumah!"
'Mommy..., ternyata Mommy tahu Auntie Axel ya?" tiba-tiba Arend mengajukan pertanyaan.
"Tante?" Aleta berpikir sendiri, tapi kemudian dia menepis pertanyaannya.
"Yang tadi jemput Axel ya sayang? Tahu dong, Daddy, opa juga tahu sama Auntie Maurin." jawab Aleta sambil mengelus kepala keduan putranya.
"Wow, ternyata kita semua tahu dan kenal baik dengan keluarganya Axel. Berarti kapan-kapan, Mommy and Daddy bisa mengajak kita main ke rumah Axel ya Momm?" tanya Arick.
Aleta terdiam sejenak, tetapi karena tidak mau mengecewakan hati putranya, dia tetap tersenyum.
"Boleh, nanti Mommy and Daddy antar kesana. Tapi dengan catatan, Axel harus minta ijin dulu sama Mommy atau Auntie nya dulu!"
"Okay, deal! Besok kita akan sampaikan sama Axel di sekolah."
*************************************
__ADS_1