
Tahun berganti tahun, akhirnya semua permasalahan berat dalam keluarga Cokro bisa teratasi. Setelah mengikuti ujian akhir di High School, ketiga putra Devan dan Aleta sudah memikirkan tujuan mereka untuk melanjutkan studi. Sebenarnya Aleta agak bersedih, tetapi dia berusaha menahan kesedihannya karena khawatir akan menimbulkan kecemasan pada putra mereka. Ketiga putranya menginginkan untuk melanjutkan studi di luar negeri, dan yang menjadikan dia agak was-was, karena mereka memilih studi di tiga negara yang berbeda. Arend ingin melanjutkan studi di Jepang, Arick di Amerika Serikat, sedangkan Axel ingin ke negara papanya di Jerman.
"Kenapa Momm..., Daddy tahu jika saat ini Mommy sedang bersedih. Bicarakan dengan anak-anak, semoga mereka bisa menetapkan satu negara untuk tujuan mereka bertiga!" meskipun Aleta tidak menceritakan kesedihannya pada Devan, ternyata suaminya dengan tepat dapat menebak apa yang menjadi beban pikirannya.
Aleta memandang ke mata suaminya, dan dengan tatapan lembut Devan menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Daddy tahu apa yang Mommy pikirkan?" tanya Aleta lirih.
"Momm.., momm.., kita ini sudah menikah 20 tahun. Apa yang Mommy inginkan, bahkan apa yang sedang Mommy pikirkan, aku bisa menebaknya sayang. Memang berat bagi kita.., tatkala anak-anak memilih untuk meninggalkan kita di negara lain. Tetapi sayang.., itu untuk masa depan mereka. Bukan untuk main-main." Devan mulai menjelaskan pemikirannya.
Aleta diam tidak mengomentari apa yang disampaikan Devan.
"Kita sebagai orang tua.., hanya mengarahkan mereka agar tidak salah jalan. Jika perlu kita bisa menegurnya, jika mereka memang melakukan satu kesalahan. Ada kalanya kita harus mengikuti kemauan anak-anak, tetapi juga menjadi kewajiban bagi mereka untuk mengikuti perkataan kita. Maka bicarakan sama anak-anak, jika kamu tidak setuju mereka melanjutkan studi ke luar negeri, sampaikan pada mereka dengan baik-baik! Toh.., di dalam negeri banyak perguruan tinggi yang bagus untuk melanjutkan studi." lanjut Devan lagi.
"Tidak Dadd.., Mommy tidak akan menolak keinginan mereka. Tapi Mommy ingin mereka berada dalam satu negara, agar Mommy bisa mengikuti mereka, dan mendampingi mereka dalam belajar." ucap Aleta lirih.
"What?? Really.. Momm?? Berarti Mommy akan meninggalkan Daddy di kota ini sendirian." tanya Devan kaget. Dia tidak membayangkan bagaimana dia akan berpisah dengan istrinya, Aleta sudah seperti candu baginya.
"Tapi Mommy juga tidak bisa berpisah dengan anak-anak Dadd. Apakah Daddy bisa membayangkan, apakah mereka bertiga pernah hidup atau tinggal di luar tanpa kehadiran kita?? Kemanapun tujuan kita, mereka bertiga selalu ada di samping kita kan?"
Devan terdiam, dia membenarkan apa yang dikatakan istrinya. Sampai usia mereka lulus High School, memang sekalipun mereka belum pernah meninggalkannya sendiri. Bahkan saat Arend mengikuti Olimpiade bidang eksakta di Jepang, mereka berempat ikut menemaninya disana. Dia juga tidak bisa membayangkan, jika mereka bertiga tinggal di negara lain, dan negara berbeda yang secara geografis saling berjauhan. Apalagi istrinya sampai mengorbankan karirnya, hanya untuk mendampingi masa tumbuh kembang mereka.
__ADS_1
"Kenapa sekarang Daddy ikut terdiam??? Sudahkan Daddy membayangkan, bagaimana Daddy akan bisa menikmati hari-hari tanpa kehadiran mereka. Daddy mungkin bisa sedikit tidak merindukan mereka, karena aktivitas di perusahaan, tapi bagi Mommy, bisakah Daddy membayangkan?" tanya Aleta lembut, tetapi seperti tohokan keras bagi Devan.
Mereka berdua tidak menyadari jika Arend mendengarkan obrolan mereka berdua di dalam kamar. Sebenarnya bukan maksud Arend untuk mencuri dengar obrolan Mommy dan daddy nya.., tetapi dia ingin berpamitan pada Mommy nya karena mendapat undangan perpisahan dari teman sekolahnya. Begitu mendengarkan pembicaraan keduanya tentang studi luar negeri, kakinya seperti terpaku tidak mau meninggalkan depan pintu kamar kedua orang tuanya.
******************
Dalam sepi ketiga putra Devan dan Aleta itu saling merenung di gazebo pinggir kolam. Cynthia yang tidak mengetahui apa yang mereka pikirkan, hanya memandang mereka satu persatu, dan bingung untuk mengajak mereka bicara.
"Terus apa rencanamu Arend?" tanya Axel pada Arend.
Arend mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya.
"Apa yang dibicarakan Mommy dan Daddy itu benar adanya. Coba kalian pikirkan.., apakah kita pernah sekalipun satu hari tidak berada di dekat Mommy dan Daddy.., Mommy terutama." ucap Arend lirih.
"Begitupun aku. Sejak almarhum Opa meninggalkan aku pada keluarga ini, Mommy belum pernah membiarkan aku sendiri. Bahkan saat menemani Arend ikut Olimpiade di Jepang pun, aku juga diajak oleh Mommy." Axel ikut menambahi.
"Terus apakah kita siap untuk berpisah dengan Mommy terutama, dan kita tinggal di 3 negara yang berbeda?" tanya Arend.
Axel dan Arick melihat ke arah Arend, kemudian mereka menggelengkan kepala. Cynthia mengangguk-anggukkan kepala, dia baru paham apa yang mereka bicarakan.
"Kamu mungkin beda Axel, karena kamu memiliki tujuan selain studi di Jepang. Kamu bisa ketemu dan tinggal dengan Daddy mu, tetapi kami?" sahut Arick.
__ADS_1
"Itu menurut pendapat kalian, tapi meskipun ada hubungan darah dengan seseorang. tetapi sekalipun kita belum pernah berjumpa dan kenal dengannya, bagaimana perasaan kalian? Sama dengan keadaan saat aku mengetahui jika mama Maurin adalah mamaku. Aku masih tetap memilih Mommy Aleta sebagai mamaku." ucap Axel yang mengejutkan Arend dan Arick.
"Maafkan aku Axel, bukan maksudku mengingatkanmu pada hal itu." kata Arick cepat.
Axel menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Arend.., Arick.., jangan khawatirkan aku!! Jika memang kita harus studi di luar negeri, silakan pilih satu negara. Aku akan bergabung dengan kalian, karena aku juga tidak mau kehilangan kasih sayang Mommy Aleta." kata Axel.
"Benar apa yang kamu pikirkan Axel. Jika kita berada dalam satu negara.., aku yakin Mommy tidak akan tega meninggalkan kita, Mommy pasti akan menemani kita." sahut Arick. Mereka tersenyum cerah, karena seperti mendapatkan ide agar mereka tidak meninggalkan Mommy nya.
"Gotcha..., kenapa kalian tidak studi di perancis saja?? Kota mode broo.., kan aku kalau lulus Junior School bisa lanjut High School juga disana. Jika ada Aunty disana..., papa apsti akan mengijinkan aku." tiba-tiba Cynthia ikut mengusulkan negara untuk tujuan studi.
Tanpa janjian, ketiga anak laki-laki itu langsung mengacak-acak rambul Cynthia.
"Aahhh, kalian jahat semua sama Cynthia. Kan aku hanya usul, ga mau ya sudah dong. Ga perlu pakai mengacak-acak rambutku." teriak Cynthia marah-maah karena kejahilan ketiga kakaknya.
"Makanya kalau usul itu yang bener, jangan mikirin diri sendiri!! Kita bicara 3 negara Jepang, Jerman, ata USA. malah kamu nambah masalah, ngusulin perancis." sahut Arick.
"Yah.., siapa tahu sih. Kalian menyayangi Cynthia, jadi rela berkorban buatku."
"Ogahhh." sahut mereka bertiga bersamaan.
__ADS_1
****************