Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Ibu dan Anak


__ADS_3

Satu jam sebelum jam kerja berakhir, Aleta baru bisa keluar dari ruangan Raditya. Karena merasa tidak ada yang perlu menjadi fokus perhatian, Aleta mengambil ponsel yang dari tadi ada di dalam tasnya. Saat dia mengamati ponselnya ada tiga panggilan tidak terjawab, dan dia tidak dapat mengetahui nomor tersebut. Akhirnya Aleta melakukan pengecekan message via aplikasi whattsapps.


"Ibu Rosna sedang bersama kami, temui kami sekarang juga," membaca chat tersebut menjadikan Aleta mengalami rasa kepanikan yang teramat sangat.


Dia bergegas beranjak dari tempat duduknya, kemudian membawa tas dan langsung berjalan keluar dari ruangan kantor. Tutik yang melihat Aleta keluar, berusaha mengajak berbicara untuk menahannya tapi, Aleta tidak memperhatikannya dan terus keluar dari bangunan kantor.


Di depan kantor sudah ada satu mobil van warna putih, yang begitu melihat Aleta keluar, segera dua orang laki-laki keluar dari mobil, kemudian menarik Aleta dan membawanya pergi. Di dalam mobil, Aleta tidak dapat melakukan apapun, karena kedua matanya langsung ditutup, mulutnya langsung disumbat dengan kain, dan kedua tangannya diikat ke belakang. Akhirnya Aleta hanya terdiam mengikuti arus.


Kurang lebih satu jam perjalanan, mobil yang membawa Aleta berhenti di perbukitan Botak. Setelah mobil berhenti, Aleta segera ditarik dan dimasukkan ke dalam gudang. Setelah sampai di dalam, penutup mata dan mulut Aleta kemudian dibuka. Laki-laki yang mengantarkan Aleta ke dalam, kemudian keluar kembali dari ruangan


Aleta mencoba mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan tersebut, dan melihat di pojok ruangan ada seorang ibu yang sedang menyandarkan kepala di atas meja.


"Ibu," bisik Aleta pada hatinya sendiri. Kemudian dia berjalan mendatangi ibu-ibu yang berada di pojok ruangan tersebut. Mendengar ada langkah kaki yang menghampirinya, Bu Rosna mengangkat kepala dan menengok ke arah Aleta yang sudah berdiri di depannya.


"Aleta, kamu disini juga sayang." ucap bu Rosna melihat kedatangan Aleta.


"Iya ibu," jawab Aleta sambil meneteskan air mata. Dia bisa menahan semuanya sendiri, tapi melihat bu Rosna ada di dalam ruangan yang sama dengannya, Aleta tidak bisa menahan rasa sakit di dalam hatinya.


"Sudah Aleta, diamlah, jangan menangis. Kita pikirkan cara, bagaimana kita bisa keluar dari dalam ruangan ini." Bu Rosna mencoba menenangkan perasaan Aleta.


Aleta dan bu Rosna akhirnya duduk berhadapan, mereka terdiam untuk beberapa saat.


"Ibu..., kira-kira ibu tahu tidak siapa yang punya ide menculik kita hari ini." tanya Aleta.


Bu Rosna tidak menjawab hanya menggelengkan kepala. Keduanya akhirnya terdiam, berusaha untuk menyambungkan kejadian-kejadian di sekitar mereka, namun tidak ada yang merujuk dengan berakhir pada penculikan yang saat ini mereka alami.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


Devan dan Ijonk sudah berada di depan Solo Techno dari pukul 15.45, tapi sampai pukul 16.30 mereka belum melihat Aleta keluar dari kantor tersebut. Merasa jam kerja istrinya sudah habis, Devan bergegas keluar dari dalam mobil kemudian berjalan menghampiri security yang sedang berjaga di depan bangunan kantor.


"Selamat sore, pak. Mau menanyakan apakah Aleta masih ada di dalam?" tanya Devan.


"Sudah pada pulang semua pak, dan sepertinya mbak Aleta sudah pulang dijemput mobil van warna putih tadi pukul 15.00," security menjawab berdasarkan pada apa yang mereka lihat.


"Apa," teriak Devan.


"Ada koneksi CCTV tidak di halaman ini. Jika ada, antar saya kesana sekarang," seru Devan lagi.


Kedua security yang berjaga saling berpandangan, tapi melihat tingginya emosi laki-laki di depannya akhirnya mereka mengantarkan Devan ke komputer untuk melihat rekaman CCTV. Mereka segera memutarkan rekaman CCTV sekitar satu jam yang lalu, dan terlihat Aleta masuk ke dalam mobil van putih.


"Coba zoom plat mobil. AD 1574 TC." Kata Devan.


"Terima kasih." lanjutnya lagi, sambil bergegas ke tempat Ijonk.


 


 


 


 


Poleng memberi tahu Bambang jika dua TO sudah mereka kondisikan di tempat yang aman. Kemudian Poleng bersama Gendhon segera menuju ke lokasi tempat penyekapan Aleta dan Bu Rosna di daerah perbukitan Botak. Mereka membawa beberapa bungkus makanan dan minuman untuk dua TO dan anak buah yang bertugas di daerah sana.


"Bagaimana kondisi mereka," tanya Poleng pada kedua anak buahnya yang bertugas mengawal TO.


"Keduanya baik-baik saja bang. Mereka tidak ada ulah dari tadi," lapor salah satu anak buahnya.


"Aku bawakan makanan dan minuman. Pastikan mereka makan dan minum," kata Poleng sambil duduk di depan gudang.

__ADS_1


Salah satu anak buah Poleng mengambil dua bungkus makanan dan empat botol air mineral, kemudian membawa masuk ke dalam gudang.


Aleta dan bu Rosna yang sedang terdiam menoleh ke arah orang yang baru saja masuk, tetapi mereka tidak mengajaknya bicara.


"Makanlah dulu kalian," kata laki-laki tadi sambil meletakkan makanan dan minuman ke atas meja. Setelah itu dia melepaskan tali yang mengikat tangan Aleta dan Bu Rosna.


"Terima kasih," ucap Aleta.


Kemudian Aleta membuka nasi bungkus yang ada di depannya, dan meletakkan di depan bu Rosna.


"Ibu makanlah dulu, Aleta masih belum lapar." kata Aleta sambil membuka botol air mineral, dan meletakkannya di depan bu Rosna.


Bu Rosna hanya menganggukkan kepala, kemudian sedikit demi sedikit mulai makan nasi bungkus yang diletakkan di depannya. Mereka berdua sama sekali belum tahu, alasan apa mereka sampai disekap di tempat tersebut. Tapi mereka hanya diam tidak menanyakan hal apapun pada laki-laki yang ada di depannya. Setelah melihat bu Rosna makan, laki-laki tadi kemudian berjalan keluar ruangan menuju tempatnya berasal.


"Sampai kapan kita akan menahan mereka bang, mereka dari tadi tidak membuat ulah sedikitpun. Kami disini menjadi tidak enak sama mereka." tanya salah satu anak buah Poleng.


"Aku juga belum tahu, kita tunggu kabar dari Usep. Dia hari ini baru mencari tahu tentang suami anak itu, dan aku yakin dia sudah memberi tahu juga pada Bambang tentang dua orang yang kita tangkap  hari ini. Jadi malam ini, kalian tetap bertugas untuk mengamankan lokasi disini." kata Poleng.


"Siap, tapi asal jangan sampai lupa uangnya." kata laki-laki itu.


"Jangan khawatirkan masalah itu, aku akan terus mengejarnya sampai mereka mengeluarkan uang yang banyak untuk membayar kita."


"Yang penting kalian harus memastikan kedua perempuan itu selamat. Bagaimanapun mereka adalah orang-orang baik, panti asuhan Rejeki tidak akan ada kalau mereka tidak ada. Kalau tidak ada tawaran uang yang banyak, aku juga tidak mau menyekap kedua perempuan itu."


Beberapa laki-laki itu tetap berada di sekitar gudang penyekapan Aleta dan Bu Rosna, sedangkan Poleng dan satu anak buahnya pergi dengan mengendarai mobil.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2