Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Mommy Aleta


__ADS_3

"Mommy...." ketiga anak laki-laki tanpa merasa malu langsung berlari memeluk Aleta di luar sekolah. Beberapa orang yang lewat melihat mereka sambil senyum-senyum. Aleta juga langsung merentangkan tangannya menyambut kedatangan putra-putranya, juga tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.


"Ganteng-ganteng kok anak mama." beberapa murid perempuan berkomentar dengan temannya sambil menutup mulutnya.


"Iya.., kasihan yang jadi pacarnya tuh. Bisa-bisa waskat, pengawasan melekat. Hi..hi..hi.,"


Berempat mereka segera menuju ke mobil. Melihat cewek manja Cynthia ada di dalam mobil, muncul keisengan anak-anak.


"Momm.., siapa yang dibawa di mobil mommy..??" teriak Arick pura-pura tidak mengenal Cynthia.


"Iya Momm..., masak ada orang asing dala mobil kita. Bahaya Momm..., diminta keluar saja." Arend yang biasanya lebih diam, ikut menggoda Cynthia.


"Aunty..., mereka jahat sama Cynthia." teriak Cynthia mengadu pada Aleta.


Sedangkan Axel hanya senyum-senyum melihat kehebohan itu. Dia langsung masuk dan duduk di kursi belakang, dan tersenyum manis pada gadis ABG itu.


"Permisi ya Cyn..," sapa Axel ramah.


Aleta geleng-geleng kepala, kemudian masuk ke kursi bagian depan. Arend menutup pintu untuk Mommy nya. Kemudian dia duduk di samping Cynthia.


"Kakak duduk sini boleh adik cantik?" goda Arend.


"Tidaakk.., sana duduk di bagasi." sahut Cynthia ngambek.


"Axel..., ada cewek cantik ngambek.., coba deh dihibur, sepertinya kalau sama Axel dianya akan terhibur deh..." seru Arick dari kursi belakang.


"Bug.." tiba-tiba buku ditumpukkan kena punggung Arick.


"Aduh... Momm, Cynthia nakal tuh. Masak main kekerasan." teriak Arick.


"Makanya diam semua! Lagian sebel Aunty.., mereka pada jahatin Cynthia." teriak Cynthia tidak mau kalah.


"Sudah.., sudah.., ini kita mau langsung pulang, ke perusahaan Daddy atau mau makan dulu? Soalnya Mommy ga masak di rumah, tadi rencana mau lunch sama Daddy." Aleta menengahi pertengkaran kecil antara anak-anaknya.

__ADS_1


"Ke perusahaan Momm..., ogah. Capai menjawab sapaan orang-orang satu perusahaan." sahut Arend. Memang sebagai putra CEO di perusahaan, begitu turun dari mobil semua karyawan yang berpapasan dengan mereka akan menyapanya. Itu yang terkadang membuat mereka menjadi sungkan, dan akhirnya malas untuk sekedar menyambangi Daddy mereka saat berada di tempat kerja.


"Makan saja Aunty.., Cynthia lapar." ucap Cynthia.


"Baiklah.., kita makan dulu ya. Cari resto pak Asep, yang kekinian ya!" Aleta langsung meminta pak Asep.


"Siap Nyonya.., langsung ke daerah Jl. Dago saja ya Nyonya. Biar mereka puas."


"Sip..., pak Asep cerdas deh." seru Cynthia yang masih suka Selfie dan foto-foto di tempat yang terlihat instagramable.


"Halah.. bilang saja Cynth mau selfie-selfie kan?" tukas Arick, tetapi Cynthia tidak menjawab hanya menjulurkan lidahnya keluar.


"Mommy.., Daddy kita telpon dong. Kan tadi Mommy juga janjian mau lunch sama Daddy." sahut Arend.


"Baik.., Mommy akan menghubungi Daddy kalian. Semoga saja tidak ada agenda penting siang ini." kata Aleta sambil melakukan panggilan pada suaminya.


"Ya Momm.., mau bilang sama Daddy kalau tidak jadi ke kantor?" Devan langsung menjawab panggilan dari istrinya.


"Kok tahu Dadd.., tadi mau ajak anak-anak ke perusahaan Dadd. Ternyata anak-anak maunya langsung ke Dago ajak makan siang. Dady nyusul ya, biasa ke tempat makan biasanya. Tapi kalau pas ada agenda ga pa pa, ga usah maksa kesini." Aleta langsung menyampaikan tujuan dia menghubungi suaminya.


"Ssstt.., okay kita tunggu Daddy." tersipu malu, Aleta mengiyakan.


************


Sesampainya di resto, ternyata Devan sudah sampai lebih dulu disana. Dia sudah reservasi duluan via panggilan telepon, dan sudah mendapatkan tempat duduk yang sangat nyaman dengan view yang bagus. Di depan pintu masuk, dia sengaja tidak masuk terlebih dahulu tetapi menunggu keluarganya datang.


"Daddy..," ketiga laki-laki segera mendatangi Devan, kemudian mencium tangan Daddy-nya.


"Uncle..," Cynthia melakukan hal yang sama. Diikuti Aleta yang langsung diberikan kecupan kilat di bibirnya. Beberapa orang yang sedang makan, melihat keintiman keluarga ini dengan bisik-bisik.


Devan merangkul istrinya dan segera menuju tempat yang sudah dia pesan sebelumnya.


"Kok sudah dapat tempat, Daddy reservasi ya?" tanya Arick. Daddy melihat Mommy kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala.

__ADS_1


Sudah ditebak sebelumnya, Cynthia langsung heboh menarik kakak-kakaknya untuk berfoto bersama. Tapi Axel terlihat malas, dia tetap bersama dengan Devan dan Aleta.


"Axel..., seru tuh. Ga gabung foto-foto sama adik-adik?" tanya Aleta lembut.


"Lagi malas Momm, Axel disini saja menemani Mommy and Daddy." jawab Axel, dan Aleta melirikkan mata pada suaminya. Devan paham apa yang diisyaratkan oleh istrinya.


"Kamu kenapa Axel? Baru ada masalah.., ceritakan pada Mommy mu atau Daddy. Jadi laki-laki itu harus kuat, harus dengan cepat bisa adaptasi." Devan bertanya pada Axel.


Axel mengangkat wajahnya, kemudian memandang Mommy and Daddy nya.


"Maafkan Axel Dadd., Momm!" ucap lirih Axel.


"Maaf untuk apa nak, Axel berbuat salah?" Aleta langsung berpindah tempat duduk ke samping anak itu, dengan lembut mengusap punggungnya.


"Axel beberapa hari lalu menemui Oma dan Mama Maurin tanpa terlebih dahulu minta ijin Mommy. Axel ingin hidup tenang Momm, tanpa ada gangguan mereka."


Devan terlihat kaget, tetapi langsung diberi kode agar diam oleh Aleta.


"Tidak apa-apa Axel ketemu Oma sama Mama. Bagaimanapun diantara kalian ada hubungan darah yang mengalir, tidak bisa untuk diputuskan sayang. Cuman yang membuat sedikit keliru adalah pergi tanpa ijin, dan tidak memberi tahu kami." Aleta menasehati Axel dengan suara lembut, jadi tidak terkesan menghakimi.


Axel tertunduk dan menganggukkan kepala.


"Kami mendapatkan amanah yang besar untuk menjaga dan melindungi kamu Axel, sehingga seharusnya apa yang kamu lakukan, kamipun harus diberi tahu. Kami tidak akan mencampuri semua urusan yang sudah kamu putuskan, kami hanya akan memberi gambaran. Sekiranya mana yang baik, dan sedikit kurang baik." lanjut Aleta lagi.


"Iya Momm.., Axel tidak akan mengulanginya lagi. Axel pernah berjanji akan memberi tahu Mommy, setelah semua urusan Axel beres. Ternyata tidak semudah yang Axel bayangkan." Axel berucap pelan.


"Bagaimana respon Aunty Maurin saat kamu memanggilnya mama?" tanya Devan.


Axel menyedot minuman lemon tea yang dia pesan, kemudian melanjutkan berbicara.


"Semula Mama tidak mau dan menolak mengakui jika dia adalah mamanya Axel. Begitu juga Oma."


"Tetapi setelah semua bukti-bukti dari rumah sakit di Singapura, Axel berikan pada mereka. Mereka hanya terdiam dan menangis, terutama Oma."

__ADS_1


"Axel sayang..., jangan bersedih. Kamu masih punya Mommy Aleta, sampai kapanpun tidak akan berubah rasa sayang Mommy untukmu nak."


**********


__ADS_2