
Akhirnya Aleta diterima pak Rahmat untuk ketemu pada pukul 10.00, di ruang dosen. Setelah memastikan penampilannya layak untuk menemui dosbing, Aleta mengetuk pintu ruangan pak Rahmat.
"Masuk saja langsung." terdengar suara pak Rahmat mempersilakan masuk.
Aleta mendorong pintu dan langsung menuju meja pak Rahmat.
"Mbak Aleta ya, yang tadi barusan janjian dengan saya." tanya pak Rahmat.
"Iya Bapak, Aleta ijin sowan (menghadap)," kata Aleta tersenyum hormat pada dosen pembimbingnya.
"Silakan duduk,"
"Baik pak."
Aleta kemudian duduk di hadapan pak Rahmat, kemudian mengutarakan maksudnya menemui beliau pagi ini.
"Jadi kamu bersedia untuk magang jadi programmer dan web designer di Solo Techno?" tanya pak Rahmat memastikan.
"Iya pak, Inshaa Allah saya bersedia. Untuk persyaratan yang harus saya penuhi apa saja ya, secepatnya akan saya penuhi." jawab Aleta yang sudah memutuskan untuk mengikuti program magang di kota ini.
"Baiklah.., segera isi formulir pendaftaran magang secara online. Jangan lupa lampirkan CV terbaik, dan update semua informasi dalam CV." pak Rahmat menyarankan.
"Siap pak, Alhamdulillah kebetulan saya sudah mempersiapkan semuanya. Saya akan segera mengisi formulir di link Google Form, dan persyaratan akan segera saya unggah."
Dari semalam Aleta memang sudah mempersiapkan semua persyaratan, termasuk dokumen hasil studi, kartu mahasiswa, pengalaman organisasi maupun sertifikat kompetensi yang pernah dia ikuti. Dia memang memiliki kearsipan yang bagus dan tertata. File-file secara soft dia simpan di komputer dengan penamaan yang jelas dan konsisten, sehingga dia tidak kesulitan jika membutuhkan data soft file secara mendadak.
"Kira-kira ada lagi yang mau dikonsultasikan." tanya pak Rahmat.
"Alhamdulillah sudah tidak ada pak. Penjelasan Bapak sangat mudah untuk diterima. Mohon maaf telah mengganggu waktu bapak, saya ijin permisi dulu pak." kata Aleta berpamitan dengan pak Rahmat.
"Ya, silakan."
Aleta segera keluar dari ruangan pak Rahmat, dan dari koridor gedung A terlihat Ferdinand dengan muka berseri-seri datang menghampirinya.
"Hai..., sudah selesai Aleta, bimbingan dengan dosbing." tanya Ferdinand setelah mereka berhadapan.
"Alhamdulillah sudah kak, ini aku baru mau mengisi google form untuk registrasi program internship."
__ADS_1
"Kita ke kantin saja yuk, sambil minum ngisinya." Ferdinand langsung menarik tangan Aleta.
"No...no..no..no..., stop kak. Aku mau langsung survey ke lokasi magang saja. Untuk pengenalan lokasi. Isi link nya bisa sambil jalan kesana." Aleta menolak tawaran Ferdinand.
"No problem, aku antar sekarang ke lokasi magang. Kebetulan kelasku hanya kumpul tugas, sekarang aku Off. Aku nyetir, kamu isi google formnya." Ferdinand tetap menawarkan solusi untuk selalu bersama Aleta.
"Maaf kak Ferdi, kita tidak boleh jalan hanya berdua. Aku naik ojek online saja. Statusku adalah wanita bersuami, kita harus menjaga kepatutan dan kehormatan kita." Aleta menolak penawaran Ferdinand.
Ferdinand tidak kalah akal untuk selalu bisa bersama Aleta. Meskipun Aleta tidak menceritakan permasalahan terkait rumah tangganya, tapi dia bisa membaca bahwa saat ini Aleta tidak sedang baik-baik saja.
"Halah.. kamu pakai Ojol juga sama kan berduaan dengan laki-laki lain. Ayok kita ajak Corry, tadi aku lihat dia ngobrol di perpustakaan sama Imam. Nanti kalian berdua, anggap saja aku driver Ojol. Ok."
Ferdinand tetap memaksa untuk mengantarkan Aleta dengan berbagai cara. Akhirnya Aleta menerima tawaran Ferdi, kemudian mereka mencari Corry di perpustakaan.
Tanpa permisi, Ferdinand langsung menggelandang Corry ke depan perpustakaan. Malas menimbulkan keributan, Corry mengikuti langkah Ferdinand.
Sesampainya di depan gedung perpustakaan.
"Kamu apa-apaan sih Ferdi. Main tarik saja, memangnya aku tambang. Bisa tidak bicara baik-baik" protes Corry.
"He..he..he... Makanya di perpustakaan itu belajar, bukan malah ngedate sama Imam. Di kafe tuh kalau mau dating." Ferdinand yang diprotes, malah cengengesan meledek balik Corry.
Ketiganya akhirnya pergi bertiga menuju Solo Techno, salah satu perusahaan start up yang sangat berpotensi di kota Solo. Pada saat mobil mereka keluar dari lingkungan kampus, sekilas Aleta melihat mobilnya memasuki gerbang kampus.
"Ah tidak mungkin, mobil Fortuner kan banyak ada di kota ini. Tapi kok nomor platnya sama." Aleta berpikir sendiri, tapi akhirnya dia menepis pikiran tersebut.
********
"Ijonk, kamu tunggu di mobil saja. Aku sudah mendapatkan nama dosen pembimbing istriku, aku tinggal menanyakan pada pegawai administrasi." Devan meminta Ijonk untuk standby di mobil. Saat ini mereka berada di kampus Aleta, tempat pertama Devan untuk mendapatkan informasi keberadaan istrinya.
Devan langsung melangkah memasuki gedung untuk program studi Informatika. Setelah menanyakan ruang administrasi akademik pada mahasiswa yang lewat, Devan langsung menuju ruangan tersebut.
"Bisa tahu NPM nya pak." tanya petugas pelayanan di Biro Administrasi Akademik.
"NPM 201823200257," sahut Devan cepat.
"Baik, saya cek di SIAK dulu." kemudian dengan cekatan petugas layanan menginput NPM Aleta.
__ADS_1
"Mahasiswa atas nama Aleta berstatus Aktif pak, malah barusan beberapa menit yang lalu melakukan pendaftaran Program Internship." tidak menunggu lama Petugas layanan memberikan status mahasiswa Aleta pada Devan.
"Barusan ya, apakah saya bisa mendapatkan informasi dimana lokasi tempat Aleta magang." Devan terus berusaha mendapatkan informasi tentang istrinya.
"Di sistem informasi belum masuk semua datanya, pak. Mungkin untuk lebih jelasnya, Bapak bisa menemui dosen pembimbing Aleta. Beliau namanya pak Rahmat, ruangannya ada di gedung ini juga. Bapak tinggal lurus, kemudian ambil kanan. Nanti di kiri koridor, ada name tag yang terpasang di pintu ruangan." Petugas BAAK tersebut memberikan informasi yang sangat jelas pada Devan.
"Baiklah, terima kasih ya mas Informasinya. Ini ucapan terima kasih dari saya, karna anda telah membantu saya. Anda bisa mentraktir teman-teman anda makan siang " kata Devan sambil meletakkan 5 lembar uang pecahan ratusan ribu.
Belum sempat pegawai admin tersebut menolak, Devan sudah meninggalkan tempat.
********
"Anda siapanya mbak Aleta, kok begitu ingin tahunya tentang lokasi magangnya. Jangan-jangan Anda lagi stalking dia." tanya pak Rahmat penuh selidik, karena pertanyaan Devan yang terus mencecar ingin tahu keberadaan mahasiswa bimbingannya.
"Mohon maaf pak, saya tidak bisa menyampaikan hubungan saya dengan Aleta." jawab Devan untuk melindungi status pernikahan istrinya.
"Nha .., apalagi anda terkesan menutupi hubungan kalian. Saya malah ragu untuk memberikan informasi tentang anak bimbingan saya. Atau jangan-jangan Anda Sugar Daddy dan mbak Aleta Sugar Baby, tapi tidak mungkin juga kalau melihat sifat dan perilaku mbak Aleta." kata pak Rahmat.
Devan sebenarnya jengkel dengan tuduhan tidak berdasar pak Rahmat tentang istrinya. Tapi itu dilakukan, mungkin karena Devan yang terkesan mengejar informasi tentang anak bimbingannya.
Tidak mau banyak berdebat, Devan membuka galeri foto di ponselnya, kemudian menunjukkannya pada Pak Rahmat.
"Kalian suami istri?" tanya pak Rahmat tidak percaya. Berkali-kali beliau melihat ke arah Devan, tapi akhirnya beliau membuka diri.
"Melihat penampilan serta gaya bicaranya, sepertinya suami Aleta bukan orang sembarangan." batin pak Rahmat.
"Tadi mbak Aleta baru saja kesini menemui saya, belum ada satu jam. Perkiraan saya, mungkin mbak Aleta saat ini lagi survey ke lokasi magang. Lokasinya ada di sekitar stadion Manahan Solo."
"Alhamdulillah terima kasih informasinya pak Rahmat. Kalau boleh tahu, apakah keadaan istri saya baik-baik saja," tanya Devan tiba-tiba.
"Lha anda katanya suaminya, kok malah menanyakan kabar istri sama saya." sahut pak Rahmat heran.
"Mohon maaf pak, kami berbeda tempat tinggal. Saya bekerja di kota Bandung, sedangkan istri saya menyelesaikan studi di kota ini." Devan menjelaskan sambil memberikan kartu nama pada pak Rahmat.
Pak Rahmat melihat sekilas Kartu nama tersebut, dan tiba-tiba matanya terbelalak.
"Anda CEO di PT. Trans Nusa Bakti, itu perusahaan besar. Kenapa membiarkan istrinya magang di perusahaan start up." lagi-lagi pak Rahmat dibuat kaget.
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak, Aleta lebih bisa menunjukkan kapabilitasnya jika berada pada perusahaan yang baru memulai usaha. Terima kasih informasinya pak Rahmat, saya akan segera menyusul istri saya ke Manahan." akhirnya Devan berpamitan.
*******