Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Penanganan


__ADS_3

Devan merangkul Aleta dan membawa bu Rosna keluar dari ruangan. Kemudian polisi menelpon rombongan polisi yang memblokade di dua akses jalan masuk menuju bangunan tersebut.


"Pak, saya akan mengamankan istri dan ibu saya dulu. Mohon diurus administrasi penangkapan dan yang lainnya. Besok bisa hubungi saya lagi." Devan langsung memberikan pernyataan pada pihak kepolisian.


"Untuk keterangan sementara, Ijonk kamu hari ini ikuti bapak-bapak dari kepolisian. Aku harus segera mengantarkan Bu Rosna pulang ke rumah. Kasihan adik-adik panti, pasti gelisah mencari ibunya yang dari pagi hari belum diketemukan." lanjut Devan lagi.


Tidak ada satupun yang berkomentar terhadap pernyataan Devan, bahkan dari pihak kepolisian. Devan mengeluarkan Kartu debit dari dalam dompetnya kemudian menyerahkan pada Ijonk.


"Nomor PIN nanti aku kirimkan ke ponsel." kata Devan sambil mengambil kunci dari Ijonk.


Sesampainya di mobil, Devan membuka pintu samping bagian depan untuk Aleta, dan pintu belakang untuk Bu Rosna.


"Aleta..., mas tidak hapal daerah sini. Kamu yang jadi penunjuk jalan ya," kata Devan perlahan. Melihat istrinya yang dari tadi masih terlihat bengong, muncul rasa sakit di ulu hatinya.


"Keluar dulu nak, cari jalan besar dulu. Nanti ibu yang akan menunjukkan jalan keluarnya." tiba-tiba Bu Rosna dari belakang berbicara.


"Iya ibu, terima kasih." sahut Devan.


Setelah berputar-putar sebentar, akhirnya mereka menemukan jalan keluar, dan dalam waktu 30 menit mereka sudah sampai di halaman panti asuhan Rejeki. Sesampainya di panti, terlihat masih ada beberapa orang yang sedang mengobrol di ruang tengah. Melihat ada mobil berhenti di depan, beberapa orang bergegas keluar panti. Terlihat pak Harto dan pak RT menyambut kedatangan mereka.


"Ayo kita turun sayang, malam ini kita akan menginap disini." kata Devan sambil menggenggam erat tangan Aleta.


"Benarkah mas," tanya Aleta yang sudah mulai pulih kembali pada keadaannya.


Devan menganggukkan kepalanya, kemudian bergegas turun untuk membukakan pintu Aleta. Sedangkan Bu Rosna sudah membuka pintunya sendiri.


"Alhamdulillah, loh ibu pergi sama mbak Aleta to. Kami mencari ibu kemana-mana, sampai membuat laporan kehilangan ke Polsek segala Bu Rosna." ucap pak Harto.


"Kami tak mandi dulu ya, nanti saya ceritakan. Karena ceritanya panjang," kata Bu Rosna sambil tersenyum.


Devan sudah memberi isyarat pada pak Harto dan pak RT, bahwa dia tidak berkenan jika mereka akan menanyakan sesuatu pada istrinya. Melihat kode dari Devan, akhirnya mereka mengalah dan kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan obrolan.

__ADS_1


Devan langsung membawa Aleta ke kamarnya, kemudian mendudukkannya di pinggir ranjang.


"Mau mandi dulu atau mau langsung tidur." tanya Devan lembut.


"Mandi," jawab Aleta lirih. Dia masih shock dengan kejadian penculikannya.


Meskipun dia tidak mendapatkan perlakuan yang menyakitkan, tetapi dengan melihat Bu Rosna ikut menjadi target penculikan, menjadikan perasaannya menjadi tidak menentu. Mereka yang selama ini hanya menjalankan kehidupan sehari-hari seperti warga masyarakat biasa, kali ini harus berhadapan dengan situasi penculikan.


Melihat kondisi shock yang dialami istrinya, Devan kembali memeluk erat istrinya.


"Aleta..., tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa lagi. Percayalah padaku sayang, aku tidak akan membiarkanmu diambil orang yang tidak kita kenali." bisik Devan di telinga Aleta.


Mendengar suara Devan, Aleta memeluk erat suaminya dan air matanya mulai mengalir. Devan menghapus air mata di pipi Aleta dengan jari-jarinya, dia tersenyum kemudian memberikan ciuman di pipinya.


"Tenanglah, ayo mandi dulu. Aku temani," ajak Devan pelan.


Aleta akhirnya menurut anjuran Devan, kemudian dengan ditemani suaminya dia mandi malam itu.


*******************


"Ibu..," Aleta memeluk Bu Rosna dari belakang. Dia melihat Bu Rosna dan Bu Sri sudah berada di dapur sepagi ini.


"Eh.., anak ibu sudah bangun sepagi ini. Ayo mandi dulu terus sholat Subuh, adik-adik keburu pada bangun." ucap Bu Rosna ramah.


"Ibu sama Bu Sri baru merebus air sambil merebus pisang sama kacang tanah. Ayo, segera ajak suami sama adik-adik jamaah Sholat Subuh." lanjut Bu Rosna sambil melepaskan pelukannya.


Aleta memberikan ciuman di pipi Bu Rosna, kemudian dia langsung berlari untuk mandi pagi. Bu Rosna hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, melihat Aleta yang sudah cukup lama meninggalkan panti.


Seusai mandi, Aleta kembali ke kamar untuk membangunkan Devan.


"Mas..., mas Devan bangun yok." kata Devan sambil menyingkap selimut dari tubuh Devan.

__ADS_1


Devan membuka matanya perlahan, dan melihat Aleta sudah segar dan dalam performa seperti biasanya.


"Ayok mas, pimpin kami sholat Subuh. Aku sudah mandi," kata Aleta sambil menyisir rambutnya.


"Baik istriku. Tunggu sebentar ya," kata Devan sambil bergegas pergi ke kamar mandi.


Melihat suaminya sudah menuju kamar mandi, Aleta segera mengambil mukena dan menuju Mushola di belakang.


"Kakak...," teriak Siti dan Koko bersamaan melihat kedatangan Aleta di mushola.


"Hai..hai.., ayok sudah pada wudhu belom, kita sholat Subuh berjamaah." ajak Aleta sambil tersenyum menyapa adik-adiknya.


"Ayo kak.., Koko sudah wudhu." sahut Koko.


Tak berapa lama Devan sudah datang di mushola, kemudian Bu Rosna dan Bu Sri ikut bergabung untuk sholat Subuh berjamaah. Selesai Subuh, adik-adik ingin mengajak Aleta jalan-jalan pagi. Tetapi melihat kehadiran Devan di sekitarnya, mereka akhirnya membatalkan niatnya.


"Mas Devan.., kita langsung balik ke Sukoharjo ya. Kan Aleta hari ini harus berangkat magang." kata Aleta pada Devan.


Sebenarnya Devan mau melarang Aleta tapi khawatir berdampak pada emosinya, untuk sementara Devan membiarkan.


"Kalau begitu kita pamitan dulu sama Ibu." ucap Devan.


Akhirnya Devan dan Aleta pamitan dengan Bu Rosna, dengan alasan karena hari ini Aleta harus berangkat magang. Dengan berat hati, akhirnya Bu Rosna mengijinkan. Karena beberapa orang suruhan Cokro sudah sampai di Klaten, beberapa orang ditempatkan di panti asuhan Rejeki. Sedangkan beberapa orang dibagi untuk pengawasan di Sukoharjo.


"Hari ini apakah kamu tetap akan berangkat magang," tanya Devan pelan. Saat ini mereka dalam perjalanan pulang balik ke rumah Sukoharjo.


"Iya mas, kalau Aleta tidak berangkat hari ini, khawatir nanti malah menimbulkan banyak pertanyaan di kantor. Aleta tidak apa-apa mas, bukannya tadi mas Devan janji akan jagain Aleta?" tanya Aleta sambil menoleh ke arah Devan.


Melihat harapan besar dari istrinya, Devan akhirnya tidak tega menolak keinginannya. Akhirnya Devan menganggukkan kepala sambil tersenyum kecut.


"Baiklah, hari ini kamu boleh berangkat magang. Tapi ingat sayang, kamu harus tetap berada di dalam kantor. Jika perlu kasih tahu pimpinanmu tentang kejadian kemarin, karena aku yakin security di Solo Techno sudah menginformasikan kejadian kemarin sore." Devan menyampaikan pesan pada Aleta.

__ADS_1


Kemudian sambil mengemudi, Devan menceritakan kejadian kemarin sore saat dia meminta security untuk menunjukkan rekaman CCTV. Dia hari ini juga masih memiliki banyak urusan, untuk mengetahui siapa orang yang memerintahkan untuk menculik istrinya.


*************


__ADS_2