Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Kekacauan


__ADS_3

Tamu-tamu sudah mulai berdatangan, tapi Devan belum kelihatan batang hidungnya. Maurin dan ibunya sudah mulai gelisah, demikian juga dengan Rengganis. Berkali-kali Rengganis berusaha menghubungi Devan melalui panggilan telepon, tetapi semua panggilan masuk diabaikan oleh Devan.


Akhirnya tepat jam 20.00, mobil yang dikendarai Devan memasuki halaman rumah keluarga. Devan dengan protektif menggandeng erat tangan Aleta memasuki rumah, seperti khawatir ada yang akan memisahkan mereka. Kejadian lalu waktu ada acara kumpul bersama, Aleta tercebur di kolam renang karena ulah dari Maurin. Hari ini Devan berjanji akan tetap berada di sampingnya.


"Ramai sekali mas ternyata, ada acara syukuran apa," tanya Aleta menoleh pada suaminya.


"Mas juga belum tahu, mari kita masuk dulu. Nanti kita akan temukan jawabannya di dalam." jawab Devan.


"Assalamualaikum," Devan dan Aleta mengucapkan salam dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Wa Alaikum salam," jawab beberapa orang yang mendengar salam mereka.


Melihat kedatangan Aleta dan Devan, Cokro bergegas ke depan menemui mereka.


"Aleta... bagaimana keadaanmu, kalau anak ini menyusahkan kamu. Hubungi kakek," Cokro menanyakan kabar Aleta dengan senyum bahagia.


"Alhamdulillah Aleta baik dan bahagia kek. Maafkan Aleta baru bisa menjenguk Kakek, karena Minggu lalu masih ada ujian. Jum.at sore Aleta baru tiba dari Klaten." Aleta mencium tangan kakek Cokro.


"Kek..., yang cucu kakek itu Devan atau Aleta sih." protes Devan pura-pura kesal. Tapi Cokro pura-pura tidak mendengarkan protes Devan. Cokro malah menarik tangan Aleta dan mengajaknya ke ruang tengah, Devan akhirnya mengikut di belakangnya.


"Devan..., sini dulu nak." tiba-tiba Rengganis memanggil Devan agar mendekat padanya.


Devan menuruti kemauan Rengganis.


"Tante Lastri, Maurin... sudah lama ya." tanya Devan basa-basi ketika melihat keduanya sedang duduk bersama Rengganis.


"Tolong kali ini, turuti mama. Duduklah disini dulu sampai mama selesai menyampaikan pemberitahuan pada keluarga kita." Rengganis meminta Devan untuk tinggal dengan tatapan memohon.


Tidak mau berdebat dengan siapapun, Devan duduk di kursi sebelah Rengganis. Tapi tiba-tiba Rengganis berdiri, sehingga Devan saat ini duduk berdampingan dengan Maurin. Dari jauh Atmaja tampak memperhatikan sikap istrinya, tapi dia juga tidak mau memancing keributan di hadapan keluarga yang sedang berkumpul.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu Van," tanya Maurin pada Devan.


"Huh.., baik." jawab Devan singkat tanpa melihat ke Maurin.


Melihat jawaban Devan yang kaku, Maurin tidak melanjutkan basa-basi pada Devan. Rengganis tiba-tiba meninggalkan mereka, kemudian mengambil microphone di dekat LED TV.


"Assalamualaikum, mohon maaf mengganggu waktunya sebentar saudaraku semua. Malam ini, kami mengundang seluruh anggota keluarga Cokro yang ada di Bandung, karena ada kabar bahagia yang sengaja akan kami bagi pada semua yang hadir malam ini." Rengganis menyampaikan maksud dari undangan malam ini.


Penghuni rumah saling berpandangan menanyakan tindakan Rengganis. Tapi tidak ada satupun yang merasa diberi tahu Rengganis.


"Malam ini saya akan menyampaikan kabar bahagia, bahwa calon generasi penerus Cokro sudah akan hadir di keluarga ini." perkataan Rengganis yang terakhir mengejutkan semua keluarga yang hadir, terlebih Cokro dan keluarga inti.


"Siapa yang hamil, apakah istri Devan sudah hamil." banyak bisik-bisik yang menanyakan pernyataan yang dibuat Rengganis.


Cokro, Atmaja dengan muka merah padam mendekat ke arah Rengganis. Tapi Aleta dengan hati-hati memegang lengannya, dan meminta Cokro untuk kembali duduk di kursi. Dengan sikap tenang dan perhatian, Aleta mengambil segelas air putih kemudian meminta Cokro untuk meminumnya. Rolland juga bergerak cepat mendampingi Atmaja.


"Kakek yang tenang ya, kita tunggu mama selesai bicara," kata Aleta.


Rengganis mengeluarkan amplop dengan logo Laboratorium ****hita, dan memegang dengan satu tangannya. Dengan senyum lebar Rengganis membacakan isi dari hasil laboratorium.


"Ny. Maurin Atmanegara dinyatakan positif dan saat ini hamil lima Minggu." Rengganis berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


"Waktu ini sesuai dengan kecelakaan yang dialami Maurin, waktu acara family gathering keluarga kita ini di Ubud bulan lalu. Dimana saat acara kebersamaan, anak saya Devan dalam keadaan tidak sadar sudah menodai kesucian Maurin." dengan jelas Rengganis menyampaikan pernyataan dengan vulgar.


"Prang...," Devan membanting gelas yang dipegang di tangannya.


"Bullshit...omong kosong apa ini." dengan muka merah dan tegang Devan mengumpat di hadapan keluarga.


"Tenang kak, semua bisa kita temukan jalan keluarnya." Rolland langsung menghentikan emosi kakaknya.

__ADS_1


Aleta berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan memegang erat tangan kakek Cokro. Cokro yang sudah mengetahui kejadian sebenarnya waktu di Ubud, bernafas lega karena dia memiliki bukti yang akan mempermalukan Maurin.


"Aleta..., tenangkan dirimu nak. Ada kakek disini." kata Cokro mengusap lembut kepala Aleta. Dengan hati remuk, Aleta memaksakan tetap tersenyum di hadapan Cokro.


Rengganis kemudian melanjutkan perkataannya.


"Meskipun bayi ini hadir dengan cara yang tidak kita kehendaki, tapi kami terutama aku neneknya akan menerima dengan bahagia generasi penerus keluarga kami. Aku sebagai seorang ibu meminta Devan putraku untuk segera menikahi Maurin."


Rengganis tersenyum lembut dengan mengarahkan pandangannya kepada Maurin. Maurin dan Lastri hanya tertunduk malu di bawah tatapan semua keluarga yang hadir.


Devan dalam pegangan Rolland, tiba-tiba menendang kursi hingga hampir mengenai Rengganis. Untung Atmaja dengan cepat menahan kursi tersebut.


Seketika suasana di dalam rumah menjadi kacau. Sedangkan Aleta yang sudah teruji ketenangan dan kesabarannya sejak masih tinggal di panti asuhan, berusaha menelan pil pahit yang saat ini ada di depannya.


Cokro mengagumi sikap Aleta, yang meskipun di hadapkan dengan situasi yang pasti sudah melemahkan wanita manapun, tetapi tidak bagi Aleta.


"Masuklah ke kamar nak, istirahatlah. Tidak perlu kamu pikirkan semuanya. Devan nanti akan menjadi urusan kakek." kata Cokro pada Aleta.


Aleta tersenyum memastikan pada Cokro bahwa dia baik-baik saja, kemudian dia menatap Devan yang tidak bisa mengendalikan dirinya. Tanpa bisa dicegah, Aleta melangkah menuju ruang depan menghampiri suaminya. Semua keluarga kaget melihat kedatangan Aleta, dan mereka berpikir akan ada perang dunia ketiga. Tetapi semuanya tiba-tiba terdiam melihat adegan di depannya.


Aleta dengan tegar menghampiri Devan yang sedang mengamuk. Dengan tubuhnya yang mungil, Aleta berusaha memeluk tubuh suaminya yang tinggi. Merasakan pelukan lembut istrinya, Devan berhenti dan memeluk erat istrinya kembali. Dengan berjinjit, Aleta memberikan ciuman lembut di bibir Devan. Menyadari tindakan berani istrinya, Devan menundukkan badan kemudian membalas ciuman istrinya dengan penuh perasaan. Perlahan hatinya menjadi dingin kembali.


Semua orang menahan nafas menyaksikan pemandangan yang tidak pantas dilihat oleh anak kecil. Rengganis dengan muka merah menghampiri mereka berdua. Tapi belum sampai dia menarik Aleta, Devan menunjukkan sikapnya.


"Mohon maaf semuanya, atas kekacauan dan stand up comedy yang baru saja ditunjukkan mama. Sampai kapanpun istri saya hanya Aleta, dan saya tidak akan menikah dengan Maurin apapun alasannya." kata Devan sambil memberikan kecupan dalam di kening Aleta.


"Malam ini juga saya akan minta dokter untuk melakukan test DNA pada Maurin kalau dia bersedia. Dari test itu akan dapat kita lihat, bayi siapa yang dikandung oleh ****** itu " kata Devan tegas sambil menunjuk ke arah Maurin.


Tidak terima anaknya disebut ******, Lastri berdiri dan memberikan tamparan ke wajah Devan. Tetapi Rolland dengan cepat menangkap tangan Lastri.

__ADS_1


Melihat situasi yang kacau, Aleta menarik Devan kemudian membawanya ke dalam kamar. Devan yang merasa bersalah telah menyebabkan istrinya sakit, menuruti keinginan Aleta untuk menenangkan diri di dalam kamar.


__ADS_2