
Bulan demi bulan kehamilan Aleta diisi dengan mendampingi suaminya. Terkadang Aleta akan mengisi waktunya dengan ikut Devan ke kantor, atau di rumah dan pas makan siang Devan pulang untuk makan bareng istrinya di rumah. Sesekali mama Kinara, akan mengunjungi mereka di Solo. Seperti hari ini, semua keluarga berkumpul di rumah, karena Kinara akan mengadakan acara MITONI atau acara tujuh bulanan kehamilan Aleta. Berbagai perlengkapan disiapkan Bu Rosna dengan dibantu mama Kinara.
"Ayo kita ke Solo mencari perlengkapan untuk mitoni. Kalau bisa semua serba tujuh buah ya." terdengar suara mama Kinara sedang berbicara dengan Bu Rosna.
"Iya batik atau kain jarik juga tujuh buah ada Kain Truntum, Kain Sido Mukti, Kain Sido Mulyo, Kain Sido Asih, Kain Sido Drajat, Kain Satriyo Wibowo, serta Kain Lurik Tumbar Pecah. Kain yang mana yang belum ada?" sahut Bu Rosna.
"Aduh Ibu, mama.., kok jadi repot banget sih. Aleta tidak perlu seperti itu. Yang penting ada ustadz, kita pengajian dan bagi-bagi makanan serta sembako ke tetangga sekitar saja." Aleta ikut menengahi obrolan mama Kinara dan Bu Rosna.
"Eh, ya tidak boleh begitu to Ndhuk. Ini lho, mamamu sudah datang dari Yogyakarta untuk menyiapkan acara mitoni. Lha malahan kamu melarang." sahut Bu Rosna.
"Iya Bu, acara mitoni nya diisi dengan pengajian saja. Tidak perlu pakai acara adat Jawa yang harus menyediakan serba tujuh itu lho."
"Ada apa sayang, kenapa kamu ada disini. Sudah biarkan Ibu dan mama yang mempersiapkan acaranya." tiba-tiba Devan datang mencari istrinya.
"Iya mas, maunya Aleta acaranya diisi pengajian saja. Terus bagi sembako dan makanan ke tetangga. Ini malahan mama dan Ibu pakai aneka warna kain tujuh jenis."
"Sudah, ayo temani mas saja. Kita ikuti saja mereka, biar mereka punya kegiatan." Devan langsung merangkul Aleta dan membawanya ke kamar.
Mama Kinara mengacungkan dua jempol jarinya pada Devan, Bu Rosna tersenyum.
"Memang dari dulu, Aleta itu tidak menyukai kemewahan. Ya, maklumlah Bu, anak itu dari bayi sudah ditinggalkan orang tuanya di panti asuhan. Kita hidup dalam keterbatasan, yah untung kehadiran kakek Cokro merubah semuanya." Bu Rosna menceritakan tentang keadaan Aleta sedari bayi pada Mama Kinara.
"Iya, memang kita harus yakin dan percaya akan kebesaran Tuhan. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka yang terjadi, maka terjadilah." sahut Mama Kinara.
"Tapi meskipun begitu, Aleta tetap harus penuh rasa syukur. Untungnya ada Bu Rosna, sehingga anak itu tidak menderita."
"Iya Bu. kemudian apa lagi ya Bu yang harus kita siapkan." tanya Bu Rosna.
"Sudah, kita ajak Ijonk saja untuk mengantar kita ke toko yang menjual perlengkapan kain kemben sama kain jarik. Soalnya masing-masing harus ada tujuh buah." lanjutnya lagi.
Bu Rosna kemudian mencari Ijonk, yang sedang mengobrol di pos satpam halaman depan.
"Ijonk..., kamu tahu toko lengkap dekat sini yang menjual perlengkapan kain kemben sama kain jarik?"
__ADS_1
"Iya Bu, sekalian Ijonk antar ke kota Solo saja ya Bu, Lebih lengkap, mau cari apa saja sekalian."
"Oh gitu ya, malah bagus Jonk. Sebentar tunggu Ibu ya. Ibu mau mengajak mamanya Devan sekalian."
"Siap Bu, Ijonk tunggu di dalam mobil."
Setelah janjian sama Ijonk, Bu Risna segera masuk ke dalam rumah dan menemui Mama Kinara.
"Ayo Bu, Ijonk mau mengantar kita sekalian ke kota Solo. Katanya biar sekalian lengkap yang akan kita butuhkan."
"Bagus kalau begitu. Saya tak ambil tas dulu di dalam."
Akhirnya rumah kembali sepi, karena Bu Rosna dan mama Kinara serta Bibi ikut ke Solo dengan diantar Ijonk.
**************************************************************
Devan dan Aleta sedang melihat acara televisi sambil tiduran di dalam kamar. Sesekali Aleta tertawa melihat acara komedi. Devan yang sedang menemani istrinya sambil mengerjakan sesuatu di atas laptopnya, ikut tertawa.
"Paling pergi belanja mas, diantar Ijonk kali."
"Sebentar mas cek dulu keluar."
Devan keluar kamar, pintu rumah sudah ditutup semua. Dia kemudian ke dapur, tengok-tengok juga sudah tidak ada orang. Devan tersenyum sendiri, kemudian kembali ke kamar.
"Aleta..., sekarang yok."
"Hm.., apanya yang sekarang mas. Ini lho lucu, acaranya."
"Mumpung kita hanya sendiri di dalam rumah. Ternyata sampai Bibi juga ikut ibu dan mama."
"Terus mau ngapain memangnya. Mas Devan mau ngajak pergi, ya nanti donk kalau mama dan ibu sudah apda pulang. Jadi rumahnya ada yang nunggu, tidak jadi kosong."
"Ah.., kenapa semenjak hamil kok istriku jadi LOLA sih." Devan langsung memeluk istrinya dari belakang, dan bibirnya dia letakkan di leher istrinya dari belakang.
__ADS_1
"Mas.., ini ngapain sih." protes Aleta, karena tubuhnya langsung gemetar mendapatkan serangan mendadak dari suaminya.
Devan tidak menjawab protes dari Aleta, tangannya malah sudah bergerilya masuk ke setiap sudut baju Aleta. Di atas perut gendut istrinya, tangannya naik dan turun memberikan elusan lembut. Aleta tanpa sadar mengeluarkan *******, dan langsung senyuman tersungging di bibir suaminya.
"Mas, Aleta sudah kesulitan bergerak mas. Tunggulah sampai bayi ini lahir." bisik Aleta di telinga Devan.
"Nanti bayi kita tidak dapat mengenaliku, kalau mas tidak eprnah menengok."
"Ah. kenapa mas Devan pikirannya jadi mesum sih?"
"Ayolah sayang, Aleta diam saja. Mas janji akan pelan sayang, mas yang akan gerak."
Aleta tidak menjawab omongan Devan, dia hanya mengikuti saran dari Devan untuk diam saja. Tidak menunggu lama, akhirnya keduanya mendapatkan kepuasan bersama.
"Terima kasih sayang." sebuah kecupan dihadiahkan Devan di kening Aleta. Kemudian sebuah kecupan lagi diberikan di perut besarnya.
*********************************************
Aleta terbangun karena mendengar ada suara gaduh di luar kamar. Perlahan dia terbangun, dan dia baru menyadari ternyata di bawah selimut, saat ini dia sedang tidak mengenakan apapun. Dia tersenyum dan memandang ke arah suaminya yang juga tampak sedang terlelap. Tanpa membangunkan Devan, perlahan Aleta pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi.
Setelah 10 menit, Aleta dengan penuh kehati-hatian dengan berpegangan pada tembok berjalan keluar dari kamar mandi. Dia melihat ke arah bed, terlihat suaminya sedang menggeliat dan membuka matanya.
"Lho kamu sudah mandi sayang, kenapa tidak membangunkan mas?"
"Aleta bisa sendiri kok mas. Sudah sana mas mandi dulu, karena di luar kamar Aleta mendengar ada suara laki-laki. Makanya Aleta terus mandi."
"Ya sudah, keluar kamarnya nungguin mas ya. Mas Devan mau mandi dulu."
"Baik mas, Aleta juga masih harus mengeringkan rambut dulu pakai hair dryer juga.'
Devan kemudian bergegas masuk kamar mandi, dan Aleta duduk di depan kaca rias sambil mengeringkan rambutnya. Aleta menunggu suaminya menyelesaikan urusannya dulu.
*******************************************************
__ADS_1