
Pesta semakin ramai, Nay melangkah pergi untuk menghindari kerumunan. melangkah melihat sebuah taman yang banyak lampu.
Sungguh indah malam, dihiasi lampu yang berkelap-kelip. Tangan Nay menyentuh sebuah lampu berwarna biru berbentuk bintang.
"Cantik." Nay tersenyum bahagia.
"Kenapa kamu di luar? di sini dingin." Avin duduk di kursi taman sambil memegang minuman.
Naya langsung melangkah mendekati Arvin, menatapnya tajam melihat gaya tangan Avin menyentuh minuman seperti orang yang sangat berpengalaman.
"Kamu masih muda, kenapa merusak tubuh dengan minum-minuman?" Nay duduk di samping manusia dingin, mirip es mendapatkan tambahan menjadi pemabuk.
Nay banyak bicara, tapi tidak ada satupun yang dijawab oleh Arvin, dia sibuk menatap minuman yang ada di tangannya, meminumnya perlahan.
"Arvin, kamu tuli atau bisu?" Tangan Naya langsung memukul, kesal sekali melihat respon yang diberikan Arvin.
"Tubuh memang membutuhkan minum." Jawaban singkat yang membuat darah mendidih.
"Aku tahu, tapi bukan minuman yang memabukkan." Nay menghela nafasnya, mengusap dadanya agar lebih banyak sabar.
Naya tidak akan membahas lagi soal Arvin yang suka mabuk, itu menjadi urusannya. Nay tidak ingin terlibat lagi, jika boleh diulang Naya menyesal sudah membantu manusia pemabuk seperti Arvin.
"Kenapa kamu mengatakan jika kita pacaran?" Pertanyaan yang sudah lama ingin Nay katakan, tapi menahannya.
"Tidak ada alasan, sementara kita tetap menjalin hubungan sebagai kekasih, sebatas pura-pura." Wajah Avin menunjukkan senyuman sinis.
Tangan Nay mengepal, menunjukkan kepada Arvin yang menelan ludah. Tanpa persetujuan, Arvin mengambil keputusan untuk berpura-pura.
"Untungnya buat gue apa? kenapa kalian melibatkan aku?" Suara pukulan di kursi terdengar.
Melihat kekesalan Naya, Arvin bergeser sedikit. Mencoba berpikir mencari alasan yang tepat agar Nay tidak menolak.
"Membantu teman, salah kamu sendiri sejak hari pertama sudah terlibat." Avin langsung melangkah semakin jauh.
Naya ingin sekali melayangkan pukulan, masih sempat Arvin menyalahkan dirinya setelah banyaknya pengorbanan.
"Bantu aku sekali ini saja Naya, hanya kamu satu-satunya wanita pemberani." Avin meringis merasakan pukulan Naya.
Nay menarik nafas lalu menghembuskan, mempertanyakan soal hubungan Prilly dan Agra. Alis mengatakan jika Prilly menyukai Agra.
__ADS_1
"Prilly itu pengawal aku."
"Sumpah? dia seorang pengawal?"
Arvin menganggukkan kepalanya, firasat Nay semakin besar jika Arvin pasti anaknya mafia. Dia memiliki banyak bodyguard.
Prilly berdehem, menatap Arvin dan Naya meminta keduanya untuk masuk dan bergabung bersama tamu undangan yang lainnya, karena ada acara pertunjukan untuk perayaan ulang tahun kakek Arvin.
Di dalam ruangan seluruh tamu undangan berkumpul, pusat perhatian terarah kepada Naya. Penampilan dan gayanya tidak menunjukkan jika dirinya dari kalangan atas.
Nay pede saja seperti ucapan Andra, dia harus percaya diri dan merasa nyaman dengan penampilannya.
Erin menatap tidak suka, memikirkan niat jahat untuk mempermalukan Nay. Wajah sombong Erin terlihat, tersenyum melihat beberapa pertunjukan.
"Kakek, boleh tidak jika Nay maju ke depan untuk mempersembahkan sesuatu?" Senyuman licik Erin terlihat, kakek menganggukkan kepalanya ingin melihat Nay malu di depan banyak orang, membuka mata Arvin agar bisa melihat wanita yang pantas disisinya.
Erin langsung melangkah maju, tersenyum menyapa seluruh tamu undangan.
"Selamat malam semuanya, hari ini kita kedatangan tamu terhormat. Dia seseorang yang mungkin sangat asing di kalangan orang terpandang seperti kita." Erin menyebut nama Naya.
Nay sangat terkejut, menatap Erin penuh dendam yang mempermalukan dirinya. Arvin juga menatap tajam tidak suka dengan ucapan Erin.
"Silahkan Kanaya, kamu mengatakan ingin memberikan kesan indah untuk malam ini. Kita sambut Kanaya." Erin tertawa, memaksa Kanaya untuk maju.
Nay menatap Arvin, menggelengkan kepalanya. Dia tidak punya rencana untuk menampilkan apapun, Nay tidak tahu ingin melakukan apa.
Arvin langsung melindungi Naya, menolak untuk membiarkan Nay maju yang hanya akan menjadi bahan ejekan bagi banyak orang.
"Sungguh mengecewakan, dia menolak keinginan kakek. Ya sudahlah, namanya juga beda kasta." Erin meminta semuanya tenang.
Alis yang ada di sana emosi, langsung ingin maju, tapi ditahan oleh Naya.
Nay paling tidak suka diremehkan, dirinya bukan tidak bisa, tetapi hanya merendah agar tidak menjadi pusat perhatian.
Jika sudah menyangkut harga diri, apa yang tidak bisa Nay lakukan. Menyobek mulut Erin juga bisa dilakukan dengan sukarela.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Agra menatap Naya yang sedang berpikir.
"Ada yang bisa bermain piano?" Nay menatap Agra, Andra, Arvin, dan Alisha.
__ADS_1
Semua mata menatap Agra, dia juga langsung bersedia menemani Nay untuk melakukan pertunjukan.
Naya membisikan sesuatu kepada Agra, senyuman Agra terlihat menyanggupi yang Naya inginkan.
Agra langsung melangkah ke tempat piano, mengambil pemanasan membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Nay menerima pedang yang dia minta dari Prilly, karena Naya akan menampilkan tarian pedang yang dia kuasai. Naya melangkah maju ke depan. Arvin dan Andra saling tatap, karena khawatir.
Senyuman Naya terlihat, mulai bergerak lambat mengayunkan pedangnya mirip seorang yang sedang menyerang, juga tarian yang sangat pawai menangkis serangan.
Seluruh orang bertepuk tangan melihat kemampuan Naya yang bisa melakukan dengan baik, tarian yang dilakukan semakin terlihat luwes membuat para tamu semakin menikmati apalagi diiringi musik latar piano yang Agra mainkan.
Pedang yang Nay mainkan bisa berputar di kepala, bahkan mengelilingi bahunya. Tidak ada keraguan sedikitpun.
Alis merekam tarian Nay yang mirip penari profesional yang sudah biasa, wajah Nay juga cantik sekali dengan gerakannya mirip kesatria.
Suara tepuk tangan terdengar, Naya menunduk kepalanya mengucapkan terima kasih. Tersenyum melihat Agra, Arvin dan Andra yang masih terdiam, karena terpesona dengan tarian Nay.
"Kak Nay hebat, apa yang tidak bisa kak Nay lakukan?" Alis langsung memeluk erat sambil tersenyum puas melihat kegagalan Erin.
Naya juga menatap sinis ke arah Erin, dirinya bisa membuktikan jika dirinya memiliki harga diri yang tidak sepantasnya diperlakukan buruk oleh Erin.
"Keren sekali Nay, kamu harus mengajari kita." Agra ingin Naya menjadi guru bela dirinya.
"Kak Andra ingin belajar juga tidak?" Senyuman Alis terlihat mengejek kakaknya.
Tatapan Andra tajam, mengakui jika tarian Naya lumayan bagus tidak membuat malu.
Agra merangkul Andra dan Arvin yang tersenyum bersama Naya dan Alisha.
"Kamu sangat hebat dalam bela diri, tapi bukan berarti aku kalah. Jika ada waktu kita boleh adu kehebatan." Senyuman Andra terlihat, tapi masih sempat mengkoreksi gerakan Naya.
"Aku yang belajar banyak dari kalian, terutama soal persahabatan." Senyuman Nay terlihat, mengagumi ketiga lelaki populer yang memiliki banyak pengemar.
Erin menghentak kakinya, melangkah pergi karena kesal melihat kemenangan Naya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
Lanjut besok, jangan lupa tinggalkan like, komentar, vote dan hadiahnya.