KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
KISAH Menyedihkan


__ADS_3

Sungguh menguji kesabaran Naya, hidupnya benar-benar kacau setelah mengenal Arvin. Terlibat dengan keluarganya yang membuat repot saja.


Lelah berdebat dengan Arvin, Nay membiarkan melakukan apapun termasuk membeli ranjang tidur. Apartemen sempit terasa sesak, tidak ada ruangan yang membuat mata nikmat melihatnya.


"Vin, kamu serius pergi dari rumah?"


Kepala Avin mengangguk, meminta Nay tidur di ranjang jeleknya karena Avin sudah punya kamar sendiri.


Naya menarik gorden pembatas untuk keduanya, Naya mengancam Avin jika sampai ke kamarnya dipastikan patah tulang.


Mata Naya terpejam, memikirkan hari esok yang kemungkinan akan semakin runyam. Cahaya dari tempat tidur Avin masih terlihat, Nay tahu pria dingin di sampingnya pasti tidak bisa tidur.


"Vin,"


"Apa? tidurlah." Arvin mematikan kembali ponselnya.


Naya menarik selimut, menutupi kepalanya. Bicara dengan Arvin hanya akan memancing emosi tidak ada jalan keluarnya.


Sampai hampir subuh Naya terbangun, melihat pintu kamar terbuka. Nay berjalan ke arah tempat tidur Arvin. Membuka gorden pembatas.


"Ke mana dia?" Nay berjalan keluar kamar melihat Arvin tidur di luar sambil duduk.


"Vin, bangun. Tidur di kamar, kasihan ranjang baru kamu ditinggal sendirian." Tubuh Arvin digoyang pelan.


Perlahan mata Arvin terbuka, memanggil Mommy membuat Nay melihat sekitarnya yang hanya ada mereka berdua.


"Mommy, Avin rindu Mommy. Kenapa Mommy meninggalkan Arvin sendirian? bawa Avin saja Mom." Buliran air mata menetes di pelipis matanya.


Naya garuk-garuk kepala, binggung harus melakukan apa? Nay tidak tahu apapun soal Arvin.


"Apa ujian hidup kamu terlalu berat Vin? menangis di dalam tidur." Nay duduk menatap wajah Arvin yang matanya tertutup kembali.


Niat membangunkan Arvin dibatalkan, Naya langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Sibuk di dapur dan membersihkan rumah, juga bersiap-siap ke kampus Naya lakukan sendiri.


Arvin yang sudah bangun hanya duduk seperti raja memperhatikan Naya yang sibuk sendiri.


"Sarapan apa hari ini?"

__ADS_1


"Jangan banyak tanya, juga komen. Makan apapun yang aku sediakan, atau berikan aku uang jika kamu ingin makan enak." Nay menatap sinis, meminta Arvin mengambil makanan di dapur.


Kening Arvin berkerut, berjalan ke dapur dan tidak sengaja menemukan sesuatu di atas lemari. Avin membaca sekilas dan lanjut ke dapur.


"Nay, kamu melamar kerja?"


Naya langsung melihat ke arah Arvin yang di fokus kepada makanannya, kepala Naya hanya mengangguk tidak memberikan penjelasan detail.


"Aku pergi ke kampus duluan, jangan lupa di kunci. Bereskan juga bekas makan kamu." Nay beranjak pergi meninggalkan Avin yang masih makan.


Sepanjang perjalanan ke kampus Naya memikirkan soal keluarga Arvin, rasanya hidup Nay sedang terancam melihat sikap keras Kakek dan Daddynya Arvin.


Di kampus masih tetap heboh soal hubungan Naya, seseorang menepuk pundak Nay sambil tersenyum manis. Senyuman Naya juga terlihat menatap Agra yang juga sudah tiba di kampus.


"Sendirian?"


"Iya, soalnya Arvin dan Andra masuk siang. Mereka tidak ada kelas pagi." Agra berjalan bersama Naya untuk ke kelas masing-masing. Langkah Naya terhenti, melihat ke arah Agra yang juga menghentikan langkahnya.


"Ada apa?"


"Di mana Mommynya Agra?"


Keduanya berjalan ke tempat duduk yang tidak banyak orang, Nay mengatakan perasaan tidak nyamannya bukan karena Arvin yang tinggal bersamanya, tapi soal keluarga Arvin yang terlihat sangat keras.


"Aku merasa sekarang berada dalam pengawasan mereka, bagaimana aku bisa bersiap diri? aku tidak tahu apapun soal Arvin." Nay menggaruk-garuk kepalanya.


"Mommy Arvin sudah meninggal sekitar lima tahu yang lalu saat kamu masih sekolah tingkat atas. Dan Arvin berubah menjadi dingin sejak kehilangan Mommynya." Agra menundukkan kepalanya.


Mereka bertiga sudah bersahabat sejak kecil, dan selalu bersama-sama. Agra tahu perjalanan Arvin, dia bukan anak nakal tapi keadaan membuatnya kehabisan jalan untuk bertahan.


Keluarga Arvin sangat keras, dan mengutamakan status sosial. Setiap keturunan harus mengikuti peraturan, hidup mereka diatur-atur dan tidak punya kebebasan.


Menjadi anak orang kaya yang berstatus tinggi, Arvin merasa berbeda dari orang lain. Hanya Mommynya yang mengerti dirinya, tapi setelah Mommynya meninggalkan Arvin kehilangan sandaran.


"Dia mulai memberontak, melakukan segala hal yang dilarang dalam aturan. Kami kehabisan kata-kata menasihatinya." Agra menatap jam, pamitan kepada Nay jika jam kuliahnya hampir dimulai.


"Terima kasih Agra untuk cerita singkatnya." Nay melambaikan tangannya, melangkah pergi juga ke kelasnya.


Ada rasa kasihan mendengar kisah hidup Arvin, dia pasti sangat haus kasih sayang. Kehilangan sandaran, pasti membuat rapuh apalagi dengan keluarga yang selalu menuntunnya menjadi yang terbaik.

__ADS_1


"Aku ingin mengenal kalian lebih dalam, meksipun aku tahu perjalanan kita panjang." Ketukan terdengar, Nay melangkah masuk ke dalam kelasnya yang sudah ramai.


Suara keributan membicarakan wanita perusak hubungan orang terngiang-ngiang di kepala Naya, Nay tahu dirinya yang sedang disindir.


Kedekatan dengan ketiga pria popular menjadi buah bibir, pastinya banyak wanita yang mengangumi ketiga pria akan membencinya.


"Abaikan saja Nay, tujuan kamu datang untuk mengejar pendidikan." Senyuman Naya terlihat, fokus kepada pelajaran yang di berikan dosen.


Sampai pelajaran selesai, Naya masih berdiam diri di kelas. Pikirannya masih terarah kepada keluarga Arvin.


"Kak Nay memikirkan apa?" Alis duduk di samping Nay.


"Aku memikirkan keluarga Arvin,"


Alisha langsung tersentak kaget, keluarga Arvin bukan orang sembarangan. Mereka memiliki nama yang dijunjung tinggi, Alis juga mencemaskan Nay tidak mendapatkan restu.


"Lis, aku dan Arvin tidak ada hubungan apapun, hubungan kami hanya kebohongan. Aku tidak membutuhkan restu mereka, masalahnya keluarga Arvin tidak akan tinggal diam." Nay menjatuhkan kepalanya di atas meja.


Alis juga mengikuti Naya meletakkan kepalanya di atas meja, merasa cemas juga dengan Nay yang harus berurusan dengan keluarga kaya.


"Nay, status Arvin, Agra, dan Andra sebenarnya berbeda jauh, baik dari kekayaan maupun karakter." Alis melihat sekitar yang cukup sepi.


"Bedanya apa? mereka sama-sama kaya, populer, pintar, juga banyak bakat." Nay menatap lemas.


"Seiring berjalan waktu, aku yakin kamu akan menemukan perbedaannya." Alis tersenyum manis.


"Aku rasa hanya Agra yang keluarga normal,"


Bibir Alis cemberut, Naya salah menembak soal Agra. Dia tidak ada bedanya sama Arvin, hanya saja Agra tidak pernah menunjukkan betapa berantakan keluarganya.


Mereka memang terlahir di keluarga kaya, tapi bukan berarti semuanya baik-baik saja, hidupnya lurus tanpa masalah.


"Keluarga Agra juga tidak bersahabat, mereka baik kepadaku juga karena anak orang kaya jika tidak mungkin bernasib sama dengan Nenek sihir bodyguard pribadi Arvin." Menyebut nama saja Alis malas.


Naya tergagap semakin lemas, kepalanya berdenyut sakit. Keluarga orang kaya memang membingungkan.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2