
Di dalam kamarnya Arvin sedang menggunakan kemeja, bersiap untuk merayakan ulang tahun kakeknya.
Agra dan Andra juga ada di sana, menatap tajam Arvin yang memiliki rencana untuk acara kakeknya.
"Kamu yakin Nay akan datang?" senyuman Agra terlihat, dia merasa lucu dengan kepercayaan diri Arvin.
"Sudah pastinya tidak." Andra yang menimpali, dari wajah Arvin juga sudah terlihat ada keraguan.
"Bagaimana caranya agar Naya bersedia datang?" Avin meminta pendapat kedua sahabatnya yang saling pandang.
Andra mengerutkan keningnya, tersenyum menatap Agra yang hanya diam saja. Avin juga menatap Agra yang keheranan karena arah pandang tertuju kepadanya.
"Apa?"
"Jemput Nay, dia tidak akan menolak jika yang datang pangeran Agra." Suara tawa Andra terdengar mengejek.
Arvin menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Andra. Naya berhubungan baik dengan Agra, dan pasti bisa bicara secara baik-baik juga.
Akhirnya Agra setuju, langsung melangkah pergi meninggalkan dua temannya yang hanya tersenyum melihat Agra keluar.
***
Suara Nay mengetuk meja terdengar, dirinya sedang kebingungan melihat undangan dari Arvin untuk merayakan ulang tahun kakeknya.
Urusan soal kekasih saja belum ada ujungnya, sekarang ada kakek juga yang akan muncul.
Nay melihat kalender Sabtu pukul lima, Nay benar-benar binggung untuk menghadiri acara kakek Arvin atau tidak.
Bel apartemen berbunyi, Nay mengintip sedikit dan melihat Agra di balik pintu.
"Dari mana Agra tahu soal keberadaan apartemen? pasti ulah manusia es." Nay membuka pintu sambil tersenyum.
Agra menyapa, langsung melangkah masuk setelah di persilahkan.
"Kenapa belum siap-siap?"
"Siap untuk apa?" Nay berpura-pura tidak tahu.
Agra langsung tertawa, menjelaskan jika dia datang untuk menjemput Nay ke acara kakeknya Arvin.
"Apa lagi yang Avin rencanakan?"
"Nay, kamu jangan khawatir. Aku, Andra dan Arvin akan menjaga kamu, sekarang kita sudah sekawan." Senyuman Agra terlihat, meminta Naya bersiap.
Senyuman Nay terlihat langsung mengganti bajunya, bersiap-siap untuk pergi bersama Agra.
__ADS_1
Mobil melaju meninggalkan apartemen, langsung berjalan menuju ke tempat acara. Di dalam mobil keduanya bisa tertawa sambil bercerita.
"Ada masalah apa sebenarnya Arvin?" Nay menceritakan soal beberapa bodyguard yang menyerang.
Nay masih penasaran siapa keluarga Arvin, kenapa dia memiliki banyak bodyguard dan juga bisa pergi dari rumah.
Kesepakatan apa yang dilakukan oleh Arvin sampai dia bisa kembali ke rumah, dan merayakan pesta kakeknya juga mengundang teman-temannya.
Agra tidak memiliki jawaban, dia hanya berjanji tidak akan meninggalkan Nay, akan membantunya Nay dalam kondisi apapun.
Naya tidak takut apapun, tapi dia hanya ingin berhati-hati dan tahu siapa lawan, apalagi berurusan dengan orang kaya.
Agra sangat mengerti kekhawatiran Naya, tapi Arvin anak baik dan tahu batasan dirinya harus bertidak.
Mobil berhenti di tempat pesta, Nay dan Agra berjalan masuk. Dari luar saja sudah terlihat kemewahan pesta, saat masuk ke dalam Nay tidak mempunyai kata-kata untuk mengungkapkan betapa mewahnya pesta.
Ruangan yang sangat besar, lampu penerangan di langit-langit berbentuk kristal mewah, tempat makanan juga dihias sangat indah.
Apapun yang ada di sana sangat luar biasa, Nay rasanya ingin lompat-lompat kesenangan.
Seseorang menyambut kedatangan Agra dan Naya, tersenyum melihat Agra dan terlihat biasa saja terhadap Naya.
"Nay, kenalkan dia Prilly."
Alis melihat dari kejauhan, langsung melangkah mendekati Naya, menarik tangannya untuk menjauhi Prilly.
"Kak Nay, jangan terlalu dekat dengan dia?" Alis menatap tidak suka.
"Prilly, dia cantik dan terlihat sangat kuat." Senyuman Nay terlihat menatap Prilly.
"Dia seorang penyihir."
Naya terkejut, bagaimana bisa seorang penyihir kenal dengan Agra. Alis tertawa maksudnya dia bukan penyihir asli, tapi sikap dan perilakunya mirip penyihir.
Naya tertawa, merasa lucu melihat tingkah Alis yang menjuluki orang penyihir, hanya karena dia tidak menyukainya.
Alis menceritakan jika Prilly kemungkinan memiliki perasaan kepada Agra, Nay memakluminya siapa yang tidak jatuh cinta kepada pria sebaik Agra.
Suara langkah kaki terdengar, Arvin berjalan bersama Andra mendekati Naya. Mereka berbicara sebentar, lalu melangkah mencari seseorang yang ingin Arvin kenalkan.
"Nay ikut aku."
"Ikut pulang?" Nay menahan tawa, melihat ekspresi Arvin yang terlihat kesal.
Tatapan tajam, langsung menarik tangan Naya untuk menemui kakeknya yang sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya.
__ADS_1
"Dia kakek mafia?" Nay mengikuti langkah Arvin yang memintanya untuk diam.
"Kakek," sapa Arvin tersenyum, menyapa teman-teman kakeknya, juga rekan bisnis kakeknya.
Arvin memperkenalkan Naya kepada kakeknya, Nay langsung tersenyum memperkenalkan diri. Tersenyum juga menyapa orang-orang yang menatapnya aneh.
Mata Naya melihat penampilannya, memang sangat berbeda dari orang lain, baju yang Nay gunakan tidak ada mereknya, juga bukan buatan seorang desainer.
"Kek, dia pacar Arvin yang ingin Arvin kenalkan." Senyuman Avin terlihat.
Senyuman kakek terlihat, nampak tidak menyukai Naya tetapi karena masih banyak tamu undangan, tidak ingin membuat suasana berantakan.
Terpaksa kakek menyambut ramah kehadiran Naya, mempersilahkan Nay untuk menikmati pesta.
"Temani Naya berkeliling Arvin, kamu boleh mencicipi makanan yang di masak oleh koki terbaik." Kakek tersenyum melanjutkan pembicaraannya dengan para tamu.
Nay dan Arvin melangkah pergi, melihat tatapan mata kakek Nay sudah tahu dan sangat yakin pasti kakek tidak menyukainya.
"Kakek kamu seram sekali, wajahnya memberikan ekspresi palsu." Bulu kuduk Nay berdiri.
"Jika kakek orang lemah lembut, tidak mungkin aku pergi dari rumah." Avin melangkah diikuti oleh Naya yang masih mengomel.
Seluruh tamu memperhatikan Naya yang berdiri di antara, Arvin, Andra, Agra, Alisha dan banyak anak-anak orang kaya lainnya.
"Seharusnya aku menceritakan soal pesta ini kepada Mami, mereka menatap kak Nay seperti orang buta." Kening Alis berkerut, menyalahi dirinya tidak menyiapkan baju terbaik untuk Nay.
"Bukan buta, tapi sebelah mata." Naya tersenyum melihat ekspresi Alis yang kesal.
"Sama saja kak, orang yang merendahkan penampilan orang lain artinya dia buta, tidak bisa melihat jika kak Nay cantiknya alami."
Andra langsung tertawa, melihat penampilan Nay wajar saja jika dipandang sebelah mata. Nay lebih mirip preman, tidak ada anggunnya sama sekali.
Naya memukul lengan Andra, sikap pria dewasa pemarah terlalu jujur tidak memikirkan perasaan orang lain asal bicara saja.
"Jangan mudah tersinggung, karena banyak orang yang memanfaatkan kelemahan untuk menjatuhkan. Percaya diri saja, selama kamu nyaman." Tatapan Andra mengagumi wanita seksi yang lewat.
Senyuman Nay terlihat, Agra benar ada sisi baik dari seorang Andra meskipun cara bicaranya tidak punya tata Krama
Ini pertama kalinya Nay hadir di pesta yang sangat mewah, tamu undangan juga cantik dan tampan karena bukan orang sembarang.
Dari kejauhan ada yang memperhatikan Nay dengan tatapan sinis.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1