KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
PINDAH


__ADS_3

Flash kamera memenuhi wajah Agra membuatnya kesulitan melihat, pengawal memberikan kacamata karena terlalu ramai media meminta konfirmasi soal hubungan Agra dan stafnya.


"Agra, apa benar kalian berpacaran, apa akan segera melangsungkan pernikahan?" tanya wartawan.


Senyuman Agra terlihat, hanya memberikan anggukan saja tanpa mengeluarkan suara. Bodyguard meminta wartawan memberikan jalan.


"Gra, apa benar kamu akan mengakhiri kontrak?"


Agra masuk ke dalam perusahaan tanpa memberikan jawaban apapun, staf yang menunggu Agra hanya bisa geleng-geleng.


"Apa itu alasan kamu tidak lanjut kontrak?"


"Ya, aku akan menikahi Prilly." Senyuman Agra terlihat karena dia ingin memiliki hubungan serius.


"Karir kamu akan jatuh Gra," tegur managernya.


"Kenapa, memangnya aku akan menikah menunggu usia empat puluh."


"Bukan begitu, seharusnya memilih wanita sesama selebriti, seseorang yang bisa menaikkan nama kamu, bukan hanya sekedar cinta." Pimpinan perusahaan memberikan Agra kesempatan untuk memikirkan kembali.


Kepala Agra menggeleng, dia sudah memutuskan dan tidak akan mengubah pendiriannya.


Kontrak sudah berakhir dan Agra mengucapkan banyak terimakasih atas kerja keras tim, juga perusahaan untuk membesarkan namanya.


"Kedatangan Agra hari ini untuk pamitan, terima kasih semuanya."


"Gra, tidak dipikirkan lagi, kita berhenti di sini?" kepala manager tertunduk.


"Aku masih ada, dan akan selalu memberikan musik terbaik. Siapapun masih bisa menemui aku, terima kasih atas dukungannya." Punggung Agra membungkuk mengucapkan banyak terimakasih.


Tidak ada yang bisa menahan Agra saat dia sudah memutuskan, membiarkan keluar perusahaan. Berharap akan tetap ada hubungan baik untuk memajukan musik di masa depan.


"Jangan ada yang menangis, aku hanya pindah perusahaan." Sebisa mungkin Agra menghibur tim yang selama ini mendampinginya.


"Gra, apa benar perusahaan yang baru milik Daddy kamu?"


Kepala Agra mengangguk, membenarkan jika perusahaan yang akan melakukan kontrak dengannya milik daddynya.


Agra melambaikan tangannya akan menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum dirinya benar-benar hengkang.


"Kak Agra, jangan lupakan kita," ucap seorang wanita.


Kedua tangan terentang ingin memeluk, tapi terhenti saat melihat Prilly muncul. Agra yang dulu mereka kenal sudah berbeda, dia memiliki pengawal hati.


"Halo Kak Pril, jaga Kak Agra baik-baik."


"Dia sudah besar bisa jaga diri sendiri, tidak perlu khawatir." Senyuman Prilly terlihat, mengikuti Agra yang akan melakukan pekerjaan terakhir kali.


Wajah beberapa staf cemberut, melihat Agra tersenyum manis kepada Prilly yang mengawasinya.

__ADS_1


"Akhirnya pemotretan brand selesai, terima kasih semuanya." Agra melangkah mendekati Prilly mengambil air minum yang sudah disiapkan.


"Ada beberapa fans yang menunggu di depan, apa tidak menyapa dulu?" tanya Prilly.


"Boleh, kita keluar bersama," pinta Agra mengejutkan Prilly.


Kepala Prilly menggeleng, dia takut akan terjadi kegaduhan jika diirnya muncul, harus menjaga perasaan penggemar juga.


"Kamu pergi sendiri, aku akan menghubungi supir untuk segera ke depan."


"Jika kamu tidak mau aku tidak akan menemui mereka, sampai kapan hubungan ingin disembunyikan?" Tangan Agra menggenggam jari-jemari berjalan bersama.


Jantung Prilly berdegup kencang, dia khawatir jika penggemar akan menyerangnya karena berani muncul bersama Agra.


Saat Agra keluar, kamera terarah kepadanya. Fokus media dan penggemar terarah kepada Prilly.


"Kak Pril, selama ini menjaga sebagai pengawal pribadi, tapi sekarang menjadi penjaga hati," teriakkan seorang penggemar terdengar.


Agra hanya tersenyum, merasa lucu melihat respon penggemarnya yang tidak menyerang Prilly, bahkan meminta media tidak menyorot wajah Prilly secara berlebihan.


Senyuaman Prilly terlihat, Agra mempersilahkannya masuk mobil lebih dulu, tapi Prilly meminta Agra yang lebih dulu.


"Duluan Agra," bentak Prilly marah.


"Kamu duluan," pinta Agra.


Akhirnya Prilly mengalah barulah Agra masuk, sorakan heboh bisa melihat Agra yang biasanya menciptakan lagu sedih, menunjukkan suasana hati yang bahagia.


Beberapa penggemar meneteskan air mata, merasa terharu melihat Agra yang mempunyai kebahagian baru.


"Kenapa kita harus debt di saat situasi begitu, kamu harus bisa bedakan hubungan pribadi dan pekerjaan," jelas Prilly menujukkan ekpresi serius.


Senyuaman Agra terlihat, dia hanya tertawa kecil melihat kekasihnya marah. Bagaimana mungkin Agra tega menjadikan wanitanya sebagai penjaga.


''Kamu lucu kalau lagi marah," ucap Agra menahan tawa.


"Aku tidak marah, tapi memang begini aku jika bicara," balasnya dengan nada penuh tekanan.


Kepala Agra mengangguk, meminta supir pergi ke kantor baru karena Daddy dan tim sudah menunggu.


Helaan napas Prilly terdengar, mengecek ponselnya yang sedang mengecek grup untuk tim terbaru Agra.


"Chat siapa?" tanya Agra penuh rasa curiga.


"Pekerjaan Agra, kenapa penasaran sekali?"


"Siapa tahu kamu berkomunikasi dengan pria lain, tidak boleh." Agra tidak mengizinkan Prilly dekat dengan pria manapun.


Tawa Prilly terdengar, Agra terlalu berlebihan. Apa yang Prilly lakukan pastinya bersangkutan dengan karir Agra.

__ADS_1


Supir pribadi yang daddy kirim untuk menjaga Agra hanya menahan tawa, sikap Agra nampak sekali bucin kepada kekasihnya.


"Aku hanya khawatir," ucapannya yang takut diduakan.


"Kekhawatiran kamu tidak jelas, apa aku punya waktu untuk itu?"


"Oh tentu, ada banyak peluang jika tidak berhati-hati, sebelum kehilangan lebih baik antisipasi." Senyuaman Agra terlihat mengusap kepala Prilly lembut.


Pukulan kuat mendarat di paha, mata Agr terpejam mengusap pahanya yang terasa panas. Prilly tidak bisa bercanda sama sekali.


Agra terdiam menerima perlakuan kekasihnya, selama ini Prilly bicara pelan dan sebutuhnya saja, tapi sekarang lebih banyak hal yang bisa mereka bicarakan.


"Siapa pria itu?" tanya supir yang menghentikan mobil sebelum diparkirkan.


Prilly dan Agra melihat ke arah depan, seorang pria menyingkir saat mobil ingin parkir di kantor baru daddy.


Tatapan Agra tajam, melihat jelas siapa yang datang, Prilly menatap Agra yang tersenyum kecil.


"Aku menemuinya dulu, kamu masuk saja." Agra keluar dari mobil.


"Agra, ini Papa, Nak."


Kepala Agra mengangguk, dia tahu tanpa diberitahukan, tidak mungkin dirinya lupa wajah papanya meskipun delapan tahun sudah berlalu.


"Ada urusan apa?"


"Papa mendapat kabar dari teman sesama pemusik jika kamu pindah perusahan. Kenapa Agra, padahal di perusahan lama sudah menjamin kontrak terbaik untuk karir kamu?"


"Apa itu perusahan Papa?" Agra tertawa melihat kepala Papa menggeleng.


Senyuman Agra terlihat, jika bukan berarti tidak ada yang akan menjamin besar dan kecilnya nama Agra di dunia musik.


"Aku lebih pilih perusahaan ini karena ini perusahaan daddy, sudah pasti Agra akan merasa nyaman, aman juga mendapatkan perlakuan terbaik." Agra sangat beruntung memiliki daddy yang hebat.


Papa terdiam melihat Agra yang memamerkan jika daddynya kaya, dan bisa membahagiakan mama juga diirnya.


Juah berbeda dengan papa yang pilih pergi, meninggalkan mamanya yang terlilit hutang hingga Agra harus bekerja di cafe.


"Aku permisi," pamit Agra tidak ingin mengatakan apapun lagi.


Senyuaman sinis terlihat, hati Agra lega melihat papanya akhirnya tahu jika dirinya dan mama bahagia.


"Bisa sempatkan waktu untuk makan bersama Gra, ada kamu dan Mama?"


Kepala Agra menggeleng, mungkin dirinya bisa, tapi tidak untuk mama yang sudah memiliki keluarga baru.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2