KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MENUNGGU


__ADS_3

Jam pulang tiba, Nay langsung berdiri semangat empat lima ingin segera pulang.


"Nay, kamu pulang bersama Arvin?" mata Nana berkedip menggoda.


"Memangnya aku ibunya yang harus mengantar dan menjemput dia pulang." Nay melambaikan tangannya ingin segera pulang.


Langkah Nay pelan, dia ingin menghindari beberapa pengacau terutama Erin. Berita heboh soal dirinya dan Arvin pasti sudah sampai ditelinga nenek lampir.


Naya sedang malas bertengkar, jadi lebih baik dia menghindari keributan.


"Apa yang aku lupakan? sepertinya ada sesuatu yang penting terlupakan." Langkah Naya sangat pelan mencoba mengingat sesuatu, tapi sulit untuk ingat.


Naya langsung keluar dari kampus, melangkah ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhannya.


Cukup lama Nay berkeliling untuk cuci mata sambil menghabiskan waktu sendiri, tanpa ada pengganggu.


Suara Alis mengomel sudah terdengar, mereka kelamaan menunggu Kanaya keluar dari kelas, bahkan sampai kampus sepi.


"Kak Nay di mana? kita sudah janjian untuk bertemu di sini."


"Sudahlah aku ingin pulang." Andra berjalan ke arah mobil.


"Dra, kita langsung ke rumah Naya saja. Semua mahasiswa sudah pulang, mungkin Nay melupakan kita." Agra merangkul Andra yang terlihat kesal.


Arvin juga melangkah bersama Prilly, bibir Alis monyong melihat Prilly juga ikut berkumpul bersama mereka. Meskipun Alis tidak begitu menyukai Pril, tapi karena dia pengawal pribadi Arvin akhirnya Alis membiarkan.


Sesampainya di apartemen Naya, pintu terkunci. Alis mendobrak pintu, tapi tidak memberikan hasil apapun.


"Kak Arvin buka."


"Aku tidak mempunyai kunci." Avin duduk di depan pintu menunggu Naya.


"Astaga apa gunanya kalian tinggal bersama, menyebalkan." Alis duduk di samping Arvin mirip orang gila yang kelaparan.


Suara Alis mengomel menjadi lagu yang menyakitkan telinga, melihat apartemen Naya yang sangat kecil juga tidak modern sama sekali.


Bahkan banyak coretan di dinding, keamanan juga tidak terjaga sama sekali membuat Alis khawatir Nay tinggal sendirian.


"Ya Tuhan, Naya satu-satunya manusia yang membuat aku menunggu selama ini." Andra berteriak membuat yang lainnya tertawa.


Ucapan Andra ada benarnya, Nay mengubah banyak hal kebiasaan mereka. Tidak ada yang berani bertarung dengan Andra selain Nay, bahkan Andra kalah adu mulut.


"Aku tidak sanggup lagi, lebih baik kita pulang."

__ADS_1


"Sabar Dra." Suara tawa Agra terdengar, merasa lucu melihat dua bersaudara yang seperti cacing kepanasan.


Satunya sibuk berkomentar soal lingkungan apartemen, membandingkan dengan apartemen lain, bahkan sampai mengintip ke dalam untuk mengecek isinya.


Sedangkan Andra sejak menunggu di kampus sudah sulit kontrol emosi, tapi berusaha untuk tenang, karena yang dia tunggu wanita aneh.


Dari kejauhan Naya berlarian, wajah Nay terlihat kaget melihat Agra, Andra, Arvin, Alisha, dan Prilly ada di depan apartemennya.


"Dari mana kamu Nay? kita sudah menunggu kamu tujuh purnama." Kemarahan Andra terdengar, menggedor pintu meminta segera dibuka.


Mereka mirip gelandangan yang menumpang berteduh di emperan toko, menjadi pusat perhatian banyak orang, sangat memalukan.


"Maaf Nay lupa jika kita ada janji, pantas saja dari tadi seperti ada yang terlupakan." Nay nyengir melihat Arvin dan Alis duduk dengan wajah memelas.


"Kak Nay tega sekali, Alis yang cantik ini dilupakan." Suara Alis merengek terdengar langsung memeluk Naya.


Senyuman Nay terlihat, mengusap kepala Alis yang sangat manja. Suara Alis seperti anak kecil yang ditinggalkan oleh ibunya.


Nay menepuk jidat melihat Arvin bersama Prilly yang duduk, Andra menempel di pintu seperti anak yang diusir dari rumah.


Agra langsung menyambut belanjaan Naya, membantunya membawakan belanjaan yang membuat terlambat pulang.


Senyuman Nay terlihat, membukakan pintu lalu melihat ke arah orang-orang yang sedang menunggu pintu terbuka.


Tawa Naya pecah merasakan lucu melihat wajah satu-persatu yang terlihat kesal selain Agra.


Semuanya masuk ke dalam melihat seisi apartemen yang sangat sederhana, Andra berkeliling melihat bangunan yang sederhana, tapi setidaknya cukup aman.


"Kak Nay, kenapa kak Avin tidak memiliki kunci apartemen padahal kalian pacaran?" Alis menatap tajam, mengecek sekeliling barang-barang Nay yang hanya sedikit.


Suara Alis mengomel kembali terdengar, dia kebingungan tidak melihat sofa untuk duduk karena semuanya duduk dilantai.


"Di mana sofa?" Alis masuk ke satu ruangan yang membuatnya teriak.


Avin menarik Alis untuk diam dan duduk di lantai, berhenti mengomel karena apartemen berbeda dengan di rumah.


Prilly menggelengkan kepalanya, heran melihat anak orang kaya yang mulutnya tidak memiliki rem.


"Di mana makanan?" Alis berdiri kembali mengecek makanan yang tidak ada.


Alis menatap sedih, sebenarnya apa tujuan mereka datang jika makanan saja tidak ada. Rencana traktir makan, tapi tidak ada makanan yang sudah disiapkan.


Kanaya tersenyum mendengar ocehan Alis, meskipun Naya tahu jika Alis gadis yang manja karena anak perempuan satu-satunya.

__ADS_1


Di dalam hati Nay berpikir ingin memberikan Alis pelajaran, karena ucapan tidak sopan dan terlalu ceplas-ceplos tidak memikirkan perasaan orang lain.


"Alis sudah cukup, masalah makanan kita harus masak dulu?"


"Hmz, kak Andra hubungi Mami untuk membelikan apartemen baru."


Andra menolak, apartemen Nay memang kecil tapi sangat strategis. Lingkungan nyaman dan juga aman, dekat ke kampus juga pusat perbelanjaan.


Melihat Nay yang tinggal sendirian, dia tidak membutuhkan banyak barang yang akan membuat apartemen terasa sempit.


"Andra pintar soal lokasi yang bagus, hal yang paling penting dari semua yang Andra sebutkan harganya murah." Nay betah di apartemen yang sederhana.


"Aku juga betah." Arvin bicara singkat, tapi bisa membuat Agra tertawa lepas, sedangkan Alis tertawa mengejek.


Nay menatap tajam, dia mulai tidak nyaman saat ada beban kehidupan masuk apartemennya seperti seorang raja.


"Hari ini kita makan apa?"


"Alis ingin pizza."


"Tidak ada pizza Alis, kamu diam saja Nay sebagai pemilik rumah akan mengurus makanan kita." Andra langsung duduk memainkan ponselnya.


"Kalian tidak ada yang punya nomor Nay ya? kenapa kita menunggunya sangat lama?" suara Prilly terdengar sangat pelan.


"Kenapa baru bicara sekarang?" Alis menatap kesal, tidak terpikirkan untuk menghubungi Nay.


Pandangan Alis terlihat sangat tidak menyukai Prilly, Nay mempunyai rencana mengerjai Alis sekaligus memberikannya pelajaran yang dari tadi sangat cerewet.


Nay meminta semuanya duduk diam, dia akan memasak hotpot. Meminta Alis yang membantunya memasak.


Alis langsung kaget, dia tidak pernah masak. Bagaimana caranya dia membantu, makan saja harus disiapkan oleh koki.


"Ayo Alis bantu kak Nay."


"Boleh tidak bantu doa saja."


"Tidak boleh, jika kamu tidak ingin membantu maka tidak boleh makan." Nay berjalan ke dapur untuk menyiapkan bahan-bahan makanan.


"Kejam sekali, lebih kejam dari ibu tiri." Bibir Alis monyong langsung mengikuti Naya.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


***


__ADS_2