
Tubuh Arvin lemas keluar dari ruangan operasi, melakukan pekerjaan berjam-jam di tengah kesibukan pernikahannya.
"Dokter Avin, diam-diam ternyata punya kekasih," goda dokter lain yang sudah mendapatkan undangan pernikahan.
"Iya, jangan lupa datang."
"Pasti calonnya bukan orang sembarangan." Dokter mengikuti Arvin yang tersenyum kecil.
"Makanya dilihat undangannya." Arvin melangkah masuk ke ruangan.
Di ruangan perkumpulan para dokter heboh, melihat undangan pernikahan Dokter Arvin dan Dokter Alisha.
Tidak ada yang menyangka jika dokter cantik yang menghebohkan rumah sakit ternyata kekasih dokter Arvin.
"Dokter Alis, apa benar dokter yang akan menikahi Dokter ...."
"Iya, Dokter Arvin sudah selesai operasi?" tanya Alis sambil tersenyum menuju ke ruangan Arvin.
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" tanya Dokter Obgyn yang menyukai Arvin sejak awal.
Alis masih tetap tersenyum, dia mengenal Dokter Arvin sudah lama. Avin sahabat Kakaknya, bahkan memutuskan menikah secara bersamaan.
"Siapa Kakak kamu?" tanyanya kembali.
"Andra, pimpinan AA grup berserta cabang dan jajarannya."
Beberapa Dokter terkejut, ternyata Alis bukan orang sembarangan. Dia Adik dari pimpinan AA grup yang terkenal di beberapa negara.
Tidak heran Arvin bisa menikahi Alis karena dia juga Putra pengusaha sukses, Arvin juga Adik dari selebriti terkenal.
Tangan Alis melambai melangkah pergi ke ruangan Arvin untuk pulang bersama, ada acara keluarga di rumah Alis sekaligus kumpul keluarga besar untuk persiapan pernikahan.
"Sayang, sudah ganti baju?" tanya Alis menatap Arvin yang sudah rapi.
"Iya, kenapa masih di rumah sakit, bukannya sudah waktunya pulang?"
Senyuman Alis terlihat, dia sengaja menunggu calon suaminya untuk pulang. Tidak sabar lagi menunggu hari H.
"Alis rasa sekarang identitas kamu terbongkar, maksudnya kita." Kedua tangan Alis melingkar di leher.
"Emh, sekarang mereka akhirnya sadar diri jika wanita cantik ini milikku." Arvin menyatukan hidungnya dan Alis.
"Ayo pulang, Mami sudah menghubungi aku sedari tadi."
"Andra dan Naya sudah datang?"
"Mustahil keduanya datang cepat, Andra masih di luar kota, Kanaya meeting. Biarkan mereka menjadi pasangan paling sibuk." Alis keluar ruangan diikuti oleh Arvin yang sedang menghubungi Andra.
Panggilan terjawab, Andra meminta tidak menghubunginya jika tidak penting, Andra sedang asik sibuk.
"Sudah pergi belum?"
"Aku di rumah sekarang bodoh, main game bersama Agra. Kita yang menikah, dia yang mengambil cuti. Memang manusia aneh." Andra mematikan panggilan meminta Arvin segera datang.
Tawa Agra terdengar saat dia memenangkan pertandingan, Andra teriak histeris karena kemampuan bermainnya sudah turun drastis.
Andra yang dulunya jagoan dalam bermain game kini sudah dibawah Agra, terlalu lama tidak berlatih kemampuan hilang.
"Dra, aku menang?"
"Terbukti jika kamu gagal Dra, katanya ingin membuat perusahaan game," sindir Naya yang sudah ada di kamar Andra.
Nay menatap sebuah miniatur bangunan gedung mewah terlihat, Andra memiliki impian membuat perusahaan game terbesar.
Dia baru mulai merintis, merambat ke perusahaan game karena hobinya bermain game.
"Kamu hanya membutuhkan tim yang besar Dra, maka keinginan bisa terwujud," ujar Agra yang percaya Andra bisa.
Senyuman Andra terlihat, membangunkan tidak semudah membuat produk. Sekitar sepuluh tahun ke depan dia akan menikmati hasilnya.
"Sepuluh tahun ke depan, aku harap ada jagoan kecil yang mengikuti jejakku untuk membuat perusahaan besar dan mampu dinikmati jutaan orang." Andra sudah membayangkan betapa indahnya saat memiliki teman kecil.
Senyuman Agra terlihat, dia percaya jagoan itu akan muncul dan melanjutkan persahabatan mereka.
Kanaya melempar keduanya menggunakan bantal, enak sekali mengatakan ingin cepat membuat baby tanpa sadar jika mengandung, melahirkan, menyusui hingga membesarkan tidak mudah.
"Namanya juga berkhayal sayang, sesekali bolehlah." Andra memanyunkan bibirnya.
"Wanita bisa mencari uang sama seperti lelaki, tapi lelaki tidak bisa mengandung apalagi melahirkan." Tatapan mata Naya tajam.
"Ya sudah aku yang membesarkan, kamu cukup mengandung dan melahirkan, tidak mungkin menikahi kamu, minta anak sama tetangga."
Terikkan Agra terdengar, menutup mulut Andra memintanya untuk tidak menimpali ucapan wanita.
Jika tidak ingin ada perang dunia lebih baik mengalah, Andra tersenyum karena dia dan Naya sudah biasa bertengkar.
"Nay, sesekali kurangi ego, lelaki dan wanita sudah memiliki kodratnya masing-masing." Senyuman Agra terlihat membela Andra.
"Aku tahu Gra, tapi jangan bicara begitu, harapan kalian ingin memiliki anak juga dirasakan oleh kaum ibu, mungkin perasaanya ingin memiliki jauh lebih besar. Bagaimana jika memiliki itu tidak semudah mengharapkanya," jelas Naya memberikan peringatan.
Kepala Agra mengangguk, Kanaya benar jika berencana boleh namun tidak terlalu mengungkit dan berharap secara berlebihan karena bisa membuat patah hati seandainya terlambat.
"Kita harus berusaha tiap malam sayang, demi kamu gendut." Tawa Andra terdengar saat rambutnya dijambak Naya.
"Andra Andra, sekarang otak kamu mulai kotor." Agra memukul paha Andra kuat lanjut main game.
Tidak berselang lama Prilly masuk, duduk di samping suaminya memasang wajah manyun. Terlihat sekali sedang sedih.
"Ada apa Kak Alis?" Naya melihat mata merah ingin menangis.
"Sayang, lihat baju Alis dan Naya, Prilly juga mau," pintanya.
Agra melihat gaun, Prilly juga ingin pesta bersama yang lainnya. Menggunakan gaun yang sama, duduk di pelaminan.
Andra menelan ludah pahit, melihat ke arah Naya yang juga melonggo binggung. Bisa-bisanya Prilly ingin ikut pesta lagi.
"Kak Prilly tahu jika Agra itu publik figur?"
"Ya, tapi di sana tidak ada wartawan, tidak apa ikut-ikutan paling penting bisa pesta."
Kepala Agra pusing, memang sejak tahu Andra Arvin menikah istrinya merengek ingin ikut ukur baju, menggunakan gaun layaknya pengantin.
"Apa kita juga harus jadi pengganti lagi?"
"Iyalah, masa Prilly sendirian." Wajah memelas terlihat berharap Agra mengizinkan.
Helaan napas terdengar, Agra tidak tahu. Dia harus bicara dulu dengan Mamanya, apalagi gaun belum ada.
Besok pagi Andra Naya, Alis Arvin akan mengucap janji, malamnya baru pesta. Prilly harus mendapatkan gaun sebelum malam.
Tidak ada respon dari Andra dan Naya keduanya juga binggung karena jarang sekali Prilly memiliki permintaan, jika ditolak pasti melukai hatinya.
"Andra terserah saja, lagian pesta tidak penting." Andra hanya mengutamakan janji pernikahan bukan pesta.
Siapapun yang ingin jadi pengantin di persilahkan, tidak ada larangan jangan sampai saja mempelai wanita tertukar.
"Aku bicara sama Mama dulu," ucap Agra yang tidak ingin langung mengiyakan.
Air mata menetes, Agra terduduk lemas langsung iya. Terserah setuju apa tidak Mamanya paling penting istrinya senang.
Suara Arvin muncul dari balkon terdengar, tersenyum melihat semuanya kumpul, Alis memasukkan kepalanya melihat semuanya ada di kamar kakaknya.
"Lis, Prilly juga mu pesta, dia ingin baju pengantin," ujar Naya.
"What, bukannya kalian sudah pesta?" tanya Alis.
"Dua pengantin saja sudah sempit, bagaimana bisa tiga pengantin?" Arvn tidak setuju karena pelaminan hanya ada dua untuk dua pasangan.
Mereka seperti area perkumpulan pengantin sampai ada tiga pasangan. Mendengar penolakan Arvin, tangis Prilly kencang merasa tersinggung.
Dia langsung keluar dari kamar, Agra juga keluar meminta Prilly berjalan perlahan. Mami juga menghentikan Prilly mengusap wajah menatap tajam Agra.
"Apa yang kamu lakukan Agra?" tegur Mami.
"Prilly ingin ikut pesta," jelas Agra sedetail mungkin agar Mami bisa memberikan solusi.
Mami menatap Mama yang juga sama binggung. Mereka tidak mempermasalahkan keinginan Prilly, dia hanya minta pesta bukan nikah lagi.
"Avin ngak ngizinin," ucap Prilly berderai air mata.
"Boleh boleh lakukan saja, Avin salah bicara tadi." Senyuman Arvin terlihat meminta maaf.
Daddy menepuk punggung Arvin yang suka jahil, belum tahu saja jika perempuan mengamuk hancur dunia.
"Besok pagi-pagi siap, jangan ada yang beralasan kerjaan." Papi memberikan peringatan.
Tawa Alis terdengar, menghubungi WO untuk meminta satu gaun lagi, ukuran tubuh Prilly sudah diukur sebelumnya karena dia memesan baju khusus bersama keluarga.
Tim WO bergerak cepat mengabulkan keinginan keluarga, tidak ada penolakan karena Alis tidak masalah menambah harga.
"Kak Prilly hamil," tebak Naya memantau dari lantai atas.
"Cepatnya, tidak mungkin. Mereka baru beberapa bulan menikah, nanti saja." Andra yang menolak masih berharap jarak usia anak-anak tidak berjauhan.
Cubitan Naya kuat, jangankan beberapa bulan jika sudah waktunya. Tidak harus anak pertama yang bersahabat, bisa anak kedua dan ketiga.
"Perubahan sikap Prilly karena hamil, pantas saja." Kepala Andra mengangguk, ternyata temannya hebat juga bisa membuat anak.
Senyuman Naya terlihat ikut bahagia jika dugaannya benar, tidak mungkin Prilly yang biasanya dingin bisa berubah sikap.
Semuanya kumpul membicarakan soal pernikahan esok pagi, Naya melihat gaun yang sudah siap terlihat sangat indah.
"Rasanya menunggu esok pagi lama sekali," gumam Andra yang tidak sabaran.
"Besok hari yang cukup bersejarah." Avin merangkul Andra ingin tidur bersama.
Daddy pamit untuk ke hotel karena Raya sudah tidur, besok pagi akan bertemu di tempat ibadah menikahkan anak-anak.
"Tidur di sini saja ada banyak kamar kosong, besok kita pergi bersama-sama," tawar Papi.
"Malam ini Kak Naya dan Prilly tidur bersama Alis."
__ADS_1
"Jadi kita tidur bertiga?" Agra menatap Andra Arvin yang berjalan lebih dulu.
Andra berlari ke kamarnya bukan untuk tidur, tapi bermain game. Jarang sekali mereka bisa memiliki banyak waktu untuk bermain.
Agra memeluk Prilly meminta tidur lebih dulu, Alis sudah mengurus soal gaun. Arvin menarik Agra untuk sesekali tidak tidur dengan istrinya.
"Andra jangan main game, awas besok bangun siang," teriakkan Mami terdengar melihat Putranya yang hobi main game.
"Oke oke, cepat kalian berdua ke sini. Sudah delapan tahun kita tidak perang." Andra duduk di kursinya.
"Kalian yakin ingin main, ini sudah jam sepuluh. Besok jam empat bangun." Agra menarik kursinya.
"Berisik Gra, kamu bertambah bawel." Andra memukul pundak Arvin untuk segera duduk.
Senyuman Agra terlihat, ikutan bermain. Suara berisik di dalam kamar terdengar tiga pria teriak-teriak.
Tidak ada yang sadar jika sudah larut malam, kamar yang kedap suara membuat aman dari luar.
"Ah sial, keyboard bodoh!" Andra memukul keyboard.
Pintu terbuka lebar, Mami berteriak kuat mendengar suara di dalam kamar seperti ruangan perang.
Tiga kepala menolak, menghentikan permainan menatap Mami yang membawa sapu.
"Kalian tahu ini jam berapa, cepat tidur sudah jam tiga pagi. Jam lima bangun," bentak Mami.
Semua komputer dimatikan, Andra langsung lompat ke atas tempat tidur begitupun dengan Agra dan Arvin yang naik ranjang.
Pintu ditutup kuat, Andra bangkit lagi tidak bisa tidur mengecek jam yang memang sudah pukul tiga.
"Dra, masih ingat saat pertama kali kita main ke rumah ini?" tanya Agra.
"Emh, kamar ini kita buat jadi ruangan game. Saat Mami tidak ada berhamburan semua." Andra terseyum menatap lampu.
"Kalian berdua yang paling gila, akhirnya aku yang jadi korban kecanduan." Avin geleng-geleng kepala karena lanjut main game di hanphone.
Ponsel Arvin disita, dia seorang dokter namun masih saja gila game. Tidak tahu nasib pasiennya jika dokternya kecanduan.
"Aku tidak separah Andra," balas Arvin memejamkan mata.
"Meskipun kita gila ada batasnya, kerja waktunya kerja, main waktunya main, tidur waktunya tidur." Andra memejamkan matanya diiringi jempol Arvin.
Pria dewasa dia yang bisa mengatur waktu, bisa membaginya untuk hal penting atau main-main.
Suara dengkuran terdengar, tiga pria akhirnya terlelap setelah mendapatkan teguran keras dari Mami Andra.
Suara berisik di luar kamar terdengar, mobil yang akan mengantar pengantin juga sudah dipersiapakan, make up jug sudah ada di kamar untuk menghias Naya dan Alis.
Keduanya sudah bangun sesuai jadwal, hanya Prilly yang masih tidur karena dia make up malam.
"Kak Naya tidak menyangka kita kan menikah secara bersamaan," ucap Alis menatap wajahnya yang sudah make up.
"Iya, semoga hubungan kita sellau baik seperti ini." Senyuman Naya terlihat menyentuh rambutnya yang sudah di ikal bergelombang.
Rambut Alis disanggul atas, mahkota juga sudah terpasang, begitupun dengan Naya yang sudah pasang mahkota.
"Kak Pril bangun, mandi." Alis menatap Prilly yang malas-malasan bangun.
"Bumil lagi malas-malasan," tegur Naya mengejutkan Alis.
Keduanya langsung diam, Prilly bangkit dari atas tempat tidur bergegas untuk mandi karena sudah jam tujuh pagi.
Seluruh keluarga sudah make up, siap berangkat ke tempat mengikat janji. Naya dan Alis juga keluar kamar menggunakan gaun.
"Di mana Andra Mi?"
"Andra, ya tuhan. Mami sampai lupa di mana dia, kenapa batang hidungnya tidak terlihat." Mami bergegas ke kamar membuka pintu.
Mulut Mami menganga melihat tiga pemuda masih tidur mengorok, Mama juga sama kagetnya.
Saat semuanya terburu-buru untuk pergi, tapi calon pengantin mandi juga belum. Teriakkan Mami terdengar membangunkan ketiganya.
"Gila kalian berdua, ini hampir jam delapan kita harus memulai acaranya jam delapan pagi langsung ke gedung untuk persiapan pesta." Mami menatap tajam Andra dan Arvin yang mengusap wajah masih nampak terkejut karena bangun secara dadakan.
"Sudah jam lima ya Ma?" tanya Andra yang merasa mais mengantuk.
"Jam delapan, ini hampir jam delapan. Kamu mau menikah tidak Andra Arvin, ya tuhan." Mami mengelus dada melihat keduanya.
Tawa Agra terdengar melihat jam karena kesiangan, Andra yang mengajak bermain sampai larut, dia juga yang telat pergi.
Tidak ingin menunggu Andra Arvin akhirnya pengantin wanita pergi lebih dulu karena jarak tidak terlalu jauh, di sana masih banyak persiapan yang ingin dilakukan.
"Mana Arvin Mi?" tanya Alis.
"Baru bangun, gila sekali. Otak mereka sudah geser, di hari penting bangun kesiangan." Kepala Mami pusing karena para orang tua yang sibuk sedangkan anak-anak tidak ada rasa cemas sama sekali.
Lirikan mata Kanaya tajam memilih pergi lebih dulu, terserah Andra yang kebiasaan selalu lupa waktu jika main game.
"Ayang, tunggu aku lima menit." Andra berteriak dari lantai atas masih menggunakan handuk.
"Setelah kita menikah aku akan mematahkan leher kamu." Naya melirik sinis.
Alis tertawa kecil melihat iparnya yang sangat emosional, sedangkan Kakaknya hobi memancing emosi.
Pasangan yang sangat komplit, ada saja alasan untuk bertengkar. Naya masuk ke dalam mobil masih menunggu Andra yang selesai mandi.
"Minggir," teriakkan Andra terdengar hanya mandi dalam waktu lima menit.
"Andra Andra ada saja tingkahnya. Arvin Alis nyusul." Mama geleng-geleng melihat Andra sudah masuk mobil.
"Maaf, aku ketiduran lagi." Andra meminta bantuan Naya merapikan rambutnya.
"Lagian aneh sudah tahu ada acara sibuk main game, akhirnya kesiangan." Naya membersihkan wajah Andra, mengoleskan pelembab di wajah.
Kesalahan bangun siang akhirnya Naya yang make over calon suaminya, Andra duduk santai saja menggunakan parfum karena tidak sempat mandi lama.
"Kanaya, kamu cantik sekali." Andra menyentuh bibir Nay.
"Jangan macam-macam," ancam Naya yang siap mengigit jari.
Tiba di tempat acara sudah cukup ramai karena dihadiri oleh para jamaat yang biasanya beribadah di gereja.
Pendeta tersenyum melihat keluarga Andra datang, pengantin pertama sudah tiba secara bersamaan.
"Maaf kita terlambat, bukan karena jarak jauh namun ...."
"Pengantin prianya yang telat," tebak pendeta tertawa kecil karena bisa melihat dari wajah Andra yang masih mengantuk.
Papi tertawa kecil, melangkah ke tempat duduknya untuk segera menyaksikan prosesi pernikahan.
Tangan Andra berubah dingin, dia belum latihan cara berjalan ke altar, belum menghafal janji pernikahan yang harus dia ucapkan.
"Sangat sangat niat, tapi lupa karena terburu-buru." Andra menujukkan wajah penuh rasa bersalah.
Cubitan Kanaya kuat ke arah perut, Andra membungkam mulutnya karena ada kdrt sebelum menikah.
Hati Naya kesal sekali melihatnya, Naya bangun dari sujud karena tidak sabar lagi ini ingin menikah, tapi Andra dengan santainya kesiangan.
"Ampun, sekarang aku sudah hafal." Andra mengusap perutnya yang sakit.
"Kenapa saat menikah juga harus bercanda, kamu serius tidak?"
"Kanaya, tidak ada sangkut pautnya keterlambatan dengan keseriusan. Dari kemarin aku deg-degan pilih main game karena tidak bisa tidur kepikiran terus." Andra menatap tangannya yang berkeringat dingin.
Mata Naya tertutup, meminta Andra tarik napas perlahan hembusan. Lakukan beberapa kali sampai grogi hilang.
Kanaya terseyum meminta Andra juga tersenyum, berjalan bersama ke arah altar disaksikan oleh keluarga juga Jamaat yang hadir.
"Terima kasih sudah bersedia berjalan bersama ku, aku pikir ini hanya mimpi jika iya jangan bangunkan aku." Andra terseyum mengenggam tangan Naya.
"Sama, aku pikir ini hanya mimpi. Memiliki kamu mimpi terindah yang aku inginkan," ucap Naya dengan nada pelan.
Pengantin berhadapan, Andra merapikan rambut Naya, jantungnya yang berdegup perlahan tenang karena bisa melihat wanita yang dicintainya ada dihadapannya menggunakan gaun pernikahan.
"Nay, menua lah bersamaku," bisik Andra penuh cinta.
"Rasanya aku ingin menampar kamu," balas Naya dengan bisikan pelan.
Wajah cemberut Andra terlihat, Naya menggunakan tangannya membersihkan kotoran mata, meskipun suaminya amburadul tidak mengurangi tampannya.
Pertama kali Naya melihat orang yang ingin menikah bangun kesiangan, begitulah ANdra dia terllau bersemangat sampai lalai pas di hari H.
"Maaf sayang, apa aku hari ini tampan?"
"Masih tampan Delon," jawab Naya pelan melihat Delon menggendong Putranya.
Senyuman Syifra terlihat ke arah Andra yang membalas dengan senyuman tipis, keduanya fokus menghayati proses doa bersama pendeta.
Andra dan Naya membungkukan badan meminta restu kepada kedua orang tua, tidak berselang lama Agra muncul bersama Prilly yang sudah rapi.
"Lamanya," batin Andra tidak sabar lagi.
"Dimulai dari mempelai pria untuk mengucapkan janji," ucap Pendeta mempersilahkan Andra.
Tangan Andra terangkat setengah menatap Kanaya yang fokus ke arahnya, melihat ekspresi pecicilan Andra membuat Naya kesal, tapi dia paham Andra memnag tidak bisa diam dalam hal apapun.
"Aku Andra ... Berjanji untuk setia dalam suka maupun duka ...." Andra mengucapkan janji pernikahan di depan para jamaat.
"Aku Kanaya ... Berjanji akan menjadi istri yang setia dalam suka maupun duka ...." Naya tersenyum melihat Andra setelah menyelesaikan janjinya.
Suara tepuk tangan terdengar, Andra mengecup kening Naya, memeluk lembut. Naya meneteskan air matanya karena di hari bahagianya tanpa orang tua.
"Kenapa menangis?" Andra mengusap air mata karena Naya yang dulunya kuat ternyata memiliki hati yang sangat lemah.
"Andra aku kangen ibu ayah, apa mereka menyaksikan pernikahanku?" Nay memeluk suaminya menyembunyikan wajah.
"Emh, Ibu Ayah pasti bangga sama kamu, putrinya sudah tumbuh dewasa dan memiliki pasangan. Menangis saja, kamu jarang membicarakan soal orangtuanya," ucap Andra pelan ikut sedih karena tubuh Naya bergetar di hari bahagia dia tidak memiliki keluarga.
Mami tersenyum meminta Naya tersenyum, kepala Mami menggeleng tidak mengizinkan menangis di hari bahagia.
Naya atur napas tersenyum ke arah Mami ang selalu mensupport, menatap Agra yang menyemangati.
__ADS_1
"Aku bahagia menjadi bagian dari kamu Dra," ucap Naya menunjukkan senyuman.
"Iya, aku juga bahagia." Andra tersenyum lebar.
Cincin melingkar di jari keduanya, ditunjukkan ke arah keluarga yang tersenyum lebar. Mami mengusap air matanya.
Tatapan Andra ke arah seorang wanita yang muncul, Rose melihat Andra menikahi Naya di tengah kehancurannya.
Kanaya membungkukan badannya memberikan hormat. Rose melangkah pergi kembali tidak ingin menganggu hari bahagia Andra.
"Kenapa wanita itu datang ke sini?" Mami melihat ke arah Andra yang cuek saja.
"Jangan, bagaimanpun dia juga seorang ibu, sampai kapanpun bagi Andra kamu ibunya, tapi dia juga harus menghormati Rose sekalipun pernah disakiti." Papi menggenggam tangan Mami yang tidak boleh mengusir demi Andra.
Kepala Mami mengangguk, membiarkan tamu tidak diundang muncul. Masih tersisa satu pernikahan lagi yang harus di saksikan.
"Aku tidak melarang mereka bertemu, tapi Mami tidak akan tinggal diam jika dia menyakiti Andra.
Senyuman Rose terlihat menatap ke arah Alisha yang juga akan menikah, Arvin mengenggam tangan Alis untuk mengabaikan.
"Kenapa kamu tidak berjalan ke altar bersama Papi kamu?" tanya Rose.
Senyuman Alis terlihat, bukan dia tidak mau, tapi tidak ada kewajiban juga harus melakukanya karena mereka cari bahagia bukan derai air mata.
Alis tidak ingin Papinya sedih, makanya dia cukup menyaksikan tidak harus mengantarkan.
"Kamu terdidik dengan baik Alisha."
"Duduklah di sana, berikan selamat kepada Kak Andra, istrinya wanita baik meksipun dari luar keras." Alis terseyum meminta Rose melihatnya menikah.
Kepala Rose mengangguk, tanpa sengaja berpapasan dengan Naya yang mengulurkan tangannya untuk duduk bersama melihat pernikahan Alis dan Arvin.
"Maaf aku telat datang, sebenarnya tidak enak ingin datang." Rose duduk di samping Andra yang sedang tertawa bersama Agra.
"Andra, sapa Mama Rose." Naya menepuk pundak suaminya.
"Halo Tante, terima kasih sudah datang," ucap Andra masih berat menyebut Mama.
"Selamat ya Andra, kamu akhirnya menemukan pasangan yang tepat." Rose menoleh ke arah Naya yang sedang berjabatan dengan beberapa orang memberikan selamat.
Senyuman Rose terlihat ke arah maminya Andra, dia muncul kembali karena terlilit hutang hingga terlibat dengan orang yang berpengaruh.
Kanaya yang menyelamatkan dari hutang hingga keluar uang milyaran untuk membantu Mama Andra bebas dari hutang.
"Jangan jauh-jauh duduknya Kanaya, apa kamu kamu mau aku dudukan di pangkuan." Andra melotot memaksa lebih dekat.
"Sabar Andra dia hanya memperbaiki gaun." Prilly melirik sinis.
Pembawa acara terdengar kembali memberitahu jika pengantin akan segera naik ke atas altar.
Semua orang fokus ke arah pintu melihat pengantin keluar dengan senyuman lebar, Arvin melangkah diiringi oleh Alisha.
"Cantiknya Alis," puji Agra.
"Apa maksudnya kamu?" Prilly melayangkan pukulan.
"Kak Pril jangan gulat di sini," tegur Naya karena Prilly emosian.
Andra tertawa melihat Agra dipukuli, meminta tenang karena mereka harus menyaksikan Arvin manusia es akan mengikat janji.
Senyuman Alis dan Arvin terlihat, keduanya mendegarkan pendeta yang membacakan doa untuk kebahagian dan kerukunan.
"Kakak Avin, mau naik," pinta Raya.
"Raya diam, tidak boleh berisik." Daddy menatap Arvin yang melihat ke arah Raya.
Daddy fokus melihat ke arah Putranya yang akan segera menikah, ada kesedihan di mata Daddy karena Arvin tidak di dampingi Mommynya.
Air bening keluar dari mata Daddy, Raya menatap mata Daddynya langsung ikut menangis.
"Daddy kenapa?"
"Kenapa Dad, jangan menangis. Arvin masih bersama kita, sekarang kita memiliki dua menantu." Mama mengusap air mata suaminya.
Senyuman Arvin terlihat mengusap wajahnya meminta Daddynya berhenti menangis karena tidak ingin melihat ada kesedihan.
Mommynya pasti bahagia di surga, melihat dirinya dan Daddy juga bisa bahagia, tidak ada alasan bagi Arvin untuk menangisi yag terjadi.
"Arvin Alisha, apa kalian sudah siap?" tanya pendeta.
Kepala Arvin dan Alis mengangguk, saling pandang dan terseyum mengangkat tangan. Arvin mengucapkan janji pernikahan secara lancar diikuti oleh Alis yang mengucapkan janji tanpa halangan.
Suara tepuk tangan terdengar, Arvin mengecup bibir Alis membuat heboh karean secara dadakan. Andra melipat tangannya di dada tidak menyangka Arvin begitu berani di depan banyak orang.
"Aku rasa kamu kalah saing Dra?" Agra menatap Andra yang melotot.
"Emh, gila anak satu ini, aku hanya mengecup kening dia merambat ke bibir."
"Sejak dulu Arvin memang lebih berani dari kamu, dia menyatakan perasaan saat tahu akan ditolak, tapi kamu pilih pergi bertahun-tahun," sindir Naya membuat Andra terdiam.
Suara tepuk tangan terdengar saat pasangan kedua menunjukkan cincin pernikahan. Tersenyum lebar tanpa drama air mata.
"Alis dan Arvin begitu siap sampai bisa tersenyum lebar begitu." Prilly menarik napas panjang ingin cepat pest.
"Sabar, kita hanya menumpang pesta jangan rusuh." Agra mengusap kepala istrinya lembut.
"Prilly mau mencoba gaun, sudah tidak sabar lagi."
"Kita masih ada acara makan bersama Prilly, pestanya malam." Andra berdiri mengulurkan tangannya kepada Naya untuk naik altar berfoto bersama Arvin.
Dua pasangan pengantin tersenyum lebar saat di potret. Agra dan Prilly juga naik ikut berfoto dengan keluarga.
Enam sahabat tersenyum lebar saling rangkul, tidak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga mereka berada di posisi dewasa.
"Masa apa yang ingin kalian ulangi?" tanya Andra.
"Tidak ada," jawab Naya karena baginya melihat masa depan jauh lebih menantang untuk kembali ke masa lalu terlalu melelahkan untuk menjalaninya.
Prilly setuju, dia tidak ingin kembali ke masa lalu karena masa depan juah lebih menyenangkan.
"Tahun depan tambah personil ya," ucap Alis.
"Siap," jawab Naya dan Prilly saling peluk.
"Syifra kemari lah untuk berfoto." Tangan Naya terulur meminta Syifra bergabung.
"Woy, aku tidak diajak." Erin melotot membawa pacar barunya.
Semuanya kaget melihat Erin muncul bersama Om-om, Naya tidak paha apa yang Erin pikirkan dia tidak pernah menatap, tiap pulang ada saja yang dibawanya pulang.
"Siapa Rin?" tanya Alis.
"Calon suami, aku thu dia tua, tapi banyak mouni." Tawa Erin terdengar ikut berfoto.
Kepala Daddy geleng-geleng, sulit sekali menegur Erin yang sibuk dengan dunianya masih belum memikirkan untuk berubah tangga.
Bule menyapa dengan bahasa, semuanya langsung menganga tidak mengerti apa yang dibicarakan, hanya Andra yang bisa menimpali karena dia menguasai banyak bahasa.
"Kenapa kamu suka seklai sama bule?" tanya Alis.
"Itunya besar," balas Erin pelan karena takut di dengar Andra.
"Otak kotor, lain sekali pikirannya." Alis merinding ngeri.
Tangan Andra menjabat, bule menyambut baik langsung nyambung dalam bicara soal bisnis. Andra lupa jika dia baru saja menikah sibuk membahas soal bisnis.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Naya.
"Bisnis," balas Syifra yang mengerti sedikit.
Tangan Naya tergempal, mendekati Andra mencubit pinggangnya karena tidak tau aturan. Begitu sibuknya sampai hari menikah saja sibuk bisnis.
"Ampun sayang," pinta Andra memegang tangan Naya.
Selesai berfoto seluruh keluarga kembali ke hotel untuk makan bersama, istirahat, lalu makan bersama.
"Naya, Mama pamit ya jagain Andra mungkin kita tidak akan bertemu lagi," pamit Rose tidak bisa ikut makan.
"Berkunjung kembali jika ada waktu, jangan sungkan untuk mampir ke rumah," ucap Andra tidak menahan Rose pergi.
"Andra, boleh Mama peluk kamu sekali saja?"
Kepala Andra mengangguk, memeluk Mamanya sesaat langsung melangkah pergi memeluk Maminya.
Senyuman Mami terlihat mengusap kepala Putranya. Mami bangga karena Andra bisa damai, tapi dirinya yang belum bisa.
Naya juga memeluk Mama Rose memintanya berhati-hati dan tidak lupa berkunjung kembali.
"Terima kasih Naya, kamu baik sekali. Hubungi Mama saat ada personil baru."
"Siap, Naya akan kabari selalu." Tangan Naya melambai lega karena masalah mampu diselesaikan secara baik-baik.
Semuanya kumpul makan bersama, Andra duduk bersama Arvin dan Agra meneguk minuman anggur. Rasanya dulu masih kecil, lalu remaja, secara tiba-tiba sudah menjadi suami orang.
"Anggur ini rasanya manis sekali," ucap Agra yang sudah mencoba banyak minuman anggur, tapi ada rasa pahitnya.
"Minumlah banyak-banyak, nanti malam mabuk kalian bertiga." Mama menghela napas karena belum ada yang berubah dari tiga anak yang dulunya selalu membuatnya naik darah.
"Ini anggur Ma, bukan alkohol." Andra langsung lari karena Mami melemparnya menggunakan sumpit.
Arvin tertawa Andra ada saja alasannya padahal anggur yang diminum juga memiliki kadar alkohol.
"Alis juga mau anggur ini."
"Nanti malam saja sayang pas kita malam pertama, rasanya romantis sekali minum anggur berdua." Arvin meneguk anggurnya.
Kanaya ingin muntah mendengarnya, sejak kapan Arvin pintar menggombal.
****
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1