
Senyuman Andra terlihat akhirnya Naya mengizinkan dirinya ikut pulang, duduk berdua di pesawat.
"Kita sampai bisa tengah malam," ujar Andra memberikan peringatan.
"Tahu, bukannya bekerja di tengah malam lebih menyenangkan," balas Naya.
Kepala Andra mengangguk, membenarkan jika bekerja di tengah malam lebih santai, tidak banyak suara yang terdengar.
Kepala Andra bersandar di pundak Naya, matanya terpejam tidur karena tidak tidur semalaman.
Helaan napas Naya terdengar, membiarkan Andra bersandar. Sudah lama tidak bertemu, rasanya berbeda seperti dulu.
"Waktu berlalu begitu cepat Dra, tapi perasaan itu belum berubah. Harus aku apakan," gumam Naya pelan.
Dirinya ingin mengabaikan, mengubur dalam-dalam rasa yang pernah ada, tapi hati Nay berkata lain. Dia ingin tetap bertahan dan menatap penuh harapan.
Kehadiran Andra membuatnya bahagia juga sedih, Naya sulit mengutarakan isi hati dan pikirannya.
"Kenapa Nay, wajah kamu tegang sekali?" Andra terbangun karena tangan Naya meremas kuat.
"Diamlah," belas Naya masih tetap diam.
"Aku mau ke toilet dulu." Andra berdiri, tangannya ditahan.
"Ikut," pinta Naya yang sebenarnya menahan untuk ke kamar kecil.
Nay modal nekad pulang padahal tidak punya pengalaman sama sekali, dia takut ke kamar mandi karena tidak tahu cara menggunakannya.
Senyuman Andra terlihat, Naya bisa minta ditemani namun dia tidak ingin menyusahkan orang lain.
"Duluan saja." Andra menunggu di depan pintu.
"Dra, aku tidak tahu cara menggunakannya."
Andra mengajari caranya, menjelaskan kepada Naya yang langsung mengerti dengan cepat.
"Tetap di sini jangan tinggalkan aku, awas saja jika pergi," ancam Naya serius.
Setelah Naya masuk Andra balik lagi ke kursinya, tidak berselang lama Naya kembali. Cubitannya kuat ke pinggang Andra yang terdiam memegang tangan Naya merasakan sakit.
"Sakit, gila kamu."
"Kenapa ditinggalkan, bagaimana jika terkunci di dalam, terus jatuh ke bawah, atau ada lelaki yang mengintip?" Naya tidak mungkin bertengkar di pesawat hanya karena toilet.
Kepala Andra tertunduk menahan tawa, meminta Naya diam karena bisa menganggu penumpang lain.
__ADS_1
"Jahat," bisik Naya pelan.
"Iya maaf, jangan dicubit sakit."
"Mau ditendang keluar?"
Kepala Andra menggeleng, dia tahu Naya tidak mungkin tega membuangnya. Delapan tahun berpisah, jika bisa tidak ingin terjadi lagi.
Keduanya akhirnya diam, mata Naya terpejam tidak menyadari jika tangannya digenggam erat tidak terlepaskan.
Penerbangan akhirnya landing, Andra membangunkan Naya dengan tepukan pelan di wajahnya.
"Kita sudah sampai, ayo kerja."
"Bos sialan, awas saja tidak naik gaji." Alis atas Naya terangkat.
Tangan Naya masih digandeng, dia tidak menyadari karena kurang paham untuk keluar dari bandara, mengikuti Andra yang jauh lebih ahli.
"Mulai besok kamu ikut aku tiap perjalanan bisnis, punya kinerja bagus kenapa tidak pernah dinas ke luar?"
"Perusahaan kita tidak sebesar itu Andra, awalnya masih ada manager yang bisa handle karena mereka lebih berpegalaman. Kita selalu kekurangan tenaga kerja karena banyak yang enggan bekerja di perusahaan karena takut di-PHK," jelas Naya yang tidak bisa meninggalkan kantor.
Andra memahaminya, dia sudah mendengar sejak satu tahun yang lalu. Hanya ada beberapa senior yang memimpin, dan beberapa staf andalan.
Bagaimana kondisinya para karyawan AA grup cukup hebat, mampu bangkit dari keterpurukan.
"Tentu, Andra sialan yang ternyata yang membantu, aku punya bakat, tapi jalur orang dalam lebih cepat." Tawa Naya terdengar mengucapkan terima kasih karena Andra pernah membantunya.
Teriakkan seseorang terdengar, Andra dan Naya melihat ke arah suara. Tatapan matanya tajam melihat Naya, melangkah cepat.
"Beraninya kamu mengambil pria yang sudah bertunangan!" Syifra melayangkan tamparan, tapi tangannya ditahan oleh Andra.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Perempuan tidak tahu malu, bergandengan tangan seakan-akan spesial. Sadar diri kamu hanya wanita miskin, yatim piatu, perebut, dasar wanita penghibur," teriakkan Syifra terdengar membuat beberapa orang memperhatikan.
Naya menatap tangannya yang sudah terlepas, tidak habis pikir juga bisa nyaman bergandengan.
"Lepaskan aku Andra, wanita ini harus diberikan pelajaran." Tubuh Andra didorong, Syifra melangkah mendekati Naya.
"Kamu yang akan celaka." Andra terkejut melihat Naya diam saja ditampar padahal Nay bisa saja melawan.
Rambut Naya ditarik kuat, tubuhnya didorong ke lantai. Beberapa orang meminta Syifra berhenti.
"Jauhi Andra sialan!"
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Naya pelan.
Kedua tangan Naya terangkat, dia bukan tidak ingin melawan, tapi tidak ingin menjadi seseorang yang paling berdosa.
"Apa maksudnya kamu?"
"Seharusnya aku yang bertanya, bayi yang kamu kandung anaknya siapa?" Naya berdiri saat Syifra terduduk.
Senyuman Naya terlihat, meminta Syifra berkaca siapa yang sebenarnya wanita penghibur.
"Sebagai wanita yang hamil di luar nikah, tidak sepantasnya mengkritik diriku, makanya berkaca dulu baru membunyikan klakson." Senyuman Naya terlihat melangkah pergi.
Bukan dirinya yang malu di depan banyak orang, tapi Syifra sendiri yang mempermalukan dirinya bahkan mengejutkan Andra.
"Dra, wanita itu bohong, aku tidak hamil." Kepala Syifra menggeleng.
"Delapan tahun kita bekerja bersama, aku tidak mengenal kamu sebagai pasangan, tapi partner kerja. Kita bisa terbuka soal pekerjaan, tapi tidak dengan kehidupan pribadi." Andra melangkah pergi meninggalkan Syifra yang terus memanggilnya.
Andra mengejar Naya yang ingin masuk ke dalam mobil, lengannya ditahan untuk meminta penjelasan.
"Bagaimana Syifra tahu ...."
"Aku, sengaja memberitahunya. Aku ingin tahu seburuk apa dirinya." Senyuman Naya terlihat meminta Andra mengurus kekasihnya, Naya bisa menyelesaikan masalah kantor.
Tangan Naya melambai meminta supir segera jalan, tujuan Naya langsung ke kantor tidak punya waktu untuk istirahat.
Rambut Nay berantakan, dirapikan perlahan. Bertengkar bukan pertama kalinya bagi Naya, dia bahkan pernah melawan banyak bodyguard.
"Satu kali lagi menyentuhku, maka jangan salahkan aku." Naya bicara sendiri mengecek wajahnya.
Bibir bawah Naya terluka, memar karena pipinya ditampar kuat, bukan sakit yang Naya rasakan, tapi miris melihat kondisi Syifra.
Tanpa Arvin mengatakan apa yang diketahuinya Naya langsung tahu, Arvin tidak suka mengumbar aib orang, tapi Naya bisa menduganya jika ada sesuatu.
Tidak diduga tebakan Naya benar, dia melihat sendiri ekpresi Syifra menyatakan kebenaran. Naya penasaran anak siapa yang dikandung.
"Apa itu anaknya Andra, tidak mungkin. Meksipun dia brengsek apa ada waktu membuatnya?" Naya meremas rambutnya tidak suka dengan pikiran yang sembarangan.
Supir kebingungan melihat Naya bicara sendiri, menghentikan mobilnya ditujuan, menerima uang yang Naya berikan.
"Nak, usia masih muda jangan terlalu bekerja keras, sesekali bahagiakan diri sendiri." Senyuman supir terlihat menyemangati Naya.
Kepala Naya mengangguk, berjalan ke arah kantor. Beberapa lantai kantor belum mati, Naya menghampiri beberapa staf yang lembur.
"Jangan terlalu bekerja keras," ucap Naya mengejutkan.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira